2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Villa tepi pantai


__ADS_3

Sang mentari sudah bersinar dengan terangnya, membuat para pejalan kaki yang sudah enggan malas terpapar oleh panasnya. Langit luas nampak biru bersih tanpa adanya gumpalan-gumpalan putih yang menghiasi.Air laut dengan warna biru kehijauan yang terhampar luas di bawahnya, gemerlap membentuk sebuah kilatan-kilatan kecil karna sinar sang mentari. Pasir putih yang membuat siapa pun ingin berlarian kesana-kemari.


Angin berhembus dengan cukup tenang, suara ombak yang berdeburan menambrak karang membuat sebuah melodi yang silih berganti terngiang di telinga. Pantai itu nampak sepi tak ada seorang pun yang menikmati keindahannya, tak seperti pantai-pantai pada umumnya yang slalu ramai pengunjung setiap akhir pekan.


"Kenapa pantai seindah ini tak ada seorang pun yang datang untuk menikmati keindahannya..?"


gumam Insha pelan yang masih ada di dalam mobil yang melaju perlahan di jalan pinggiran pantai.


Hanafi hanya tersenyum memeluk semakin erat Insha dalam pelukannya, juga memberikan satu kecupan lembut di kening nya.


Kedua mobil yang meiringinya dari bandara tadi sudah menghilang sejak mobil yang di tumpangi Hanafi masuk ke area pantai.


Setelah melakukan aktivitas yang tertunda tadi mereka melahap sejenak sandwich dan buah segar untuk menambah tenaga, lalu segera beranjak dari bandara.


Hanafi sudah menempatkan beberapa pengawal yang akan mengawalnya di perjalanannya kali ini, karna ini bukanlah negaranya, ia tak ingin terjadi sesuatu disana.


Para pengawal yang sudah menyamar dengan berbagai karakter orang yang ada di bandara, segera beranjak pula dengan mobil masing-masing saat mengetahui mobil sang tuan muda meninggalkan bandara.


Dan sampai lah pada pantai ini, pantai yang terkenal indah akan keindahan pasir putihnya yang akan membuat terlena siapa pun yang sudah menginjakkan kaki disana.


Hanafi pun tak heran kenapa pantai seindah ini sepi pengunjung, tentu karna ini adalah area privat villa yang di pesan Hanafi. Sebuah sudut pantai yang di sewa khusus beserta villa megah yang ada di sampingnya.


Villa megah itu menghadap langsung ke pantai, membuatnya mempunyai sudut terbaik pemandangan luas yang ada di depannya.


Mobil berhenti tepat di depan villa, ada seorang lelaki yang membukakan pintu dari luar dan keluarlah Insha dan Hanafi dari mobil dengan masih tertaut tangan satu sama lain.


Seorang pelayan perempuan membawa sebuah nampan berisikan dua gelas jus jeruk segar serta sebuah kunci yang di tempatkan khusus pada kotak dengan bantalan handuk putih di tengahnya.


Insha yang tak mengerti dengan maksud sang pelayan yang terus meyunggingkan senyumnya padanya. Insha pun menatap Hanafi, lalu Hanafi mengambil satu gelas jus itu di berikannya pada Insha lalu dia mengambil lagi sisanya dan meminumnya .


Hanafi pun meletakkan gelas yang sudah terminum separuh lalu mengambil kunci dan berjalan menggandeng Insha mengikuti langkah pengawal yang membawa mereka menuju villa yang sudah di sewanya.

__ADS_1


Klikk...


terbukalah villa itu, Insha pun menghambur masuk melihat- lihat villa itu, dengan bangunan 70℅ terbuat dari kaca membuatnya dapat melihat sang pantai dari arah manapun.


Sedangkan Hanafi masih berbincang pada pengawal itu di depan pintu villa, lalu terlihat ia menutup pintu dan menyusul Insha yang sudah masuk ke beberapa ruangan yang ada.


Sudah hampir 1 bulan menjadi istri tuan muda dengan segala kemewahan yang di milikinya, tapi Insha masih saja terlihat heran dengan benda-benda maupun bangunan mewah yang ada di sekitarnya.


