2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Makam ibu mertua


__ADS_3

Mobil pun memasuki gerbang pemakaman umum, terdapat jalan setepak yang tidak terlalu lebar mungkin hanya cukup untuk jalan 1 mobil saja. Untuk itu Hanafi memutuskan untuk menghentikan mobilnya di dekat gerbang pemakaman, agar tidak mengganggu para peziarah yang datang hanya dengan menggunakan sepeda atau pun berjalan kaki.


Hanafi turun dari mobil terlebih dahulu mengambil kursi roda di bagasi mobil lalu membantu ayah untuk turun dan menaikinya.


Hanafi mendorong ayah ke arah yang di tunjukkan menuju pemakaman ibu mertuanya, karna sama sekali Hanafi belum pernah pergi kesana.


Begitu juga dengan Insha dan juga Salma sudah lama tak ke makam ibu mereka karna mereka juga di sibukkan dengan berbagai macam kegiatan, juga tanggung jawab mereka sebagai tulang punggung keluarga.


Tempat pemakaman ibunya cukup jauh jika harus di tempuh dengan jalan kaki, terlebih lagi karna tidak adanya angkot yang mengarah kesana.Mereka hanya biasa mengirimkan doanya lewat rumah setiap hari seusai sholat.


Ibu aku datang lagi setelah sekian lama..maafkan aku ibu...karna baru menjenguk makan ibu..Salma


Ibu...aku datang..perkenalkan ini suamiku ibu..namanya Hanafi..dia sangat mencintaiku..dia merawat kami semua dengan baik..ibu pasti juga sangat menyayanginya kalau ibu masih ada disini... Insha


Maafkan aku sayang..aku baru menjengukmu..ntah kenapa akhir-akhir ini aku sangat merindukanmu..mungkin karna tubuhku yang sudah tua ini dan sakit-sakitan..dan mungkin sebentar lagi kita akan bersama lagi..Ayah


Jadi ini makam ibu mertuaku..astaga kenapa tak terfikir sama sekali di kepalaku...seperti ini keadaan makam nya...kriss urus dan perbaiki makam ibu mertuaku...itu tugas utamamu setelah ini...Hanafi.


Hanafi menghentikan langkahnya mendorong ayahnya di kursi roda. Sebenarnya kursi itu adalah kursi roda otomatis yang bisa di kendalikan oleh orang yang mendudukinya, ayah juga sudah di ajari bagaimana menggunakannya. Tapi Hanafi memilih untuk mendorongnya saja, karna ia melihat jalan setapak di pemakamam umum itu yang tidak mulus. Ada banyak lubang disana-sini ia takut ayahnya akan terjatuh nanti.


Di depan Hanafi terlihat Insha dan Salma sedang berjongkok membersihkan berbagai macam rumput liar yang tumbuh begitu saja di atas makam ibunya.


Insha...astaga tanganmu kenapa harus melakukan itu..


Hanafi geli sendiri menyaksikan Insha yang harus rela memungut rumput liar dengan tangannya. Hendak menepis tangan lembut itu tapi ia urungkan karna ia faham betul ini memang pemakaman umum desa setempat, orang yang merawatnya pun tak bisa menjangkau dan membersihkan semua makam dengan teliti, mereka melakukan tugas ala kadarnya karna bayaran yang di berikan oleh pihak desa juga tidak seberapa.


Berbeda dengan pemakaman di perkotaan dengan bayaran yang mahal di tiap bulannya akan selalu terawat dan bersih meskipun jarang di kunjungi.


Lamunan Hanafi seketika buyar saat mendengar ayah bersuara.


"Majukan lebih dekat lagi nak aku ingin menggapai batu nisan itu.."


"Hmm..baik ayah sebentar.."


terkesiap dan mendorong kursi roda itu dengan hati-hati memilih jalan yang bisa di lalui.


Tiba-tiba Hanafi teringat dengan bunga, bunga untuk menabur di atas makam tentunya.


bunga...oh ya bunga...adakah orang berjualan bunga disini...


Ia melihat di sekeliling makam memutar pandangannya kesegala arah, akhirnya dia menemukan sebuah bilik kecil yang terlihat menyediakan berbagai macam bunga segar disana, jumlahnya juga tidak banyak mengingat ini sudah sore hari mungkin juga orang tersebut akan segera pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Itu dia...aku akan membeli bunga dulu...


