
Sesuai permintaan Hanafi proses perceraian di percepat, dalam waktu kurang dari 2 minggu surat cerai telah di cetak oleh pengadilan agama, mengesahkan perpisahan antara Hanafi dan Insha.
Tak disangka rumah tangga dua orang yang sangat saling mencintai akan berakhir dengan perceraian, dan itu sama sekali tak pernah terbayang oleh Hanafi. Bagaimana pun juga ini semua adalah kesalahannya. Kesalahan menikahi Salma sebagai istri keduanya, juga kesalahan membiarkan Salma mengandung anaknya.
Hanafi berada di kamar Khanza menatapnya dengan penuh kesedihan.
"Tinggalkan aku bersama Khanza sendiri..."
titah Hanafi pada Mirna yang berada di sampingnya.
"Baik tuan..."
Mirna pun berlalu dan keluar dari ruangan itu.
Hanafi berjalan menuju tempat tidur khanza, ia meletakkan sebuah amplop coklat yang di bawanya di meja di dekatnya.
Hanafi duduk di tepi tempat tidur Khanza, melihat Khanza yang bergerak-gerak perlahan terkadang juga terlihat tersenyum menggemaskan. Ia pun berusaha dengan lembut menggendongnya, menaruh Khanza dalam pelukannya.
"Sayang...apa kau bahagia dengan hidupmu.."
Hanafi berkata dengan memandang Khanza dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf aku tak bisa mempertahankan ibu Insha untukmu...dia pergi meninggalkan ayah sendiri disini...dia meninggalkanmu juga...dia tak melihat betapa menggemaskan dirimu ini..."
"Apa kabar juga dengan ibu Salmamu disana...semoga dia tenang di syurga...bersama kakek dan nenekmu juga...."
"Kau harus tumbuh menjadi anak yang pintar dan sholehah nak...meski tanpa adanya sosok ibu di sampingmu....ayah yang akan menjadi sosok Ayah sekaligus ibu untukmu...kau akan mendapat kasih sayang dari orang-orang di sekitarmu...orang-orang yang benar-benar mencintaimu....ayah akan slalu menjagamu sampai kapanpun itu...tumbuh dan berkembanglah dengan baik nak....ayah akan slalu ada.. melihat dan mendampingi di setiap pertumbuhanmu..."
"Khanza kecilku...Ayah sangat mencintaimu..tetaplah berada di samping ayah...menjadi putri kecil ayah..."
Ingin berkalimat lagi tapi Hanafi tak mampu ia terisak keras sambil memeluk Khanza di tepi tempat tidurnya.
Hanafi tak tau kehidupan apa yang akan di jalaninya setelah ini, tanpa Insha wanita yang sangat ia cintai.
Hanafi ingin putus asa tapi ia ingat kembali ada putri kecil dengan banyak harapan disana. Ada putri kecil yang membutuhkan banyak kasih sayang darinya.
Hanafi berusaha bangkit, dan tetap.tersenyum di depan bayi mungil itu, meski ia belum mengerti tapi Hanafi tak ingin putrinya tumbuh dengan kesedihan di dalam hidupnya.
Hanafi sangat menyayangi Khanza, karna ia satu-satunya yang di milikinya sekarang, ia akan senantiasa menjaganya. Menjaga kepemilikannya agar jangan pernah pergi lagi dari sisinya.
***
Sementara di seberang sana, seorang wanita tengah berada di sebuah rumah sederhana, dengan pemandangan perkebunan di depannya. Dia duduk di teras rumah itu menyilangkan kedua kakinya.
Ia memakai pakaian dengan gaya modis yang di padu padankan dengan sangat serasi, juga memakai hijab yang sedikit di masukkan pada bagian lehernya, membuatnya terlihat simple namun elegan.
Ia meminum segelas teh hangat disana, sesekali menyeruputnya dengan perlahan, menikmati setiap cipratan yang tercipta di dalam mulutnya.
Sebuah mobil datang, dan keluar seorang lelaki yang sudah terlihat berumur.
lelaki itu mendekat sambil menyodorkan sebuah amplop coklat.
"Nona...semua sudah selesai...anda sudah resmi bercerai..."
