
Tibalah hari dimana resepsi pernikahan Insha dan Prass di gelar. Hanafi masih ingat tulisan dalam undangan itu, dimana gedung tempat acara di laksanakan.
Sebuah gedung hotel bintang 5 di kota itu, gedung yang cukup megah dan sering di gunakan untuk acara resepsi pernikahan orang-orang yang mempunyai status yang tinggi.
Hanafi masih berada di rumah sakit, Ia masih tetap bersikeras dengan niatannya ingin menghadiri acara resepsi itu, meski dengan kondisinya yang masih cukup lemah.
Arya sudah memberikan beberapa obat untuk di minum Hanafi sebelum berangkat, berharap obat itu bisa menguatkan Hanafi lagi agar dia lebih terlihat tegar disana.
Beberapa kali Hanafi terlihat menarik nafas panjang, ia masih duduk di pinggiran tempat tidurnya.
Hanafi berusaha menyiapkan hatinya untuk segera berangkat ke tempat resepsi yang di laksanakan pada sore hari.
Hanafi pun berjalan keluar rumah sakit, ia mengemudikan mobilnya sendiri tanpa ada satu orang pun yang menemani, di sisi kanan tangannya pun masih terdapat plester untuk menutupi bekas selang infus yang terpasang di tangannya.
Dokter Arya yang mengantar kepergian Hanafi menatap mobil itu melaju dengan penuh kecemasan.
Saat ini Hanafi memakai setelan jas lengkap berwarna hitam, dan kemeja putih. Juga celana hitam, rambutnya di sisir dengan sangat rapi. Tampak sangat tampan meski dengan tubuhnya yang terlihat kurus.
Mobil hampir sampai di gedung tempat resepsi di gelar, tapi tubuh Hanafi kembali gemetar, ia terisak dengan mengemudikan mobilnya. Tubuhnya juga seakan menolak untuk datang kesana, Hanafi tak ingin terlihat menangis di depan Insha dan Prass yang membuat kesan dirinya menjadi seorang yang lemah.Hanafi pun akhirnya memilih untuk berputar arah, ia mengurungkan niatnya untuk datang ke resepsi itu dan memilih untuk pulang menemui Khanza yang sudah sangat di rindukannya.
Hanafi sampai di halaman rumah utama, masih di dalam mobil ia segera mengambil tissu di dashboard mobilnya, untuk mengusap airmatanya. Ia tak ingin bertemu Khanza dengan keadaan yang bersedih.
Selesai dengan itu Hanafi segera masuk rumah dan mencari keberadaan Khanza. Tanpa sepatah kata pun dan tanpa memperdulikan berbagai pertanyaan dan sapaan para pembantunya, Hanafi segera menggendong Khanza yang sedang berlatih berjalan dengan Mirna. Hanafi menggendong Khanza pergi ke taman.
Hanafi mencoba menghibur dirinya dengan membawa Khanza ke taman, melatih Khanza berjalan disana, sambil melihat-lihat indahnya bunga serta sejuknya udara disana yang sangat jarang sekali ia nikmati.
Setelah hari itu, Hanafi tak lagi mencari tau tentang keberadaan Insha. Ia memilih untuk mengihklaskan Insha menjalani kehidupan barunya bersama Prass. Hanafi tentu juga tak membencinya bahkan perasaannya pada Insha masih tetap sama. Hanafi hanya ingin Insha menemukan kebahagiaannya.
Hari-hari Hanafi jalani dengan lebih fokus pada pekerjaannya, mencoba mengembangkan lagi perusahaan yang sempat terpuruk juga karna kondisinya. Hanafi sadar sikapnya selama ini hanya membuatnya merugi, perusahaan besar yang sudah di bangun oleh mendiang orangtuanya merosot dengan sia-sia. Ia mencoba memperbaiki semuanya. Karna menurutnya sekarang tak ada lagi yang akan dia kejar, Insha sudah pergi dari hidupnya bahkan mungkin sudah melupakannya.
__ADS_1
Hanafi kini hanya akan memikirkan tentang Khanza dan masa depannya.
Setiap hari sepulang ia dari kantor, ia sempatkan untuk menemani Khanza sekedar hanya mengobrol atau kadang menggendongnya, bahkan menemaninya bermain sampai tertidur.
Di akhir pekan Hanafi juga akan mengajak Khanza dan para pembantunya untuk berjalan-jalan di beberapa tempat wisata, atau hanya ke pusat kota untuk membeli sesuatu sekedar melepas bosan dan juga bersenang-senang.
Di umurnya yang sudah 1 tahun lebih Khanza sudah mengerti ketika di ajak berbicara, ia juga sudah bisa berbicara dengan lancar meski kadang beberapa kata masih terdengar belum sempurna.
Di sela-sela kebersamaannya dengan Khanza Hanafi selalu menceritakan tentang Insha, Hanafi bahkan juga melihatkan pada Khanza foto-foto Insha yang masih di simpan rapi oleh Hanafi.
Hanafi selalu bercerita bahwa ibu Insha adalah wanita yang baik, ia sayang pada Khanza dan Hanafi juga selalu bilang padanya bahwa suatu saat nanti ibu Insha pasti akan kembali ke rumah ini, ibu Insha akan menemui Khanza.
Dari semua cerita yang telah Hanafi ceritakan pada Khanza tentang kebaikan Insha. Khanza mulai mengaggumi sosok Insha. Ia bahkan selalu bertanya pada Hanafi tentang banyak hal tentang Insha, juga kadang bertanya kapan ibu insha pulang dan memeluknya.
