Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Pulang Bersama


__ADS_3

"Nanti nongkrong, lah, yu." ajak Aris disela-sela makannya, Sean menggelengkan kepala, membuat Aris mengerutkan kening. "Gimana Ka?" ia beralih pada Kafka dan Kafka tampak hanya mengangguk saja.


"Kenapa Se?" tanyanya kemudian, kembali pada Sean yang tengah menenggak minuman. Aris harus menunggu sebentar untuk mendapat jawaban.


"Gak bisa, nanti malem gue ada acara." jawab Sean setelahnya, meletakan botol minumnya dan sekilas menatap Yashinta, sedangkan gadis itu asik makan meski telinganya tetap menyimak obrolan para cowok di meja tersebut.


"Biasa, anak pengusaha sukses. Sibuk." Kafka berdecak, Aris menaikan turunkan alisnya mengiyakan.


"Ajak aja Hafi sama temen-temennya!" intruksi Kafka kemudian. Aris segera mengangguk mengiyakan, mendengar nama Hafi disebut, Yashinta merasa familiar dan mengangkat pandangan, melihat Kafka yang duduk di sampingnya.


"Nongkrongnya di club malam yah, Aris?" tanyanya pada Aris yang membuat Aris menatap Kafka dengan bingung, Kafka mengrutkan kening dengan mata menyipit. "Enggak, lah, Yas. Kita ke restoran mahal." Aris menyahut dengan cengengesan.


"Siapa yamg mau traktrir? Emang Aris ada uang?" tanya Yashinta yang membuat pria itu melongo, merasa diejek oleh Yashinta. Sedangkan Kafka dan Sean tampak saling menahan senyumnya.


"Gue nggak setajir loe, Yas. Tapi bukam berarti gue mau traktir temen-temen gue, lah. Bayar sendiri-sendiri aja." Aris dengan cengengesannya tampak tidak tersinggung.


Yashinta hanya mencebikan bibir mendengar respond pria itu. "Mau ikutan, Yas?" tanyanya kemudian dengan mata berbinar seolah mengharapkan Yashinta untuk ikut dan mentraktir.


"Nggak bisa, Yas ada acara malam ini." sahut Yashinta, kemudian kembali melahap mie baksonya. Membiarkan wajah Aris murung karena kalimat gadis itu memudarkan harapan Aris. "Kapan-kapan, deh, nanti Yas yang traktir." sambung gadis itu, spontan membuat binar di mata Aris mengkilat menyilaukan Kafka dan Sean yang menggelengkan kepala melihat tingkah kawannya itu.


***


"Bokap loe mgasih gue kerjaan, gajinya layak, rekan-rekan gue di sana juga baik sama gue. Baru perkenalan aja gue udah betah banget."


"Thanks yah, Yas, loe emang sahabat terbaik gue."


Yashinta hanya tersenyum tipis sembari menggandeng tangan Ranti ketika sahabatnya itu mengoceh mengenai hal tersebut, berterimakasih padanya tanpa henti sejak keluar dari kelas begitu bel pulang.


"Kalau temen gue bukan loe, gue nggak tahu hidup gue bakal kaya gimana." sambungnya, tampak tulus.


"Ranti, jangan ngomong kaya gitu. Yas cuma perantara aja, selebihnya yang baik sama Ranti itu Tuhan, bukan Yas." Yashinta menyahut dengan nasihat. Menyadarkan Yashinta jika sepenuhnya sudah ada yang mengatur, manusia hanyalah perantara.


Ranti pamit setelahnya ketika bus tujuannya sudah tiba, sementara Yashinta masih harus di sana guna menunggu kedatangan sopirnya. Kafka sudah lebih dulu berlalu bersama dengan Aris, melewatinya bahkan tanpa menawarkan tumpangan.


Yashinta kira mungkin Kafka masih marah perkara butter cake kemarin.


"Masha."


