2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Belajar mengemudi


__ADS_3

Di jalanan yang tampak sangat sepi, Nana menghentikan mobilnya.


Tak banyak mobil yang lalu lalang disana, hanya beberapa mobil yang tampak melaju dengan lamban di jalanan yang lurus itu.


Setelah mengamati beberapa saat Insha menyadari tempat ini memang khusus di buat untuk orang-orang yang belajar mengemudi.


Tempat yang paling aman untuk para pemula belajar mengemudikan mobilnya.


Pikirnya memang tidak mungkin juga Nana akan mengajarinya di jalan raya apalagi di perkotaan yang cukup padat penduduknya, yang tentu tak luput dari kemacetan juga lalu lalang kendaraan yang kadang membahayakan pengendara lain.


"Nona.."


Nana terlihat menatap Insha.


"Eh iya.."


Insha terlihat kaget dengan panggilan itu, karna dia fokus pada beberapa kendaraan disana.


"Mari kita mulai belajar mengemudi..nona bisa perhatikan saya dulu sebelum nona yang memegang kemudinya.."


"Iya Nana...pelan-pelan ya kalau menjelaskan.."


"Baik nona.."


Nana pun mulai menjelaskan fungsi-fungsi dari masing-masing tombol maupun pijakan yang ada di bagian kemudi. Memberikan contoh dari setiap fungsinya.


Insha tampak memperhatikan semua penjelasan Nana dengan serius, ia pun tampak berkali-kali mengangguk-angguk faham pada Nana.


"Nona...silahkan nona berpindah ke kursi kemudi..saya akan membantu nona.."


Nana sudah keluar mobil dan membukakan pintu untuk Insha.


Insha pun keluar dan berganti ke kursi kemudinya. Setelah duduk di belakang kemudi Insha tampak mengingat-ingat kembali penjelasan Nana tadi.


Kenapa jantungku rasanya berdebar sekali ya...aduuh..aku bahkan sampai lupa apa saja yang telah di jelaskan Nana padaku..


Melihat Insha yang tampak gugup, Nana segera menenangkannya, dan ia menjelaskan lagi apa yang sudah di jelaskan tadi.


Kini Insha mulai melajukan mobilnya, awalnya terlihat sangat kaku memang, tapi lama-lama Insha terbiasa dan rasa gugup itu pun hilang karna Nana yang memang pandai mencairkan suasana.


Baru beberapa jam belajar Insha sudah lihai memainkan kemudi, juga sudah mulai menghafal semua fungsi-fungsi dari masing-masing tombol yang ada.


Terik matahari pun sudah memanas, menandakan hari sudah mulai siang. Nana memutuskan untuk mengakhiri kegiatannya bersama Insha hari ini.


Ia mengingat kembali pesan Kriss kemarin yang hanya mengizinkannya sampai siang hari,


Kriss mengatakan bahwa nona mudanya sedang menjalani program kehamilan saat ini, sehingga ia tak boleh kelelahan karna kegiatan barunya ini.


Mobil pun di kemudikan kembali oleh Nana dan di bawa menuju rumah utama kediaman mewah pemimpin Wijaya group itu.Setelah itu Nana pamit undur diri dan berjanji akan kembali lagi esok hari.


Insha pun memasuki kamarnya, sama sekali ia tak merasa lelah karna ia sangat menikmati aktivitas barunya saat ini.


Insha pun merebahkan dirinya di tempat tidur, tersenyum-senyum bangga pada dirinya sendiri.


"Bagaimana...apa kegiatan mu hari ini menyenangkan sayang.."


Rupanya Insha tak menyadari kalau Hanafi sudah tiba lebih dulu di rumah, ia terkaget dengan suara Hanafi. Dan lebih terkaget lagi saat Hanafi melompat ke tempat tidur merebahkan dirinya juga di samping Insha.


"Loh..kau sudah pulang sayang..."


menjawab sekenanya.


"Aku baru saja pulang dan selesai mandi..."


"Apa pekerjaan mu sudah selesai di kantor..kenapa pulang lebih awal...bahkan ini masih siang.."

