2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Flashback ( part 4 )


__ADS_3

Sore itu Arya tengah menjalani operasi pada salah satu pasiennya, operasi yang sengaja di majukan jadwalnya, karna kondisi pasien yang semakin memburuk.


Di tengah operasi entah kenapa ia merasa sesuatu yang aneh dalam dalam hatinya. Ia berusaha fokus pada operasi dan segera menyelesaikan prosedur operasi bersama beberapa dokter disana.


Benar saja, baru saja ia keluar dari ruang operasi itu tapi salah satu perawat datang menghampiri dan mengatakan kalau nona Salma mereservasi kedatangannya untuk memeriksakan diri.


Arya terlihat sedikit heran karna ini bukan jadwal Salma untuk check up rutinnya, apalagi di sore hari seperti ini.


"Nona sedang terlihat terburu-buru dok jadi saya menyarankan untuk memeriksakn kondisinya ke dokter Rizal.."


Kata perawat itu sambil berjalan mensejajari Arya.


"Hemm...bagus..saya akan mengeceknya sebentar lagi.."


"Nona juga baru saja melakukan tes darah dokter.."


"Untuk apa cek darah ..."


"Untuk mengetahui kondisi nona Salma dokter....karna dokter Rizal bilang tak menemukan tanda gejala penyakit apapun...tapi nona Salma mengeluh sering sakit kepala ..."


Dokter Rizal adalah dokter baru disana, ia tak mengetahui perihal penyakit yang di derita Salma selama ini.


tak akan mudah memang mengetahui penyakit Salma...tumor itu baru akan ketahuan jika melalui pemeriksaan ST scan atau pun MRI...


Gumam Arya dalam hati.


"Arahkan nona Salma ke ruangan saya...hanya saya yang mengerti kondisinya...saya akan menanganinya..."


"Baik dokter...saya akan mengambil hasil lab nya dulu..."


perawat itu berjalan ke dalam ruang laboratorium yang kebetulan sudah ada di depannya, begitu pun dengan dokter Arya yang mengekor di belakangnya sambil berkata.


"Biar aku yang mengambilnya...kau arahkan saja nona Salma ke ruangan saya..."


Perawat itu hanya mengangguk, baru saja akan keluar dari sana tapi dia mendengar bahwa laporan pemeriksaan labolatorium Salma telah di antar ke ruangan dokter Rizal, perawat itu pun terdiam di tempatnya, menunggu perintah selanjutnya dari dokter Arya.


"Sudah di bawa kesana ya...apa nona Salma juga ada di ruangannya..."


tanya Arya pada petugas lab itu.


"Saya kurang tau dokter..tetapi tadi ruangan dokter Rizal sedang kosong ketika saya mengantarnya..."


"Hemmm...kalau begitu beritahu saya hasilnya..apa semua stabil..."


Arya melihat-lihat layar monitor di depannya yang memperlihatkan hasil lab dari beberapa orang pasien, tapi ia lebih fokus pada hasil lab Salma.


"Semua baik dokter...hanya kadar HCG nya saja yang diatas normal..."


jawab petugas lab itu ringan, karna dia sama sekali tak mengetahui siapa Salma dan apa yang tengah dijalani sebelumnya.

__ADS_1


Karna semua pemeriksaan yang di jalani oleh seluruh keluarga Hanafi bersifat rahasia dan hanya beberapa dokter dan paramedis saja yang mengetahuinya, dan mereka pun harus bungkam dengan semua kondisi yang di ketahuinya, itu sudah menjadi peraturan utama dari rumah sakit, tentu saja karna dokter Arya yang membuatnya. Karna dia tau sifat dari Hanafi dan tak ingin berbagai rumor dari keluarganya menyebar ke masyarakat luas.


"HCG...yang benar saja.."


jantung Arya sudah berdegup kencang, tangannya sudah terlihat gemetar, tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan melihat lebih jelas monitor di depannya.


petugas lab yang terkaget dengan reaksi dokter Arya pun segera membenarkan hasil dari pemeriksaannya dan ia yakin tak mungkin salah mengenai hasilnya.


"Iya dok...ini hasilnya.."


dengan sigap petugas itu memperjelas tulisan hasil pemeriksaan Salma di layar monitor dan menunjuk bagian yang bertuliskan HCG disana.


Arya merebut mouse yang sedang di pegang petugas itu, lebih memperjelas lagi bagian yang di tunjuk disana.


Dengan jantung yang semakin kencang, juga keringat dingin yang mulai bermunculan di wajahnya, Arya membaca hasil di layar monitor itu.


"Apa artinya nona Salma sedang hamil..."


Arya menatap petugas itu dengan tajam.


"Iya dokter...dan melihat dari kadar HCG nya kehamilannya sedang berjalan di usia 5 minggu..."


Arya benar-benar terbelalak dengan penuturan petugas lab itu, ia beberapa kali menelan air liurnya, dalam bayangannya sudah tergambar jelas bagaimana Hanafi akan sangat marah padanya, pada kegagalannya dalam mencegah kehamilan itu. Baru saja ia senang mendapatkan bonus dari Hanafi tapi mungkin kini Hanafi akan memotong gajinya atau bahkan memecatnya hari itu juga.


Belum sempat Arya bernapas normal dengan berita yang di dengar tapi seorang perawat baru saja datang ke ruangan itu, dan berbicara dengan santainya.


