Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Kafka Adalah Cinta dan Luka (2)


__ADS_3

"Wih, Yas. Jaketnya juga couple-an?" tanya salah satu dari mereka.


"Tadi Kafka juga pake jaket itu deh, atau itu punya Kafka?" yang lain ikut nenggoda dan membuat yang lainnya lagi bersorak cie pada Yashinta dan Kafka.


Yashinta tampak tersipu, sementara Kafka sendiri asik dengan dunianya, ia kembali memetik senar gitar dan mengabaikan godaan kawan-kawannya.


Yashinta mendengarkan petikan gitar Kafka, ia menengadah saat jagung bakar tersodor ke arahnya, ia melihat jika Sean yang ternyata memberikannya.


"Makasih Sean." pria itu mengangguk, lantas duduk di samping Yashinta. Membuat Yashinta mendekat pada pria itu untuk mengobrol karena Kafka bahkan tidak bisa diajak bicara.


"Sean kenapa nggak ngajakin Ranti ikutan acara ini?" tanyanya tanpa basa basi. Sean yang sedang menikmati jagung bakarnya mengerutkan kening.


"Emang dia mau ikut?"


"Emang Sean mau ngajakin?" Yashinta balik bertanya dan membuat Sean kebingungan.


"Sean suka, yah, sama Ranti?" gadis itu kian menjadi. "Loe random banget, sih, Yas." Sean berdecak dengan kerutan di dahinya.


"Ih, bukan gitu. Kalo Sean suka bilang aja sama Yas."


"Yas kasian sama Ranti, sejak dia berhenti berhubungan sama malaikatnya dia kaya murung. Padahal Ranti baru pertama kali jatuh cinta." ocehnya, sesaat membuat Sean terdiam menyadari jika Yashinta belum mengetahui pria yang Ranti maksud.


"Gue jadi pelampiasan?" Sean angkat bicra setelah cukup lama–merasa keberatan. Yashinta tersenyum. "Enggak, sepenuhnya, sih. Cuma enak aja gitu kalau Sean yang ada di samping Ranti saat Ranti lagi butuh."


"Yas bakal dukung seratus persen." sambungnya yang membuat Sean menggelengkan kepala, hendak mendaratkan telapak tangannya di puncak kepala gadis itu karena Yashinta sangat menggemaskan. Namun Kafka yang menarik gadis itu membuat Sean urung melakukannya.


"Kafka mau?" tanya Yashinta, menyodorkan jagung bakarnya yang masih utuh pada Kafka. Kafka mengangguk dan mengigit jagung bakar tersebut lantas menganggukan kepala saat jagung bakar itu terasa lezat mendarat di lidahnya.


Yashinta tersenyum puas. Ikut menikmati jagung bakar tersebut dan mengigitnya tepat pada bekas gigitan Kafka.


Malam itu, Yashinta menambahkan catatan pengalaman berharga dalam hidupnya saat esok adalah hari ulang tahunnya. Ia mendapat banyak hal berharga selama beberapa jam ini. Ia menikmati kebersamaannya dengan semua kawan sekelas Kafka.


Menikmati jagung bakar dan sosis, bernyanyi, menari dan menikmati api unggung juga langit bertabur bintang lengkap dengan suasana yang sangat menggembirakan.


"Udah malem, udaranya juga udah dingin. Buruan tidur." suruh Kafka saat mendapati gadis itu tampak mengantuk. Suasana sudah mulai sepi karena anak-anak yang lain sudah banyak yang tidur, kebanyakan yang masih terjaga adalah anak lelaki yang masih asik bercengkrama, bergadang sambil menikmati kopi dan rokonya.


"Yaudah, Yas tidur. Kafka mau pake jaket Yas nggak? Di sini dingin."


"Enggak usah. Loe pake aja." ujar Kafka, Yashinta mengangguk mengerti. Lantas bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan pada Kafka, berlalu menuju tenda dimana kawan-kawan setendanya sudah tepar begitu ia tiba.


