
"Pacarnya Non Yashinta ganteng, tajir juga kayaknya. Kamu nggak ada niatan buat pacaran juga?" suara Ibu Ranti membuat gadis yang hanya duduk diam di sofa sembari memakan sisa kue yang dibawa Yashinta dan Kafka itu hanya mendesah.
"Aku nggak mikirin pacar-pacaran Bu. Pokoknya lulus sekolah dan dapet kerja dengan gaji yang lumayan. Urusan cinta belakangan." gadis itu menyahut acuh tak acuh. Tapi beberapa saat kemudian, ia merenung.
Andai orang yang berpacaran dengannya adalah Gibran, maka mungkin Ranti akan bersedia.
Selang beberapa detik setelahnya, gadis itu segera menggelengkan kepalanya. Sadar jika ia nyaris melewati batas. Rasanya sangat tidak pantas jika ia berpikir demikian.
Ia dan Gibran bagaikan langit dan bumi. Sangat jauh berbeda. Gibran tak mungkin ia raih, posisi pria itu benar-benar tinggi, sangat jauh dari jangkauannya.
"Siapa tau kamu juga ingin menikmati masa remaja kamu. Jangan terlalu terpaku sama keadaan kita, kamu juga berhak bahagia." ucap Ibu yang hanya didengar oleh gadus itu seperti angin lalu. Ibu tampak menatap putrinya tersebut kemudian mengembuskan napasnya.
"Yang kaya sama yang kaya, kita yang miskin ini masa iya harus sama yang miskin lagi." ujar Ibu, tampak kecewa entah pada siapa.
"Itulah kesetaraan, Bu." Ranti menyahut singkat.
"Harus perbaiki kualitas diri kalau emang mau sama yang berjaya. Ranti orang susah, mana ada yang mau."
Ibu menatap putrinya itu, kemudian mengembuskan napas. Salahnya memang karena tidak dapat memberikan kehidupan yang layak untuk kedua putrinya, namun demikian. Ibu dan Ayah sudah berusaha sebaik mungkin dalam mencukupi kebutuah keluarga, meski hal itu belum mampu mencukupi mereka sepenuhnya.
Ibu hanya tidak ingin, jika Ranti harus mengorbankan masa remajanya dengan kerja keras karena tuntutan ekonomi keluarga. Ibu juga ingin melihat anaknya bermain dan jatuh cinta, tidak melulu bekerja.
Maka dari itu Ibu merasa bersyukur Ranti berteman dengan Yashinta, sehingga Ranti banyak mengetahui tentang dunia dimana Ayah dan Ibu tidak bisa memperlihatkannya pada Rnti.
Tentunya dunia yang mewah, yang hanya ditempati oleh orang dari kalangan atas seperti Yashinta dan keluarganya.
Ibu hanya berharap, bersama siapapun Ranti nantinya, orang itu akan menyayangi dan mencintai Ranti. Anaknya adalah gadis yang baik, jadi Ranti berhak mendapatkan yang baik pula terlepas dari bagaimana keadaan ekonomi pasangannya nanti.
****
Kafka tidak langsung pulang ke apartementnya atau ke rumah Bunda setelah ia pulang dari rumah Ranti. Ia mampir ke tempat Hafi sebentar kemudian barulah pulang ke apartementnya saat waktu menunjukan pukul setengah dua belas malam.
Jujur Kafka sedikit terkejut saat mendapati sang kakak berada di depan pintu unit apartementnya. Pria itu hanya bersandar pada pintu apartement dengan tangan tersilang di dada dan mata yang terpejam, tampaknya Gibran sudah lama menunggunya.
"Ngapain?" tanya Kafka, membuat pria itu membuka mata perlahan dan menatap sang adik yang baru saja tiba. Gibran lantas menegakan tubuhnya.
__ADS_1
"Dari mana aja kamu?"
Kafka tak menyahut, menekan password pintu apartement dan masuk, Gibran mengikutinya dari belakang.
"Gue udah gede, loe nggak cape ngawasin gue terus?" protes Kafka, kemudian membanting tubuhnya ke sofa dan memejamkan mata. Cukup membuat Gibran menghela napasnya dalam-dalam melihat tingkah anak itu.
"Akhir-akhir ini kamu datang ke kelab malam?" tanya Gibran, Kafka membuka matanya. Tatapan mata pria itu tampak kesal, Kafka tampak risih karena sang kakak tau apa yang dilakukannya, berikut juga ia merasa dongkol karena Gibran terus mengawasinya.
"Kalau kamu mau berenti sekolah dan jadi gelandangan di luar sana bilang. Enggak usah buang-buang waktu kamu di sekolah." sarkas Gibran.
Hal itu berhasil membuat Kafka mendengkus kasar. Tentu ia merasa kesal dengan apa yang Gibran katakan, sudah ia bilang jika dirinya sudah dewasa dan Gibran tidak perlu terus-menerus mengawasinya.