"Loh ini dokter Arya...dokter tadi di cari sama nona muda dok..."


Arya menjawab secepat kilat


"Hehe saya lupa bilang dok...nona muda datang tadi bersama nona Salma.."


imbuh perawat yang sedari tadi diam di tempatnya menunggu perintah dari Arya.


"Bersama nona Salma...dimana mereka sekarang..."


Arya terbelalak dengan jawaban perawat itu.


"Saya melihat mereka masuk ke ruang dokter Rizal dok..."


jawab perawat yang baru saja datang.


Tanpa berkata apapun Arya langsung saja berlari meninggalkan 3 orang disana yang menatap kepergian Arya dengan wajah terheran-heran.


Arya berlari sekencang-kencangnya, tentu saja untuk mencegah dokter Rizal membacakan hasilnya. Apalagi ada Insha disana, yang tak mengetahui apa-apa tentang prosedur yang telah di lakukan Salma.


Begitu juga Salma ia sama sekali tak berfikir tentang kehamilannya, karna dokter sudah memberikan informasi padanya bahwa prosedur dinyatakan gagal dan tidak ada janin dalam kandungannya, calon janin itu luruh bersama pendarahan yang terjadi pada Salma kala itu.


Salma menolak pergi ke rumah sakit karna ia tak mau Insha mengetahui tentang penyakit tumornya itu, ketika Salma di paksa Insha untuk menjalankan pemeriksaan lebih lanjut Salma pun menolak takut-takut kalau Insha akan tau semuanya. Tapi Salma kembali ingat kata dokter Arya bahwa tumornya hanya akan di ketahui melalui pemeriksaan ST scan dan MRI saja, untuk itu Salma pun mau melakukan pemeriksaan darah yang tentu tidak akan bisa mendeteksi tumor di otaknya.

__ADS_1


Tanpa di sangka janin yang sudah di nyatakan menghilang dalam rahim, karna hasil USG dan gejala-gejala yang di alami Salma, ternyata masih berada dalam tempatnya dan dia berhasil berkembang dengan baik disana. Salma yang tak menyadarinya beberapa gejala yang di alami beberapa hari belakangan ini, kepalanya juga sering terasa sakit padahal dia telah meminum obat dengan rutin, itu mungkin juga karna ada sesuatu yang sedang berkembang di rahimnya.


Salma masih tercengang dengan hasil yang di bacakan oleh dokter Rizal, dia juga di buat bingung ingin mengexpresikan hasil itu dengan apa, karna di sampingnya terdapat Insha yang juga mendengarkan hasilnya. Dan Insha pun tak tahu menahu tentang berbagai prosedur itu.


Insha menjadi terdiam, Salma pun tak fokus dengan penjelasan dokter Rizal. Lalu beberapa detik kemudian dokter Arya masuk dalam ruangan dengan nafas terengah-engah.


Arya pun melihat ke arah dokter Rizal yang sudah membuka dan mencoret-coret kertas di depannya, bisa di pastikan bahwa dokter Rizal telah membacakan hasilnya.


Arya menelan air liurnya dengan kasar, ia juga mendapat tatapan tajam dan amarah dari Insha sedari dia datang tadi.


Bingung ingin mengatakan apa, Arya begitu saja mengeluarkan kata basa-basi dalam mulutnya.


"Maaf nona muda...anda tadi mencari saya..saya baru saja selesai melakukan operasi...apa ada yang bisa saya bantu..."


Arya tiba-tiba berkata pada Insha.


Tak mendapat jawaban apapun dari Insha, ia malah pergi dengan membawa secarik kertas di tangan dokter Rizal beserta obat yang sudah di resepkan untuk Salma.


Arya hanya bisa menatap kepergian mereka dengan tatapan bingung dan ketakutan, karna tatapan tajamnya Insha. Arya pun terduduk di kursi yang di duduki Insha tadi mengacak-acak rambutnya kasar.


apa salahku kenapa menatapku tajam seperti itu...dan nona langsung pergi begitu saja..tanpa sepatah kata pun...


ya Tuhan...selamatkanlah gajiku bulan ini...


Gumam Arya yang sekarang tampak limbung.


Ia berniat hendak mengantarkan Insha dan Salma kedalam mobilnya, tapi urung dia lakukan dia takut melihat wajah Insha yang seperti tadi.


Bodohnya aku...kenapa aku memajukan jadwal operasi hari ini...


Arya tak henti-hentinya bergumam dalam hati mengutuki kebodohannya.


"Ada apa dok...apa saya salah.."


tanya dokter Rizal tak mengerti akan semua yang terjadi.


"Kau salah...kau bodoh...kau sangat bodoh...aahhhkk..bisa gila aku..."


jawab Arya spontan sambil menunjuk-nunjuk dokter Rizal yang masih kebingungan. Arya pun beranjak pergi sambil menendang kasar pintu disana.


Sementara dokter Rizal hanya menatap bingung dokter Arya yang pergi begitu saja dengan amarahnya, tanpa menjelaskan apapun.


Bersambung..


note:


Selamat pagi...selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan...


Hehe...maaf ya author masih ceritain flashbacknya...buat besok kita mulai cerita Insha lagi ya dan kelanjutan kehidupan cintanya...

__ADS_1


Salam manis..semoga sehat selalu...


__ADS_2