
Sore itu Insha sedang berada di kamarnya, bermain ponsel dan sesekali terlihat menyeruput susu hangat yang baru di ambilnya dari dapur.
Sudah berminggu-minggu semenjak kepulangan Insha, ia lebih terlihat tegar dari sebelumnya, Insha tak pernah lagi terlihat menangis.
Insha tampak acuh pada semua yang terjadi pada Salma maupun pada Hanafi. Seakan syarat yang di berikan pada Hanafi adalah sebuah permainannya saja.
Ia lebih asyik pada dunianya sendiri, ia sering keluar hanya untuk memberikan kesenangan untuk dirinya saja, sekedar berjalan-jalan, berbelanja dengan uang yang Hanafi berikan, mencoba berbagai makanan di restorant-restorant mewah, membeli tas, sepatu atau masih banyak lagi. Semua itu tak lain ia lakukan untuk menghibur dirinya.
Mengingat lagi dia tak akan bisa pergi dari Hanafi, pergi darinya hanya sia-sia dimana pun pasti Hanafi akan berusaha menemukannya dengan di bantu kekuasaannya. Kabarnya nama Insha juga sudah tercatat di berbagai moda transportasi darat maupun udara sebagai daftar nama yang tak di ijinkan bepergian kecuali ada persetujuan dari Hanafi.
Itu semua Hanafi lakukan untuk mencegah Insha pergi lagi dari sisinya, ia tak ingin kehilangan Insha untuk kedua kalinya.
Insha juga tak dapat lepas dari jeratan Hanafi, karna Hanafi selalu menolak untuk bercerai darinya, meski Insha sudah bersikap acuh dan semaunya Hanafi membiarkan semua itu dan lebih menuruti semua kemauannya.
Setelah berminggu-minggu pulang ia juga tak lagi melihat Salma, ntah karna dirinya yang memang acuh pada semua di sekitarnya atau karna Salma yang memang tak mau memperlihatkan dirinya pada Insha.
Insha juga tau bahwa semenjak kepulangannya Salma di pindahkan ke rumah belakang. Untuk itu Insha juga tak pernah lagi pergi ke taman seperti sebelumnya karna taman itu berada tepat di depan rumah belakang, Insha tentu tak mau bertemu dengan Salma disana.
Sore itu, ntah kenapa Insha tiba-tiba ingin sekali mengintip jendela kamarnya yang tak pernah ia lakukan sejak ia pulang dari pelariannya.Jendela kamarnya bertatapan langsung dengan taman, dari jendela itu juga dapat melihat langsung rumah belakang yang di tempati Salma.
Insha beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju jendela, di bukanya tirai itu sedikit untuk mengintip rumah belakang dari sana.Secara kebetulan Salma sedang berada di ambang pintu, ia menatap ke arah taman dengan tersenyum sambil mengelus-elus perutnya yang terlihat sudah membesar.
Melihat Salma yang sedang dalam keadaan hamil hatinya merasa iri, ia melihat perutnya yang rata bahkan tak ada janin yang sedang berkembang disana membuat hatinya menciut.
Sebuah hal yang mustahil juga karna semenjak tau kehamilan Salma. Insha tak pernah lagi mau berhubungan dengan Hanafi.
Meski setiap malam Hanafi tidur bersamanya tapi mereka tak pernah melakukan apapun, Insha selalu menolak ajakan Hanafi, seakan ia sudah tak memiliki hasrat lagi padanya.
Insha juga memberikan jarak saat ia tertidur menaruh bantal atau pun guling untuk memberi batas untuk keduanya.
Hanafi sangat tersiksa dengan tingkah Insha itu, tapi dia tak dapat menolaknya mengingat ia sudah pernah berjanji pada Insha akan menuruti semua kemauannya asal Insha tak pergi lagi darinya. Sementara Insha sendiri sangat menikmati perannya sekarang dan lebih mengabaikan perasaan Hanafi kepadanya.
Insha sendiri pun tak tau masih adakah perasaan yang tersisa untuk Hanafi di hatinya.
Salma terlihat semakin tersenyum merekah melihat lurus ke arah depan. Insha pun penasaran hal apa yang di lihatnya, Insha menoleh dan mendapati Hanafi yang sedang berjalan ke arah Salma sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah paperbag disana.
