
"Aku sempat ingin menjelaskan tentang semua yang terjadi saat itu...tapi kau bahkan tak mau melihatku...kau tak mendengar apapun alasan dariku...aku tau yang kau fikirkan saat itu hanya aku dan Salma yang telah berhasil menghabiskan malam panjang bersama hingga menghasilkan Khanza yang sekarang...."
"Aku pun tak dapat menyalahkanmu atas kemarahanmu...karna semua itu memang kembali lagi padaku...semua salahku...hanya salahku...yang tak jujur dari awal padamu..."
"Aku sangat-sangat tersiksa akan kehidupanku saat itu...aku merasa semuanya sudah hancur karna kesalahanku sendiri...kesalahanku yang membiarkan Salma untuk mengandung anakku..."
"Aku tak menginginkan anak dari siapa pun sayang...yang ke inginkan hanya anak yang terlahir dari dalam kandunganmu...karna hanya kau wanita yang aku cintai..."
"Aku pun pernah menyuruh Arya untuk mematikan sel yang ditanamkan pada Salma tapi Tuhan bertindak lain..Tuhan tetap membiarkan sel itu tumbuh menjadi Khanza...dan akibat kecerobohan itu juga sekarang Khanza mengalami masalah pendengaran di usianya yang masih sangat kecil..."
"Aku sudah bersepakat dengan Salma akan segera bercerai setelah Khanza lahir..dan mengirimnya ke kota X...aku sudah membelikannya rumah disana..rumah impiannya sebagai balasan atas anak yang telah dia berikan padaku dan padamu...dia akan menetap disana bersama Prass menjalani kehidupan mereka bersama...itu permintaan terakhirnya dulu...tapi Tuhan berkata lain..ia bahkan pergi sebelum melihat wajah bayi yang di kandungnya...."
"Aku yang sejak usia muda sudah di tinggalkan oleh kedua orangtuaku...aku sangat senang saat mendapatkan sosok ayah mertua seperti ayahmu...tapi kesenanganku hanya sebentar karna aku harus mengetahui kabar sakit infeksi paru-parunya yang sudah parah saat kita baru saja menikah...dan itu membuatku sangat terpukul...baru saja aku bahagia mendapatkan sosok orangtua baru tapi aku harus kembali bersedih karna sakitnya..."
"Kedua orangtuaku tiada saat aku bahkan belum sempat bertanya pada mereka tentang keinginan terakhir mereka...mereka pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun padaku..."
"Dan saat ayahmu mengatakan permintaan terakhirnya...aku tak bisa menahan diriku...demi melihat ayahmu tenang dan bahagia...aku sendiri berkorban untuk itu...tanpa memikirkan semua akibatnya terhadap rumah tangga kita.."
"Dan saat kau melayangkan gugatan cerai kepadaku aku sadar semua kekacauan itu terjadi akibat diriku sendiri...aku sudah menghancurkan kehidupanku sendiri...aku kehilanganmu...kehilangan seluruh kebahagiaanku....dan waktu itu akhirnya aku menyerah dan memilih untuk melepasmu...membiarkan kau hidup dengan pilihanmu..."
"Tapi seiring berjalannya waktu aku salah... aku tak pernah bisa hidup tanpa adanya dirimu..hidupku semakin kacau karna kepergianmu...usahaku merosot tajam...fikiranku kacau..aku bahkan pernah meminum alkohol waktu itu di dalam kamarku karna fikiranku sangat kacau..aku terus memikirkanmu....aku jarang makan dengan jadwal yang benar...tak pernah memakan makanan yang sehat lagi..hingga semua berdampak pada kesehatanku...."
"Pernah juga aku mencoba untuk bunuh diri dengan meminum obat banyak sekaligus waktu aku sakit....tapi tangisan Khanza menyadarkanku waktu itu... semua keegoisanku menciptakan satu kehidupan yang sama sekali tak bersalah dan dia butuh perhatianku...sejak saat itu aku mulai ihklas menerima Khanza dan merawatnya dengan baik..."
"Hingga akhirnya kau kembali dalam hidupku...dan aku tak akan menyia-yiakan kesempatan itu...aku kembali berjuang untuk mendapatkanmu...mendapatkan hidupku kembali...mendapatkan wanitaku lagi..."
"Dan akhirnya Tuhan menyatukan kita lagi dalam ikatan pernikahan....memberiku kesempatan kedua untuk menjaga dan membahagiakanmu...dan aku juga sama sekali tak menyangka...ternyata Tuhan masih memaafkanku..bahkan memberikan aku hal yang sangat tak ku sangka...Tuhan menganugrahi kau kehamilan...hal yang sangat mustahil jika di fikirkan....tapi Tuhan sungguh maha kuasa..dan Tuhan menunjukkan kekuasaannya untuk menjadikanmu ibu dan aku ayah dari anakmu..."
__ADS_1
"Sungguh tak ada lagi kebahagiaan yang aku harapkan selain itu...dan ini adalah kebahagiaan yang paling tak bisa aku lupakan dalam hidupku...kehamilanmu..anak kita..."
