Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)

Yashinta (Kakak Iparku Cintaku)
Barang Buangan


__ADS_3

"Kemaren Yas ikut ke Bali sama Mas Gibran."


Yashint mulai bercerita bagaimana perjuangannya mengejar Gibran hingga tiba di Bandara. Yashinta mulai bercerita bagaimana ia menikmati liburan kilatnya dengan Gibran di Bali dan bagaimana cinta di antara mereka tumbuh saat intensitas pertemuan keduanya menjadi sering.


Ranti hanya menjadi pendengar yang baik. Bukan saja terhanyut akan cerita yang Yashinta sampaikan, tapi ia juga tidak tahu harus bereaksi seperti apa sedangkan sejujurnya hatinya perih mendengar hal itu.


Ranti sudah banyak menguatkan diri sendiri dan mempersiapkan hati untuk skenario terburuk yang saat ini tengah terjadi. Tapi rupanya, hatinya belum cukup siap untuk mendengar kenyataan ini. Mengingat fakta jika kemungkinan besar Yashinta dan Gibran memang akan menjalin hubungan dan hal itu tengah Yashinta lakukan, air mata gadis itu jatuh membasahi pipinya.


"Ranti,"


"Ranti nangis?" Yashinta tampak terkejut melihat air mengaliri pipi mulus Ranti. Ranti melongo, tampak terheran lantas menyeka air mata dengan punggung tangan. Ia sudah menangis tanpa sadar.


"Ranti kenapa?" tanya Yashinta dengan tangan yang ikut menyeka air mata gadis itu yang terus mengalir.


"Gue nggak papa."


"Terus kenapa nangis?"


"Pedes Yashinta." keluhnya seraya menyerahkan bungkus snack pedas yang sedang ia makan. Yashinta buru-buru menerima dan menyimpannya.


"Ranti nangis gara-gara makan snack pedas?" tanya Yashinta nyaris tertawa melihat kekonyolan gadis itu, perasaannya lega mendengar jika hanya snack alasan Ranti menangis.


Ranti menganggukam kepala, ia kian menangis setelah memiliki alasan pengalihan perasaannya. Yashinta memeluk gadis itu setelah memberi Ranti minum. Ia mengelus punggung Ranti dengan lembut.


"Yashinta, pedes."


"Pedes banget, yah? Biasanya, 'kan Ranti suka snack pedes."


"Tapi ini pedes banget." Ranti kian menangis, Yashinta yang tidak tahu harus berbuat apa hanya lanjut mengusap punggung Ranti dengan gerakan cepat.


"Yaudah, yaudah. Jangan makan snack pedes lagi, jangan dimakan lagi snacknya, yah." ucapnya, Ranti hanya menganggukan kepala. Dengan tangan yang meremas dada, menahan perih di hatinya kemudian menyadarkan diri jika ia harus tahu diri dan tidak perlu cemburu apalagi sampai menangis tersedu.


Ranti mengutuki apa yang dilakukannya saat ini. Ia justru membuat dirinya sendiri tampak menyedihkan.


Ketika waktu menunjukan pukul setengah sebelas malam dan Yashinta sudah terlelap dalam tidurnya, Ranti masih terjaga. Ia beranjak dari posisi berbaringnya dan menyandarkan punggung pada kepala ranjang. Menatap lekat-lekat wajah cantik Yashinta dalam tidur.


"Hidup loe beruntung banget, sih, Yas?"


Ketika terdengar suara denting ponsel gadis itu tepat di samping bantal, Ranti meraih ponsel Yashinta ragu-ragu. Membaca sebuah pesan masuk dari ID Kakak Ipar.


Kakak Ipar


Masha


Sudah tidur?


?


Selamat beristirahat🌷


Ranti mengukir senyum kecutnya membaca pesan beruntun itu, ia menaruh kembali ponsel Yashinta lantas membaringkan diri dan mulai memejamkan mata dengan hati yang mengutuki diri. Seharusnya setelah ia tahu Gibran adalah kakak kandung Kafka–pria yang sangat ia benci, ia berhenti jatuh cinta pada pria itu.


Namun ternyata, ia tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri dan justru terus terjebak dengan perasaan cintanya pada Gibran.


****


Hari-hari terus berlalu sebagaimana mestinya. Yashinta melewatinya dengan banyak perubahan dalam hidupnya. Ia mulai berbaur dengan kawan-kawan sekolahnya dan mengikuti beberapa ekskul yang direkomendasikan oleh Deril.


Yashinta tentu saja sangat berterimakasih. Setelah sadar jika berbaur itu penting, ia menyalahkan diri sendiri karena sebelumnya ia menjadi anak yang anti soaial, sangat membatasi diri dan enggan berteman dengan sekitar.