Berbeda dari yang dulu Insha slalu menutupi kekagumannya terhadap kemewahan, kini ia lebih mengekpresikan dirinya dengan wajah yang cukup menggemaskan menurut Hanafi.


Ia juga lebih ceria tidak malu-malu apa lagi sekarang dia mempunyai hobi baru yaitu menggoda Hanafi dengan wajah manjanya, yang membuat Hanafi jadi ingin menuruti semua yang ia katakan waktu itu juga.


"Aku akan melihat di lantai atas ya mas han..."


berkata sambil menaiki tangga tanpa menoleh ke arah Hanafi sedikit pun.


*kenapa wajahnya slalu terlihat menggemaskan sih...aku jadi tidak tahan jauh-jauh dari*nya...


Kini Insha sudah terlihat berdiri di balkon lantai 2, ia nampak berdiri terdiam ntah apa yang sedang ada di fikirkannya.


Hanafi menghampiri Insha memeluknya dari belakang sambil mengintip wajah cantik istrinya. Insha tampak terpejam dengan senyum yang merekah. Merasakan hembusan angin laut yang menerpa lembut wajahnya, mendengarkan deburan ombak di setiap detiknya, suara-suara gemericik air yang membuat hati semakin tenang.


Ini adalah pertama kali dalam hidupnya, Insha pergi ke pantai, melihat dan merasakan langsung betapa Indahnya alam yang belum sempat ia nikmati selama ini. Hatinya sangat bahagia sekarang, bagaimana tidak dia mempunyai suami yang dapat mencukupi segala kebutuhannya, menikmati berbagai fasilitas mewah yang ada, memakan apapun yang bahkan belum pernah ia dengar namanya, pergi ke tempat-tempat yang belum pernah ia kunjungi, satu per satu semua yang ia ingin kan terwujud tanpa di minta, kini kehidupannya seratus delapan puluh derajat berubah, seperti tidak ada beban sama sekali. Hari-hari bergulir begitu saja di hiasi dengan kebahagiaan dan berbagai kejutan. Insha pun kini sudah mulai terbiasa dengan fasilitas-fasilitas mewah yang di beri suaminya.


Perlahan Hanafi menarik kerudung yang di pakai Insha, membuat rambut hitam panjangnya tergerai begitu saja, sedikit berterbangan terkena angin laut yang membuat kecantikannya makin terpancar.


"Mas han kenapa membuka kerudungku.."


berbalik dan menatap Hanafi, kini tangannya sudah tidak malu lagi langsung melingkar begitu saja di leher Hanafi.


"Memangnya tidak boleh..disini kan cuma ada kau dan aku.."

__ADS_1


masih dengan posisi memeluk pinggang Insha tapi kini sudah menghujani wajah Insha dengan kecupan.


"Iih..mas han..nanti kalau ada yang melihat bagaimana.."


"Tidak akan ada orang disini Insha..tenang saja.."


kenapa tubuhku jadi merinding begini sih dengan perlakuan mas han ini...


"Insha..."


"Ya mas han..."


" Ayo ikut aku berenang..."


"Berenang di laut...tidak mau mas saya takut.."


Hanafi sudah menyeret Insha ke lantai bawah lagi...


"Mas han...aku tidak bisa berenang...aku tidak mau.."


sudah merengek sambil berjalan, tapi tidak ada reaksi penolakan dari tubuhnya.


Insha terdiam seketika melihat kolam renang dalam villa nya saat ini, sangat luas, dan airnya sangat jernih tidak kalah dari laut di sebrang sana.


wooaah...rupanya ada kolam renang juga ya disini...


Mata Insha sudah membulat dan berjalan perlahan menuju kolam renang, di samping kolam terdapat juga berbagai tanaman hias yang membuatnya semakin sejuk, juga 2 buah kursi santai di dekat kolam.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu berenang di pantai di lihat oleh para pengawal dengan mata mereka yang terus menatap waspada itu..."


Sudah cemberut sendiri, melepas bajunya dan menyisakan celana pendeknya lalu terjun ke dalam kolam begitu saja tanpa menunggu jawaban Insha.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2