
Setelah kepergian para lelaki yang mencari donor darah untuk Suswanti.
Siti segera masuk kembali bersama sang bidan ke dalam ruang bersalin.
Siti mendapati pemandangan kakaknya yang tengah terbaring lemas dan tampak lelah setelah mengeluarkan bayi mungilnya tadi.
Ia nampak menatap kosong ke arah langit-langit kamar bersalin itu.
Tubuhnya sudah sedikit memutih dan juga kebiruan menandakan sudah banyak darah yang keluar dari jalan lahirnya, diliriknya oleh Siti sang bidan tak henti-hentinya menyeka darah dengan sebuah kain handuk di bawah sana, bau anyir darah memenuhi ruangan itu membuat kepala Siti terasa pusing.
Sang bidan pun sudah memasang selang oksigen di hidung Suswanti untuk membantunya mudah bernafas.
Sesekali sang bidan kedapatan melirik Suswanti dan terus saja menyeka bagian bawah sana dengan cepat. Terlihat gurat kecemasan di wajahnya juga keringat yang bercucuran deras di sana padahal udara terasa dingin menusuk kulit.
"Mbak sus..."
sapa Siti pelan di sampingnya.
"Hmmm.."
jawab Suswanti lemas masih dengan tatapan kosongnya.
"Minumlah mbak..ini air putih...mbak harus banyak minum.."
menyodorkan sedotan dan juga botol bersamaan ke bibir pucat kakaknya.
Dengan perlahan Suswanti meminumnya sedikit lalu melepas sedotan itu dari mulutnya.
Siti melihat kakanya tengah lemas dan nafasnya yang semakin melemah.
"Bu bidan ...apa mbak sus akan baik-baik saja.."
"Apa tidak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit saja.."
"Dengan keadaan perdarahan seperti ini malah akan membahayakan keadaannya mbak..apalagi rumah sakit hanya ada di pusat kota..disini hanya ada klinik ala kadarnya...lebih baik kita menunggu donor darah dari PMI semoga segera datang.."
Bidan itu kini tengah beralih memegang alat kompres yang sudah di isi dengan bongkahan es di dalamnya, di taruhnya alat kompres itu di atas perut mbak Sus berharap perdarahan bisa segera terhenti dengan tindakannya.
Sudah lebih dari 20 menit tapi mobil belum juga kembali, sang bidan pun mulai panik karna melihat perdarahan yang tidak kunjung berhenti.
__ADS_1
Mbak sus juga sudah sangat lemah sekarang, nafasnya mulai tak beraturan, bidan mendapat informasi dari PMI pusat bahwa ada beberapa orang mengambil donor darah atas namanya.
Bidan itu seketika lemas karna tak mungkin mereka akan sampai dalam waktu 10mnit kedepan.
Melihat perdarahan yang tak kunjung usai ini...di tambah lagi mereka mengambil donor di PMI pusat...ya Tuhan...aku mohon beri mbak sus kekuatan untuk bertahan.
Selang infus masih terpasang dengan cairan yang terus mengucur. Suswanti sudah terlihat pucat sekali, tubuhnya nampak kebiruan pandangannya kosong lurus kedepan, nafasnya tersengal-sengal, sang bidan terus saja memanggil-manggilnya berharap pasien tetap berada dalam kesadarannya.
"Mbak...ini aku Siti...aku mohon bertahanlah...demi bayi cantik itu...aku mohon.."
Siti mencoba berbisik di telinga Suswanti dengan kata yang terbata karna kini ia tengah terisak.
"Hmmm.."
hanya menjawab dengan pandangan kosongnya tanpa membuka mulut, lalu sedetik kemudian terlihat matanya mengalirkan air.
Tubuhnya seperti kaku menahan sakit yang teramat sangat.
"Kenapa ini bu...ada apa dengan mbak sus.."
Siti mulai panik, bidan pun demikian terus memberikan tindakan sebisanya dengan keterbatasan alat yang ada.
Siti melihat kakaknya membuka mulutnya perlahan seperti ingin mengatakan sesuatu, ia pun segera kembali di samping kakanya itu.
katanya perlahan pelan dengan suara terbata.
Lalu mata itu perlahan terpejam, tubuhnya melemas, suara nafasnya perlahan juga menghilang.
Siti menangis sejadi-jadinya di bayangannya terlihat sosok bayi mungil yang sedang tertawa dengan polosnya, seketika itu dia terduduk.
Suswanti pun tak dapat bertahan dan menghela nafas terakhirnya malam itu.