Di usianya yang mulai menginjak 15 bulan Hanafi mulai ingin melihat bakat yang di miliki Khanza. Ia melatih berbagai macam kegiatan kepada Khanza, apa yang dia sukai maka Hanafi akan selalu memberikan fasilitas untuk itu.
Bulan-bulan berlalu dengan cepat Hanafi juga mulai mengenalkan alat musik di usia Khanza yang sekarang. Dari banyak alat musik yang Hanafi mulai kenalkan dengan suaranya, sepertinya Khanza lebih tertarik pada piano. Suaranya selalu bisa membuat Khanza tenang, dan ia selalu mencoba memencet-mencet nada piano saat Hanafi mulai memainkannya dengan Khanza yang ada di pangkuannya.
Hanafi pandai bermain piano, kepiawaiannya bermain piano di mulai sejak ia kecil, ia di berikan fasilitas khusus oleh sang ayah untuk selalu mengasah apapun yang ia suka. Ayahnya bahkan sudah mengundang seorang guru yang mengajarkan bermain piano untuk Hanafi di usianya yang masih 3 tahun.
Dari situlah Hanafi mengambil sebuah contoh untuk mengasah setiap kemampuan anaknya meski masih di usia yang sangat kecil.
Sudah lama tak bermain piano tak membuat Hanafi kehilangan kelentikan tangannya dalam bermain nada. Tangannya masih sama lincahnya seperti saat ia masih remaja, saat ia selalu memainkan nada-nada indah untuk sang ibu yang selalu senang mendengar permainan pianonya.
Sampai di suatu malam saat Hanafi sendirian, ia mengintip di kamar Khanza rupanya Khanza telah tertidur dengan pulas. Hanafi sama sekali belum mengantuk, bingung ingin melakukan apa Hanafi pun memilih untuk ke ruang musik memainkan nada-nada yang mungkin bisa membuat dirinya tenang.
Dengan ruangan kedap suara Hanafi mulai memainkan nada-nada Indahnya. Ntah kenapa nada-nada yang semula menenangkan kini berganti menjadi nada irama yang mengiris hati. Hanafi tanpa terasa juga mulai membuka suaranya untuk menyambung nada piano yang sudah ia bawakan.
"Segalaaa caraa telah kuu cooba....Agar aku bisa tanpa dirimuu....ooohhh...Namun semuaaa beerrbedaa....Sulitku menghapus kenangan bersamamuu..."
__ADS_1
"Kuingin saat ini engkaauu ada di disiniii....Tertawa bersamaku sepertiii dulu lagiii...."
Ingin meneruskan bait lagu lagi tapi Hanafi tak sanggup untuk membuka mulutnya, ia menghentikan nada pianonya. Hanafi terisak disana dengan menyandarkan kepala di kedua tangan yang di lipat di atas tombol piano itu.
Ntah kenapa malam ini, setelah 7 bulan lamanya setelah hari resepsi pernikahan itu, Hanafi teringat lagi dengan Insha, dan tak dapat di pungkiri ia sangat merindukan kehadiran Insha di sisinya.
Dalam fikirannya berparade semua kenangan Indah bersama dengan Insha, senyumnya, tawanya juga kasih sayangnya. Semua seperti sebuah foto dalam lembaran album yang kembali dibuka secara perlahan, membuat Hanafi kembali di dalam kesedihannya yang mendalam.
Isaknya semakin keras diiringi dengan rasa sakit pada hatinya saat mengingat lagi Insha yang kini sudah menjadi milik orang lain.
Hanafi pun terhuyung kembali ke kamarnya, ia kembali terisak di atas tempat tidurnya, memeluk erat guling yang ada di sampingnya, membayangkan itu adalah Insha. Rindu yang teramat sangat seakan mengiris-iris hatinya.
ia terisak sampai tertidur malam itu.
Pagi pun tiba, hari ini akhir pekan Hanafi seperti biasanya akan membawa Khanza dan para pembantunya untuk pergi ke sebuah tempat. Hari ini Hanafi berencana membawa mereka semua pergi ke sebuah taman bunga yang luas di pusat kota.
Khanza sudah selesai bersiap, ia memakai gaun kecil berwarna biru yang terlihat simple namun elegan dan terlihat semakin menggemaskan. Hanafi pun mengajak Khanza untuk keluar rumah membiarkan Khanza berjalan-jalan di halaman rumah utama sambil menunggu para pembantunya bersiap membawa perbekalan makanan maupun minuman untuk mereka makan di tengah bunga-bunga yang bermekaran. Akhir pekan kali ini bisa di bilang dengan piknik, karna para pembantunya juga membawa tikar bahkan tenda kecil untuk Khanza bermain nanti.
Hanafi mengekor di belakang Khanza yang tengah berlari-lari kecil di halaman, takut-takut kalau ia terjatuh disana, untuk itu Hanafi selalu mengikutinya.
Hanafi juga sambil menggoda Khanza berlari-lari kecil juga mengejarnya.
Tiba-tiba saja sebuah mobil masuk dalam pelataran rumah utama karna gerbang sedari tadi memang sudah terbuka lebar, menunggu mobil Hanafi keluar. Hanafi tampak tak asing dengan mobil itu, ia melihat di balik kaca kemudi seorang pria sedang menatap Hanafi di sana, sambil berusaha memarkirkan mobilnya.
"Prass..."
pekik Hanafi pelan.
Bersambung...
__ADS_1