****


Waktu menunjukan setengah dua belas malam saat Yashinta hanya berbaring di dalam tenda. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata sehingga pada akhirnya, gadis itu memilih bangkit dan keluar dari tenda setelah setengah jam berada di sana.

__ADS_1


Ia terdiam sejenak di depan tendanya, melihat para lelaki yang masih bertahan di posisinya namun Kafka tampak tidak berada di sana. Yashinta mengerutkan kening. Melihat ponselnya dan membuka kalender, gadis itu tersenyum girang.


Mungkinkah Kafka tengah menyiapkan kejutan ulang tahun untuknya untuk pertama kali? Gadis itu tersenyum lebar, kemudian melangkah pada anak lelaki yang masih berada di sana. "Kafka di mana, yah?" tanyanya pada cowok yang sedang memegang gitar dan duduk di tempat Kafka tadi.


"Kayaknya ke arah sana, deh, Yas. Loe belum tidur?"


"Oh, belum. Nggak bisa tidur."


"Pengen dikelonin Kafka, yah, Yas?" godanya yang membuat yang lain menatapnya penuh jahil. Namun Yashinta hanya menanggapinya dengan senyuman, berterimakasih karena sudah memberitahukan keberadaan Kafka kemudian melangkah pergi ke arah yang ditunjuk cowok tadi.


Ia berjalan ke arah timur tepat di jalan menuju sungai. Yashinta hanya tersenyum sepanjang kakinya melangkah, hingga ia menemukan siluet Kafka yang tengah duduk beralaskan rumput.


Gadis itu baru saja akan melambai dan memanggil Kafka, namun kemunculan seseorang dari arah sungai dan tampak meraih tangan Kafka membuat Yashinta hanya mematung di tempatnya.


"Loe bener-bener nggak takut ke sana sendian?" tanya Kafka pada Saras yang memang memintanya untuk diantar ke sungai guna mencuci sepatunya yang ketumpahan kopi milik Aris.


"Enggak, lagian terang. Kan anak-anak pasang lampu di sana juga." sahutnya yang kemudian duduk di samping Kafka. Keduanya sama sama menikmati suara aliran air sungai dan bintang yang bertaburan di angkasa.


"Loe kenapa nggak bilang kalo jaket ini couple sama Yashinta?" tanya Saras dengan nada kesal. Kesal pada Kafka yang sudah membiarkannya berpapasan dengan Yashinta dan mengenakan jaket serupa.


"Enggak papa. Lagian dia juga nggak akan marah." Kafka menyahut santai.


"Jahat banget loe!"


"Loe udah sering ngomong gitu ke gue Saras. Loe anggap gue ini apaan, sih?" gemas Kafka seraya mengacak puncak kepala gadis itu.


"Hmm, gue harus anggap loe apa, yah? Pacar? Selingkuhan? Eh, yang selingkuhan, 'kan gue."


Kafka berdecak, malas jika Saras membahas hal itu. "Jangan dibahas, gue males." ujar Kafka. Saras hanya tersenyum, menatap wajah Kafka lekat-lekat, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Kafka, pemandangan yang membuat Yashinta di belakang mereka hanya mematung tak percaya.


Kafka menggandeng bahu gadis itu.


"Gue seneng masalah loe udah beres. Jadi gue tinggal urus masalah gue sama Yashinta, gue udah cape. Gue pengen cepet bebas dari dia." oceh Kafka diakhiri ******* napas di akhir kalimatnya.


"Cuma tinggal lima hari lagi, abis itu kalian selesai. Udah." Saras menyahut, kemudian menoleh pada Kafka dan membuat tatapan mereka bertemu. "Thanks Kafka, thanks buat perjuangan loe. Thanks karena loe selalu ada buat gue."


"Karena gue sayang sama loe Saras." selanjutnya, adalah kaki Yashinta yang melangkah mundur ketika dua orang di hadapannya menyatukan bibir mereka.


Ketika setetes air jatuh dari matanya dan membasahi pipi, Yashinta memilih membalikan badan, kemudian melangkah pergi dengan isakan tertahan.


