
Tepat jam 7 pagi sesuai jadwal ada 2 perawat yang menjemput Insha ke ruangannya. Mereka berdua membawa Insha pergi ke ruangan dokter Vina untuk melakukan USG untuk mengetahui keadaan janin dalam rahim Insha.
Hanafi mengekor di belakang Insha yang di bawa dengan menggunakan kursi roda.
Telah sampai di ruangan dokter Vina, Insha di sambut dengan hangat olehnya. Bahkan dokter Vina memeluk Insha dan mengucapkan selamat atas kehamilan Insha.
Hanafi juga meminta Arya untuk ikut dalam USG karna ia terlalu canggung jika harus berhadapan langsung ataupun membicarakan keinginannya pada dokter lain, terutama perempuan. Karna hanya Arya lah dokter kepercayaannya sejak dulu.
Hanafi duduk di kursi yang sudah di siapkan di samping bed Insha berbaring, sementara dokter Arya duduk di kejauhan tapi masih dapat melihat dengan jelas gambar USG nanti yang bahkan di gandakan menjadi 2 layar monitor di alat USG dan monitor besar di atasnya agar mempermudah apabila anggota keluarga ingin melihatnya juga.
Dari layar monitor besar itu nanti Insha juga dapat melihat dengan jelas karna menghadap langsung padanya.
"Baiklah kita mulai ya...kita lihat perkembangan janin nona Insha....apa nona sudah siap.."
dokter Vina sedikit tersenyum menggoda pada Insha yang di sambut senyuman dan anggukan oleh Insha.
"Cepatlah dokter aku sudah tak sabar ingin melihatnya..."
Hanafi yang lebih terlihat antusias dengan tatapan yang sulit di artikan sejak masuk ia sudah berwajah dingin.
semoga semua baik-baik saja...
gumam dokter Arya dalam hati.
Perawat mulai mengoleskan gel di perut Insha untuk mempermudah alat USG berselancar di atas perutnya nanti.
Dokter Vina mulai menempelkan alat pada perut Insha. Di layar monitor masih terlihat hitam, tak menemukan apapun disana. Dokter Vina memutar-mutar alat itu mencoba mencari posisi janin dalam rahim Insha. Cukup lama dokter Vina mencari keberadaannya, pada waktu itu semua hening tak ada yang bicara sepatah katapun. Mereka semua fokus pada layar yang sedang mengamati rahim Insha.
Sampai pada setitik bentuk putih dengan sebuah lingkaran di sekelilingnya terlihat dengan jelas.
Dokter Vina menitikkan airmatanya, membuat Insha dan Hanafi seketika menoleh padanya dengan pandangan khawatir mereka.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk..."
Insha dan Hanafi berkata bersamaan.
Dokter Vina hanya menggelengkan kepalanya lalu menghapus airmatanya.
__ADS_1
"Maafkan aku tuan... nona..."
Dokter Vina diam sejenak mencoba menahan airmata yang akan menetes lagi di ujung matanya. Itu malah membuat Insha semakin gelisah dan memegang tangan dokter Vina yang masih ada di atas perutnya.
"Katakanlah ada apa dok..."
tanya Insha dengan gelisah.
Dokter Arya pun sama dia sampai berdiri dan menghampiri dokter Vina yang berada tepat di depan alat USG nya.
Belum sempat dokter Arya bertanya tapi Dokter Vina sudah lebih dulu berkalimat dengan suara seraknya karna menahan tangis seakan air matanya memenuhi tenggorokannya.
"Maafkan saya tuan dan nona....maafkan saya...saya menangis karna terharu....janin anda baik-baik saja....dia tumbuh sebagaimana mestinya...dia terlihat sehat....ini dia..."
Dokter Vina menunjuk bagian putih kecil dalam lingkaran kantung rahim yang ada di layar.
" Ini dia janin anda...dia tumbuh dalam rahim dengan sehat...saya terharu...Tuhan benar-benar menunjukkan keajaiban dan kekuasaannya pada nona Insha..."
dokter Vina menghapus airmatanya lagi, dan sekarang tersenyum manis pada Insha yang berada tepat di sebelahnya.
"Lihatlah...betapa lucu dan menggemaskannya dia...tak ada yang perlu di khawatirkan dia tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai usianya.."
"Kehamilan anda memasuki usia 7 minggu 2 hari nona...tepatnya hampir 2 bulan..."
"Apa sebelumnya anda tak merasakan tanda-tanda apapun nona..."
imbuh dokter Vina lagi.
