
Kriss baru saja tiba di villa puncak itu, ia segera bergegas memarkirkan mobilnya di deretan mobil-mobil yang tertata rapi di sana.
Ia pun segera berjalan kepada sebuah villa yang terlihat banyak pengawal di depannya.
"Disana pasti nona sedang berada...syukurlah.."
Kriss pun berjalan ke arah jalan menanjak itu, tapi tiba-tiba seorang keluar dari gang sempit sebuah perkebunan berjalan dengan tergesa-gesa sambil sesekali menatap ke belakang.
Kriss pun terkaget melihat itu.
bukankah itu nona Insha...
Kriss masih teringat jelas pada rekaman cctv yang semalaman ia lihat, dengan jaket, ransel, dan kacamata yang sama ia sangat yakin bahwa itu adalah Insha yang berusaha untuk lari lagi.
Kriss pun dengan sengaja berjalan menghadang Insha, sampai akhirnya Insha menabrak dirinya.
Kriss segera memegang tangan Insha erat, mencegah Insha untuk pergi lagi.
Insha masih mendongak dan membelalakan matanya, menatap seorang lelaki yang di tabraknya.
"Kriss.."
tangan Insha makin di buat gemetar setelah mengetahui siapa yang ada di depannya.
"Lepaskan aku Kriss..aku mohon lepaskan..."
Insha berusaha melepaskan tangan yang kini di genggam Kriss dengan erat, sambil sesekali memandang ke arah belakang.
"Aku akan memberikan kau uang berapapun...tapi aku mohon lepaskan aku...aku tak mau kembali pada Hanafi..."
"Maafkan saya nona...saya hanya menjalankan tugas saya..."
Insha terus meronta, tapi kini Kriss dengan tangan yang satunya meraih ponsel yang ada di sakunya lalu segera menelpon Hanafi, ia mengatakan bahwa ia sekarang bersama Insha di sebuah jalan menuju villa.
Saat Kriss menelpon Hanafi, para pengawal yang di tugaskan untuk mencari Insha tadi sudah ada disana, menghadang ke segala arah agar Insha tak dapat lari lagi dari sana.
Kriss pun mematikan telpon nya lalu melepas tangan Insha pelan yang langsung di tepis kasar oleh Insha, Kriss pun terlihat memandang lurus ke depan lalu menunduk sopan, Insha sudah memahami pasti Hanafi sedang berjalan ke arahnya.
Insha dengan segera membalikkan badannya melihat Hanafi yang bahkan setengah berlari ke arahnya.
"Insha...jangan pergi dariku lagi..."
Hanafi berkata sambil terengah-engah.
"Jangan dekati aku han..."
"Aku tak peduli...ayo ikut pulang bersamaku.."
Hanafi dengan berani menggandeng tangan Insha dan menariknya segera pergi.
Insha tak kalah berani, ia malah menepis kasar tangan Hanafi darinya.
"Aku tak mau pulang...disana bukan tempatku lagi..."
"Kau istriku...tentu saja itu tempatmu...jangan tinggalkan aku lagi Insha...aku tak bisa hidup tanpamu..."
Wajah Hanafi kini memelas pada Insha.
"Suruh saja istri barumu menemani sisa hidupmu...aku tak akan kembali kesana lagi..."
__ADS_1
"Aku hanya mencintaimu Insha...aku mohon...jangan siksa aku seperti ini..."
Mata Hanafi terlihat berkaca-kaca sekarang.
"Semua yang kau katakan padaku hanyalah dusta...menyingkirlah dariku..kalian semua.."
Insha berusaha menyibak kerumunan para pengawal itu, yang bahkan sedikitpun tak bergerak.
"Aku mohon Insha percayalah padaku...apapun yang kau inginkan katakan..aku akan turuti semua kemauanmu..asal kau ikut pulang bersamaku..."
"Benarkah..."
Insha sekarang menatap Hanafi dengan tersenyum tipis.
"Iya Insha apapun itu..."
Hanafi masih tampak memelas pada Insha.
"Ceraikan aku..."
Seketika Hanafi terbelalak dengan permintaan Insha, tak menyangka bahwa Insha menginginkan bercerai darinya.
Bahkan bercerai dari Insha sama sekali tak ada dalam fikirannya.
"Kenapa kau diam...kau bilang apapun..dan aku hanya mau itu..."
"Apa kau benar-benar ingin berpisah dari ku Insha..."
Kini airmata mulai membasahi pipinya.
"Ya...hanya itu yang aku mau..."
"Apapun akan aku lakukan kecuali yang itu Insha...dan maafkan aku...kau harus ikut pulang bersamaku..."
Hanafi pun segera menggendong tubuh mungil Insha dalam pelukannya, berjalan menuju mobilnya.
