2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Baju baru


__ADS_3

Han mengekor di belakang Insha, ia masih saja terkikik pelan mengingat perkataan istrinya tadi.


apa dia tak pernah sama sekali pergi kesini..dilihat dari segi manapun tingkahnya terlihat menggemaskan begini sih..bagaimana aku tak semakin jatuh hati padanya..


"itu terlihat cocok denganmu..warnanya juga bagus"


menunjuk baju dengan warna biru muda yang sedang di pegang istrinya,yang di lihat sedang memperhatikan baju dari atas sampai bawah.


"emm..jangan yang ini mas"


melirik sekilas ke arah Hanafi,tak bisa dipungkiri Insha terlihat menutupi rasa canggungnya dengan mengenggam tangannya sendiri yang sedari tadi sudah basah oleh keringat.


"kenapa.."


"Tidak apa-apa aku hanya kurang suka.."


baju-baju disini mahal sekali..


Insha terlihat memilah-milah baju yang di gantung di berbagai sisi toko.Tapi tak satu pun yang ia ambil,Beberapa kali dia kedapatan melihat harga pada kertas yang tertera di ujung baju.


"Sudah banyak baju yang kau lihat tapi tak satupun yang kau ambil..apa kau tak suka model baju di toko ini..kalau begitu kita cari toko lain saja ya.."


menghadang Insha yang sedang berjalan dan menatap lekat wajahnya.


"emm..tidak mas aku menyukainya tapi.." memandang Hanafi sekilas lalu memilah-milah baju lagi.


"Tapi apa.."


kepolosan apa lagi yang akan kau tunjukkan padaku..


"Baju-baju ini terlalu mahal untukku.."


sungguh aku ingin sekali mencubit pipi merah merona mu itu...


"Insha..belilah semua yang kau suka..bahkan satu toko pun akan aku beli jika kau menyukainya.."


tersenyum manis kedua tangan Hanafi ingin memegang lembut kedua tangan Insha tapi di urungkannya,ia kembali mengingat janjinya tadi malam.


"Mulai sekarang berjanjilah padaku..jangan pernah mempertanyakan tentang uang lagi..kau istriku..seluruh kekayaanku juga milikmu.."


Insha masih termenung menatap han, dan mencerna baik-baik kata suaminya.Dalam fikirannya masih ada tanda tanya besar seperti apa kekayaan suaminya sebenarnya.Tetapi sejak ia kenal dengan han dan mulai menaruh hati padanya ia tak pernah sekali pun bertanya seperti apa han menjalani kehidupannya.Yang Insha tau hanya han yang tampan dan bertutur kata sopan telah berhasil merebut hatinya.


Pandangan mereka saling beradu masih tercipta senyum ketulusan di wajah tampan Hanafi.


takdir apa yang membawaku untuk menjadi istri dari orang yang sungguh sempurna sepertimu mas han..Insha

__ADS_1


Insha berperang dengan fikirannya sendiri,ia terpana dan mengagumi ketampanan han dari dekat.Tubuhnya yang tinggi tegap,kulit putih berseri, tutur kata yang lembut.Wanita manapun akan jatuh hati ketika memandangnya.Jatungnya berdegup kencang saat aroma tubuh Hanafi menyeruak masuk ke indra penciumannya.Membuatnya tersadar ia telah mematung beberapa detik di depan Hanafi.


"Insha...Insha...lihatlah air liurmu mau menetes"


melambaikan tangan didepan Insha dan juga menunjuk ke arah ujung bibirnya.


"emm..eeh " secepat kilat mengusap ujung bibirnya tepat yang di tunjuk Hanafi.


"mas han apaan sih...."


tersadar tak ada setetespun air yang keluar dari sana,Insha di buat semakin salah tingkah karna sudah menatap Hanafi cukup lama.


Insha berjalan cepat melewati Hanafi yang ada di depannya dan secepat kilat sudah hilang di telan banyaknya baju di toko yang berjejer.


senyum Hanafi mengembang puas ia senang karna telah mengerjai istrinya.


mau pergi kemana coba dia,katanya takut tersesat,hahaha..wajahnya yang merona itu aku tak bisa berhenti tertawa melihat tingkah lucunya..


sudah berjalan cukup jauh insha tak menyadari dirinya terpisah dari Hanafi.Ia menoleh ke berbagai arah tak di temukannya batang hidung suaminya.


eeh apa yang aku lakukan..dimana mas hanafi,betapa bodohnya aku..kenapa aku meninggalkannya..aku tadi berbelok kemana ya..


Sementara Hanafi sudah berada di lantai 2 menyilangkan kedua tangannya di depan dada bidangnya, sedang asyik melihat istrinya yang kebingungan mencari keberadaannya.Dilihatnya Insha sedang melihat ke segala arah mencarinya.