"Kepalaku sering pusing akhir-akhir ini dok...tapi aku sama sekali tak menyangka bahwa itu adalah sebuah tanda kehamilan..karna dokter tau sendiri kondisiku...tapi teryata a..aku..."
Insha tak dapat meneruskan katanya, ia sangat terharu saat melihat calon bayi yang sudah tumbuh di dalam rahimnya. Insha tak dapat berkata-kata lagi, ia menangis tersedu, Hanafi yang ada di sampingnya segera merengkuh bahu Insha dan memeluk dengan satu tangannya. Hanafi berkali-kali terlihat mencium puncak kepala Insha sambil memandangi layar monitor yang memperlihatkan gambar calon bayinya.
"Itu adalah hal yang wajar di alami oleh sebagian besar ibu hamil...nona tak perlu khawatir ya...semua gejala itu akan hilang seiring bertambahnya usia kandungan nona nanti...."
"Dan semua baik-baik saja nona....bayi anda tumbuh dan berkembang sesuai usia kandungannya...."
"Maaf saya tak bisa memperjelas gambar karna bayi anda masih terlalu kecil...mungkin saat ini masih seukuran buah ceri...kita akan memeriksanya secara berkala agar selalu terpantau pertumbuhannya..."
__ADS_1
Dokter Vina pun menjauhkan alat USG itu dari perut Insha, Ia menyudahi USG Insha, Sambil berjalan menjauh ia berkata lagi.
"Sampai usia kandungan mencapai 3 bulan saya sarankan nona untuk banyak beristirahat di rumah....karna di usia-usia ini keadaan bayi dan rahim masih rentan...tapi tak perlu khawatir berlebih nona saya akan meresepkan beberapa vitamin untuk menunjang kehamilan pertama nona ini..."
"Terimakasih dokter..."
jawab Insha dan Hanafi bersamaan.
Insha pun di gendong oleh Hanafi menempati kursi rodanya, Insha yang malu karna perlakuan Hanafi segera mencubit-cubit lengan Hanafi dengan kencang berharap dia segera menurunkan Insha.
"Turunkan aku sayang...aku bisa berjalan...turunkan aku..."
Kakinya berusaha bergerak-gerak agar Hanafi kesusahan saat menggendongnya.
Hanafi secepat kilat segera berkata pada Insha.
"Diam sayang...kau bisa menyakitinya dengan tingkahmu ini....diamlah...biar aku menggendong calon ibu baru ini..."
Hanafi menatap lekat Insha dengan senyuman menggoda.
Dan seketika semua yang berada di dalam ruangan itu tertawa ringan mendengar perkataan Hanafi. Sementara Insha pipinya langsung bersemu merah mendengar perkataan Hanafi.
Dan selama tiga hari Insha masih di rawat di rumah sakit itu, untuk benar-benar memulihkan kesehatannya.
Berita tentang kehamilannya segera tersebar luas, tak lupa juga terdengar di telinga Prass dan Aisyah yang sedang berbahagia dengan bayi perempuannya. Orang tua Prass juga tak kalah bahagia dengan kabar itu, ia sudah menganggap Insha sebagai anaknya sendiri. Mereka bahkan datang ke rumah sakit untuk memberikan kata selamat langsung pada Insha sambil memeluknya dengan hangat, pelukan hangat orang tua kepada anaknya.
Bahkan banyak rekan-rekan bisnis Hanafi dan Insha yang sengaja datang hanya untuk mengucapkan selamat atas kehamilannya.
Insha sangat bahagia dengan keadaannya sekarang, ia di berikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi seorang ibu saat semua cita-citanya menjadi seorang wanita yang mandiri sudah tercapai. Apalagi saat mengetahui bayi yang di kandungnya dalam keadaan yang normal dan sehat.
Sejak saat itu juga Hanafi lebih sering pulang lebih awal hanya untuk menemani Insha di rumah yang dalam masa hamil muda dengan segala keluhannya, tapi itu semua di jalani Hanafi dengan hati yang bahagia. Ini adalah saat yang di nanti-nanti dan di impikannya.
Selalu berada di samping Insha saat dia tengah mengandung buah hatinya.
Hanafi bahkan sering berangkat lebih pagi untuk dapat pulang lebih awal hanya untuk menemani Insha di rumah. Ia juga menempatkan 2 orang perawat yang akan selalu menemani dan merawat berbagai keluhan Insha saat dia tak ada di rumah.
Sedangkan Insha mengendalikan bisnisnya dari rumah, dia menunjuk beberapa orang kepercayaannya untuk menggantikannya selama beberapa waktu sampai dia sanggup untuk menjalani kegiatannya seperti biasanya.
__ADS_1
Bersambung....