2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kue coklat lumer


__ADS_3

Pak Sun yang mendengar penuturan Hanafi pun seketika menangis haru, antara rasa bangga dan lega melihat sosok Hanafi yang sekarang.


mungkin masih tergambar jelas tuan..bagaimana anda tumbuh sejak kecil...pemuda yang tumbuh dengan kasih sayang dan cinta luar biasa dari nyonya dan tuan besar..juga pemuda yang sedikit manja...kini di depan saya...saya seakan melihat sosok pemuda yang berbeda..pemuda yang mandiri, tegas, bijaksana...tidak salah jika anda menjadi pemilik perusahaan terbesar Wijaya group saat ini..


"Apa bapak tau tentang proyek pembangunan villa anggrek di puncak.."


"Iya tuan saya tau.."


sedikit terkesiap karna pak Sun masih berada dalam lamunan nya.


"Bukankah proyek itu sudah rampung pengerjaannya pak.."


"Benar tuan proyek rampung masih beberapa hari yang lalu.."


"Villa anggrek itu akan menjadi tempat istirahat yang nyaman untuk bapak .."


Hanafi sambil tersenyum puas pada Pak sun.


"Maksud tuan muda apa.."


menatap Hanafi dengan pandangan penuh tanya.


"Villa anggrek adalah hadiah untuk bapak...hadiah yang di berikan khusus oleh Wijaya group karna kerja keras bapak selama ini..."


"Benarkah tuan...bahkan villa itu terlalu mewah dan saya tak pantas untuk menerimanya.."


sudah mulai menangis haru lagi.


"Bapak pantas..bapak sangat pantas menerimanya...karna tanpa bapak saya tak akan menjadi seperti sekarang...Wijaya group bisa bangkit lagi karna kerja keras bapak mendidik saya selama ini..."


Pak Sun sudah tidak dapat berkata apapun ia sekarang menangis karna senangnya.


"Mulai besok bapak akan mulai menempatinya, aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengurus semuanya...jangan khawatir tentang semua kebutuhan disana..aku akan menjamin semua kebutuhan bapak...dan satu lagi..sudah waktunya bapak istirahat nikmatilah masa tua bapak dengan bahagia..."


Hanafi pun melepas pelukannya pada Insha ia sekarang menghambur memeluk pak Sun yang menangis haru disana.


Pertemuan itu pun di akhiri dengan Hanafi dan Insha yang mengantarkan pak Sun ke mobilnya.


Ia hendak beranjak dari sana, menuju kota A membereskan beberapa pekerjaan yang belum terlesesaikan di kantor, dan mulai besok Hanafi sudah menunjuk seorang pemimpin baru menggantikan posisi pak Sun di anak cabang tersebut.


Pak Sun pun pulang dengan perasaan bahagia, ia berpamitan kepada Hanafi memberikan beberapa pesannya sebelum mobilnya melaju.


"Baik pak..saya akan mengingat pesan bapak dengan baik...dan kapan-kapan saya akan mengajak Insha berkunjung kesana..."


tangan Hanafi melambai mendapati mobil pak Sun yang mulai melaju.


Di dalam mobil pak Sun juga melambai pada Hanafi sambil membungkukkan kepalanya tanda ia segera pamit.


"Huuh...senang rasanya melihat dia bahagia seperti itu..dia sudah seperti sosok malaikat buat ku...dia pantas untuk mendapatkan semua ini.."


Hanafi berbicara tanpa ada yang bertanya, sambil berjalan mensejajari Insha di samping nya, masuk kembali ke dalam rumah.


**


Hari pun terus berganti, bergulir begitu saja. Tak mudah untuk Insha melupakan kesedihannya tentang kepergian ayah.

__ADS_1


Kini Hanafi juga sering mengajaknya sekedar jalan-jalan, untuk membeli keperluan atau hanya sededar jajan di jalanan kota.


Sebenarnya Hanafi selalu menolak untuk jajan sembarangan di pinggir jalan, tapi itu semua kemauan Insha, ia selalu bilang ingin mengulang lagi apa yang pernah ia lakukan dulu. Ia rindu kehidupannya yang dulu, meski sekarang sangat jauh lebih terjamin.


Hari, minggu bahkan bulan terus berlalu.Kini tepatnya 2 bulan setelah kepergian ayah, Insha tak kunjung mengandung, membuatnya bosan di rumah hanya melakukan hal itu-itu saja setiap hari.


Apalagi kalau Hanafi berangkat bekerja ia akan merasa kesepian. Mungkin hanya ada Risna , Fatimah dan bu Ririn yang menemaninya, itu pun kalau semua pekerjaan nya sudah selesai.


Beberapa minggu ini, untuk mengusir bosan Insha selalu berkutat di dapur saat Hanafi sudah berangkat kerja.


Ia mencoba memasak sesuatu yang belum pernah ia masak sebelumnya, atau bahkan mencoba memasak beberapa kue yang ia lihat di internet.


Sudah banyak masakan luar negeri yang ia kuasai, ia kadang juga memasak dengan porsi lebih, lalu menyuruh pak Tono untuk memberikannya pada Salma di desa, atau biasanya Insha meminta pak Tono untuk mengantarkan Insha sendiri kesana. Seharian menghabiskan waktu dengan kakaknya, lalu ketika sore tiba Hanafi akan menjemputnya pulang.


Hari ini Insha ingin membuat kue coklat lumer yang sangat ia sukai semenjak ia menjadi istri Hanafi. Pertama kali ia memakan kue coklat lumer itu, dan langsung menyukai rasanya yang meleleh di dalam mulut.


