2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Mengurung diri


__ADS_3

"Taruh aja disitu mbak, nanti saya akan memakannya...mbak boleh pergi.."


Suara Insha terdengar sangat lirih dan lemah, membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasa iba.


Apalagi melihat keadaannya sekarang dengan kamar yang tampak berantakan dengan sedikit penerangan itu.


Insha sedikit menggerakkan tubuhnya meraih guling yang ada di dekatnya, dan memeluknya erat sambil menarik selimut semakin menutupi wajahnya.


Suara langkah kaki tampak terdengar, bukan suara menjauh melainkan mendekat, Insha sedikit mengeryitkan dahinya terheran.


Dia baru menyadari kalau mbak Fatimah maupun mbak Risna yang mengantar makanan pasti mereka akan mengucapkan sesuatu, bahkan sebelum masuk mereka akan meminta ijin lebih dulu.


Jangan..jangan..


Belum sempat Insha begumam dalam hatinya, menduga-duga kalau saja Hanafi yang masuk ke dalam kamarnya, tapi sebuah pelukan hangat tiba-tiba erat mendekapnya dari belakang.


Hanafi...


Seketika matanya membulat, apalagi mendapati sebuah tangan yang sangat di kenalnya sekarang sedang berada di dadanya membuat tangan dan tubuh Insha yang mencoba meronta melepaskan diri pun sia-sia karna tangan kekar itu terus mendekapnya dengan erat.


"Jangan lakukan semua ini Insha..aku mohon...berperilakulah seperti biasanya...aku bahkan tak dapat menjalani hariku tanpa melihatmu...kau semangat ku..."


Insha kalah tenaga karna ia selama seminggu ini tak memakan menu makannya dengan benar, ia pun sekarang terdiam menerima pelukan dari Hanafi itu.


Mendengar Hanafi yang berucap lembut di telinganya dengan suara yang terbata, dan airmata yang terasa mengalir di daun telinga Insha. Insha tak memberikan reaksi apapun, dia hanya terdiam dengan pandangan kosong kedepan, bahkan tubuhnya sama sekali tak bergerak.


"Melihatmu seperti ini hanya akan membuatku semakin merasa bersalah Insha...."


"Bangun lah...katakan padaku apapun yang kau mau...aku akan berusaha untuk memenuhinya..."


"Kau ingin pergi berlibur beberapa waktu sendiri...kemana..katakanlah...orang-orangku akan mengantarmu..."


"Atau kau ingin uang...berapa pun akan aku berikan Insha..."


"Katakan Insha...apa yang kau inginkan...jangan seperti ini...aku mohon.."


"Katakan sesuatu Insha...aku mohon padamu.."


daun telinga Insha semakin basah oleh air mata Hanafi, sekarang airmata itu mengalir juga pada leher Insha.

__ADS_1


Insha mulai membuka mulutnya, dengan lirih dan tertatih ia berkata.


"Bahkan alasan untuk tetap hidup pun aku tak punya.."


"Pergii.."


Hanafi semakin terisak mendengarnya, semakin mendekap erat tubuh yang masih terbalut selimut itu.


"Jangan katakan itu Insha aku mohon.."


"Pergi lah dari kamar ini...itu akan membuatku lebih baik..."


Dengan tubuh yang semakin bergetar karna tangisnya perlahan Hanafi melepas pelukannya, beranjak turun dari tempat tidur itu dan memandang cukup lama tubuh Insha yang sama sekali tak bergerak itu, lalu ia segera melenggang pergi menutup pintu kamar itu pelan.


Mendengar suara pintu yang tertutup itu, Insha pun menghela nafas panjang, ia sama sekali tak menangis, matanya terasa panas sudah lelah untuk mengeluarkan air matanya. Dalam seminggu ini dia tak bisa tertidur dengan nyenyak, dia lebih banyak terjaga di malam hari hanya memandang nanar kamar yang sempat menjadi saksi bisu betapa cintanya Insha pada Hanafi.


Insha pun menendang lirih selimut yang menutupi tubuhnya, ia beranjak turun dari tempat tidurnya berjalan ke sebuah cermin besar yang ada di sana.


