
Hanafi sudah mencari di setiap sudut rumah sakit tapi tak di temukan sosok Insha sama sekali. Ia juga mencoba berkali-kali menghubungi ponsel Insha tapi tak ada jawaban. Beberapa pesan singkat juga ia kirimkan tapi tak ada satu pun balasan.
Akhirnya Hanafi menyuruh 4 pengawal yang tadi berjaga di depan pintu untuk ikut mencari keberadaan istrinya itu.
Sementara untuk menjaga ruang VVIP Hanafi menyuruh Kriss untuk bersiaga disana, tak memperbolehkan siapa pun masuk, sampai semua yang berhubungan dengan pernikahan rahasia itu sudah di bereskan dengan sempurna.
4 pengawal dan Hanafi pun berpencar ke segala arah untuk mencari Insha.
Hanafi menyuruh para lelaki itu menghubunginya jika menemukan keberadaan istrinya .
Waktu berjalan cukup cepat, 1 orang pengawal sedari tadi berdiri di kantin, ia mengamati salah satu kedai yang nampak pegawainya masih di sibukkan melayani pelanggan di larut malam seperti ini.
Ia terheran, dan tampak curiga dengan semua aktivitasnya, apalagi kedai tersebut adalah sebuah kedai es cream,
siapa yang akan makan es cream selarut ini.
gumamnya
Lelaki itu memicingkan mata, mencari dimana sosok pelanggan yang membuat kewalahan pegawai kedai es cream di tengah malam seperti ini.
Terlihat sedikit sosok wanita berkerudung tengah duduk sendirian disana, dengan tumpukan cup es cream yang tampak berantakan di mejanya.
Seketika ia terbelalak.
itu nona muda...astaga dia memakan es cream sebanyak itu di tengah malam seperti ini...
Kini tangan nya tampak gemetar meraih ponsel di sakunya, hendak memberikan informasi pada tuan mudanya bahwa ia telah menemukannya.
Ia tampak ketakutan membayangkan reaksi seperti apa yang akan di tunjukkan Hanafi saat mengetahui keadaan Insha yang sekarang, apalagi baru kali ini ia melihat tuan mudanya dalam keadaan benar-benar bingung.
"Maaf tuan...sayang telah menemukan dimana nona muda sekarang..."
ia berbicara dengan suara yang tampak gemetar.
"Katakan dimana kau sekarang.."
"Di kantin di kedai es cream tuan..."
tuut..tuut..
telpon pun di tutup
Hanafi langsung mematikan sambungan telpon begitu saja. Ia segera menuju lokasi yang di sebutkan.
kedai es cream...kenapa sama sekali tak terpikir olehku...sayang..kenapa kau membuatku cemas seperti ini...
Seakan merasakan ada suatu hal yang terjadi pada Insha, apa lagi mendengar laporan dari pengawalnya dengan nada bicara yang terdengar aneh di telinganya, ia segera berlari menuju kedai itu.
Tepat di depan kedai, Hanafi melihat Insha yang duduk menghadap dinding, dengan cup es cream yang tampak memenuhi mejanya hingga beberapa tampak terjatuh karna terdesak oleh cup-cup lainnya.
Astaga sayang apa yang kau lakukan...kenapa memakan es cream sebanyak itu..
Hanafi segera menghampiri, menepis tangan Insha yang masih saja terus ingin memasukkan es lumer ke mulutnya.
Tiinng..sendok itu jatuh ke lantai dan menimbulkan suara berdenting.
__ADS_1
Hanafi memandang Insha, matanya sudah sembab dengan bekas air mata yang mengering di pipinya, juga beberapa es cream yang tampak tertinggal di ujung bibirnya, dan juga kerudung yang terciprat juga terkena tetesan es cream di biarkan begitu saja. Keadaannya tampak sangat berantakan sekarang.
