
Tepat jam 1 malam ia terbangun dari tidurnya, posisinya masih tetap sama dia menaruh kedua tangannya di atas meja dan membenamkan kepalanya disana.
Astaga aku ketiduran ya...
Hanafi pun terhuyung beranjak ke samping meja kantornya, di tekannya sebuah tombol disana yang langsung menyibakkan tembok di depannya. Terlihat sebuah kamar di dalam tembok itu, dengan tempat tidur yang tidak terlalu besar tapi terlihat sangat empuk.
Kamar itu bernuansa putih menambah kesan mewah nan bersih dengan luas kamar sama dengan tempat kerja Hanafi yang berada di sampingnya.
Hanafi pun melemparkan tubuhnya begitu saja disana, masih menggenggam ponsel di tangannya tapi ia kembali terlelap dalam mimpinya.
Jam 3 pagi Hanafi sudah terbangun dari tidurnya, rasa kantuk nya tiba-tiba saja hilang.
Hanafi mengingat kembali kenapa semalam ia tidak pulang dan tertidur di kantor.
Fikiran Hanafi sekarang tengah khawatir tentang prosedur yang di jalani Salma kemarin, takut-takut kalau prosedur itu berhasil, apa yang akan di katakan pada Insha nantinya.
Tapi mengingat lagi pesan singkat dari Arya kemarin bahwa dia telah mengganti sel telur yang akan di tanamkan ke rahim Salma, dengan sel telur yang sudah bisa di pastikan tidak akan berkembang disana, karna dokter Arya telah memberikan suatu cairan yang akan membuat sel telur itu berhenti berkembang dalam beberapa jam.
Hanafi pun tenang kembali, kini ia mengirimkan pesan pada Insha bahwa ia tak akan pulang dulu, dia langsung bekerja hari ini, dan akan pulang siang nanti sebelum hujan badai datang lagi, dan tidak akan membiarkannya untuk pulang.
Ntah kenapa pagi itu fikirannya kalut, ia sama sekali tak bisa berfikir tentang pekerjaan nya. Fikirannya terus saja khawatir dengan sel yang di tanamkan pada Salma.
Sampai Insha mengirimkan sebuah pesan ia meminta ijin padanya untuk belajar mengemudi. Tanpa fikir panjang Hanafi memperbolehkannya, bahkan ia juga langsung menghubungi agen kursus mengemudi untuk Insha. Hanafi juga menyuruh Kriss untuk membelikan mobil baru untuknya.
Mungkin karna fikirannya yang sedang kalut, ia tak memikirkan dulu akibat dari permintaan Insha yang satu itu. Juga karna rasa bersalahnya pada Insha karna tak memberitahukan yang sebenarnya dan rasa khawatir yang berlebih dengan prosedur itu membuatnya tak memikirkan ulang permintaan Insha. Yang ada di fikirannya sekarang hanya bagaimana membuat Insha bahagia tanpa sadar keputusannya mengijinkan Insha mengemudi adalah boomerang untuk dirinya sendiri ke depannya.
Hari-hari berlalu masih di hantui dengan rasa cemas di dalam hatinya. Hanafi mendapatkan telpon dari dokter Arya bahwa Salma mengalami pendarahan ringan pada jalan lahirnya. Hanafi pun segera menuju ke rumah sakit saat itu juga.
Di dalam ruangan sudah terlihat Salma yang tengah di periksa keadaannya oleh seorang dokter kandungan disana.
"Sudah berapa hari nona..anda mengalami perdarahan ini..."
"Sudah sekitar 2 hari ini dok...apakah baik-baik saja..."
__ADS_1
Salma sudah cemas dengan sesuatu yang ada dalam rahimnya.
"Apakah intensitasnya semakin hari semakin banyak..."
"Iya dok..hari ini keluar darah yang lumayan banyak...seperti darah menstruasi...makanya saya bergegas kesini...saya takut terjadi apa-apa pada calon janinnya..."
"Biasanya darah memang akan keluar nona karna proses penempelan calon janin di dalam dinding rahim..tapi darah yang keluar biasanya dengan intensitas sedikit dan paling lama berkisar 3 hari...kita lihat saja jika darah terus saja keluar..maka mohon maaf sudah bisa di pastikan bahwa prosedur ini gagal nona...sel gagal berkembang dan menempel pada dinding rahim.."
Salma pun hanya bisa menitikkan air mata, beberapa hari setelah prosedur penanaman calon janin ia sama sekali tak melakukan aktivitas berat, ia lebih banyak tidur dan beristirahat sesuai anjuran dokter. Tapi sudah 2 hari berjalan ia seperti mengalami menstruasi, perdarahannya semakin banyak, ia sangat khawatir apalagi Hanafi telah membuat keputusan bahwa ini akan menjadi prosedur yang pertama dan terakhir.
Hari-hari telah berlalu, sudah 7 hari tapi Salma terus saja mengalami perdarahan di jalan lahirnya, meski hanya dengan intensitas sedang. Dokter kandungan telah melakukan USG padanya dan di nyatakan bahwa prosedur gagal, calon janin bahkan menghilang dari dinding rahim, ia menuturkan bahwa calon janin sudah gugur bersama dengan perdarahan yang terjadi beberapa hari ini.
