
"Yashinta."
Yashinta menoleh ke sumber suara dimana ia segera menemukan senyum Bunda menyapanya dengan penuh kehangatan.
"Bunda." ia balas tersenyum pada Bunda sang kekasih tersebut. Bunda meraih tangan gadis itu dan mengusapnya.
"Selamat, yah Sayang. Sekarang rumah kamu jadi rame nantinya." ucap Bunda, penuh ketulusan.
"Iya, Bunda. Makasih." sahutnya dengan senyum yang tak kunjung luntur dari bibirnya. Bunda hanya menatap gadis itu sambil terus mengusap tangan Yashinta. Jujur hal itu membuat Yashinta merasa risih dan canggung pada Bunda atas kegagalan hubungannya dan Kafka yang kandas begitu saja.
Tatapan Bunda seperti mengarah padanya. Tampak belum bisa percaya jika ia sudah tak lagi berpacaran dengan Kafka.
"Bunda pernah bilang ke Mas Gibran sama Kafka kalau Bunda nggak permasalahin siapapun yang sama Yashinta." ujar Bunda setelah beberapa saat. Yashinta tak menanggapi apapun, ia hanya diam dan memerhatikan Bunda yang tampaknya akan kembali melanjutkan kalimatnya.
"Yang penting, Yashinta tetap jadi menantu Bunda." sambung Bunda yang membuat senyum gadis itu terukir.
"Yashinta sayang sama Mas Gibran?" tanya Bunda kemudian, Yashinta diam memerhatikan Bunda hingga kemudian ia mengangguk. "Iya, Bunda. Yas sayang sama Mas Gibran." ujarnya dengan penuh ketulusan yang membuat tangan Bunda mendarat di puncak kepalanya, mengelusnya penuh kelembutan.
"Anak cantik." puji Bunda kemudian, tanpa berpikir panjang Yashinta berhambur memeluk Bunda. Bunda balas memeluk gadis itu.
Setelah mendengar jawaban Yashinta jika gadis itu mencintai putra sulungnya, Bunda merasa lega. Ia tidak berniat untuk mencoba menanyakan bagaimana perasaan gadis itu pada Kafka.
Bagaimanapun, Bunda tidak dapat memaksa Yashinta untuk kembali pada Kafka. Bukan ia tidak kasihan pada putra bungsunya, hanya saja, Bunda merasa tidak pantas menjadi penengah yang seolah memaksa seseorang untuk bertahan dengan putranya sedangkan mereka tidak cocok menjalin sebuah hubungan.
Karena kalau mereka cocok, mereka tidak akan mengakhiri hubungan yang sudah dibangun. Mereka tidak akan putus jika memang tidak ada yang salah dengan hubungan keduanya.
Baik Yashinta maupun Kafka berhak memilih jalan hidupnya masing-masing.
****
Kelab malam menjadi pilihan bagi Kafka untuk mengalihkan segala isi kepalanya. Ia menghubungi Hafi dan berniat mendatangi toko distro pemuda itu namun ternyata Hafi berada di kelab, sehingga Kafka tak memiliki pilihan lain selain menyusulnya meski ia merasa sedikit risih jika Gibran akan mengetahui hal ini.
Segelas wine susah Kafka tandaskan, kepalanya riuh mengingat apa yang Kanza tanyakan beberapa saat lalu di lift gedung pernikahan papa Yashinta dan mama Sean.
__ADS_1
Saat itu, Kafka tak mengatakan apapun. Ia membiarkan Kanza berspekulasi sendiri mengenai bagaimana perasaannya pada Yashinta.
"Ka, kalau loe galau terus perkara Yashinta, gue cariin deh cewek yang cocok buat loe nanti." Hafi buka suara. Kafka menoleh, matanya tampak memicing tidak suka.
Sejujurnya hal itu adalah tawaran kesekian kali dari Hafi untuk Kafka, bukan kali pertama dan Kafka masih tidak akan menerimanya.
"Buat ngelupain orang lama, loe butuh orang baru Kak. Loe butuh pelampiasan." sahut Hafi lagi dengan berteriak, suara musik yang menggema memenuhi ruangan membuat suara mereka hanya samar-samar terdengar.
"Lagian loe bego bener jadi manusia, udah tau cinta malah loe buang gitu aja." Aris ikut menimpali. Ia bertemu dengan Kafka di lobi gedung sehingga akhirnya ikut dengan Kafka dan berakhir di sana.
"Gak guna loe Ka!" sambungnya. Kafka yang dicemooh hanya diam, kalimat panjang dari Hafi dan Aris bagai angin lalu baginya, masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri, sebatas itu. Meski ia menyadari jika apa yang dua kawannya itu katakan memanglah benar.
"Bosen banget gue liat loe kaya gitu terus, ngerusak suasana aja, loe!" Hafi kembali bicara namun Kafka masih tak menggubris sama sekali.