Insha seakan telah mengerti kedatangan Hanafi disana, ia tampak tak peduli ia tetap menatap lurus ke depan dengan tatapan nanar, tak melirik sedikit pun pada Hanafi.
"Insha....apa yang kau lakukan....jangan melakukan hal yang bisa menyakiti dirimu seperti ini...aku benar-benar benci melihatnya...
kau tak tau ini sudah tengah malam..kenapa memakan es cream sebanyak ini...ini bisa membuatmu sakit nanti..."
melihat Insha yang tak bereaksi Hanafi kembali meneruskan kalimatnya.
"Kau tak tau betapa khawatirnya aku padamu...sudah berjam-jam aku mencari mu...dan juga dimana ponselmu..kenapa kau tak mengangkat atau pun membalas pesan dariku..."
"Setidaknya fikirkan dirimu..lihatlah, kau terlihat sangat kacau Insha..."
Insha sama sekali tak menggubris cercaan dari Hanafi dia tetap menatap nanar gambar-gambar yang ada di dinding di hadapannya.
"Innshaaa..."
"Hey...kenapa kau diam saja..."
"Ayo kita kembali dan bersihkan dirimu.."
Hanafi menggoyang-goyangkan tubuh Insha, tubuhnya terlihat lunglai mengikuti tarikan dan dorongan dari tangan Hanafi.
Hanafi terlihat berfikir, kini ia tersadar suaranya sejak tadi meninggi di depan Insha karna rasa khawatir yang berlebihan, kini ia perlahan menurunkan tubuhnya bertumpu pada kedua lututnya , ia memegang tangan Insha dan berkata lagi dengan suara yang sangat lembut.
"Sayaang...jangan berdiam seperti ini...katakanlah sesuatu...katakan apa yang kau inginkan..."
"Apa mas masih peduli padaku.."
kata itu terlontar begitu saja dari Insha.
"Lalu kenapa, kau bahkan datang dengan amarahmu padaku.."
"Maafkan aku sayang..sungguh maafkan aku.. melihatmu dengan keadaan seperti ini aku tak bisa mengontrol emosiku.."
Insha mulai menatap Hanafi , ntah kenapa wajahnya sangat sulit untuk di tebak sekarang, air matanya mulai mengalir lagi di kedua pipinya, Hanafi hendak mengusap air mata itu tapi di tepis oleh Insha dengan kasar.
"Kenapa kau lakukan semua ini padaku han.."
air mukanya mulai di penuhi dengan amarah,bibirnya berucap gemetar menahan tangisnya yang mulai pecah.
"Katakan kenapa kau lakukan semua ini padaku..apa kau tak sedikit pun berfikir tentang perasaan ku.."
"Katakan padaku kau sangat bahagia dengan pernikahan itu...kau bahagia bersanding dengan kakakku..."
"Sayaang...apa yang kau katakan.."
Hanafi mulai bingung, ia ingin memeluk dan menenagkan Insha tapi di tepis olehnya, Insha terlihat penuh dengan amarah bahkan sekarang ia mendorong-dorong tubuh Hanafi.
"Jangan berpura-pura bodoh di depanku han...aku melihat senyum bahagia dari wajahmu...kau bahkan mencium nya dengan bibirmu...bibir yang kau bilang hanya milikku..."
"Kau bahkan tak mencegahku untuk pergi...kau benar-benar melupakanku...lalu apalagi setelah ini...kau akan membuangku..setelah kau membuatku terlena dengan kehidupanmu.."
"Gaya hidup ini...pakaian ini...semua perhiasan ini...apa arti semua ini...jika kau menghianati cintaku...kau tak tau sesakit apa aku tadi...fikirkan perasaanku han...sedikit saja....aku mohon...aku sangat mencintaimu...aku tak bisa melihatmu dengan wanita manapun..."
__ADS_1
Hanafi medekap erat tubuh Insha dalam pelukannya, Insha berusaha melepas pelukan itu, tapi tenaganya kalah jauh ia sekarang memilih terisak di dalam dekapan itu.