Hal itu sangat membuat Salma syok , ia terus saja menangis karna kegagalan itu, ia mencoba memohon pada Hanafi agar prosedur di jalankan dan di ulang kembali. Tapi Hanafi sama sekali tak bergeming dengan keputusan awalnya, ia tak mau mengulang prosedur itu lagi.
"Sudahlah kak..sekarang kak Salma harus menuruti kemauan ku...kakak harus fokus pada pengobatan kakak...untuk penyembuhan tumor kakak..apalagi sebentar lagi kekasih kakak akan pulang..."
"Aku tak akan menikah dengan nya han...dia lelaki yang baik...berpendidikan..mempunyai kehidupan yang mapan...aku tak mau merusak kehidupannya dengan mempunyai istri yang penyakitan sepertiku...dia masih muda dan tampan...banyak wanita yang akan mau hidup bersamanya...tidak dengan aku..."
jawabnya dengan pandangan kosong.
"Ya aku sangat mencintainya...aku pun sangat ingin menikah dan hidup berdua bersamanya...tapi itu dulu sebelum aku tau penyakitku..sekarang...aku tak akan berharap untuk itu semua...aku akan menjalani sisa hidupku sendiri...tanpa dia...biarlah dia bahagia dengan kehidupannya dengan wanita lain... yang tentu wanita yang sehat yang bisa merawatnya dan menemaninya sampai akhir hayat...cinta tak harus memiliki han...melihatnya bahagia aku juga akan bahagia..."
"Kak...percaya dan yakinlah bahwa kakak akan sembuh...hanya itu kuncinya...semangat dari diri sendiri lah yang akan melawan penyakit kakak..."
"Aku tau han...tapi aku juga tak akan mampu jika aku terus disini....dan akan menyaksikan Prass bersama wanita lain tentunya....aku akan pergi..."
Salma menatap Hanafi tegas.
"Pergi....kak masih banyak jalan...jangan gegabah...jika memang kakak tak mau melihatnya jangan temui dia...bunuh diri bukan suatu jalan yang benar..."
sudah memandang dengan tatapan cemas
"Kau gila ya siapa yang mau bunuh diri..."
__ADS_1
"Lalu..."
"Bantu aku untuk pergi dari sini....pergi jauh...aku ingin hidup di sebuah tempat yang sejuk... dengan banyak pepohonan...banyak perkebunan...dengan suasana yang sunyi...hanya alam yang akan menemani...seperti udara di puncak gunung yang sejuk...dengan sebuah rumah sederhana yang di bangun dari kayu...di halaman rumahnya terdapat sebuah pohon besar juga sebuah bangku di bawahnya...yang akan mendapat sinar matahari langsung saat pagi hari tiba...juga suara ayam-ayam yang berkokok di sekitarnya...sungguh aku menginginkan rumah seperti itu..."
Salma menatap udara dengan tersenyum, membayangkan rumah impiannya sejak kecil.
Hanafi hanya terdiam mengangguk-angguk mendengarkan permintaan Salma.
"Sudah kak...istirahatlah...jangan memikirkan sesuatu yang terlalu berat...itu bisa mengganggu proses pengobatan kakak nanti...maaf aku akan kesini lagi nanti...aku ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan..."
Hanafi pun beranjak pergi dari ruangan Salma, dengan perasaan sedih sekaligus senang, ia menuju ke tempat dokter Arya.
Tibalah Hanafi di ruang dokter Arya, membukanya begitu saja dan langsung duduk di depannya.
"Terimakasih...atas kerja kerasmu...untuk mengagalkan prosedur itu...kau memang slalu bisa di andalkan...setidaknya aku sekarang bisa tenang menjalani hariku bersama Insha....dan sekarang fokuslah pada penyembuhannya...aku selalu percaya padamu..."
menepuk-nepuk bahu Arya dengan bangga.
"Huuh..butuh kerja keras untuk itu han...aku pun juga bisa bernafas lega sekarang...jika melihat kondisi nona Salma kala itu memang sangat sulit untuk di gagalkan....rahimnya dalam keadaan sangat bagus dan subur untuk proses penanaman...."
"Tapi kau sudah berhasil mengagalkannya...Aku akan memberikan bonus untukmu bulan ini..dan juga jangan lupa tetap jaga rahasia ini untuk kita...kau mengerti..."
Arya pun tersenyum secerah mentari ketika mendengar akan mendapatkan bonus dari Hanafi yang tentu tak akan sedikit jumlahnya, mengingat kerja keras yang sudah di lakukannya.
Bersambung...
Note:
Harap bersabar para reader setia "2 bunga setangkai" author masih ceritain flashback di balik Salma dan Hanafi yaah..
Biar semua misteri terungkap dengan jelas...
Terimakasih untuk semua dukungannya...
__ADS_1
Salam manis dan sehat selalu ....