Siti berjalan terhuyung masih dengan air mata yang terus mengalir, seorang yang ada di ruang tunggu itu memberikan bayi itu pada Siti sambil terisak pelan.
Tak lama setelah itu Abdullah baru saja datang menatap nanar di ambang pintu, Siti yang menyadari kedatangannya menatap dengan mata yang masih mengalirkan air mata, lalu menggelengkan kepala secara perlahan sambil terus memeluk hangat bayi mungil itu.
Seakan tau maksud pandangan dari sang istri, abdullah pun seketika bersimpuh, lututnya membentur lantai, kantong darah yang di bawanya tadi terpelanting di lantai, ia tertunduk dalam dan terisak disana, perlahan Siti menghampirinya dan berkata.
"Namanya Salma Salsabilla.."
__ADS_1
mereka berdua pun menangis memeluk satu sama lain dengan bayi di tengah-tengah mereka.
Sejak saat itu Salma pun di asuh oleh Abdullah.
Abdullah pun pindah dari kota B menempati rumah sang kakak di pedesaan. Rumah peninggalan orang tuanya di jual untuk dirinya membeli tanah di samping rumah safi'i yang menjadi ladangnya sekarang.
Abdullah berfikir dengan ia tinggal di desa ia lebih mudah mencari pekerjaan, terlebih lagi di desa itu udaranya sejuk dan juga memiliki tanah yang subur, ia juga pintar dalam bercocok tanam.
Daerah tersebut juga dekat dengan daerah pesantren tentu akan mendidik Salma kelak menjadi gadis yang religius seperti ibunya.
Abdullah dan Siti tak pernah menceritakan tentang diri Salma yang sebenarnya, mereka tak ingin membuatnya sedih karna kehilangan kedua orangtua.
Mereka mengangkat Salma sebagai anaknya, merawat dengan penuh kasih, mengambil identitas sebagai orang tua melalui persidangan yang sangat rumit, dan tak pernah membeda-bedakan kasih sayang dengan anak kandungnya Insha yang lahir beberapa tahun setelahnya.
**
Ayah masih terisak saat ceritanya tentang masalalu itu telah usai, ia meminta maaf pada Salma karna selama ini tak pernah memberi penjelasan tentang jati diri Salma yang sebenarnya.
Sebenarnya ia juga tak ingin Salma mengetahuinya seumur hidupnya, tapi ntah kenapa di sore itu dia seakan terdorong untuk menceritakan semuanya. Yang tentu saja membuat Salma kini duduk tersimpu di tengah-tengah makam dengan batu nisan bertuliskan Suswanti dan Safi'i Anwar sebagai orangtua kandungnya. Ia terisak sampai tak dapat berkata apapun.
Sementara Insha memeluknya dari belakang, ia juga menangis dan mencoba menenangkan kakaknya itu.
Hanafi juga terbawa suasana yang sangat sedih itu, buliran air matanya mengalir begitu saja di kedua pipinya.
"Jangan menangis kak...kau masih punya ayah dan aku disini.."
Insha berkata lirih di telinga Salma.
"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi anakku Salma...aku juga ayahmu...masihkah kau mau memanggilku ayah setelah ini.."
Salma pun menoleh pada ayah, beranjak meninggalkan Insha sendiri disana lalu memeluk ayahnya yang berada di kursi roda dengan eratnya.
"Aku anakmu ayah...aku anakmu...sungguh sampai kapanpun aku adalah anakmu...terimakasih telah merawatku selama ini ayah...aku sayang ayah.."
mengucapkannya perlahan dan terbata karna tangis nya yang semakin menjadi.
Sementara itu Hanafi pun menghampiri Insha membantunya untuk berdiri, dan mereka pun memeluk satu sama lain sambil melihat ayahnya dan Salma yang tengah menitikkan air mata.
Langit sudah hampir gelap mereka pun memutuskan untuk pulang, mata Insha, Salma dan ayah masih sembab karna crita tentang orang tua Salma tadi. Tapi sikap mereka seperti tak terjadi apa pun disana, karna bagaimana pun mereka memang keluarga sedari dulu baik sebelum atau sesudah mengetahui kebenaran itu.
__ADS_1
Dan ya sesedih dan sesakit apapun kalian menjalani kehidupan, keluarga adalah hal pertama yang mampu menampung setiap masalah kalian, karna ikatan darah lebih kuat dari ikatan apapun yang ada di dunia.
Bersambung...