Gadis yang hanya menatap sepatunya itu menaikan pandangan, melihat seorang pria di dalam mobilnya tersenyum padanya.


Gibran pulang ke rumah untuk mengambil beberapa berkasnya yang tertinggal, ia mengambil jalan pintas melewati sekolah Kafka karena jalanan yang biasa dilewatinya macet karena ada perbaikan jalan.


Mata tajamnya menangkap sosok gadis mungil tengah duduk di halte bus, tampak menunggu jemputan dan membuat Gibran tertarik untuk menawarkan tumpangan karena ia mengenali gadis itu.


"Masha." panggilnya setelah sempat membunyikan klakson.

__ADS_1


"Mas Gibran." gadis itu tampak melambaikan tangannya dan bangkit perlahan dari duduknya.


"Kamu nunggu jemputan?"


"Iya."


"Pulang bareng saya." tawarnya, Yashinta lantas mendekat pada mobil Gibran. "Pulang bareng saya." Gibran mengulangi tawarannya barangkali Yashinta tidak mendengar karena bisingnya suara mesin kendaraan.


"Yas nunggu jemputan, Mas." sahut gadis itu, tak lama setelahnya ponsel dari saku seragam gadis itu berdering. Yashinta segera merogoh ponsel dan menggeser ikon hijau. Raut wajahnya tampak murung begitu menerima telpon.


"Oh, gitu, yah, Pak. Yaudah, deh. Enggak papa." sahutnya yang membuat Gibran tersenyum. "Tawaran saya masih berlaku, kayaknya mobil jemputan kamu dapat masalah." sahut pria itu yang sejak tadi memerhatikan.


"Sopir Yas bakalan telat jemput, ban mobilnya pecah dan sekarang lagi di bengkel." sahut gadis itu yang membuat Gibran segera membukakan pintu mobil. Yashinta diam seolah mempertimbangkan, sedangkan pria dibalik kemudinya itu sudah menepuk bangku penumpang untuk menyuruh Yashinta agar segera duduk.


Tak lama setelahnya, mobil melaju bersama dengan Yashinta yang untuk kali kedua duduk di dalam mobil pria itu tepat di sampingnya.


"Kita mampir dulu." sahut Gibran ketika mobil melewati sebuah kafe. "Enggak usah, Mas. Langsung pulang aja." Yashinta menyahut dengan senyum manis, membuat Gibran menoleh.


"Saya enggak nawarin kamu." sahit pria itu yang membuat Yashinta mengerjap dengan senyum manis yang luntur dari wajahnya. "Saya laper." sambungnya, membuat Yashinta mencebikan bibir sedangkan Gibran hanya tersenyum.


Sementara di tempat lain, Ranti tampak semangat dihari pertamanya bekerja. Ia terlihat begitu ceria dan penuh suka cita melayani para pelanggan di restoran tersebut. Ketika kebetulan ia tengah membersihkan meja yang dekat dengan pintu masuk, ia bersiap menyapa sang pelanggan, "selamat dat–" belum kalimat tersebut ia selesaikan, senyum gadis itu luntur seketika, sedangkan pria yang baru saja datang itu hanya menaikan alis, menatapnya penuh heran.


"Loe nggak nyambut gue?" tanya Sean pada gadis yang justru malah mengabaikannya itu.


"Loe ngapain, sih, dateng ke sini?" tanya Ranti, tidak ramah. Sean tidak menyahut, hanya memerhatikan Ranti yang tampak tidak suka padanya.


"Gue kesel sama loe karena ngebiarin temen loe itu macarin sahabat gue." Ranti baru menyahut. "Udah, deh, loe nggak perlu mampir di restoran ini, jangan rusak mood gue!"


"Gue mau kerja." ucap Ranti yang memang tidak pernah menyembunyikan statusnya sebagai orang tidak mampu.


"Sana pergi!" usirnya, menolak untuk berdebat panjang dengan Sean.


