Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Sekali Malaikat Tetap Malaikat


__ADS_3

Yashinta kembali pada Ranti dengan wajah yang berseri-seri, energi gadis itu seolah kembali. Ia tersenyum lebar melihat Ranti, "Ranti." tegurnya saat sahabatnya itu tampak melamun.


"Yas, loe akrab sama–dia?" Ranti bertanya dengan nada ragu. Yashinta mengernyitkan dahi, tapi beberapa detik kemudian begitu paham siapa.orang yang dimaksud Ranti, dia tersenyum. "Dia kenalan Yas. Yang sering Yas ceritain ke Ranti." beritahunya yang membuat Ranti mematung di tempat dengan kepala yang sudah dipenuhi berbagai pertanyaan.


Ekspresi yang gadis itu tunjukan tampak tak terbaca. Tapi ia jelas sangat terkejut mendengar hal itu dari Yashinta. Jika Gibran adalah kenalan Yashinta. Artinya selama ini mereka membahas orang yang sama?


Membicarakan dan mengagumi orang yang sama? Pria yang sama?


Jika Gibran yang ia kemal dan sudah membuatnya jatuh cinta adalah kenalan Yashinta, makan dia adalah orang yang berciuman dengan Yashinta? Bahkan Yashinta pernah ke apartementnya dan meminjam baju pria itu.


Ranti tiba-tiba saja, untuk pertamakali merasa minder pada Yashinta. Gadis itu sudah melangkah begitu jauh dengan Gibran. Adalah hal yang wajar memang, mengingat jika mereka tinggal di dunia yang sama, sangat berbeda dengan Ranti. Ia berada di bawah, bahkan di dasar yang tak bisa siapapun lihat.


Sean yang melihat gadis itu hanya memaku memerhatikan, merasa ada yang janggal. Tapi kemudian ia memilih tidak prrduli dan berlalu pergi dari sana setelah meraih jaket yang semula ia simpan. Kalau Sean tidak salah tanggap, barangkali Ranti tertarik pada Gibran, terlihat dari tatapan mata gadis itu. Sementara Yashinta yang tak lain adalah adik iparnya begitu akrab. Sangat wajar.


Sean tersenyum, ia memang cukup peka. Tapi kali ini, ia jadi bertanya-tanya. Sekiranya Ranti tahu tidak jika Gibran adalah kakak kandung Kafka? Bagaimana jika dia tidak tahu kemudian mengetajui fakta itu nanti? Sangat menarik. Mengingat bagaimana dia sangat membenci Kafka.


***


Yashinta dan Ranti mengantarkan makanan yang baru saja Gibran pesan, senyum Ranti setiap kali melihat pria itu kali ini ini lenyap. Setelah mengetahui fakta jika Gibran adalah kenalan Yashinta, Ranti tidak lagi merasa berselera. Hatinya mendadak hampa dan ia tidak semangat bekerja.


"Yashinta." Gibran berbisik sesaat setelah Yashinta menaruh pesanannya di atas meja. Gadis itu hanya menaikan alis. Gestur bertanya.


"Setelah ini kamu sibuk nggak?"


Yashinta menggelengkan kepalanya dengan segera. "Kalau begitu, setelah makan saya ingin bicara. Bisa?" tanya Gibran, Yashinta sempat menoleh pada Ranti sesaat, gadis itu mengukir senyum yang tampak dipaksakan.


Setelahnya, Yashinta beralih pada Gibran dan mengangguk, membuat Gibran mengukir senyum. Hal itu tidak luput dari perhatian para karyawannya, namun begitu mereka hanya bisa saling menyikut dan tersenyum tanpa berkomentar apapun.


"Yashinta, boleh minta tolong. Siapkan privat room nomor tiga, ada perusahaan yang reservasi di sana." waitress yang semula memberi Yashinta tugas dengan buku menu bersuara, ia juga tampak sedang sangat kerepotan melayani para pelanggan.


Sementara di pintu masuk, Yashinta melihat beberapa orang tidak jadi masuk ketika melihat tempat yang begitu penuh, sama sekali tidak ada meja kosong.


"Iya, Mbak."


"Kayaknya bakal datang banyak pelanggan lagi." Ranti bersuara, Yashinta menyahut pasrah dengan wajah lelah. Sehingga membuat Gibran yang melihatnya merasa tidak tega.


"Saya bisa bantu." Gibran tiba-tiba saja bangkit dari duduknya dan membuat Yashinta membulatkan mata, ia mengibas-ngibaskan tangan, menolak bantuan yang pria itu tawarkan.


"Kenapa? Saya bisa diandalkan, kamu tenang aja." pria itu tampak tidak bisa dicegah, melepas jas yang dikenakannya dan menyampirkannya pada sandaran kursi yang semula ia duduki.