Biasanya ia akan memesan pada Hanafi untuk membelikannya di sebuah kedai kue langganan nya. Tapi hari ini Insha ingin membuat sendiri kue itu dengan tangannya, tentu dengan resep yang sudah ia dapatkan dari situs internet di ponselnya.


"Bisa tidak ya aku membuatnya.."


merasa ragu sebelum memulainya, padahal bahan-bahan lengkap sudah ada di depannya.


"E.hemmm...mau buat makanan apa hari ini.non...sepertinya enak..wah ada coklatnya pula.."


Fatimah menyapa sambil membawa sebuah sapu, hendak menyelesaikan tugasnya membersihkan rumah.


"Eeh..mbak fat..ini aku mau buat kue coklat lumer, sepertinya enak...tapi berhasil tidak ya.."


menggaruk kepala yang bahkan tidak gatal sambil tersenyum yang tampak meragukan.


"Hehe seperti biasa, saya lihat di internet mbak.."


"Tenang saja non..pasti jadi dan enak kok...kan nona juga sudah sering memasak dengan melihat resep di internet...dan hasilnya juga enak..."


"Hehe...iya sih mbak..tapi saya kan belum pernah membuat kue sebelumnya..."


"Pasti enak kok non...semangat...saya akan menjadi orang pertama yang mencicipinya nanti...kalau nona mengizinkan sih...hehe.."


"Sudah pasti mbak Fatimah harus mencobanya, aku akan membuat lebih hari ini...siapa tau suamiku juga mau.."


"Pasti mau kok non...mas Hanafi selalu memakan apapun yang nona Insha buat kan.."


"Iya mbak semoga enak ya.."


"Iya non...ya sudah saya bersih-bersih dulu ya.."


"Iya mbak..."


Insha menjawab tapi tak melihat orangnya, ia sudah mulai membuat adonannya sambil sesekali melihat layar ponsel yang menunjukkan step by step dalam membuatnya.


Ia memasukkan semua bahan-bahan yang sudah di siapkan sesuai arahan dari artikel yang di lihatnya.


Ia menginginkan hasil kue berbentuk setengah lingkaran, dengan warna coklat pekat .


Dibagian luar kue terasa renyah saat di gigit tapi ketika sudah masuk bagian dalam terasa empuk dengan coklat berlimpah yang meleleh.

__ADS_1


Ia biasa membeli kue coklat lumer dengan berbagai bentuk di kedai langganannya, tapi kali ini ntah kenapa Insha Ingin membuat bentuk setengah lingkaran yang cukup sulit untuk di buat meskipun sudah menggunakan sebuah cetakan.


"Hmm baunya enak sekali...semakin tak sabar bagaimana kalau sudah matang ya.."


Insha sudah memasukkan kue itu ke dalam oven, tinggal menunggu beberapa menit sebelum kue itu matang sempurna.


"Akhiirnya matang juga.."


Teriaknya girang mendengar alarm oven berbunyi di depannya.


Ntah memang Insha pandai memasak, atau ia yang selalu patuh pada petunjuk nya, kue itu matang dengan sempurna. Dapat di lepaskan dari cetakan dengan mudah dan bentuknya terlihat sangat sempurna sesuai dengan yang dia inginkan.


Seketika itu juga Fatimah datang, ia masih membawa sebuah sapu tapi kini pekerjaannya sudah selesai, ia hendak menaruh sapu itu di tempatnya.


"Waah sudah matang non.."


"Eh..kebetulan iya mbak ini...ayo kita cicipi dulu.."


"Hehe saya tadi bercanda kok non.."


"Tidak apa-apa mbak..ayolah.."


Insha sudah menyodorkan sendok kecil pada Fatimah, Insha pun juga memegang sendok yang sama.


Dan ketika di sendok kue itu benar saja, bagian tengahnya langsung meleleh sempurna seperti kue yang slalu di pesan Insha.


"Hmm..enak sekali kue ini non..sungguh lebih enak dari yang biasa mas Hanafi beli.."


"Benarkah mbak.."


mata Insha berbinar, ia pun juga mencoba menyendok kue yang lainnya dan mencicipinya.


waah benar sekali..rasanya lebih enak dari yang biasa aku beli...mas Han pasti juga menyukainya.


"Iya mbak rasanya enak sekali ya..mbak mau nambah..mbak ambil saja masih banyak kok...oh iya mbak Risna dan bude kemana ya..kok gak kelihatan..aku ingin mereka juga mencobanya..."


"Mereka sedang berbelanja untuk kebutuhan dapur non..paling sebentar lagi juga pulang...."


jawab Fatimah dengan mulut masih di penuhi lelehan coklat.


"Emm gitu ya...kalau gitu nanti mbak Fatimah ambilkan di kotak itu ya..biar mereka juga mencoba nya.."


"Lah memang nya mas Hanafi gak di kasih non.."


"Aku sudah menyiapkannya khusus disana mbak untuk nanti kalau dia sudah pulang..."


"Hmm baiklah non..tapi beneran boleh nambah ini..." sudah menatap dengan penuh harap.


"Iya mbak..mbak ambil saja sendiri disana,, aku membuat banyak kok.."


"Hehe..terimakasih ya non..habisnya enak sih.."


Insha hanya tersenyum cerah sambil berlalu, ia senang telah berhasil membuat kue kesukaannya.


Ia kini beranjak ke kamarnya untuk istirahat sejenak, sebelum sore hari tiba dan menyambut Hanafi pulang bekerja dengan kue yang berhasil dibuatnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2