"Mas Sean." Sean meluruskan pandangan, Ranti juga menoleh ke sumber suara dimana ada rekannya di sana yang baru saja memanggil Sean.


"Pak Manajer udah nunggu di ruangannya." beritahunya, Sean menganggukan kepala. Menatap sekilas pada Ranti yang menatapnya penuh heran lantas berlalu.


Ranti menatap punggung pria itu yang berlalu menuju ruangan manajer restoran dengan sesekali membalas sapaan para waitress, Ranti baru tersadar saat rekannya menepuk bahunya. "Kamu habis ngobrol sama Mas Sean? Kalian akrab, yah?" tanyanya, Ranti hanya mengangguk dengan wajah yang masih keheran-heranan.


"Oh, kalian satu selolah, yah?" tanyanya lagi yang lagi-lagi mendapat anggukan kepala dari Ranti.


"Tapi dia siapa? Kenapa harus ketemu Manajer Resto?" tanya Ranti setelah tersadar dari lamunanya.


"Oh, itu. Mas Sean keponakannya."


"Hah?"

__ADS_1


****


Yashinta memasuki kamar usai Gibran mengantarkannya pulang dengan selamat sampai ke depan gerbang rumah. Yashinta menawari pria itu untuk mampir namun Gibran menolak karena harus buru-buru kembali ke perusahaan.


Yashinta mengambil ponsel, berniat untuk menghubungi sang pacar dan menanyakan dimana keberadaannya. Tapi ia lebih dulu melihat jendela obrolannya dengan Gibran tepat dibawah nama Kafka yang ia sematkan.


Yashinta tersenyum mengingat beberapa waktu lalu saat keduanya mampir di kafe karena Gibran yang kelaparan.


"Yas nggak laper." sahut gadis itu ketika Gibran menawarinya makan. "Beneran?"


"Iya Mas Gibran, Yas beneran. Yas nggak suka bohong." ujarnya serius.


"Yaudah kalau begitu."


"Yas pesan tiramisu aja, yah." pintanya kemudian dengan senyum lebar, Gibran tersenyum pula lantas menganggukan kepala. "Mas Gibran sering mampir di sini?" tanya Yashinta usai Gibran memesan makanannya.


"Pernah beberapa kali."


"Pantesan."


"Kenapa?"


"Watiressnya kaya kenal gitu sama Mas Gibran."


"Hmm?"


"Ngeliatin Mas Gibran terus." Yashinta beberapa kali menangkap basah mereka yang tengah menatap Gibran.


Gibran mengangkat bahu acuh. "Mungkin karena saya tampan."


"Mas Gibran memang tampan?" tanya Yashinta yang tampaknya membuat Gibran terganggu dengan pertanyaan tersebut.


"Menurut kamu saya tidak ganteng?"


"Ganteng, sih, tapi sedikit."


Gibran terkekeh sedangkan Yashinta tampak biasa saja. "Yas nggak pernah bohong loh, Mas Gibran." ia meyakinkan.


"Iya, iya, saya percaya." sahut Gibran yang terlihat sabar meladeni Yashinta. Padahal kesan pertamanya pada gadis itu sangatlah buruk, ia bahkan tidak menyukai Yashinta yang banyak mengoceh. Tapi siang itu, Gibran begitu antusias mendengarkan Yashinta yang bercerita mengenai kegiatan sekolahnya tanpa Gibran minta.


Gadis itu melihat topi milik Gibran yang masih berada padanya karena pria itu memberikannya sebagai hadiah.


Yashinta heran sendiri, padahal ia dengan Gibran tidak begitu akrab, keduanya hanya sering bertumar pesan melalui ponsel, hanya itu.


Tapi Yashinta merasa begitu dekat dengan pria itu, terlebih cara Gibran mendengarkan semua ocehannya membuat Yashinta nyaman bercerita.

__ADS_1


"Om Gibran emang pengertian." decaknya begitu lamunannya buyar.


TBC.


__ADS_2