Kafka menghentikan aksinya saat Saras menghentikannya lebih dulu dan membuatnya bertanya-tanya. "Loe sanggup mutusin Yashinta?" tanya Saras, tampak ragu. Kafka diam sebentar, kemudian menganggukan kepala dengan raut tidak yakin.


"Kaos loe–"

__ADS_1


"Oh, ini." Kafka menilik kaosnya yang menciptakan kehebohan anak-anak beberapa saat lalu. "Hafi yang bikin, gue cuma terima beres dan nggak tahu apa-apa." beritahu Kafka yang membuat Saras mengangguk mengerti.


***


Yashinta kembali ke tenda dengan tangisnya. Ia meredam isakannya kuat-kuat agar tidak mengganggu teman-temannya yang sudah tidur. Hari ini, ia kembali mengukir kenangan berharga dalam hidupnya di moment perkemahan ini.


Moment yang mustahil akan bisa dilupakannya, dimana dengan mudah Saras dan Kafka membuat hatinya terluka. Sangat terluka.


Hati Yashinta seperti hancur berkeping-keping. Kenangan bersama Kafka sepanjang hari ini terekam jelas dalam ingatannya. Kenangan indahnya yang membuat ia sangat bahagia, kemudian ia dihempas begitu saja setelah semula diterbangkan hingga setinggi cakrawala.


Gadis itu mengambil ponsel. Tanpa berpikir panjang segera mendial nomor Gibran. Karena satu-satunya nama yang terlintas dalam ingatannya hanyalah pria itu. Yashinta tidak perduli itu pukul berapa, saat ia segera bicara begitu panggilan terhubung.


"Mas Gibran–" ia tak dapat menyusun kalimat singkat yang akan dikatakannya pada pria itu.


"Hallo, Yashinta. Ada apa?"


"Yas mau pulang, Mas. Yas mau pulang," ujarnya tanpa perduli dengan suara parau Gibran. Tanpa perduli jika ia sudah menggangu waktu tidur pria itu.


"Kamu kenapa?" Yashinta tidak menjawab dan hanya terisak, tentu saja membuat Gibran khawatir di ujung sana.


"Kamu di mana sekarang? Biar saya jemput."


****


Harapannya pada Kafka barangkali terlalu besar. Cintanya pada Kafka mungkin terlalu berlebihan. Maafnya untuk pria itu terlalu banyak. Yashinta seringkali memaklumi setiap tindakan tidak masuk akal Kafka sekalipun melukai hatinya hanya karena ia sangat mencintai pria itu.


Tetapi kali ini, Kafka menggoreskan luka yang terlampau dalam di hatinya. Nyaris menghancurkan seutuhnya perasaan gadis itu.


Saras dan Kafka.


Bagaimana mungkin mereka mengkhianatinya begitu dalam tanpa ia sangka? Padahal sejauh ini, Yashinta menaruh kepercayaan besar pada dua orang itu.


Sebuah cahaya lampu mobil tak membuat Yashinta beranjak dari posisinya. Sudah lama gadis itu hanya berjongkok dengan tangan yang memeluk lutut dan kepala yang tertunduk. Menumpahkan air matanya tanpa henti sejak beberapa waktu lalu.


Ia tidak perduli dengan suara binatang malam yang menyeramkan andai ia sadar. Hanya satu hal yang terlintas di kepalanya, pulang. Ia ingin pulang.


"Yashinta."


Gadis itu mendongak, mengangkat pandangan dan mempertemukan matanya dengan mata Gibran. Alih-alih bangkit dan memeluk pria yang sudah ia tunggu-tunggu kehadirannya, gadis itu justru kembali menundukan pandangan dengan isakan yang kian keras terdengar.


Gibran berjongkok, menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya dan membuat tangis Yashinta kian menjadi dalam pelukan Gibran.


Sudah pernah gadis itu katakan sebelumnya, jika Gibran adalah rumah baginya. Tempat berkeluh kesah, tempat untuknya pulang.

__ADS_1


TBC


__ADS_2