
Mobil pun melaju sangat kencang di jalanan kota yang terlihat basah karna air hujan.
Insha mengemudikan mobilnya tak tentu arah, amarah membawanya malah jauh dari kediaman rumah utama.
Sampai di saat Insha berada di jalanan yang sepi, jalanan yang mungkin jarang di lalui kendaraan.
Jalan itu terlihat lebar, namun tak terlihat lalu lalang kendaraan disana, Insha pun tak tau sedang ada di daerah mana.
Banyak lampu jalanan yang terlihat padam, sehingga jalanan terlihat gelap hanya lampu sorot mobil yang menerangi jalan yang nampak mengkilap karna basah di guyur air hujan.
Insha menghentikan mobilnya, menaruh dahinya di atas kemudi, memukul-mukul kemudi tersebut dengan keras, dan menumpahkan air matanya lagi disana. Insha menangis sekencang-kencangnya merutuki apa yang terjadi hari ini.
Hatinya terasa sangat perih mengingat lagi saat dokter Rizal menyatakan kehamilan Salma di depannya.
Ia sekarang meremas dress yang di kenakannya, dan memukul-mukul perutnya sendiri dengan kencang.
"Kenapa...kenapa malah dia yang mengandung anak mas han..."
gumam nya sambil terisak.
Dalam fikirannya sekarang terbayang Hanafi yang sedang bercanda dengan Salma dan juga seorang anak kecil yang terlihat berlarian tertawa.
Bayangan itu yang membuat isaknya semakin keras, cukup lama Insha berada disana menangisi kehidupannya kini.
Pandangan Insha tiba-tiba tertuju pada ponsel yang berada di samping nya, ponsel itu menyala. Insha pun mengambilnya, terlihat pesan singkat dari Hanafi.
'Sayang kau belum pulang...cepat pulang ya..aku merindukanmu...'
Mendapat pesan itu, biasanya Insha akan tersenyum dan cepat membalas dengan kata-kata lembut nan romantis. Tapi kini ntah kenapa, membaca pesan singkat dari Hanafi itu malah membuatnya semakin terisak dan hatinya semakin sakit luar biasa.
"Bagaimana bisa kau memanggilku sayang...setelah semua yang telah terjadi di belakangku..." gumamnya dengan sedikit di bumbui seringai tipis di bibir mungilnya.
Insha sekarang sudah menghidupkan kembali mesin mobilnya, berputar arah dengan kencangnya, tidak peduli jalanan yang sedang licin karna adanya genangan air.
Rem di injak dengan spontan, membuat mobil itu berdecit dengan kencangnya, dia tak menyadari ada sebuah sepeda motor di depannya, Ia hampir saja menabrak pengendara sepeda motor itu.
Insha menghela nafas dalam, dengan tatapan penuh amarahnya dan wajah yang terlihat sangat kacau, ia sama sekali tak meminta maaf pada seorang yang berada di sepeda motor tersebut, ia malah membelokkan mobilnya dan melaju kencang menyibak jalanan.
"Hey...dasar...kalau lagi mabuk jangan menyetir dong..."
Berteriak ke arah mobil Insha yang sudah tampak menjauh.
"cantik..cantik...kelakuannya...ngeri banget sih jaman sekarang...dia yang salah dia juga yang marah..."
sekarang bergumam sendiri sambil melajukan sepeda motornya lagi.
Insha sama sekali yang memperdulikan teriakan yang terdengar samar-samar itu, dalam fikirannya sekarang hanya ingin pulang dan pulang.
Mobil pun sudah memasuki gerbang rumah utama, ia sudah sedikit mengurangi laju mobilnya, memarkirkan mobil di deretan mobil-mobil mewah lainnya.
__ADS_1
Insha segera masuk ke dalam rumah, mbak Risna sudah sedari tadi membukakan pintu saat tau mobil Insha memasuki gerbang.
"Selamat malam non...mas Hanafi sudah pulang satu jam yang lalu.."
tersenyum cerah pada Insha yang baru saja datang.
"Hmmm.."
Insha tak seperti biasanya yang akan menjawab setiap sapaan dari para pembantunya, ia biasanya akan bertanya sesuatu hal atau sekedar basa basi saat bertemu mereka, tapi tidak dengan sekarang wajahnya tampak kacau dan ia hanya menjawab sapaan Risna dengan deheman saja.