__ADS_1


Hanafi sekarang sudah tidur dengan posisi tengkurap dan menindihkan satu tangannya pada tubuh Insha membelai-belai pipi Insha disana.


"Memangnya kenapa aku tak boleh pulang lebih awal.."


"Hehe..tentu saja boleh sayang..aku malah senang kalau kau di rumah trus.."


sudah mulai mode manjanya pada Hanafi.


"Aku hanya tak mau terjebak hujan lagi sayang...kau lihatlah..di luar mendung sudah tertata rapi...hendak turun hujan badai lagi...aku tak mau kau tidur sendirian lagi.."


"Hemm...aku juga tak mau tidur sendiri lagi..di tengah hujan badai seperti kemarin..aku takut sayang..."


"Apa yang kau takut kan sekarang...aku kan ada disini..."


memeluk Insha dengan eratnya, di selingi gelitikan di perut Insha sesekali.


Mereka pun saling menggelitik dan tertawa bersama, seketika Insha teringat dengan percakapannya dengan Salma tadi.


"Sayang..hentikan...aku ingin bicara sesuatu.."


"Hemm..bicara saja.."


sekarang asyik tenggelam di lekuk leher Insha dan menciumi bau tubuhnya.


"Kak Salma bicara padaku, ia ingin mengakhiri semua sandiwara ini..ia tak mau merepotkanmu yang harus terus memberi nafkah padanya..ia bilang lagi pula ayah juga sudah tiada..lalu untuk apa lagi sandiwara ini...menurutmu bagaimana.."


Hanafi tampak menghela nafas dalam.


"Ada atau tidaknya ayah disini...aku akan tetap menjalani semua ini...nafkah itu bukan sama sekali beban untukku sayang.. kau dan Salma lupa kalau kita sudah dalam perjanjian kalau pernikahan ini akan tetap berlaku sampai kekasih kak Salma pulang dan mereka menikah...apa kau keberatan sayang.."


"Hemm tidak sayang..semua terserah kau saja."


meski dalam hatinya sedikit kecewa dengan keputusan Hanafi.


mengecup bibir Insha cukup lama disana.


"Oh ya kau belum menjawab pertanyaan ku tadi..bagaimana kegiatan mu hari ini...apa semua menyenangkan."


Mendengar perkataan Hanafi yang selanjutnya membuat mata Insha berbinar senang, ia mengingat lagi betapa senangnya ia hari ini dengan aktivitas barunya.


Dan Insha pun menceritakan segala kegiatannya hari ini dengan Nana secara detail.


Hingga waktupun berjalan begitu cepat sore dan malam bergulir begitu saja.


*


Pagi hari telah tiba, Hanafi pun telah berangkat bekerja, kini Insha yang sedang bersiap-siap untuk memulai hari baru dan pelajaran baru untuknya.


Insha adalah gadis yang cerdas ia dapat dengan mudah mengusai berbagai teknik mengemudi dengan baik.


Nana pun di buat kagum dengan perkembangan Insha setiap harinya, ia pun selalu berkata bahwa Insha adalah yang terbaik. Ia tak pernah mengajari seorang yang cerdas dan mudah mengerti seperti Insha.


Apalagi orang-orang kaya yang malah terlihat sombong dan sangat merendahkan ilmu-ilmu yang di di ajarkan.


Nana juga bercerita, kadang ada seorang yang belajar mengemudi selama berbulan-bulan sampai dia benar-benar lihai mengendarainya.


Jalanan desa, jalanan kota yang ramai, padat juga macet, jalanan berkelok, jalanan menanjak dan menurun semua sudah bisa di lalui Insha dengan baik.


Tidak sampai waktu satu bulan Nana menemaninya, Insha sudah sangat handal mengemudi di berbagai medan.


Sampai kini Insha sedang berada di sebuah kantor pengurusan surat ijin mengemudinya, ia telah menjalani serangkaian test yang tentu di temani oleh Nana yang selalu ada di sampingnya.