__ADS_1


Ditambah lagi ia memiliki pacar toxic seperti Kafka yang juga memberikan batasan liar. Melarang dirinya untuk bergaul dan mengikuti kegiatan sekolah. Membuat Yashinta kian terisolasi sendiri.


Tapi sekarang, gadis itu dipenuhi senyuman lebih banyak dari biasanya. Membuat Kafka yang diam-diam tidak bisa untuk tidak memerhatikan gadis itu menyadari perubahan besar yang terjadi pada Yashinta sejak putus darinya.


Bukan ia sengaja memerhatikan gadis itu, tapi Yashinta selalu berada di sekitarnya dan Kafka tidak bisa menghindar.


Sean hanya memerhatikan Kafka saat pemuda itu lekat-lekat menatap Yashinta yang tengah mengobrol dengan Deril. Sesekali ia menikmati makannya dan menyadari jika makanan Kafka masih utuh.


Aris yang duduk di samping Sean hanya mengangkat bahu, seperti itulah potret Kafka setelah putus dari Yashinta.


"Hmm, sebentar lagi, 'kan kita pemilihan ketua OSIS, kalau mau kamu boleh gabung." sahut Deril kemudian melahap makanannya. Yashinta di hadapannya mengerutkan kening.


"Kan nanti Yas juga ikutan, Yas, 'kan nyoblos."


Deril tersenyum mendengar jawaban polos gadis itu. "Maksudku jadi panitia,"


"Emang bisa sembarangan orang ikut? Yas, 'kan bukan pengurus OSIS."


"Enggak papa, kalau kamu mau boleh, kok." Deril memberikan penawaran tersebut untuk Yashinta agar gadis itu merasakan bagaimana menjadi panitia pemilihan. Tapi tampaknya, Yashinta merasa sedikit tidak enak untuk mengiyakan niat baik Deril.


Jujur ia tergiur dengan tawaran Ketua OSIS. Tapi seperti yang semua orang ketahui dirinya bukanlah pengueus OSIS. Yashinta takut jika para pengurus OSIS akan tidak suka padanya karena menjadi panitia dengan tiba-tiba.


"Gimana?" tanya Deril.


Yashinta perlahan menggelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya. "Makasih, deh, Deril. Nggak papa, Yas ngeliatin aja nanti." ujarnya dengan penuh keyakinan.


"Beneran?" Deril memastikan, Yashinta menganggukan kepala dan akhirnya membuat Deril juga mengangguk penuh pengertian, tak ingin memaksa.


***


Kakak Ipar


Saya di depan sekolah kamu.


Mau pulang bareng saya?


Sontak Yashinta membulatkan mata begitu membaca pesan dari Gibran begitu anak-anak membubarkan diri dari sekolah tepat setelah bel pulang berbunyi.


Yashinta bukan tidak senang Gibran datang menjemputnya. Justru ia sangat senang mengingat jika sepulang dari Bali, mereka belum pernah bertemu karena Gibran yang sibuk dengan pekerjaannya.


Tapi masalahnya, Yashinta tidak ingin mengekspos hubungannya dengan Gibran disaat mana ia baru saja putus dari Kafka. Yashinta bukan ingin menjaga perasaan Kafka, ia tidak perduli–lebih tepatnya ia berusaha untuk tidak perduli.


Melainkan ini untuk kebaikna dirinya sendiri. Memangnya apa yang akan anak-anak katakan nanti jika mengetahui bahwa dirinya sudah berpacaran padahal baru saja putus dari Kafka?


"Yashinta, hey." Ranti yang sudah merapikan peralatan tulisnya dan siap keluar dari kelas untuk pulang mulai melambaikan tangan di hadapan wajah Yashinta karena gadis itu hanya melamun dengan ponsel di tangannya.


"Loe nggak balik?"


"He'h, Ranti?" Yashinta gelagapan.


"Oh, ini. Ranti duluan aja, Ranti, 'kan harus buru-buru ke resto."


"Loe nggak papa ditinggal sendiri?" Ranti mengedar pada seisi kelas yang sudah sepi.


"Nggak papa."


"Yaudah, kalau gitu gue duluan." ujar Ranti yang kemudian berlalu tanpa memaksa gadis itu untuk keluar bersama dengannya.


Ranti memilih mempercepat langkah agar ia tidak tertinggal bus pertamanya. Hingga begitu ia berada di depan gerbang dan melihat sebuah mobil dengan kaca jendela bagian kemudi yang sedikit terbuka, gadis itu perlahan menghentikan langkah.

__ADS_1


Ia tersenyum kecut, melihat lagi keadaan sekolah di mana Yashinta masih berada di sana sedangkan sang pacar tengah menunggunya di depan gerbang. Ranti mampu mengenali jika pria itu adalah Gibran.


