Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Minder


__ADS_3

"Loe di mana?" suara Ranti di ujung sana sudah menyapanya ketika Yashinta baru saja menekan ikon hijau begitu ponselnya berdering.


"Malem ini gue mau nginep ya di rumah loe." gadis itu kembali menyambar saat Yashinta bahkan belum bersuara untuk menjawab pertanyaan Ranti sebelumnya.


"Ranti, Ranti. Tunggu!" Yashinta mencegah Ranti untuk berbicara lebih banyak.


"Yas nggak di rumah." beritahu gadis itu dengan cepat. Ada hening setelahnya hingga selang beberapa detik, suara Ranti kembali terdengar. "Loe lagi di mana?"


"Bali."


"Hah? Bali? Loe bercanda." Ranti tampak terkejut, pasalnya Yashinta tidak mengatakan apapun entah gadis itu ada acara ataupun keperluan untuk pergi jauh. Ranti tahu ia tidak berhak diberitahu untuk semua hal, tapi tetap saja biasanya Yashinta selalu mengatakan apapun padanya.


"Iya, Ranti. Yas lagi di Bali, ceritanya panjang. Nanti Yas ceritain kalo udah pulang."


"Oh–okay, deh." Ranti masih bingung namun tetap tak akan memaksa Yashinta untuk bercerita.


Panggilan terputus setelahnya. Yashinta menatap layar ponselnya, ia lupa jika wallpaper ponselnya masih Kafka. Selanjutnya, gadis itu menatap sebuah cincin cantik di jari manisnya, sekilas bayangan wajah Gibran melintasi kepalanya.


Dengan perasaan yang sedikit diterpa kebimbangan, Yashinta mengganti wallpaper ponselnya, selang beberapa detik setelah itu suara ketukan pintu terdengar disusul suara Gibran yang memanggil namanya.


Yashinta spontan mengukir senyumnya dan berjalan ke arah pintu dan membukanya dengan cepat, Gibran sudah berdiri di sana dan tersenyum padanya.


"Kamu lapar?" tanya pria itu. Yashinta mengangguk. "Kita makan malam." sahutnya kemudian seraya menutup pintu kamar Yashinta dan berjalan dengan gadis itu menuju restoran resort.


Di sana tidak hanya ada Yashinta, namun juga Bayu dan Leon berikut pasangannya masing-masing. Jujur Yashinta sedikit canggung untuk bergabung. Ia tentu saja merasa minder melihat bagaimana dua wanita di sana, sehingga langkahnya tertahan dengan tangan yang menarik ujung kemeja hitam yang Gibran kenakan.


Pria itu menoleh, melihat tangan mungil Yashinta kemudian menatap wajah gadis itu. "Ada apa, Masha?" tanyanya, gemas.


"Itu–" Gibran mengikuti arah pandangan Yashinta


"Krystal? Kamu udah ketemu dia saat kita baru sampe tadi."


"Yas tahu."


"Shenina, istrinya Bayu." beritahu Gibran lagi namun gadis itu tak bereaksi sama sekali.


"Ayo, kamu belum kasih selamat ke Bayu sama Shenina." gadis itu masih tidak bereaksi, hanya menatap empat orang yang tengah mengobrol dan sesekali tertawa di meja tujuan mereka.


"Kamu malu?" Gibran bertanya, Yashinta perlahan mengarahkan pandangan pada Gibran kemudian mengangguk tak kalah perlahan. Kali ini Gibran meraih tangan gadis itu, membuat Yashinta mendekat pelan dan hanya mengerjap ketika tangan besar Gibran mengusap satu sisi wajahnya.


"Kamu cantik, kamu nggak perlu malu."


"Yas tahu." sahutnya yang membuat Gibran terkekeh pelan. "Tapi Yas malu, Yas keliatan masih kecil banget, yah?" mendadak gadis itu tidak percaya diri dengan keimutannya sendiri.


Karena bagaimanapun, dua wanita di sana tampak dewasa. Sangat jauh berbeda dengannya mengingat fakta jika dirinya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.


"Mbak Krystal sama istrinya Mas Bayu keliatan udah pada dewasa banget."


"Sedangkan, Yas?"


Gibran menghela napas, menarik gadis itu berjalan namun Yashinta masih hanya diam. Saat Gibran menoleh gadis itu sudah mencebikan bibirnya.


"Justru bagus, kamu jadi anggota yang paling muda." sahut Gibran yang kemudian kembali menarik gadis itu berjalan, dan kali ini Yashinta tidak dapat menolak.

__ADS_1


"Ada saya, kamu nggak perlu khawatirin apapun." sahut Gibran saat mereka sudah mendekat.