Dan tentu saja semua test itu ia jalani menggunakan fasilitas VVIP tidak perlu mengantre dengan banyaknya orang disana.


Insha pun lulus dengan sempurna, tanpa adanya campur tangan dari siapa pun, dia pun berhasil mendapatkan surat ijin mengemudinya.

__ADS_1


Insha dan Nana pun keluar dari dalam gedung pengurusan itu, sampai di gerbang depan Nana meminta Insha untuk menghentikan mobilnya, karna sebuah mobil telah di tugaskan khusus dari kantor Nana untuk menjemputnya.


"Nona...saya akan turun disini saja..."


"Loh kamu gak ikut saya pulang dulu..."


"Tidak nona...sudah ada yang menjemput saya...dan saya mempunyai tugas baru untuk mengajari seorang lagi seperti nona...sekali lagi selamat untuk nona ..."


Nana menunduk dalam pada Insha


Insha pun tampak kecewa dengan perkataan Nana, pasalnya berminggu-minggu bersama Nana membuat Insha nyaman menjalani harinya, mereka juga tak segan menceritakan tentang hal pribadi mereka berdua .


"Nana aku pasti akan merindukanmu..."


Insha menghambur memeluk Nana yang masih ada di kursinya.Nana pun membalas pelukan itu dengan eratnya.


"Terimakasih ya....atas semua yang telah kau ajarkan padaku selama ini..."


"Tentu nona itu sudah menjadi tugas saya...saya senang kalau nona juga senang...saya harap nona ingat terus pesan saya ... dan berhati-hatilah di jalan..dimana pun itu...saya permisi nona...sudah ada yang menunggu saya..semoga nona selalu bahagia...saya mohon undur diri.."


Nana melepaskan pelukan itu, dan beranjak turun dari mobil.


"Aku akan selalu mengingat setiap pesan mu Nana...jangan sungkan bermain ke rumahku ya...."


"Baik nona...Terimakasih.."


Nana pun berlalu pergi dan meninggalkan Insha di dalam mobilnya, mereka berdua melambaikan tangan satu sama lain dan tersenyum sampai Nana memasuki mobil khusus yang menjemputnya.


Hendak melajukan mobilnya, Insha di hadang oleh mobil yang cukup ia kenali walau hanya sekilas melihatnya.


"Mas han..."


gumamnya pelan.


Kriss terlihat memakai jaket hoodie nya yang menutupi seluruh wajahnya ia membukakan pintu mobil dan keluarlah Hanafi dari sana. Hanafi terlihat berlari kecil menuju mobil Insha dan langsung masuk dan duduk di sampingnya.


Insha hanya terdiam tercengang dengan kejadian yang berlalu cepat itu, tiba-tiba saja sekarang Hanafi sudah ada di sampingnya.


"Hay sayang....selamat atas keberhasilanmu..."


Sapaan Hanafi membuatnya terkesiap dan kembali tersadar.


"Terimakasih sayang..."


Insha kini menerima pelukan dari Hanafi.


"Emm..kenapa kau tiba-tiba ada disini sayang..."


"Hemm..aku dari tadi menunggumu di ujung jalan itu...seharusnya aku sendiri yang mengantarmu...kau pasti tak akan menunggu selama itu.."


sudah cemberut sendiri sekarang.


"Oh ya...ayo segera lajukan mobilnya...aku ingin melihatmu mengemudikan mobil mu ini..."


kedua tangannya sudah menggosok satu sama lain, tak sabar melihat Insha mengemudikan mobilnya.


Insha pun hanya tersenyum, menunggu Kriss menepikan mobilnya lalu melaju di jalanan yang tampak lenggang itu.


Mereka menghabiskan waktu seharian di jalanan, membeli beberapa makanan di pinggir jalan, mengunjungi taman dan masih banyak lagi.


Hanafi menyuruh Insha untuk menuju ke sebuah restorant mewah yang sering mereka datangi, untuk makan malam sekaligus merayakan keberhasilan Insha .


Hari pun mereka akhiri dengan melakukan makan malam romantis di sebuah restorant ternama tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2