"apa kau mencariku.." Teriak Hanafi pada Istrinya yang sekarang tepat berada di bawahnya.


Dicarinya sumber suara itu,ia mendongakkan kepala dilihatnya Hanafi tengah bersantai di lantai atas dengan memandang dan tersenyum lebar ke arahnya.Seperti anak kecil yang telah menemukan sebuah permen kesukaannya,mata Insha berbinar mendapati Hanafi yang tengah dicarinya berada tepat di atasnya.


apa mas han berada disitu dari tadi..aaah...apa dia melihatku sedang kebingungan tadi...betapa malunya aku..


Insha mencoba menutupi rasa malunya dengan tersenyum


"Tentu saja tidak, aku sedang memilih baju disana cukup bagus rupanya.."


menyakinkan dengan menunjuk ke arah deretan baju berwarna ungu.


"Lalu mana baju yang kau pilih.."


gadis pintar kau berusaha menutupi rasa malumu rupanya..


"emmm aku rasa aku ingin memilih warna lain saja,warna ungu kurang cocok untukku.."


sudah memasang wajah menggemaskan yang membuat Hanafi tergelak lagi dan lagi.


"Baiklah..baiklaah..aku akan meminta seseorang untuk membantumu memilih baju...dan aku akan menunggumu di ruang tunggu,panggil aku saat kau sudah selesai ya.."

__ADS_1


Hanafi memanggil salah satu staff wanita untuk membantu Insha memilih bajunya.


Staff itu pun turun dan menuntun Insha menuju model-model baju terbaru di toko itu.Sementara Hanafi kembali duduk di sofa menunggu sambil menelfon seseorang.


Mereka berdua pun keluar dari toko, Hanafi menenteng tiga tas di tangannya berisikan baju Insha,Salma dan Ayahnya.


Di depan toko tersebut tengah ramai lalu lalang orang terutama kaum wanita yang sedang menghabiskan akhir pekan mereka.


Insha berjalan di samping Hanafi,mereka berjalan sejajar,tercipta keheningan di antara mereka, karna Hanafi berjalan dengan memegang ponselnya mengetikkan sesuatu yang tentu saja Insha tak tau kepada siapa.


kenapa mereka memandangiku, apa yang salah dengan penampilanku..tidak..tidak..bukan aku tapi mereka memandang mas han..Insha


Insha melirik Hanafi yang nampak tak peduli dan fokus pada ponselnya.


tentu saja banyak wanita yang memandang mas han..dia lelaki yang tampan yang slalu menjaga penampilannya, siapa yang tak jatuh hati padanya...tapi apa ini, kenapa hatiku terasa aneh begini..apa mereka tak melihat aku berada di sampingnya..aku ini istrinya.


Insha menunduk melihat penampilannya dari atas sampai bawah.


siapa yang percaya kalau aku istrinya sedangkan penampilanku saja seperti pembantunya..dan kami juga seperti orang asing..bahkan mas han sibuk dengan ponselnya..


Ada rasa aneh yang belum pernah Insha rasakan di hatinya.Hatinya bergejolak rasanya pedih saat banyak yang melihat Hanafi sebagai lelaki yang menarik,Ia tak rela suaminya menjadi pusat perhatian orang lain.


Dan untuk pertama kalinya Insha melingkarkan tangannya dilengan Hanafi, di tariknya erat sampai tubuh mereka semakin mendekat.


eehh..apa yang aku lakukan...


Hanafi yang sedang asyik dengan ponselnya pun terlonjak kaget, ada sesuatu yang menariknya. Betapa senangnya dia mendapati tangan Insha yang sudah melingkar di lengannya erat.


Senyumnya terlihat sangat Bahagia,untuk pertama kalinya Insha menyentuhnya tanpa di minta.Ia tak memperdulikan pesan balasan di ponselnya yang terus bergetar, ia malah menaruh ponsel tersebut dalam saku jasnya.


Insha yang salah tingkah karna gerakan refleks yang ia lakukan berusaha mengalihkan perhatian.


"Ayo mas kita segera kembali ke rumah sakit mungkin ayah sudah selesai.."


melirik Hanafi sekilas yang tampak tak keberatan lengannya di tarik paksa.


"Tentu saja,apapun yang kau inginkan.."


Mereka pun berjalan lebih cepat menyusuri lorong-lorong mall yang di penuhi banyak orang dengan kepentingan masing-masing.


Insha merasa lega akhirnya bisa keluar dari gedung tersebut menghilang dari pandangan para wanita yang melihat kagum kepada suaminya.


Sementara Hanafi sangat bahagis dan berharap Insha sering melakukannya ketika di ruang publik ada rasa bangga ia telah memiliki seorang istri,seperti itu saja ia sudah merasa dicintai oleh istrinya yang sejak awal perkenalan dulu jangankan mendekatinya memandangnya saja hanya beberapa kali.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2