"Ta–tapi nggak usah, Mas Gibran lagi makan." gadis itu mencegah dengan suara pelan. Gibran hanya tersenyum, seperti biasa tidak bisa dicegah.


"Saya bantu Pak Gibran." salah satu karyawan Gibran bangkit dengan makanan yang masih tersisa di piringnya.


"Saya juga." seorang wanita mengikuti.


"Saya juga."


"Saya juga."


"Saya–"

__ADS_1


"Cukup!" Gibran segera mencegah. Membuat orang yang baru saja akan bangkit itu kembali duduk di tempat.


"Kalian lanjutkan saja. Langsung kembali ke perusahaan setelah selesai." sambungnya yang langsung diiyakan. Gibran tidak ingin mengacau acara makan siang para karyawannya.


Yashinta dan Ranti di tempatnya tidak bisa berkata-kata, terpana dengan aksi heroik yang Gibran lakukan. Dia memang malaikat, begitu Yashinta berdecak.


"Kita langsung mulai?" salah satu karyawan Gibran yang sudah menggulung lengan kemejanya bertanya, segera mendapat anggukan dari Yashinta dan Ranti yang kemudian menuntun mereka menuju ruang reservasi.


"Dia saudara Pak Gibran?" karyawan yang Gibran tinggalkan bertanya-tanya.


"Kayaknya bukan, diliat dari interaksinya, mereka seperti bukan saudara."


"Hmm, persis seperti pria dan wanita?"


"Iya, kalau enggak. Mana mungkin Pak Gibran mendadak mau jadi waiter di sini. Padahal dia sibuk di perusahaan, tapi justru buang-buang waktu berharganya di sini."


"Setuju, awalnya juga dia nggak bisa makan siang bareng karena sibuk." yang lain terus menyambung, tentunya obrolan itu didominasi oleh kaum wanita.


"Makan, jangan gosipin atasan!" salah satu dari mereka menghentikan gosip hangat itu.


Beberapa saat kemudian, Gibran dan beberapa karyawannya sudah memulai aksi menjadi waiter dadakan dan melayani para pelanggan, membantu Yashinta dan waitress lain yang tampak kerepotan.


Ketika yang lain sibuk di luar, Yashinta baru menyadari jika ia hanya berdua dengan Gibran di ruang reservasi. Dua orang yang sedang menatapl meja itu hanya saling bertatapan. Yashinta tersenyum sebelumnmemutus kontak matanya dengan Gibran.


"Yashinta."


Gadis itu mendongak menatap Gibran. "Hmm?"


Ia berniat membicarakan hal yang sudah semalam mereka bahas sebelumnya bersama Yashinta dengan segera. Yashinta sempat terdiam beberapa saat sebelum menyahut.


"Enggak ada kayaknya, Mas. Ada apa?" tanya gadis itu, penasaran.


"Mm," Gibran justru tampak berpikir. Bukan tidak ingat dengan apa yang akan dikatakannya pada Yashinta. Melainkan ia sedang menyusun kata yang tepat untuk menyampaikan hal yang sudah ia rencanakn di luar kepala pada gadis itu.


"Apa Mas Gibran? Tentang ketemu Bunda-nya Mas Gibran?" gadis itu menebak, tanpa ia sangka jika tebakannya tepat sasaran, karena Gibran tampak menganggukan kepala meski samar.


"Kapan?"


Gibran tampak tercengang mendengar pertanyaan tersebut. Seolah Yashinta benar-benar sudah siap untuk bertemu dengan bundanya. Gadis itu tidak terkejut sedikitpun.


Gadis itu justru mengangguk-anggukan kepala melihat reaksi pria di hadapannya. "Lebih cepat lebih baik, 'kan?" ujarnya penuh keyakinan. Gibran tersenyum, kemudian menganggukan kepala.


Sementar dari balik pintu, Ranti yang membawa nampan berisi beberapa gelas kosong hanya diam di sana setelah mendengar obrolan Gulibran dan Yashinta dari dalam. Yashinta bahkan sudah akan bertemu dengan ibu Gibran, mereka sudah sejauh itu?


Ranti semakin putus asa dan memutuskan berhenti, tapi ada sesak di hatinya. Meski pada akhirnya ia mati-matian meyakinkan diri jika perasaannya pada Gibran hanya perasaan semu, perasaan sesaat dan tidak akan membuatnya patah dengan hebat.


***


Semua orang bernapas lega begitu restoran mulai sepi dan para waitress juga waiter dapat beristirahat dari aktivitas melelahkan yang terjadi beberapa jam ini.


Waitress lain menyajikan makanan di meja yang Gibran dan beberapa karyawannya tempati. Membuat mereka tampak heran.

__ADS_1


"Makasih Mas Gibran dan rekan-rekan, ini hadiah dari Yas buat kalian. Tadi kalian belum sempat makan." ungkap gadis itu seraya meletakan sebuah piring berisi menu spesial di hadapan Gibran.


