2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kepulangan yang tiba-tiba


__ADS_3

Sang mentari sudah mulai menampakkan diri, air laut tampak tenang dan berwarna kuning keemasan karna sinar cerah mentari pagi yang semakin lama semakin meninggi.


Dalam pandangannya terlihat jelas di sofa lantai bawah yang


menghadap langsung ke arah pantai yang indah itu.


Masih dengan segelas susu yang belum habis di teguknya, Insha masih mematung melihat lurus pantai di depannya di balik pintu kaca yang masih tertutup.


Fikirannya masih terbang kemana-mana, beberapa kali ia tampak menghentakkan kaki di lantai mengutuki dirinya sendiri.


Air mata yang sedari tadi mengalir sudah tampak kering di kedua pipinya, tapi masih tergambar jelas garis bekas air yang mengering itu.


Tiba-tiba seorang dengan wangi yang khas melingkarkan tangannya di leher Insha dan mengecup pipinya dari belakang,mengusap-usap lembut rambut Insha yang masih sedikit basah terburai begitu saja.


"Kenapa kau tak membangunkan ku sayang..?"


ya..itu adalah Hanafi, ia melompat dari belakang sofa dan segera duduk si samping Insha, lalu memeluk dan mengecup pipinya lagi.


Hanafi menyadari ada air mata yang sudah mengering di pipi sang istri, dengan gerakan lembut ia mengusap bekas air mata itu yang tentu saja masih meninggalkan bekas di sana.


Hanafi perlahan menyandarkan kepala itu di pundaknya, dengan tatapan Insha yang masih kosong menatap ke depan.


Ia mengerti kenapa istrinya terlihat sedih sepagi ini, hingga menitikkan air matanya.


*


Sebelum Hanafi keluar dari kamar mandi tadi ia sekelebat melihat beberapa bungkus aneh yang terkumpul di sudut kamar mandi, ia mundur beberapa langkah dan melihatnya lagi, memungutnya dengan satu tangannya salah satu bungkus itu.


"Alat test kehamilan.."


gumamnya lirih.


astaga iya aku lupa...lalu mana hasilnya..


Ia mencoba mencari isi dari kemasan itu, Hanafi pun tak tau bentuknya seperti apa, ia melihat beberapa kali bungkus yang di pegangnya. Yang memperlihatkan gambar dari isi di dalamnya, setelah mencari ke berbagai sudut kamar mandi akhirnya ia menemukan empat strip alat test kehamilan yang berjejer rapi di belakangnya.


Masih lengkap dengan tampungan urin di sampingnya, semuanya tertata di sudut wastafel.


apa artinya ini ya...


Hanafi memungut semua bungkus alat tersebut dan membaca nya secara teliti bagaimana cara melihat hasilnya.


garis satu...ya semua menunjukkan garis satu...


Masih mematung dan memperhatikan ke empat strip itu.


hmm...hasilnya negatif ya...pantas saja Insha tak membangunkan ku pagi ini...tapi dimana dia...dia pasti sedih sekarang..


Hanafi meninggalkan semua bungkus alat itu begitu saja disana, dan langsung bergegas sholat, lalu mengetikkan beberapa kata di ponselnya, lalu segera mencari keberadaan Insha yang ternyata sedang duduk di sofa lantai bawah, melihat pemandangan mentari yang baru saja muncul di temani dengan segelas susu di tangannya yang hampir habis.


Dengan langkah yang tak bersuara Hanafi menghampirinya.

__ADS_1


*


"Sayang..."


tak ada jawaban apa pun yang keluar dari bibir Insha.


"Sayang.."


Tubuh yang Hanafi dekap dan kepala yang bersandar padanya sekarang gemetar, ya Insha sedang menangis sekarang.


Ada bagian hati Hanafi yang teriris ketika mengetahui sesedih itu Insha dengan hasil test nya pagi ini.


"Jangan seperti ini Insha aku mohon..."


Insha tak menjawab apapun, ia malah memeluk erat Hanafi dan terisak di pundaknya.


"Masih banyak waktu Insha..ini masih bulan pertama pernikahan kita..kita masih bisa mencobanya lagi...apa kau mau mencobanya sekarang hehe.."


Hanafi mencoba mencairkan suasana dengan bergurau.


"Ma..maafkan aku mas...maafkan aku.."


"Sudahlah...tidak perlu sesedih ini..lihatlah aku sekarang..."


Hanafi mencoba meraih wajah Insha dan memandang nya, terlihat mata yang merah dan air mata yang masih mengalir deras disana.