Tanpa berbicara pada siapapun ia langsung saja beranjak untuk membelinya, bilik yang sudah sedikit usang dengan bahan papan kayu itu teryata masih di penuhi banyak bunga di dalamnya yang sudah sedikit layu . Hanafi melihat sosok tua yang menjaga bilik itu.


"Nek..."


"Iya nak.."


"Saya ingin membeli bunga nya.."


"Iya nak..beli berapa.."


sudah siap dengan daun yang di kerucutkan di tangannya hendak menaruh bunga yang di beli Hanafi disana.


"Untuk apa daun itu nek..saya ingin membeli bunga nya.."


Nenek tua itu tampak memperhatikan pakaian yang di kenakan Hanafi mulai atas sampai bawah.


pantas saja bertanya seperti itu...rupanya dia orang kaya ya..


"Tentu saja ini untuk menaruh bunga yang kau beli nak...biasanya setiap orang yang beli disini memang begitu.."


Hanafi masih bingung dengan pemandangan di depannya, ntah kenapa dia bertanya hal pribadi pada nenek itu, ia merasa iba kenapa di usia yang sudah cukup tua seperti dirinya nenek itu masih saja mencari rezeki, apalagi di area pemakaman yang mungkin jarang orang datangi, kecuali menjelang hari-hari penting seperti hari raya.


"Nek...kenapa nenek masih berjualan di usia nenek yang sekarang.."


"Hehe...harus bagaimana lagi nak..nenek tak ingin menyusahkan anak-anak nenek..."


Malah menjawab dengan riang tanpa beban.


"Nenek mempunyai berapa anak nek..."


"Lima nak..."


"Lalu kemana semua anak nenek apa tidak ada yang membantu disini.."


"Semua sudah berkeluarga nak..nenek tinggal sendiri di rumah samping makam ini..."


menunjuk ke arah rumah yang berjejer di sana, ntah yang mana rumah miliknya.


"Hmm..apa bunga nenek ini setiap hari habis nek..."

__ADS_1


"Tidak...ini saja masih banyak...tapi mau bagaimana lagi memang belum rejeki..tidak bisa juga di jual besok karna sudah layu...orang-orang pasti tak mau membelinya..."


"Baiklah...aku akan membeli semuanya nek..."


"Apa semuanya..."


seketika nenek itu membulatkan matanya lalu beberapa detik kemudian tersenyum lebar.


"Iya nek, tolong bungkus semua.."


Hanafi pun membeli semua bunga yang masih tersisa, nenek itu lalu mengemasinya ke dalam kantong plastik besar sebanyak 3 buah.


Hanafi juga membayar tiga kali lipat dari nomimal yang di sebutkan nenek tadi, ia berharap bisa membantu perekonomian nenek itu mengingat bunganya yang tak habis setiap hari.


Nenek itu pun menutup biliknya dan pulang dengan riang, Hanafi sempat melirik senyum yang terus merekah itu sambil berjalan menuju makam ibu mertuanya lagi.


Hanafi memberikan bungkusan kantong plastik itu kepada Insha, Insha pun terkaget dengan yang di berikan Hanafi padanya.


"Ma..mas han untuk apa bunga sebanyak ini.."


"Tentu saja untuk menabur di makam ibu mertuaku Insha..memangnya mau buat apa lagi.."


hmm...kenapa dia selalu berlebihan seperti ini sih...


Gumam hati Insha dan sekarang memilih diam dari pada berdebat dengan tuan muda yang seenaknya ini.


Salma yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum sambil menunduk, tidak faham dengan apa yang di lakukan adik iparnya itu.


biasanya orang hanya akan membeli sedikit sebagai tanda makam telah di kunjungi...tetapi kenapa dia membeli sebanyak itu..astaga sudah seperti menabur bunga pada makam baru saja...


Sementara ayah hanya mengeleng-geleng kepala tanpa komentar apapun.


Setelah selesai memanjatkan doa bersama disana, Insha, Salma dan juga Hanafi menaburkan bunga di sana. Saat sedang asyik menaburnya tiba-tiba ayah berkata,


"Jangan menabur semuanya ya...sisakan satu kantong lagi.."


"Memangnya untuk apa ayah..bukan kah hanya ada makam ibu disini.."


Benar...memang nya makam siapa lagi yang akan di kunjungi...makam kakek dan nenek pun berada di kota B...lagi pula ini sudah sore mau mengajak kemana lagi ayah...


Suara hati Salma sambil menatap heran pada ayahnya.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2