"Gaji kamu cukup buat traktir kita?" tanya salah satu karyawan Gibran, tidak tega jika membiarkan gadis itu harus mentraktir mereka.


Yashinta tak menanggapi, hanya tersenyum tipis dengan kepala yang mengangguk samar. "Permisi Pak, Yashinta ini anak pemilik restoran–restoran ini." beri tahu salah satu waitress yang membuat orang itu melongo. Begitu juga beberapa karyawan Gibran yang lain. Sementara Gibran dengan waitress lain berikut juga Yashinta hanya tersenyum.


***


"Biar saya antar pulang."


Yashinta yang berjalan dengan Ranti menoleh pada Gibran yang keluar bersama dengan mereka dari restoran. Saat itu, waktu menunjukan pukul sstengah lima sore, manajer restoran menyuruh para karyawannya pulang cepat hari ini karena mereka sudah bekerja cukup keras dan nyaris menghabiskan bahan makanan.


"Yas pulang sama Ranti."


Gibran mengernyit, baru menyadari hal itu. Sedangkan Ranti tersenyum tipis dengan raut kikuk dan hati pilu, bahkan Gibran tidak menyadari kehadirannya. Ranti memang tidak seterang Yashinta, ia redup.


"Yas, gue mau pulang naik bus aja." sahut Ranti dengan cepat.


"Biar saya antar aja." Gibran mencegah, Yashinta mengangguk mengiyakan agar Ranti ikut dengan mereka.


"Iya, Ranti pulang bareng aja. Ranti mau pulang ke rumah Yas, 'kan?"


"Gue langsung pulang ke rumah aja, Yas. Gue ada urusan."


"Gue nitip baju gue yang ketinggalan di rumah loe, yah." gadis itu menepuk bahu Yashinta dan berlalu pergi dengan begitu saja.


"Eh," Yashinta hendak menghentikannya namun ia tidak bisa. Sehingga yang bisa dilakukannya hanya menatap punggung Ranti yang kian menjauh dari pandangannya. Begitu punggung gadis itu menghilang, Yashinta mengalihkan perhatian pada Gibran.


"Ayo," pria itu segera berjalan ke arah mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yashinta.


Semula, Yashinta pikir Gibran akan langsung mengantarkannya ke rumah. Namun pria itu justru membawanya mendatangi sebuah butik terlebih dahulu. Tidak lama, karena menurut Gibran, ia hanya mengambil barang pesanan miliknya.


"Emang isinya apaan, sih?" tanya Yashinta ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah gadis itu.


Alih-alih menjawab, Gibran justru menyerahkan paper bag dengan logo butik tersebut pada Yashinta, setengah ragu dan heran gadis itu membukanya, dimana ia mendapatkan sebuah gaun tanpa lengan berwarna putih.


"Buat kamu, untuk ketemu Bunda saya nanti. Saya kira ukurannya cocok, selain itu saya juga suka." ujar Gibran berterus terang. ia memang sudah menyiapkannya sejak kemarin malam setelah Yashinta menyetujui ajakannya untuk bertemu Bunda.


"Padahal Mas Gibran nggak perlu repot-repot. Yas udah beli beberapa gaun pas kemaren mau ke acara ulang tahun perusahaan Papa." sahut gadis itu. "Tapi makasih." sambungnya dengan senyum manis.


"Saya akan segera menghubungi Bunda. Biar kita segera bertemu."


Yashinta mengangguk atas kalimat pria itu, mendadak dadanya berdebar. Kenapa rasanya seperti saat pertama kali Kafka membawanya bertemu dengan Bundanya? Dada Yashinta berdebar dan ia panas dingin tak karuan, rasanya seperti ingin ke toilet tapi ternyata bukan. Padahal Gibran masih merencanakan waktunya, tapi ia sudah gugup dari sekarang.


"Kamu santai aja nanti, Bunda saya baik." Gibran menenangkan, Yashinta tidak bisa berkata-kata, hanya mampu tersenyum bersamaan dengan mobil yang Gibran kemudikan berhenti ketika sudah sampai di depan gerbang rumahnya.


"Gaunnya dicoba, kamu foto dan kirim ke saya. Bagaimana? Saya ingin lihat cocok atau enggak, biar kita bisa ganti nanti kalau sekiranya nggak cocok atau kamu nggak nyaman." pesan Gibran sebelum gadis itu turun dari mobilnya.


"Siap Bos." Yashinta menyahut patuh, keluar dari mobil Gibran usai mengucapkan terimakasih dan hanya melambaikan tangan ketika Gibran berlalu meninggalkan gerbang rumahnya.


TBC

__ADS_1


Gimana, ya, reaksi Bunda sama Kafka nanti pas tahu kalau cewek yang mau Mas Gibran kenalin ke mereka itu Yashinta? Hmm.


__ADS_2