"Nah, itu. Gibran." Leon yang lebih dulu melihat kedatangan dua orang itu, membuat yang lain mengalihkan pandang.


"Wah." Bayu berseru saat benar-benar melihat Gibran tidak datang sendirian. Ia sudah tahu dari Leon jika Yashinta ikut dengan pria itu. Di luar dugaan Bayu, padahl saat menghadiri akad kemarin, Gibran masih sendiri.


Tahu-tahu sekarang justru menggandeng putri tunggal Andri Wiraguna.


"Loe beneran bawa gandengan, Bran?" sambar Bayu lagi, sementara Yashinta di samping pria itu berusaha untuk hanya tersenyum.


Tak ia sangka jika ternyata ia mendapat sambutan hangat dari keempatnya, terlebih saat Krystal mengajaknya duduk.


"Yashinta, sini." Krystal menepuk tempat di sampingnya, membuat sang pacar pindah tempat dan duduk di samping Gibran.


Yashinta duduk di samping Krystal, Gibran seolah memerintahnya untuk bergabung tanpa menghiraukannya.


"Hay, Yashinta. Krystal udah cerita tentang kamu. Kamu beneran datang sama Gibran?" seorang wanita dengan rambut sepinggang itu bertanya pada Yashinta.


"Iya, Mbak–"


"Shenina, panggil aja Shenin." Shenina mengulurkan tangan, Yashinta menerima uluran tangannya dengan senang hati.


"Dipanggil selasa juga boleh." Bayu menyambar iseng.


"Tergantung ketemunya hari apa." Leon ikut berkomentar, Shenina tampak berdecak dengan sorot penuh peringatan, kemudian kembali menatap Yashinta dengan tersenyum.


"Panggil Shenin,"


"Yashinta." gadis itu balas tersenyum setelah sebelumnya sempat mengangguk.


"Makasih Mbak Shenin, Mbak juga cantik. Selamat atas pernikahannya,"


"Selamat atas pernikahannya, Mas Bayu." ia beralih pada pria yang masih sibuk menggoda Gibran itu, sesaat Bayu menoleh pada Yashinta dan tersenyum juga mengungkapkan terimakasihnya.


Makan malam berlangsung setelah itu diiringi obrolan kecil seputar resepsi pernikahan Bayu dan Shenina yang akan digelar besok. Yashinta hanya menjadi pendengar di sana, ia tak tahu harus menanyakan apa dan berakhir dengan hanya terdiam mendengar obrolan lima orang dewasa di meja tersebut.


Berikut juga ada undangan lisan dari Krystal dan Leon yang memberitahukan jika mereka akan bertunangan bulan depan. Yashinta diundang secara langsung.


"Tinggal Gibran aja, nih, nanti." Shenina angkat bicara, membuat tatapan semua orang mengarah pada Gibran lantas beralih pada Yashinta.


"Nunggu Yashinta beresin sekolahnya dulu lah, yah Bran." Krystal yang menyahuti, Yashinta tidak bereaksi, hanya menatap Gibran dan menunggu jawaban pria itu namun Gibran justru balik menatapnya tanpa mengatakan apa-apa.


"Selow, Gibran awet muda. Nunggu empat sampai lima tahun lagi nggak jadi masalah." Bayu menepuk pundak pria itu, sok ramah. Gibran berusaha menepisnya namun tidak bisa.


"Nggak apa-apa, 'kan Yas kalo nanti nikah sama Om-om?" sambungnya dengan pandangan mengarah pada Yashinta. Gadis itu hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


Bergabung dengan orang dewasa ternyata cukup mendebarkan dada saat pembahasan mereka terus mengarah pada jenjang serius dalam sebuah hubungan.


Hubungan? Yashinta bahkan sudah mendengar dari Gibran jika mereka tidak berpacaran.


Gadis itu spontan menoleh saat ponsel di atas meja bergetar, menandakan sebuah pesan masuk. Semula ia mengira jika itu adalah ponsel miliknya, tapi ketika Krystal buru-buru meraihnya, Yashinta sadar jika ponselnya berada di saku celana.


"Aku ke toilet sebentar, yah." Krystal bangkit dari duduk setelah meraih ponsel dan bergegas menuju toilet, sisanya kembali melanjutkan obrolan.

__ADS_1


Tetapi saat Yashinta mengalihkan pandangan pada Gibran rupanya pria itu tengah menatapnya hingga pandangan keduanya bertemu. Jujur Yashinta merasa tidak karuan, terlebih saat Gibran tak kunjung memutus tatapan mereka. Membuat gadis itu salah tingkah dan berakhir dengan tidak sengaja menumpahkan sisa minuman Krystal ke bajunya.