"Insha...aku menikahimu karna aku mencintaimu...anak adalah rezeki dari yang kuasa..jika memang kita sudah di takdirkan memilikinya..suatu saat nanti pasti akan memiliki...tapi ada atau tidaknya anak dalam keluarga kita aku akan tetap seperti ini...aku akan tetap mencintaimu sampai kapanpun itu...bidadariku.."


mengecup lembut kening Insha, lalu menghapus air matanya yang membasahi pipi.


menatap Hanafi dengan penuh harap sekaligus kecemasan.


"Benar sayang...aku berjanji padamu..."


Sudah mengacungkan jari kelingkingnya seperti seorang bocah yang sedang berjanji pada para sahabatnya. Dan anehnya Insha pun melakukan hal yang sama mereka pun saling menautkan kelingking mereka.


Insha pun tersenyum, sedikit mendapat ketenangan karna perkataan Hanafi tadi. Hal-hal yang ia takutkan sedikit demi sedikit menepi. Ia takut kalau Hanafi kecewa padanya atau ia akan marah atau dalam bayangannya ia tak bisa memiliki anak dan Hanafi pergi darinya semua bayangan yang berparade di kepalanya tadi seakan berjalan dan hilang begitu saja.


"Baiklah sayang...itu ayo kita sarapan dulu...setelah ini kita harus segera ke bandara dan kembali ke rumah..."


berkata sambil menunjuk para pelayan yang sudah mulai memasuki villa membawa nampan-nampan mereka.


"Sarapan sepagi ini...dan pulang..?"


menatap heran pada Hanafi sekarang.


"Iya sayang...ayo.."


"Bukannya mas han kemarin malam mengatakan hari ini kita akan bermain di pantai dan jalan-jalan ke pusat kota .."


Menagih kata-kata Hanafi yang sudah mengagendakan kegiatan hari ini sebelum terlelap tadi malam.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang..ada suatu urusan penting hari ini...aku berjanji kita akan datang kesini lagi nanti...aku harap kau bisa mengerti..ayo kita makan sekarang...pesawat akan menjemput kita sebelum jam 7 nanti.."


Insha pun menurut tanpa mempertanyakan urusan apa yang membuat suaminya memutuskan untuk kembali hari ini juga.


Mereka pun sudah ada dalam pesawat pribadi duduk berdampingan, Insha memilih di bagian tepi di dekat jendela hanya sekali menaiki pesawat ia sudah bisa menghilangkan ketakutannya akan ketinggian, ia bahkan sekarang senang sekali melihat-lihat ke arah luar pesawat tanpa merasa takut sedikitpun.


Hanafi yang berada di sampingnya sedang sibuk dengan layar laptopnya, tapi sesekali masih mengajak Insha bicara dan sesekali juga menciumi pipi Insha yang terlihat menggemaskan itu.


"Sayang.."


"Hmm..ada apa sayang. "


menjawab antusias tanpa menatap yang memanggil karna sedang sibuk mengetikkan sesuatu dengan jarinya.


"Aku ingin ke kamar mandi.."


"Pergilah sayang..atau mau ku antar.."


"Tidak sayang..aku bisa sendiri.."


"Baiklah..jangan lama-lama ya.."


menusuk-nusuk pipinya sendiri dengan jari, suatu kode agar Insha mencium pipinya.


Cuup...


satu kecupan lembut pun mendarat disana, Insha pun melenggang pergi dengan senyuman di bibirnya.


mau ke kamar mandi saja minta cium segala...dasar...


Menggeleng-geleng kepalanya sambil meraba bibirnya yang sekarang dengan mudahnya memberikan kecupan tanpa malu itu.


Setelah selesai dengan urusannya, ia pun keluar dari kamar mandi dan merasa bosan dengan perjalanan yang cukup memakan waktu itu, ia pun mengambil ponselnya berharap akan menemukan hal yang bisa menghiburnya sampai ia tiba di negaranya nanti.


Tampak di layar ponsel 7 panggilan tak terjawab.


siapa yang menelpon ku pagi-pagi begini..


Insha membuka layar ponselnya,


Kak Salma...ada apa sepagi ini kakak sudah menelponku..apa ada suatu hal yang penting...


Hendak melakukan panggilan balik, tapi ia sadar masih berada di dalam pesawat dan lagi dia juga menemukan pesan singkat dari kakaknya.


Kak Salma


Insha..Sesak nafas ayah kambuh..sekarang ia di bawa ke rumah sakit oleh dokter Arya..kemarilah aku takut...


Gemetar-gemetar tangan Insha memegang ponselnya, beberapa detik setelah membaca pesan singkat itu,


Buukkk...

__ADS_1


Ponsel pun terjatuh dari tangannya...


Bersambung...


__ADS_2