2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kepergian ayah


__ADS_3

Hanafi tampak tak sabar menunggu para petugas kesehatan yang di nilai lamban menuju ruangan nya.


Hanafi segera berlari menuju pintu hendak memanggil petugas kesehatan itu langsung dengan suaranya, masih berada di dekat pintu hendak membuka nya, para petugas kesehatan sudah ada disana , datang dengan sangat tergesa-gesa.


"Ada apa tuan.."


tanya salah seorang dokter, sementara yang lainnya langsung saja menuju bed ayah.


"Sepertinya ayah tak sadarkan diri lagi...aku sudah mencoba membangunkannya tapi tak ada respon sama sekali.."


para petugas kesehatan itu pun segera memeriksa keadaan ayah, mereka sedikit panik mendapati ayah yang tiba-tiba saja tak sadarkan diri, padahal semalam semua terlihat baik-baik saja, keadaannya membaik dan stabil.


Dan kini ayah dalam keadaan koma kembali, tubuhnya tak merespon sama sekali, nafasnya juga semakin memburu. Karna takut sesuatu yang tak di inginkan dokter disana memutuskan untuk memasang alat bantu pernapasan untuk ayah.


Insha dan Salma pun hanya melihat tindakan yang di lakukan pada ayah dengan berlinang air mata, baru saja mereka bahagia melihat keadaan ayah yang membaik, ayah juga bisa berbicara dan tersenyum bahkan tertawa ringan.


Sekarang keadaannya tiba-tiba saja memburuk seperti ini, Insha semakin menangis di pelukan Hanafi, ia tak tega melihat ayah dalam keadaan seperti itu. Seluruh tubuhnya tampak di penuhi dengan alat kesehatan, yang tak di ketahui satu per satu fungsinya oleh Insha.


Hanafi pun membawa kedua wanita itu keluar dari ruangan. Hanafi menyuruh mereka untuk sarapan karna pesanan makanan mereka telah tiba.


"Makanlah Sayang.."


Hanafi meyodorkan Sandwich yang di pesan Insha tadi.


"Aku bahkan tak merasakan lapar sedikit pun .."


Insha masih menyender di bahu Hanafi.


"Makanlah sayang, kau belum makan apapun dari semalam..kau bisa sakit nanti...siapa yang akan menjaga ayah jika kau juga sakit.."


Insha hanya menggeleng-gelengkan kepala disana.


Hanafi berusaha menyuapi Insha, memaksanya untuk menelan makanan itu.


Insha pun membuka mulutnya perlahan sambil terus di suapi Hanafi di sisinya.


"Makanlah juga kak...jaga kesehatan kalian.."


Salma hanya mengangguk tanpa menjawab apapun, kemudian ia membuka bungkusan di depannya berisi sandwich yang sama seperti milik Insha. Dia pun melahapnya perlahan dengan tatapan kosong ke depan.


*

__ADS_1


Selama berhari-hari Insha dan Salma bergantian menjaga ayah, meskipun mereka tau jika sudah ada para perawat yang akan menjaganya selam 24 jam penuh, tapi mereka masih merasa khawatir jika tak menjaganya langsung, dan mengetahui perkembangan keadaan nya.


Sudah sepeluh Hari semenjak pagi itu, ayah sama sekali tak membuka matanya, tak merespon apapun di sekitarnya, keadaan nya semakin lemah, ia bahkan bernapas dengan alat bantu yang di pasang di tubuhnya.


Hingga sudah 2 minggu lama nya ayah berbaring tak sadarkan diri disana. Para dokter pun sudah mulai pasrah karna ayah tak menunjukkan perkembangan apapun, keadaan nya malah semakin menurun.


Dokter Arya pun memanggil Hanafi ke ruangannya.


Hanafi datang dengan wajah letih, karna ia harus bolak-balik ke kantor dan ke rumah sakit, setiap jam makan Insha. Karna Insha sama sekali tak mau makan kalau tidak dari tangan Hanafi yang menyuapinya, itu pun slalu di selingi drama memaksa terlebih dahulu.


Insha slalu bilang padanya, ia sama sekali tak lapar melihat keadaan ayahnya yang sekarang. Yang ia inginkan hanya kesembuhan ayah.


Hanafi sudah berusaha, dia slalu mengingatkan para dokter disana untuk memberikan obat yang terbaik disana, tapi memang sama sekali tubuh ayah tak merespon dengan baik.


Melihat sahabatnya dalam keadaan kacau seperti ini, Arya pun menarikkan kursi untuk Hanafi duduk.