"Benarkah..."
dengan sigap ia membuka amplop itu, dan benar mereka sudah resmi bercerai.
ini surat dari pengadilan..tidak kusangka akan secepat ini...terimakasih Tuhan kau telah bebaskan aku dari cengkraman Hanafi...
Gumamnya dalam hati.
Ya perempuan itu adalah Insha, dia sengaja menyewa sebuah rumah di pedesaan yang cukup jauh dari pusat kota, suatu tempat yang tak akan dapat di temukan oleh semua pengawal Hanafi, karna tempat itu sulit untuk di jangkau.
__ADS_1
Insha meninggalkan semua yang telah di berikan Hanafi untuknya, Insha tak mau lagi di temukan olehnya karna jejak yang slalu ia tinggalkan.
Insha juga sudah menguras habis rekening uang belanja yang biasa di berikan Hanafi tiap bulannya. Menurutnya uang itu sudah menjadi miliknya, karna Hanafi memberinya saat ia masih berstatus sebagai istrinya.
Uang dengan jumlah cukup besar itu ia bawa, dan ia gunakan untuk menyewa sebuah rumah, untuk keperluan hidupnya beberapa bulan kedepan, sebelum ia bekerja dan membuka sebuah usaha dengan uang tersebut. Juga ia gunakan untuk membayar seorang lelaki yang ada di depannya ini untuk mengurus perceraiannya, karna Insha tak mau lagi hadir di pengadilan dan bertemu Hanafi.
Jauh dari perkiraan kurang dari 2 minggu gugatan cerainya pada Hanafi dikabulkan dan mereka pun sekarang resmi bercerai.
Insha sangat lega mendengarnya, kini ia tak.lagi hidup dengan bayang-bayang Hanafi.
"Kenapa prosesnya cepat sekali pak..."
tanya Insha pada lelaki itu.
"Saya juga tidak tau nona... jadwal persidangan kedua di majukan..dan saat itu juga pengadilan memutuskan mengabulkan gugatan anda...saya fikir mungkin ada campur tangan seseorang disana nona..atau mungkin suami anda juga yang memintanya untuk mempercepat prosesnya..."
"Ya lebih tepatnya mantan suamiku pak...siapa pun yang ada di baliknya...aku tak peduli...yang terpenting sekarang..aku telah lepas darinya dan itu sudah lebih dari cukup....terimakasih pak..."
jawab Insha sambil tersenyum puas, Insha beranjak ke dalam mengambil sejumlah uang.
"Ini uang yang saya janjikan setelah gugatan saya di kabulkan....dan ini bonus untuk bapak...saya sangat berterimakasih pada bapak karna telah membantu saya mengurus semuanya...terimalah pak..."
Insha menyodorkan 2 amplop coklat kecil pada lelaki itu, yang langsung di terima olehnya dengan cepat.
"Terimakasih nona...terimakasih...semoga nona mendapatkan kebahagiaan ke depannya..."
lelaki itu pun pergi dengan penuh senyuman di bibirnya, karna mendapat uang dengan jumlah yang cukup besar sesuai perjanjian dan masih mendapatkan bonus dari Insha.
Insha pun terduduk lagi di kursi teras itu, membaca lagi surat cerainya dari pengadilan, melirik sebentar mobil lelaki itu yang sudah mulai melaju dan hilang dari pandangan.
Insha tersenyum tipis sambil membaca surat yang ada di tangannya.
"Tak kusangka han semua akan berakhir seperti ini...."
Tapi Insha juga tak bisa hidup berdampingan dengan Hanafi trus apalagi dengan Khanza, Insha akan terus tersiksa dan sakit hati disana. Lebih baik Insha pergi, mencari sendiri kebahagiaannya, ia siap hidup susah lagi tapi yang terpenting dia bisa lepas dari jerat Hanafi.
Dengan uang yang tersisa ia ingin membuka sebuah usaha, apapun itu untuk membiayai hidupnya.
Insha masih berada di fikirannya membayangkan segala usaha yang terbesit dalam hatinya.
Insha di sadarkan oleh sebuah mobil yang sama dengan mobil lelaki tadi, tapi ntah kenapa mobil itu dari arah yang berlawanan. Insha menatap mobil itu dengan intens, kalau pun itu mobil para pengawal Hanafi, ia tak ada lagi paksaan untuk kembali, karna ia bukan siapa-siapa lagi untuk Hanafi, statusnya sekarang hanyalah mantan istrinya.
