Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Kencan Buta (2)


__ADS_3

Yashinta hanya memerhatikan pria di sampingnya usai ia kembali keluar untuk membeli popcorn dan kembali masuk ke gedung bioskop, duduk di samping Gibran yang masih mengenakan topi hitamnya.


"Kamu kenapa merhatiin saya terus?" tanya pria itu, merasa tidak nyaman karena sejak tadi Yashinta terus menatapnya.


"Yas heran, kenapa sekaramg bisa sama Mas Gibran? Padahal tadi Yas sendirian loh," sahut polos gadis itu. Meski bersama dengan Gibran rasanya bukan hal buruk karena ia memiliki teman menonton. Seperti keinginannya beberapa saat lalu.


"Lagian Mas Gibran nggak ngerasa bersalah, yah, karena udah nabrak Yas terus narik-narik Yas ke sini. Padahal, 'kan niat Yas mau duduk di bangku paling depan." cerocosnya seolah tak bosan terus-menerus mengoceh.


"Saya udah minta maaf sama kamu, lagian juga saya nggak niat nonton. Apalagi sama kamu, saya nggak betah lama-lama sama kamu. Berisik!" Gibran mengomel dan membuat Yashinta mengerucutkan bibir. Di depan layar besar di hadapan mereka, film yang akan mereka tonton sudah dimulai.


"Yaudah sana!" usir Yashinta dengan tangan terlipat di dada.


"Yaudah, saya pergi!" Gibran bangkit dari duduknya.


"Woy, Mas, jangan ngalangin dong!"


"Duduk Mas nggak keliatan, nih!"


"Mau kemana, sih?"


"Minggir! Minggir!"


"Duduk! Duduk!"


Yashinta menahan senyumnya saat melihat Gibran yang kembali duduk dengan raut terpaksa. Ia akan diprotes banyak orang jika terus berdiri dan memaksakan diri berjalan menuju pintu keluar.


"Katanya nggak mau lama-lama sama Yas." gadis itu buka suara dan menyindir Gibran.


"Saya terpaksa!"


"Kamu memang nggak liat tadi?"


"Hati-hati loh kalau ngomong, mana tahu nanti betah lama-lama sama Yas." goda gadis itu.


"Jangan mimpi! Saya nggak mungkin suka sama cewek berisik kaya kamu!"


"Sekarang Mas Gibran bisa ngomong gitu, tapi nanti, kalau suka sama Yas, Yas nggak tanggung jawan, yah. Soalnya Yas udah punya–: gadis itu diam saat Gibran memakaikan topi di kepala hingga menutupi wajahnya.


"Berisik!" protes Gibran setelah gadis itu menaikan topinya. Yashinta hanya mendesah, lantas memfokuskan tatapannya ke depan dan fokus menonton film dengan topi Gibran yang betah berada di kepalanya.

__ADS_1


Begitu gadis itu terdiam, Gibran menoleh. Memerhatikan wajah Yashinta dari samping. Gadis itu begitu cantik, dan Gibran sejujurnya benci harus mengakui ini, jika Yashinta jauh lebih asik dari pada empat wanita yang Gibran temui hari ini. Sepertinya dipertemukan dengan Yashinta bukanlah hal yang buruk.


Gibran berdecak dan menggelengkan kepala setelahnya. Untuk apa juga ia membandingan Yashinta dengan para wanita itu.


"Ada apa, sih, Ka?" tanya Saras sedikit sewot saat melihat Kafka yang terus memanjangkan leher guna melihat orang yang duduk beberapa bangku di depannya. Padahal film sudah berlangsung dan tampak seru, tapi Kafka mengacaukannya dan membuat Saras merasa terganggu.


"Ohh, enggak. Kayaknya gue liat seseorang, deh." sahut pemuda itu yang kemudian duduk tenang di tempatnya.


"Siapa?"


"Enggak, mungkin gue salah liat." sahut Kafka. Berusaha meyakinkan diri jika orang yang tadi berdiri dan mendapat protes bukanlah sang kakak. Tidak mungkin Gibran berada di dalam gedung bioskop sementara dia sibuk di perusahaan.


***


Sepanjang pemutaran film, Yashinta fokus menonton. Sementara Gibran yang memang tidak berniat menonton hanya melihat layar besar di hadapan mereka tanpa minat.


Tangannya terlipat di dada, sesekali ia menoleh pada Yashinta di sampingnya yang fokus sementara tangannya tak henti mengambil popcorn dan memasukannya ke mulut. Mengunyahnya pelan penuh penghayatan.


Gibran baru tersadar saat pemutaran film selesai. Jika waktunya di sana habis bukan semata-mata dipakai untuk menonton film, tetapi lebih banyak dipakai untuk memerhatikan Yashinta.


"Aaa, seru banget filmnya." decak Yashinta seraya menggeliat ketika film sudah berakhir dan lampu sudah dinyalakan.


"Nggak tau, saya nggak nonton." pria itu menyahut seperlunya.


"Emang dari tadi di sini ngapain?"