Ranti tak mau ambil pusing, ia melanjutkan langkahnya keluar gerbang kemudian berjalan menuju halte bus.


Di dalam kelas, Yashinta masih menatap pesan yang sang pacar kirimkan. Ia menghela napas sesaat sebelum kemudian bangkit untuk segera keluar dari kelas, menemui Gibran dan pulang. Ia berharap semua siswa SMA Firgo sudah membubarkan diri dari sekolah.


Gadis itu keluar dari kelas bersamaan dengan Kafka yang ternyata berada di pintu kelasnya seraya merapikan tas yang dipakainya dengan langkah santai. Sepertinya mereka harus kebetulan berpapasan.


Kafka tidak benar-benar sengaja melakukan hal itu, ia bahkan tidak tahu jika Yashinta masih berada di dalam kelasnya.


Dua orang itu hanya terdiam canggung, sementara Kafka mengingat malam dimana ia mendatangi apartemen Gibran sepulang pria itu dari Bali.


Gibran tampak terkejut dengan kehadirannya. Tapi juga tampak menutupi hal tersebut dan tetap membiarkan Kafka masuk. Kafka membanting tubuhnya ke sofa sedangkan Gibran mengambil dua minuman kaleng dari lemari pendingin kemudian menyerahkannya satu pada Kafka.


"Thanks," sahut Kafka, Gibran yang tengah menenggak minuman kalengnya mengangguk samar. Memerhatikan sang adik yang tiba-tiba saja datang ke apartementnya.


Gibran memang sempat menghubungi Bunda dan memberitahukan wanita tersayangnya itu jika ia sudah pulang dari Bali, mungkin Kafka tahu dari Bunda jika ia sudah kembali.


Gibran mulai mengalihkan perhatiannya ke arah lain setelah cukup lama melihat raut kacau Kafka. Tapi ketika adiknya itu menghela napas panjang, ia menoleh.


"Ada apa?" tanya Gibran.


"Kamu kenapa?"


Kafka yang semula menyandarkan punggung pada sandaran sofa menegakan duduknya, kemudian menggelengkan kepala. "Nggak papa." Kafka menyhut singkat mengenai keadaannya.


"Gimana liburannya di Bali?" tanyanya kemudian.


Gibran tampak bergumam sebentar sebelum kemudian menyahut. "Hmm, seperti itu."


"Pantainya bagus dan pemandangannya indah." Gibran menyahut seperlunya.


"Pasti asik." karena Yashinta ikut. Kafka membatin.


Kali ini Gibran tampak tersenyum. "Kamu mau ke Bali?" tanya Gibran kemudian, "kalau mau nanti kita liburan kapan-kapan." "Setelah ujian semester satu selesai?" sambungnya yang dengan cepat mendapat penolakan dari Kafka.


Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu acuk tak acuh. "Gue nggak suka pantai." sahutnya. Gibran terdiam, ia baru mengingat hal tersebut jika sang adik memang tidak suka pantai sejak kecil.


Melihat Gibran terdiam, Kafka hanya memerhatikan. Sejujurnya ia penasaran apakah Gibran akan membahas Yashinta atau tidak.


"Jadi–loe ngehadirin acara resepsi pernikahan Mas Bayu sendiri? Loe nggak bawa pasangan?" akhirnya Kafka memilih mengajukan pertanyaan tersebut seraya menenggak minuman kalengnya hingga habis.


Gibran tampak terdiam, sangat kentara jika ada perubahan pada raut wajahnya setelah Kafka melayangkan pertanyaan tersebut.


"Ada," pria itu menyahut. Tampak membuat Kafka sedikit kecewa tapi tetap tersenyum meski terlihat di paksakan.


"Mas datang sama seseorang." sambungnya. Kafka mengangguk-anggukan kepala. Kudian bangkit dari duduk setelah tahu jawaban Gibran.


"Gue balik." pamitnya seraya menaruh kaleng minuman yang sudah kosong di atas meja. Ia lantas melangkah pergi.


"Kafka."


Sampai panggilan Gibran menghentikan langkahnya. Gibran yang masih dalam posisi duduk menautkan jari-jemarinya dan menghela napas sesaat sebelum kemudian menatap Kafka dengan lekat.


"Mas datang sama Yashinta." jujurnya. Jujur membuat perasaan Kafka sedikit kecewa mendengarnya karena Gibran harus sejujur itu dan menyebutkan nama Yashinta.


"Mas sama Yashinta pacaran." sambungnya yang membuat Kafka kian kecewa, begitu dalam. Pria itu membalikan tubuhnya dan menatap raut datar Gibran.


"Ambil, dia udah gue buang."

__ADS_1


TBC


__ADS_2