Risna hanya menatap kepergian Insha menuju lantai atas dengan wajah yang heran.
"Nona muda kenapa ya..tumben.."
ia pun menutup lagi pintu besar itu, dan kembali ke kamarnya lagi hendak beristirahat.
Braakkk....
Insha membuka pintu dengan kasar.
di pandangannya sekarang terlihat Hanafi yang sedang bersandar dan menutupi separuh kakinya dengan selimut, Hanafi tampak memandang Insha dengan heran karna terkaget dengan suara pintu yang di buka dengan keras itu.
" Sayang kenapa kau membuka pintu seperti itu..."
Insha hanya diam mematung di ambang pintu, Hanafi yang melihat Insha yang tampak kacau itu segera turun dari tempat tidur, dan berjalan mendekati Insha.
"Sayang kau kenapa..masuklah dulu..kemarilah...ceritakan apa yang terjadi padamu.."
"Hahahha..."
Tanpa di duga Insha malah tertawa dengan wajah menyeringai yang tampak semakin menakutkan.
Hanafi pun menghentikan langkahnya, semakin mengeryitkan dahinya.
"Sayang kau baik-baik saja."
"Sayang...kau masih bisa memanggilku sayang setelah semua yang terjadi di belakangku..."
"Apa maksudmu sayang...masuklah dulu ceritakan apa yang terjadi padamu.."
Hanafi mencoba meraih tangan Insha tapi di tepis kasar olehnya.
Insha pun berjalan perlahan memasuki kamar, menutup pintu kamarnya dengan sebuah tendangan.
Insha juga mendorong tubuh Hanafi dengan kencang saat Hanafi hendak mendekati dan memeluknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Insha..kenapa kau berani berperilaku seperti ini padaku...jaga sikapmu Insha.."
Suara Hanafi mulai meninggi.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Insha melemparkan begitu saja sebuah amplop coklat hasil pemeriksaan Salma yang tadi di bawanya, ke depan wajah Hanafi dengan keras.
Hanafi cukup terkaget dengan kelakuan Insha, ia semakin membulatkan bola matanya menatap Insha.
"Inshaaa....cukup..katakan sebenarnya ada apa ini..."
tak memperdulikan amplop coklat yang sudah tergeletak di lantai, Hanafi malah semakin meninggikan lagi suaranya.
"Apa kau tak bisa membaca sendiri surat itu...tuan muda Hanafi pemimpin Wijaya group yang terhormat.."
Insha masih memasang wajah menyeringai yang menakutkan itu pada Hanafi.
Hanafi dengan sedikit emosi meraih amplop coklat yang tergeletak di lantai, lalu membukanya dengan cepat.
Tampak jelas logo rumah sakit Jaya Husada milik Wijaya group, Hanafi melihat sebuah nama di sana.
Salma salsabilla...ini hasil pemeriksaan Salma kenapa Insha membawanya..
"Apa ini Insha ...jelaskan aku tak mengerti..kenapa kau membawa hasil pemeriksaan kakakmu.."
Hanafi yang tak mau membaca surat itu dia langsung menanyakan nya pada Insha, tapi Insha hanya diam saja.
Hanafi pun melihat lagi surat itu dengan teliti, tabel-tabel yang ada di sana menunjukkan jumlah normal kandungan dalam darah juga hasil dari pemeriksaan darah Salma yang ada di sampingnya.
semuanya tampak normal..
Gumam Hanafi dalam Hati.
Sampai mata Hanafi melihat coretan bulpoin yang melingkari tabel bertuliskan HCG, dan sebuah anak panah yang menunjuk ke bawah disana terlihat tulisan seorang dokter.
positif...uk 5 week
(positif hamil..usia kandungan 5 minggu)
Mengetahui arti dari coretan dokter di kertas itu Hanafi seketika memandang Insha, tangannya terlihat gemetar .
"Sayang..."
Hanafi memanggil Insha lirih.
"Kau masih bisa memanggilku sayang setelah semua yang kau lakukan di belakangku..
"Apa ini hasil pemeriksaan Salma.."
"Ya...dia sedang hamil"
"Hamiil..."
Seketika Hanafi melepaskan kertas yang ada di tangannya membiarkan kertas itu terjatuh lagi di lantai.
__ADS_1
Bersambung...