"Siapkan mobilku..."
titah Hanafi pada salah satu pengawalnya.
Sedangkan Insha terus saja merengek meminta untuk di turunkan, ia menolak untuk pulang bersama Hanafi.
Insha dan Hanafi sudah berada di dalam mobil tepatnya duduk bersebelahan di kursi belakang, Insha terlihat memberi jarak pada keduanya, pandangannya terus menoleh ke arah jendela, sama sekali tak memandang Hanafi yang ada di sebelahnya.
Mobil pun melaju di jalanan yang cukup curam, dengan kecepatan yang sedang.
Keheningan pun tercipta, Hanafi masih saja memikirkan kata-kata Insha tadi, bagaimanan bisa Insha berfikir untuk berpisah darinya, sedangkan Hanafi tak mau kehilangannya. Hanafi sangat mencintainya, perasaan sedih dan kecewa jelas terlihat dalam guratan wajahnya.
Hanafi pun memecah keheningan.
"Insha..."
Insha tak memberi reaksi apapun, hanya sedikit melirik ke arah Hanafi.
"Apa kau sudah tidak mencintaiku..."
Hanafi menoleh ke arah Insha.
"Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku...setelah semua yang kita lalui.."
__ADS_1
"Bahkan aku pun sama sekali tak pernah berfikir untuk meninggalkanmu..."
Dengan pandangan tetap fokus pada jendela di sampingnya Insha pun menjawab.
"Yang aku inginkan hanya itu han...wanita mana yang ingin berbagi cintanya pada wanita lain...seperti kau tak ingin kehilanganku...aku juga tak ingin kau di miliki oleh siapa pun selain aku..."
"Tapi semua sudah terlambat..kau bahkan telah menghabiskan malam panjang dengannya...yang tentu membuatku berfikir untuk apa aku terus bertahan..."
"Cintamu telah terbagi dengannya...juga dengan anak yang sekarang ada di kandungannya..."
"Bahkan aku pun tak tau masih adakah cintaku padamu di hatiku..."
Mendengar semua penuturan Insha Hanafi pun berurai air mata, sambil terisak dia menjawab.
"Katakan apapun yang kau mau Insha kecuali perceraian...aku akan menuruti semua mau mu...semua inginmu...asalkau tetap ada disisiku..."
"Tinggalkan Salma dan kembalilah padaku.."
Insha menjawab spontan sambil menatap Hanafi sekarang.
"Tentu aku tak bisa Insha...perceraian di haramkan saat dalam keadaan mengandung..."
Mereka saling menatap untuk cukup lama.
"Lalu apa kau mau meninggalkannya setelah dia melahirkan nanti..."
Hanafi pun hanya terdiam tak menjawab apapun.
"Kau bahkan tak bisa menjawabnya han..."
"Aku mohon jangan berikan aku sebuah keputusan yang sulit Insha.."
Insha terdiam sejenak, terlihat memikirkan sesuatu.
"Kalau begitu apa kau mau menerima semua syaratku..."
"Syarat apa yang kau maksud.."
Hanafi memandang Insha dengan tatapan bingung.
"Pertama aku tak mau tinggal satu rumah dengan Salma..aku tak sanggup jika harus terus melihatnya...
Kedua kau tak boleh bermalam di kamarnya...hanya denganku..hanya bersamaku..hanya di kamar dengan ku kau boleh tidur...
ketiga kau tak boleh melarangku pergi kemanapun dan dengan siapapun..."
"Jika kau sanggup dengan semua syaratku...aku bersedia kembali ke rumah utama..bagaimana apa kau sanggup dengan semua itu..."
"Baiklah aku bisa menerima semua...tapi berjanjilah padaku..kau jangan pernah lari lagi dariku.."
Insha tak menjawab, dia hanya tersenyum tipis menatap ke arah jendela lagi. Percakapan itu pun berakhir, keadaan kehing sampai mobil masuk ke gerbang rumah utama.
Dan mulai saat itu Salma pun di pindahkan untuk tinggal di rumah belakang bersama perawat dan pembantu yang menemani Salma sebelumnya di desa, mereka di panggil kembali untuk menemani Salma disana.
Sesuai permintaan Insha, Hanafi pun tak pernah menghabiskan malamnya tidur bersama Salma, ia hanya bermalam tidur di kamar Insha.
Insha pun juga sering membawa mobilnya untuk sekedar melepas bosannya di rumah, ia juga meminta Hanafi untuk melepas gps yang terpasang di mobilnya, ia tak ingin Hanafi terus mengawasinya dan dengan berat hati pun Hanafi juga menurutinya melepas pelacak di mobil Insha, dan membiarkan Insha pergi kemanapun yang dia mau.
Bersambung...
__ADS_1