
Ingatan Hanafi kembali ke waktu sebelum menikah dulu, tepat beberapa minggu sebelum pernikahannya, saat Hanafi berkunjung ke rumah orang tua Insha di desa.
Waktu itu Hanafi seperti biasa memakai jas lengkapnya, ia duduk di ruang tamu rumah itu di temani oleh ayah dan juga Insha.
Mereka mengobrol tentang rencana pernikahan yang akan di gelar, juga meminta restu ayah tentunya.
"Insha...."
suara parau ayah memecah keheningan.
"Iya ayah.."
jawab Insha sambil menatap ayahnya.
"Belikan makanan untuk calon suamimu...apa kita tidak akan menghidangkan apa-apa disini..."
Hanafi pun segera menjawab.
"Tidak pak...tidak apa-apa...saya hanya kesini sebentar..saya hanya akan membicarakan untuk rencana pernikahan nanti.."
"Terlepas sebentar atau tidak...tidak baik jika tak menghidangkan sesuatu pada seorang tamu yang datang...ayo Insha belikan sesuatu"
Insha pun hanya mengangguk dan segera beranjak ke kamarnya mengambil sejumlah uang lalu pergi menuju ke sebuah warung yang menjual nasi bungkus dengan berbagai macam lauk di desanya. Cukup dekat hingga bisa di jangkau dengan berjalan kaki.
Sesaat setelah Insha terlihat menjauh dari rumahnya, ayah pun memotong pembicaraan Hanafi tentang rencana pernikahan yang sebelumnya di bahas.
"Tinggalkanlah Insha nak..."
Seketika Hanafi terkaget dengan kalimat ayah itu, dia merasa apa dirinya tak pantas bersanding dengan Insha sampai ayah mengatakan hal seperti itu.
"Apa maksud bapak...apa salah saya pak...saya sungguh sangat mencintai Insha..saya ingin bertanggung jawab atasnya.."
jawab Hanafi yang tak ingin meninggalkan Insha, karna rasa cintanya yang teramat sangat bahkan sejak pandangan pertamanya.
"Insha bukanlah gadis yang baik untuk mu..."
jawab ayah dengan mata yang berkaca-kaca.
"Apa saya kurang pantas untuk Insha pak..."
"Bukan kau nak Han, tapi Insha lah yang tak pantas untuk mu...dia gadis yang tak bisa memiliki keturunan...tentu tidak akan pantas untukmu...bukankah rumah tangga harus di sertai dengan adanya anak...apalagi kau nak han....kau butuh penerus untuk menjalankan perusahaanmu...apalagi nak han yang tidak memiliki saudara lagi..siapa nanti yang akan terus menjalankan usaha dan pekerjaan nak han nantinya...manusia tak akan hidup selamanya..suatu saat nanti pasti akan tua dan mati...setelah itu generasi peneruslah yang akan meneruskan semua yang telah kita mulai dan kita miliki..."
Hanafi pun terdiam, dia cukup kaget dengan penuturan ayah, apalagi dia yang sangat menginginkan kehadiran seorang anak dalam hidupnya. Keheningan pun cukup lama tercipta, di sana ayah kembali terbayang kejadian beberapa tahun silam saat kecelakaan yang menimpa keluarganya, yang merenggut nyawa istrinya.
Kala itu, Abdullah mengendarai mobilnya di jalanan kota, waktu itu adalah akhir pekan,tanpa di duga saat perjalanan menuju taman rekreasi itu, dari arah berlawanan tiba-tiba terlihat sebuah mobil dengan kecepatan tinggi yang hilang kendali, terlihat oleng ke kanan dan ke kiri.
Abdullah yang menyadarinya dengan reflek ia membanting setir ke kanan karna panik, mobil itu pun menabrak sisi kiri mobil abdullah yang terdapat istrinya disana dan juga Insha yang duduk bersebelahan dengan Salma di belakang. Insha tepat berada di belakang ibunya. Dalam kecelakaan itu istrinya terhimpit badan mobil dan di nyatakan meninggal dunia di tempat. Sementara Insha, Salma dan Abdullah terlihat baik-baik saja hanya terlihat luka-luka ringan di beberapa bagian tubuh mereka.
__ADS_1
2 minggu telah berlalu setelah kecelakaan tragis yang menimpa keluarganya. Insha kecil yang kala itu masih berusia 2 tahun terus mengeluhkan sakit di bagian perutnya.
Sempat berobat ke puskesmas dan bidan setempat tapi sakit yang di deritanya tak kunjung membaik, Insha terus saja menangis sepanjang malam.
Akhirnya Abdullah membawanya pergi ke rumah sakit berharap mendapat obat yang terbaik untuk putrinya.