Seketika menetes airmata di ujung mata Hanafi, ia mengelus perut Insha lembut dan ciumnya berkali-kali sambil berkata.
"Tumbuhlah dengan sehat anakku...aku dan ibumu sangat-sangat mengharapkan kehadiranmu..."
Mendengar semua penuturan Hanafi Insha terdiam, setelah Hanafi kembali ke posisinya Insha memeluk lagi Hanafi dengan eratnya. Mencium kedua pipinya dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Maafkan aku yang tak pernah mau mendengarmu dulu...aku terlanjur terselimuti emosi waktu itu...hingga tak mau mendengar semua alasanmu..."
"Tak apa sayang...semua sudah berlalu..dan aku kini sangat berterimakasih kepadamu karna kau telah memberikanku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya...memperbaiki hubungan kita...tapi percayalah cintaku padamu masih sama seperti dulu...tak ada yang berubah sedikit pun...bahkan mungkin kini semakin besar karna telah hadirnya buah hati di dalam rahimmu ini yang akan semakin melengkapi kehidupan bahagia kita nanti..."
"Tapi jangan lupakan Khanza sayang...dia juga anakmu bukan...dia juga butuh perhatianmu juga..."
jawab Insha mengingatkan.
"Seperti anak dalam kandunganmu...aku juga berharap kelak mereka dapat memimpin bersama perusahaan saat aku sudah menua..."
"Aku berharap bayi yang kau kandung adalah bayi laki-laki....dia akan menjadi pemimpin utama setelahku nanti ketika dia sudah dewasa..karna laki-laki akan lebih dominan dan tegas dalam memimpin.."
Insha menghela nafas panjang.
"Laki ataupun perempuan semua sama saja...yang terpenting dia bisa tumbuh dengan sehat dan kuat...serta cerdas dan pintar tentunya...siapa bilang perempuan tak bisa memimpin dan lebih dominan....kau tak melihatku dengan semua pabrikku....semua adalah hasil jerih payahku sayang...kau lupa..."
Hanafi tertawa ringan sambil memeluk Insha lebih erat.
"Yaa..yaa..maaf aku telah salah berkata dan aku melupakan fakta sekarang bahwa istriku adalah salah satu wanita tersukses di negara ini....Insha Humairah nama yang sering muncul di berita dan majalah-majalah sebagai wanita karir teladan yang patut di jadikan contoh oleh semua wanita di negeri ini...dan ya kau juga sukses mengangkat kehidupan kaum wanita sejak kau mendirikan pabrikmu itu...tercatat ada 10ribu lebih karyawan wanita yang sudah kau miliki....dan sebagian besar adalah mereka yang sudah berumah tangga..."
__ADS_1
Insha pun tersenyum dengan bangga.
"Ya memang itu adalah targetku...aku menargetkan untuk mengangkat kehidupan wanita....aku tak ingin wanita di tindas karna suami-suami mereka yang bertindak semaunya karna seorang istri yang berpangku tangan pada penghasilan suaminya..banyak wanita yang membiarkan suami-suami mereka bertindak semaunya, berselingkuh, main pukul, hanya karna sang istri yang tak bisa apa-apa..."
"Aku ingin pria juga menghargai wanita karna kedudukannya...dan ingin membuktikan bahwa wanita juga bisa bekerja dan menopang sendiri kehidupan mereka tanpa mengandalkan suaminya....banyak wanita yang akhirnya hidup dalam kemiskinan karna di tinggalkan suaminya dan dia tak memiliki pengalaman bekerja..."
" Dan kisah kehidupanku sendiri yang memotivasi untuk itu semua...aku yang tak memiliki apapun setelah aku berpisah darimu..yang harus berjuang dari nol untuk mencapai semua ini...aku yang hancur karna semua kebohongan dari seorang tuan muda Hanafi...dan aku tak ingin wanita lain mengalami nasib yang sama sepertiku...terpuruk dan hancur karna ulah hanafi-hanafi yang lainnya..."
Insha berkata sambil tersenyum menggoda Hanafi.
"Kenapa jadi aku..."
Melihat senyuman menggodanya Insha Hanafi menjadi gemas dan mulai menatap Insha juga dengan tatapan seringainya.
"ya mau siapa lagi..."
Insha sudah tertawa lepas melihat expresi Hanafi.
"Baiklah kalau begitu aku akan membuat Hanafi junior lagi untukmu..agar lebih banyak Hanafi yang mengelilingi kehidupanmu..."
"eeeh bukanlah dokter Vina sudah mengatakan padamu...jangan melakukannya setidaknya sampai usia kandunganku 3 bulan..."
Insha seketika berhenti tertawa dan menahan tangan Hanafi yang sudah ingin berjalan-jalan di atas area sensitif Insha.
"Apaa...3 bulan...sudah gilaa yaa..."
.
__ADS_1
Bersambung.....