"Kapan, sih, gue bisa bebas dari radar loe. Loe nggak cape harus ngurus perusahaan dan masih ngawasin gue?"
"Itu karena Mas bertanggung jawab untuk masa depan kamu."
"Loe nggak perlu repot-repot ngurusin gue, gue bisa urus diri gue sendiri."
"Urusin aja tuh, pacar loe!" Kafka berbicara dengan suara pelan namun Gibran tampak mengabaikan sekalipun mendengar hal itu.
"Gue nggak suka dikekang, Mas!" Kafka meninggikan suaranya.
"Mas bukan kekang kamu Kafka. Kalau kamu memang sudah dewasa kamu pasti tau mana yang baik atau enggak buat kamu jalanin."
"Kamu tau berapa lama Mas nungguin kamu?"
"Gue nggak minta!"
Gibran diam, pria itu tampak mati-matian menahan emosinya. Ia tau bagaimana harus menghadapi remaja labil seperti Kafka. Ia sadar jika dirinya memang tidak perlu terlalu keras terhadap sang adik. Awalnya Gibran membiarkan anak itu tidak pulang ke rumah dan tinggal di apartement.
Namun saat mendapati Kafka terus mengunjungi kelab dan pulang larut malam, Gibran jelas merasa tidak bisa membiarkannya terus menerus. Ia belum cukup percaya jika pria itu mampu mengurus dirinya sendiri.
"Kekhawatiran loe nggak berdasar!" ucap Kafka lagi seraya bangkit dari posisinya.
"Apa ini pemberontakan?" tanya Gibran, sesaat Kafka memaku di tempatnya.
__ADS_1
"Pemberontakan dari apa?" Kafka balik bertanya.
"Kamu nggak terima kalau Mas sama Yashinta?"
"Gue udah bilang Yashinta udah gue buang, loe bebas ambil."
"Tapi kamu nyesel buang dia?" sela Gibran dengan cepat, kali ini Kafka mematung, ia hanya mengerjap di tempatnya. Cukup lama hingga membuat Gibran mengembuskan napasnya.
"Kamu sendiri yang ngelepasin Yashinta dan nyakitin dia. Mas cuma berusaha nyembuhin luka di hati Yashinta karena Mas jatuh cinta sama dia."
"Mas nggak ngerebut dia, tapi kamu sendiri yang nyerahin dia ke Mas, Kafka." panjang lebar Gibran.
Kafka smirk, "loe yakin loe bener-bener jatuh cinta sama Yashinta?" tanya Kafka. Cukup membuat Gibran heran dan hanya mengernyit di tempatnya mendengar pertanyaan Kafka.
"Kemaren gue ketemu sama Mbak Kanza, loe yakin anak yang sama dia bukan anak loe?"
"Lima tahun yang lalu kalian liburan di Tokyo. Loe yakin nggak terjadi apa-apa sama kalian?"
"Jangan pernah bahas Kanza di hadapan Mas, Kafka!" Gibran tidak terima. Kafka hanya berdecih, kemudian menapaka anak tangga dan masuk ke kamarnya. Gibran sempat mendengar suara pintu yang dibanting begitu keras sebelum kemudian ia memutuskan untuk keluar dari apartement sang adik dan pulang sebelum amarah yang berusaha dikendalikannya meluap.
Gibran segera masuk ke dalam gudang di apartementnya begitu tiba di apartement. Ia membuka sebuah laci berisi album foto dan membawanya keluar.
Beberapa waktu setelahnya, pria yang masih mengenakan stelan kantornya itu hanya mematung menatap api yang melahap habis album foto yang selama ini ia simpan rapi lebih dari lima tahun.
Kanza adalah luka baginya, tetapi Gibran sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan kenangan yang mereka lalui. Itu sebabnya ia sama sekali tidak terkejut atas pertemuannya dengan Kanza setelah lima tahun.
Begitulah hidup memberinya berbagai kejutan.
Pria itu meraih ponselnya, ia mendial nomor Yashinta namun beberapa saat hanya mematung melihat kontak gadis itu saat menyadari jika waktu sudah menunjukan pukul satu dini hari.
Ia yakin Yashinta sudah tidur. Gibran melihat lagi album foto miliknya berisi foto-foto Kanza dan Gibran saat masih berpacaran. Sekilas wajah Reikansa melintasi kepalanya. Pria itu menggeleng, terlebih saat ia mengingat apa yang Kafka katakan.
"Kemaren gue ketemu sama Mbak Kanza, loe yakin anak yang sama dia bukan anak loe?"
"Lima tahun yang lalu kalian liburan di Tokyo. Loe yakin nggak terjadi apa-apa sama kalian?"
__ADS_1
TBC