Dari pemeriksaan yang telah di lakukan, teryata kecelakaan itu mengakibatkan luka dalam di bagian kandungan Insha, teryata tubuhnya sempat terhempas keras di kecelakaan itu, dan bagian perutnya membentur sesuatu di dalam mobil. Mengakibatkan salah satu tuba falopi milik Insha rusak dan harus segera di ambil sebelum terjadi infeksi yang lebih parah lagi.
Dari situlah dokter mengatakan, Insha kecil sulit untuk memiliki keturunan di kemudian hari, karna ia hanya memiliki satu tuba falopi yang teryata kondisinya juga tidak begitu baik.
tuba falopi itu juga terluka akibat benturan keras yang terjadi. Tapi masih bisa di selamatkan.
**
Diam cukup lama Hanafi pun kembali berkalimat.
"Saya akan menerima semua keadaan Insha pak...saya ihklas dengan semua kondisinya...ada atau tidaknya anak nanti di rumah tangga kami...saya akan tetap bersamanya...sungguh saya mencintainya pak...ijinkan saya menjadi suaminya..."
Hanafi berkata dengan wajah memelasnya pada ayah Insha.
"Apa kau benar-benar menerima keadaannya.."
tanya ayah lagi dengan tatapan penuh harap.
"Iya pak..saya janji saya tidak akan pernah mempermasalahkan soal anak pada Insha...saya sungguh ingin hidup bersamanya...dengan segala kondisinya.."
"Apakah aku bisa memegang janjimu nak..."
"Iya pak...bapak bisa pegang janji saya...saya tidak akan meninggalkan Insha sampai kapan pun...saya terima Insha dengan segala kondisinya.."
jawab Hanafi meyakinkan lagi.
Ayah pun berlinang air mata, mendapati seorang lelaki yang sangat mencintai Insha dengan segala kondisinya. Awalnya ayah sebenarnya akan menutupi kondisi Insha itu, tapi dia fikir lama kelamaan Hanafi juga akan tau semua, dan ia tak ingin anaknya akan di tinggalkan nanti setelah menikah.
Akhirnya ayah memilih jujur dan teryata sama sekali tak memudarkan niatan Hanafi untuk menikahi Insha.
Ayah pun mengijinkan Hanafi menikahi Insha, karna melihat cinta tulus di matanya.
***
"A..aku..."
Insha berkata dengan tertatih.
"Ya...kau tak bisa memiliki keturunan Insha..maafkan aku.."
Hanafi berkata masih menunduk dengan isaknya.
__ADS_1
"Tapi bukankah pemeriksaan di rumah sakit itu..."
Insha sekarang duduk lemas di tepi tempat tidur.
"A..aku...aku Insha...aku yang memalsukan semuanya...aku tak mau kau bersedih setelah tau semua tentang dirimu..yang di rahasiakan oleh keluargamu...Maafkan aku.."
Hanafi kini duduk di samping Insha, duduk memegang tangan Insha menatapnya lekat.
"Kau...keluargaku...kau tau tentangku..."
Insha kini berkaca-kaca.
"Ya aku tau...bahkan sebelum pernikahan kita.."
" Kau tau kondisiku..tapi kenapa kau menikahi ku...kau memiliki banyak uang..kau bisa memilih wanita mana saja yang kau inginkan..kenapa harus aku han..aku yang mempunyai kekurangan ini...bahkan dengan ambisimu yang ingin segera mempunyai anak..."
Kini setitik air mata telah jatuh di pipi merona Insha.
"Karna aku mencintaimu Insha...aku tak bisa hidup tanpamu...dan aku bersedia menerima apapun kondisimu..."
"Lalu kenapa kau merahasiakan semuanya...untuk apa...seharusnya kau biarkan aku mengetahui semuanya...agar aku tak terlalu berharap dengan semua ini...setidaknya aku bisa menerima kehamilan Salma...menerima kau yang menginginkan seorang anak meski bukan dariku..bahkan kau baru mengatakannya ketika dia telah tiada...untuk apa han.."
"Aku tak ingin kau bersedih Insha...dan semua ini adalah permintaan Salma...dia tak ingin kau juga bersedih atas kondisimu..."
Kini Hanafi mendekati Insha yang terisak disana, memegang erat tangannya.
Bayangannya kembali teringat saat dia dan Insha memeriksakan kandungannya di rumah sakit kala itu.
Bersambung...
.
.
.
Note :
Terimakasih author ucapkan atas semua dukungannya berupa like,coment,vote,favorit dan hadiahnya.
Author juga minta maaf jika cerita yang author bawakan tidak sesuai keinginan dan espektasi kalian semua...hehe...kadang author suka bingung mau coment apa...
Author cuma ingin bawain cerita sesuai sinopsis yang ada dengan kisah dan alur yang berbeda dari novel yang lainnya..
Terimakasih...selamat membaca..semoga suka dengan alur ceritanya...
Salam manis dari author semoga sehat selalu...
__ADS_1