"Duduk lah han...kau terlihat sangat lelah.."


"Aku lelah sekali ar...otak ku terasa mendidih sekarang...banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan di kantor, pekerjaan yang hanya membutuhkan persetujuanku...jika tidak aku tak akan pergi ke kantor..akan aku wakilkan semua pekerjaan itu"


Hanafi terlihat menghela nafas dalam.


"Sudahi semua ini han....semua ini hanya sia-sia.."


Arya tampak ragu memulai kata-katanya bibirnya sudah gemetar takut Hanafi meluapkan amarahnya lagi.


"Aku tau ar...semua ini hanya akan sia-sia..dan pada akhirnya kita harus merelakan dia pergi.."


Jawab Hanafi dengan pandangan menunduk kosong.


Arya terkejut dengan kata-kata Hanafi, ia sama sekali tak memberikan reaksi marah kepadanya.


"Jadi kau sudah mengerti tentang semua keadaan ini..."


"Tentu saja.."


"Lalu kenapa kau membiarkannya han..."


tampak menatap Hanafi heran.


"Apa yang bisa aku lakukan, melihat Insha yang seperti sekarang...hatiku rasanya teriris ar...apalagi harus melihat dia kehilangan ayahnya..."

__ADS_1


Hanafi tampak menarik nafas dalam, lalu meneruskan kalimatnya.


"Hmmm...jadi biarkan saja sampai Insha bisa menerima ini semua.."


"Sampai kapan han...apa kau selamanya akan membiarkan ini...kau khawatir pada istrimu tapi kau sama sekali tak kasihan kepada ayahnya.."


"Apa tak ada kemungkinan ayah untuk sadar lagi ar.."


wajah Hanafi kini memelas.


"Tak ada han...raganya masih terlihat bernapas dan jantungnya juga berdetak...tapi jiwanya sudah hilang han..tubuhnya tak sanggup bertahan jika tak ada alat bantu pernapasan tersebut...semua dokter membicarakan itu padaku..mempertahankannya hanya akan menyiksanya han..."


"Lalu bagaimana aku menjelaskannya pada Insha dan kak Salma ar.."


"Aku yang akan membantumu untuk menjelaskannya.


Arya dan Hanafi pun beranjak keluar dari ruangan itu, mereka menemui Insha dan Salma yang sedang ada di dalam ruangan VVIP tengah menatap nanar ayahnya yang tak kunjung membuka mata.


Arya pun meminta mereka untuk sedikit bergeser dari ruangan perawatan ayahnya, dan berbicara disana.


Arya menjelaskan keadaan yang sedang di alami oleh ayah sekarang dengan sejelas-jelasnya.


Awalnya Insha dan Salma menolak tindakan itu, terutama Insha yang sedikit meluapkan amarahnya dan memaki dokter Arya yang ia anggap tak sanggup merawat ayah lagi.


Tapi pada akhirnya Salma dan Insha bisa mengerti akan keadaan ayah sekarang, ayah tak akan bisa bertahan tanpa alat bantu pernapasan itu, dan itu hanya akan menunda kematiannya bukan meyembuhkannya. Dengan berat hati pun mereka memutuskan untuk melepas semua alat itu dan mengihklaskan ayahnya pergi untuk selama-lamanya.


Para dokter dan perawat yang merawat ayah telah berkumpul di ruang VVIP itu, sekarang satu persatu alat di tubuh ayah di lepaskan.


Salma duduk bersandar di kursi yang tepat lurus di depan bed itu, sedangkan Insha memandangi dari kejauhan sambil di peluk Hanafi, tubuh Insha bergetar ia seakan masih tak rela melepas kepergian nya.


Alat bantu pernapasan itu mulai terlepas seluruhnya, nafas ayah tampak semakin cepat dan memburu tapi setelah beberapa saat mulai berhembus pelan, semakin pelan dan sekujur tubuhnya tiba-tiba terlihat kaku lalu nafas itu pun hilang di iringi dengan tubuh yang mulai lemas.


Tangisan Insha semakin pecah, menyaksikan hal itu, hal yang pernah sama sekali ia bayangkan seumur hidupnya, ia terisak keras semakin memeluk Hanafi. Begitu juga dengan Hanafi air matanya mengalir deras di pipinya.


Sementara Salma ia sudah terisak berjongkok di lantai tidak tega lagi melihat ayahnya menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.


Dokter Arya pun menutupi tubuh ayah dengan selimut yang di pakai ayah tadi.


Lalu segera pergi untuk mengurus kepulangan jenazah menuju rumah duka di desa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2