"Hanafi sudah pulang.."
gumam Insha lirih ditempatnya.
Hanafi semakin berjalan mendekati Salma, memberikan paperbag yang ntah apa isinya lalu mengelus-elus perut Salma disana.
__ADS_1
Tangan Hanafi terlihat terdiam di satu sisi perut itu lalu beberapa detik kemudian dia terlihat tersenyum sambil mengelus-elusnya lagi.
Sepertinya Hanafi merasakan tendangan bayinya dari sana, membuatnya ingin melakukannya lagi dan lagi.
Ada sebuah perasaan aneh yang Insha rasakan sekarang, pemandangan yang sangat Insha impikan sejak dulu dengan Hanafi tapi kini, suaminya malah melakukannya pada wanita lain, terlebih itu adalah kakaknya sendiri.
Insha pun tak tau masihkah ada rasa cintanya untuk Hanafi sekarang hingga ia merasakan perih lagi di hatinya.
"Huuuhh..."
Insha mendengus kesal.
Ia lalu mengintip di balik tirai lagi, terlihat Hanafi dan Salma kini yang tengah duduk di bangku taman, sedangkan Hanafi membuka isi paperbag itu.
Dari penglihatannya Insha dapat menebak bahwa isi paperbag itu adalah martabak telor.
"Hmmm...ngidam ya...norak sekali.."
gumam Insha di balik tirai itu.
Terlihat Hanafi yang perlahan menyuapi Salma dengan martabak itu, sambil sesekali tersenyum dan mengelus-elus perut Salma lagi.Mereka juga terlihat berbincang-bincang lirih disana yang jelas tak akan terdengar oleh Insha.
"Huuhh.."
Sekelebat Insha melihat ponselnya yang ia geletakkan di tempat tidur itu menyala, tapi Insha terlihat acuh dan enggan mengambilnya.
Ia tengah memperhatikan apa yang Hanafi lakukan lagi disana, sikapnya terlihat acuh, tapi hatinya seakan terbakar lagi melihat semua itu.
"Apa kalian tak pernah sedikit pun memikirkan perasaanku...dan mungkin ini yang sering Hanafi lakukan di belakangku..."
Kini setitik air menganak di ujung matanya.
Pandangan Insha kembali teralihkan pada ponsel yang terus menyala disana.
"Siapa sih yang menelponku..."
Insha pun mendekati ponsel itu yang masih bergetar-getar di atas tempat tidur.
Ia melihat di layar ponsel panggilan dari sebuah nomer yang tidak ia kenali.
Ia Hendak menekan tombol untuk menjawabnya tapi panggilannya sudah berakhir.
__ADS_1
Insha melihat lagi layar itu, sudah 5 panggilan tak terjawab dari nomer yang sama. Ia pun di buat penasaran, ia segera menelpon balik pemilik nomer itu.
Tuutt...tuut....
suara nada sambung panggilan.
Beberapa detik setelahnya panggilannya pun di jawab.
"Hallo...Insha..apakah kau Insha..."
seorang lelaki menjawab panggilan itu, dengan suara yang tergesa dan terdengar lega.
"Hallo....iya aku Insha...ini siapa..."
Insha mengerutkan dahinya, mengingat-ingat kembali suara siapa yang sedang ada di panggilannya.
"Kau lupa padaku...."
Tapi nihil Insha tak dapat mengingat sama sekali suara siapa itu.
"Siapa...siapa kau...aku tak mengenalmu.."
Insha pun hendak mematikan telponnya malas meladeni orang atau nomor yang tidak dia kenali.
"Insha....aku hanya ingin bertanya dimana Salma..."
"Salma..."
Insha cukup terkaget, Ia memicingkan salah satu matanya.
"Sebenarnya siapa kau.."
imbuh Insha lagi.
"Aku...aku Prass Insha....kau lupa padaku..."
Seketika Insha membulatkan bola matanya, terkaget dengan pengakuan orang di dalam telponnya.
"Kak Pras..."
"Iya Prass...aku Prasetyo Insha.."
__ADS_1
Bersambung...