"Astaga Yashinta, kamu nggak papa?" Shenina tampak terkejut dengan hal itu. Yashinta segera menggelengkan kepalanya. "Nggak papa, Mbak." gadis itu kemudian bangkit dari duduk.


"Yas–permisi ke toilet dulu." pamitnya, tampak terburu-buru dan kemudian berlalu, sekilas ia menatap Gibran yang hanya tersenyum di tempatnya.


Pria itu melipat tangan di dada, menatap arah kepergian Yashinta kemudian berdecak saat gadis itu menghilang dari pandangannya. "Manisnya."


Bayu dan Leon mengerutkan kening melihat ekspresi yang Gibran tampilkan di wajahnya, sementara Shenina hanya tersenyum saja.


Ini kali pertama bagi Leon dan Bayu melihat Gibran dimabuk asmara.


***


Yashinta mencuci sedikit pakaiannya yang terkena tumpahan minuman sembari setengah menggerutu karena Gibran tampak tak memerdulikannya sama sekali.


"Yas tahu kita harus jaga jarak. Tapi, 'kan nggak gini juga maksud, Yas."


"Lagian Mas Gibran ngapain pake ngeliatin segala? Kan Yas jadi nggak sengaja numpahin minuman." sambungnya, menatap pantulan wajahnya di cermin.


Gadis itu merapikan rambut, mengukir senyum terbaik setelah menggerutu kemudian keluar dari bilik toilet. Kakinya perlahan melangkah menuju pintu keluar saat ia mendapati pintu bilik toilet di sampingnya setengah terbuka.


Yashinta hanya mengerutkan kening, melihat tampilan layar ponsel dan sang pemilik tampak mengetikan pesan. Yashinta melihat ke bawah, kalau ia tidak salah heels yang dikenakan wanita itu adalah heels yang sama yang dipakai Krystal.


Yashinta hanya membatu sampai kemudian ia menyadari jika wanita itu memang Krystal. Ketika kakinya melangkah menuju pintu keluar ia mendengar wanita itu berbicara.


"Sayang, maaf."


Yashinta sempat mengerutkan kening tapi tetap meneruskan langkahnya. Sepanjang perjalanan menuju kembali pada Gibran dan yang lain ia terus diganggu dengan spekulasi jika Leon dan Krystal adalah budak cinta.


Bagaimana mungkin Krystal harus berbicara dengan Leon melalui sambungan telepon padahal mereka sedang bersama-sama sekarang?


Senyum gadis itu memudar saat mendapati Leon yang tengah tertawa-tawa dengan Bayu dan yang lainnya, Yashinta sempat menoleh ke belakangnya sebentar tapi kemudian tetap melanjutkan langkah bersamaan dengan Bayu dan Shenina yang bangkit dari duduknya.


"Oh, Yashinta."


"Mbak Shenin, mau kemana?" Yashinta bertanya, Gibran ikut bangkit dari duduk dan bicara, "Bayu sama Shenin ada meeting keluarga buat acara besok."


Yashinta menganggukam kepala mendengarnya. "Iya, Yashinta. Kita duluan, yah." pamit Shenina, Bayu juga mengangguk berpamitan. Pasangan pengantin baru itu berlalu sambil bergandengan.


"Mau kemana?" terdengar suara dari arah belakang, Yashinta yang sudah duduk menoleh dan mendapati Krystal sudah kembali.


Wanita itu sempat berbasa-basi sebentar dengan Bayu dan Shenina kemudian menghampiri Leon. "Lama, yah?" tangan gadis itu mendarat di pundak Leon, Leon meraihnya.


"Iya, lama. Aku udah kangeeen." pria itu berujar manja dan Krystal hanya tersenyum seraya mengacak puncak kepalanya. Gibran dan Yashinta hanya memerhatikan.


"Aku mau jalan-jalan, kita keluar yu." ajak Krystal kemudian yang segera mendapat anggukan dari Leon. Leon segera bangkit dari duduk dan menggandeng Krystal.


"Bran, Yas, kita duluan, yah." Leon berpamitan, dua orang itu hanya mengangguk dan menatap kepergian Leon dan Krystal.


Yashinta menyandarkan punggung ke belakang, ia tersenyum canggung pada Gibran sedangkan pria itu hanya menatapnya acuh tak acuh.


Tak lama, gadis itu mendesah. Sepertinya ia tidak bisa mengikuti gayar pacaran Leon dan Krystal.

__ADS_1


TBC


__ADS_2