Hanafi menitikkan air mata, ia merasakan apa yang sedang di rasakan istrinya sekarang.
Sandiwara pernikahannya yang membuat Insha menjadi seperti ini.
"Maafkan aku Insha...aku sama sekali tak bermaksud merebut Hanafi dari mu...aku juga tak berniat untuk menikah dengannya...ini semua tiba-tiba terjadi begitu saja.."
Suara Salma tiba-tiba memenuhi ruangan itu, ia mencoba mendekati Insha.
Rupanya sedari tadi Salma khawatir dengan keadaan Insha dia juga ikut mencari keberadaan nya, dan dia menemukan Insha yang sedang mencecar Hanafi disana, ia mendengar semuanya.
"Kau bohong...kau bahkan tersenyum bahagia disana...lalu sekarang kau menangis di hadapanku..apa arti tangisan itu hah..."
Insha mengumpati Salma, ia berusaha lagi memberontak hendak menyerang Salma sekarang.
"Demi Tuhan Insha aku sama sekali tak ada perasaan untuk Hanafi...dia hanya milikmu...semua itu aku lakukan untuk ayah...semua sandiwara ini untuk ayah...demi membuat ayah bisa tersenyum lagi...apa kau lupa tujuan awal pernikahan ini...semua itu hanya sandiwara Insha...aku bersumpah.."
sekujur tubuhnya seakan tak bertenaga, Salma menangis terduduk dan tertunduk di lantai.
"Aku membencimu Salma ...aku membencimu...dan juga kau han...kalian semua pergilah dari sini...aku sangat benci melihat kalian disini..."
Insha memberontak semakin kasar, tapi Hanafi masih saja memdekapnya dengan erat.
"Lepaskan aku han...lepaskan aku.."
"Cukuupp.."
Hanafi membentak Insha dalam dekapannya.
Sekarang kedua tangannya memegang bahu Insha, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Kuasai dirimu Insha...kau dipenuhi amarah...aku suamimu...bahkan kau hilang rasa hormatmu untukku....sadar lah....tatap aku sekarang..."
"Sama sekali aku tak berniat untuk pergi dari mu...kau istriku...kau wanitaku..hanya kau yang aku cintai...semua yang aku lakukan tadi hanya sandiwara insha ...hanya sementara...kau bahkan tau itu...tapi kenapa sekarang kau menghardikku...kau menyakiti tubuhmu dengan apa semua ini.."
Hanafi menyapu cup-cup es cream di meja dengan lengannya, membuatnya berjatuhan dan berserakan di lantai.
"Tak sedikit pun aku memiliki niatan untuk menyentuh kakakmu...semua ini untuk ayahmu...sadarlah, lihat keadaan ayah..bagaimana ia terbaring lemah disana..ia hanya menunggu waktu Insha...tak bisa kah kau memberi sedikit kebahagiaan untuknya..."
Insha mulai tersadar kini ia terisak dan tertunduk dalam, membiarkan Hanafi memeluk tubuh mungilnya lagi.
"Maafkan aku sayang..maafkan aku.."
Hanafi pun semakin mempererat pelukannya sekarang, ia menghujani kening Insha dengan kecupan.
"Maafkan aku membiarkanmu pergi begitu saja.."
Insha mengangguk-anggukan kepalanya tak sanggup lagi berkata-kata dalam tangisnya.
Beberapa saat ada dalam dekapan Hanafi, Insha kini menoleh pada Salma yang sedang terduduk disana.
Perlahan Ia melepas pelukan Hanafi,hendak mendekati Salma yang tak jauh darinya.
"Maafkan aku kak..maafkan aku..."
__ADS_1
Insha kalah cepat Salma sudah lebih dulu mendekat dan memeluknya dengan erat, Insha membalas pelukan itu, mereka berdua terisak bersama menyadari kesalahan mereka dan saling memeluk erat satu sama lain.
Bersambung...