Di tatapnya bayangan dirinya dalam cermin itu,


Insha tampak sangat kacau, rambutnya terlihat acak-acakan, wajahnya yang pucat pasi, di bagian matanya terlihat sedikit menghitam, kelopak matanya juga tampak merah sembab.


Insha sedikit membuka baju di bagian bahu itu, terlihat jelas tulang yang menonjol disana.


Tak makan dengan benar selama seminggu ini rupanya membuatnya banyak kehilangam berat badan yang sudah di jaganya beberapa bulan belakangan dalam menjalani masa program kehamilan.


Insha hanya menghela nafas, lalu menutup bahu itu lagi dan berjalan terhuyung ke kamar mandi.


*


Butuh waktu 2 minggu untuk Insha bisa beradaptasi lagi dengan semua keadaan yang ada.


Setelah 2 minggu berlalu dalam diam nya di dalam kamar, kini Insha mulai bangun dan membiarkan mbak Risna untuk membersihkan kamarnya lagi setiap hari.


Insha mulai mau keluar dari kamarnya, kadang dia terlihat duduk di taman menatap bunga-bunga di sana dengan tatapan kosongnya.


Terkadang Insha memilih berdiam diri di balkon menikmati hawa sejuk disana sambil melihat ke arah langit luas.


selama itu pula ia lebih banyak diam dan hanya bicara beberapa kata pada setiap orang yang di temuinya.

__ADS_1


Sedangkan Hanafi tak berani mendekati Insha, ia takut Insha mengurung dirinya lagi di dalam kamar.


Hanafi hanya bisa menatap dan mengawasi Insha dari kejauhan.


Melihat perubahan sikap dan tubuh Insha sekarang yang tampak semakin kurus membuat Hanafi menjadi semakin merasa bersalah pada Insha.


Dia terlihat meneteskan air mata beberapa kali saat sedang melihat Insha dari kejauhan.


*


Sedangkan yang berada di sebuah desa disana.


Perutnya memang belum tampak membuncit, mengingat ini adalah pertama kalinya ia mengandung.


Perutnya masih terlihat rata, bahkan tak ada seorang pun yang tau akan kehamilannya.


Hanafi menempatkan 1 orang perawat di rumah Salma yang akan menemani dan merawatnya 24 jam, mengingat ia sendirian di rumah itu juga dalam keadaan hamil, dan udara juga cuaca yang tak menentu saat ini


Hanafi tak mau mengambil resiko jika terjadi sesuatu pada calon anaknya kelak.


Ia juga membayar seorang perempuan paruh baya untuk membantunya mengurus rumah, memasak, cuci baju, bersih-bersih dan masih banyak lagi.


2 orang itu di bayar berkali-kali lipat dari umumnya asalkan mereka bisa merahasiakan tentang kehamilan Salma dari siapapun, termasuk keluarga mereka sendiri.


Selama kehamilannya, Salma hanya banyak beristirahat, semua kebutuhannya juga sudah di penuhi oleh Hanafi.


Sudah 2 minggu ini Salma berusaha keras untuk menghubungi Insha tapi sama sekali tak mendapat jawaban darinya.


Bertubi-tubi kata maaf tertulis dalam pesan singkatnya, tapi tak satupun dibaca ataupun di balas olehnya.


Dua orang yang bekerja di rumah Salma juga bertugas untuk selalu menghibur Salma agar keadaannya tak memburuk yang jelas bisa berpengaruh pada calon bayinya.


Salma di larang berfikir keras, apalagi tentang masalah adiknya Insha, yang sampai saat ini belum menerima kata maaf darinya.


Dia juga di wajibkan memakan beberapa menu yang bagus untuk kesehatan ibu hamil dan bayi yang di kandungnya.


Kini usia kandungannya sudah memasuki usia 9 minggu. Beberapa kali saat sedang duduk sendiri, Salma terlihat mengelus-elus lembut perutnya yang terlihat masih rata. Sambil sesekali menyunggingkan senyum di bibirnya dia terus saja bergumam lirih.


"Sehat-sehat ya sayang di dalam sana..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2