"Ngeliatin kamu." Gibran menyahut seraya beranjak dari duduknya, lantas berlalu. Yashinta hanya mencebikan bibir, ia berdecak. "Emang Yas bahan tontonan, apa!"


"Enak aja, Mas Gibran juga nggak beli tiket buat nonton Yas. Jadi Yas ditonton secara gratis gitu?!" kesalnya.


Gadis itu juga bangkit dan melangkah menyusul Gibran. Namun matanya lebih dulu menangkap dua sosok yang ia kenali tengah berdiri di deretan bangku paling belakang. Mata Yashinta membulat, ada nyeri di hatinya tapi ia juga tidak ingin Kafka melihatnya memergoki dua orang tersebut, beruntung gadis itu mengenakan topi Gibran sehingga mampu menyembunyikan wajah saat tatapan Kafka mengarah padanya.


Dengan langkah cepat, Yashinta menghampiri Gibran dan meraih tangan pria yang tengah mengantre menuju pintu keluar itu. Pria itu mengernyit saat mendapati Yashinta yang menggelayut di tangannya.


"Ki–kita ke Gramed, yah." ajak gadis itu tanpa pertimbangan dan menarik Gibran keluar dari sana, mendahului yang lain. Yashinta tak perduli sekalipun mendapat protes, ia tidak boleh terlihat oleh Kafka dan Saras.


Bukankah akan sangat menyedihkan jika mereka bertemu dan Yashinta hanya sendiri sementara Kafka, yang noatabenenya adalah pacarnya bersama dengan wanita lain. Yashinta tidak bisa membayangkannya.


Dia akan sangat menyedihkan jika hal.itu terjadi.

__ADS_1


"Kenapa lagi, sih, Ka?"


"Loe dari tadi ngelamun terus!" Saras tampak kesal melihat Kafka yang tampak tidak fokus. Seolah raganya bersama dengannya sementara jiwanya ada di tempat lain.


"Kayaknya gue salah liat!"


"Kita kemana lagi abis ini?" tanya Kafka mengalihkan topik, tidak ingin meributkan hal ini dengan Saras. Bagaimanapun ada yang bermasalah dengan mata Kafka hari ini.


Semula ia melihat Gibran, kemudian melihat Yashinta. Rasanya sulit di percaya, terlebih ia cukup yakin jika Yashinta tidak akan mau berjalan-jalan sendiri tanpa ditemani Ranti. Jadi yang dilihatnya tadi bukanlah Yashinta. Kafka hanya salah lihat. Begitulah pemuda itu meyakinkan dirinya sendiri.


Mungkin Kafka berhalusinasi karena sudah bertengkar dengan gadis itu di sekolah siang tadi.


"Langsung balik aja, deh." Saras menyahut seraya beranjak.


"Tapi kita makan dulu, yah, gue laper." usul Kafka, mengikuti langkah kaki gadis itu yang dengan cepat meninggalkannya di belakang.


"Gue nggak mau!" Saras terlihat kesal dan membuat Kafka hanya mampu mendesah pasrah seraya mengikuti langkahnya.


***


Yashinta berusaha menahan air matanya. Jadi itu yang dimaksud Saras dan Kafka atas apa yang Yashinta dengar pagi tadi di sekolah. Itulah alasan Kafka menolak ajakannya pulang bersama dan menolak ajakan Yashinta untuk pergi dengannya.


Ternyata karena Kafka dengan Saras akan jalan berdua dan menghabiskan waktu seperti orang berpacaran.


Seberapa keraspun Yashinta menahan air matanya, ia tetaplah gadis cengeng yang tidak pernah bisa menahan krystal bening itu agar tidak terjatuh dari matanya. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan saat cairan bening itu membasahi pipi mulusnya. Gibran di sampingnya mengernyit dan menghentikan langkah.


Gadis itu bahkan tidak menyadari hal itu, Gibran membiarkannya dan memerhatikan Yashinta yang berjalan tak karuan ketika sudah memasuki Gramed.


Tetapi Gibran melangkah cepat ketika gadis itu nyaris saja menabrak ujung rak buku, Gibran menahan kening gadis itu yang membuat Yashinta spontan menghentikan langkah dan menengadah, menatap Gibran dengan mata basah. Tentu saja hal itu membuat Gibran heran sekaligus bingung, apa yang membuat gadis itu menangis?


"Masha, kamu nangis?" Gibran mendekatkan wajahnya, memerhatikan wajah gadis itu. Tak menyahut, Yashinta justru kian menangis. Menciptakan suara berisik yang membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah mereka.


Gibran yang kebingungan meraih gadis itu ke dadanya, setidaknya hal itu ia lakukan untuk meredam tangis Yashinta.


Ayolah, Gibran tidak ingin menjadi pusat perhatian karena tangis gadis berisik itu. Gibran melakukan hal itu semata-mata hanya untuk dirinya sendiri, bukan sepenuhnya untuk Yashinta.


TBC


Bukan sepenuhnya? Berarti sebagian buat Yashinta tooh, Mas, yaah. Hmm

__ADS_1


__ADS_2