Seorang lelaki keluar dari mobil itu dengan tergesa menatap Insha dengan rasa khawatir.
Mata Insha pun berbinar melihat seorang pria yang mulai menghampirinya itu.
"Kak Prass.."
"Kemana saja kau..."
jawab Prass sambil menggoyang-goyangkan bahu Insha pelan.
"Susah sekali mencarimu In...ponselmu bahkan tak aktif lagi...dan kau hanya memberikan petunjuk rumah di depan kebun....gila ya betapa banyak rumah seperti itu di negara ini....sudah 5 hari aku mencarimu...dengan banyak rumah dengan kebun di depannya...untung aku bisa menemukanmu..."
Prass berkata lagi dengan sedikit emosi yang di buat-buat.
"Hehe maaf..."
jawab Insha sambil tertawa ringan.
"Teh siapa ini...aku haus sekali..."
tanpa menunggu jawaban Insha, Prass langsung meminumnya sampai habis. Prass melihat secarik kertas yang terlihat sedikit keluar dari amplopnya.
__ADS_1
"Apa ini...."
Prass langsung mengambil amplop itu dan mengeluarkan isinya.
Sementara Insha hanya tersenyum tipis dan duduk kembali ke kursinya sambil memandangi Prass yang masih berdiri sambil membaca surat cerai Insha dan Hanafi.
"Ka..kau...benar-benar bercerai dengan Hanafi In...kau sudah resmi bercerai.."
Tanya Prass dengan tatapan tak percayanya pada Insha.
"Hemmm..."
jawab Insha sekenanya.
Prass menaruh sembarangan surat cerai itu di atas meja. Ia kini berada di depan Insha berlutut di bawahnya.
"Ehh...apa yang kau lakukan kak...."
Insha canggung sendiri dengan posisi Prass seperti itu. Insha ingin segera berdiri tapi di cegah oleh Prass.
"Apa itu artinya aku sudah mulai bisa mencari posisi dalam hatimu...."
Kata Prass dengan tersenyum manis, masih dengan posisi yang sama.
Insha hanya tersenyum, dan bergumam dalam hati.
tanpa kau mencari posisi itu....perlahan kau sudah mulai menempatinya...
Melihat expresi Insha yang hanya tersenyum, Prass pun berdiri sambil tertawa ringan.
"Hehe...aku hanya bercanda Insha...kenapa kau bercerai dengan Hanafi...bukankah keluarga kalian sudah lengkap sekarang..."
Prass sekedar basa-basi menutupi rasa bersalahnya karna telah mengatakan sesuatu yang mungkin tidak nyaman untuk Insha.
"Aku tak bisa berumah tangga jika aku sendiri sudah tak mempunyai rasa padanya kak...perlahan mungkin aku bisa menerima Khanza karna aku juga tau ia hanya seorang bayi yang bahkan tak memiliki dosa...tapi untuk Hanafi ntah kenapa aku sama sekali tak sanggup untuk hidup bersamanya lagi...apalagi saat mengingat semua peristiwa itu kembali...dan bayang-bayang itu tak bisa hilang begitu saja dalam hidupku...meski sulit pada awalnya...aku yakin aku bisa hidup tanpanya...ya aku harus bisa..."
Insha berkata sambil menatap lurus kedepan.
Prass hanya menatap Insha dan mendengarkan semua, ia tak menjawab apapun, ia hanya bergumam dalam hati.
aku yang akan membantumu untuk memulai hidup yang baru...melupakan semua kenangan pahit yang sama-sama pernah kita alami...
..."2 bunga setangkai"...
..."musim 1"...
..."Tamat"...
.
.
.
.
.
note:
novel "2 bunga setangkai" musim 1 sudah tamat ya....
tapi author akan menambahkan beberapa bab untuk musim 2 ...sekedar membahas sedikit tentang kehidupan Insha, Prass dan Hanafi kedepannya...
__ADS_1
Musim 2 akan up mulai besok seperti biasa ya...terimakasih atas semua dukungannya...semoga sehat selalu..