"Kaya cewek cuma Yashinta aja."
Kali ini Kafka tertegun, ia menahan seloki di tangannya dan meresapi apa yang Hafi katakan. Pemuda itu benar, wanita di dunia ini bukan hanya Yashinta, mereka banyak. Sangat banyak.
****
"Ini tiket liburan kalian untuk tiga hari di Hong Kong."
Adalah kalimat Andri di waktu pagi usai mereka sarapan. Yashinta dan Sean yang masih mengenakan pakaian santai dan belum mandi karena tubuh lelahnya setelah kemarin merayakan pesta pernikahan orang tua mereka hanya saling bertukar pandang.
Kemudian menatap dua lembar tiket di hadapan mereka. Keduanya masih sama-sama mencerna maksud dari apa yang dikatakan sang papa.
"Gi–gimana maksudnya Pah? Mah?" Sean yang bertanya.
"Papa sama Mama nyiapin tiket liburan buat kalian selama tiga hari, Papa juga udah izin ke pihak sekolah." Arumi menjelaskan, tentu saja hal itu membuat Sean dan Yashinta kian heran.
"Bukannya yang harus bulan madu itu kalian, yah. Kenapa kita yang harus pergi ke Luar Negri?" protes Sean. Merasa tidak terima dengan kejutan dadakan tersebut.
"Kalau Papa sama Mama pergi, siapa yang ngurus perusahaan?" Andri angkat bicara. "Ada skretaris kalian." Sean menyahut enteng.
__ADS_1
"Papa sama Mama udah siapin tiket, udah siapin hotel juga di sana dan kalian tinggal liburan, okay. Kalian pasti lelah setelah merayakan pesta pernikahan kami kemarin." panjang lebar Andri kemudian.
"Kita bukan pasangan pengantin baru, kita nggak butuh liburan, Pah." Sean menolak, Yashinta juga menganggukan kepala mengiyakan apa yang saudraanya itu katakan.
"Sean, beresin barang-barang kalian, pesawat take off jam sepuluh nanti." ujar Arumi benar-benar ketuk palu dan Sean tidak bisa membantah. Tapi pria itu sekali lagi mencoba peruntungannya.
"Ini kalian beneran ngebiarin kita liburan sama-sama?" tanyanya. "Kalian nggak takut kalau nanti kami jatuh cinta?" sambungnya.
Apa yang Sean katakan berhasil membuat Yashinta terkejut sehingga gadis itu menatapnya dengan mata membulat.
Sedangkan Andri dan Arumi hanya saling bertukar pandang dan tersenyum penuh arti. "Jangan ngarang! Yashinta udah punya Mas Gibran. Mana mau dia sama kamu!" ucap Arumi, telak.
Pada akhirnya, baik Sean maupun Yashinta tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolak tawaran Andri dan Arumi untuk berlibur ke Luar Negeri. Dua orang itu tampak pasrah dan segera berangkat ke Bandara setelah membawa barang seperlunya.
Keduanya yang duduk di ruang tunggu bandara tampak hanya saling terdiam. Sean membuka kacamata hitam yang dikenakannya, ia menatap Yashinta yang duduk bersandar dengan kacamata hitam pula.
"Ini kita diusir, 'kan Yas?" tanyanya pada gadis itu. Yashinta menurunkan kacamatanya sedikit sehingga ia bisa bersitatap dengan Sean. Kemudian yang bisa dilalukannya hanya menganggukan kepala.
Sebenarnya bukan hal yang buruk bagi Yashinta dikirim ke luar negeri selama beberapa hari, hanya saja ia merasa berat karena harus meninggalkan Gibran dan tidak bertemu dengan pria itu selama ia berlibur nanti.
"Gue ngerti mereka pengen bareng-bareng–berdua–tanpa ada kita. Tapi, 'kan mereka bisa nyewa hotel, atau pindah aja ke rumah Mama. Kenapa harus nyuruh kita pergi?" oceh Sean, masih tidak terima dengan keputusan orang tua mereka.
Yashinta tidak menanggapi, gadis itu hanya membuang napas melalui mulutnya dan bergumam pasrah. "Yas jadi nggak bisa pamit langsung sama Mas Gibran."
Gibran berangkat ke luar kota pagi tadi karena ada urusan di kantor cabang. Berita itu Gibran dapatkan dari skretarisnya tepat saat pria itu sedang bersama Yashinta di toilet kemarin, sehingga pagi-paginya Gibran segera meluncur pergi.
"Yas nggak akan ketemu Mas Gibran selama beberapa hari." sambungnya yang membuat Sean memijat pelipis.
Ternyata ia dibersamakan dengan budak cinta yang tak perduli dengan keadaannya. Sean tidak suka naik pesawat dan beradaptasi dengan lingkungan baru meski hanya beberapa hari.
Sean tidak suka.
TBC
__ADS_1