2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kepergian Insha


__ADS_3

Risna masih setia menemani Insha di kamarnya, menenangkannya dan mengelus punggungnya lembut.


Dia sangat tau perasaan dan sakit hatinya Insha sekarang, mengingat kembali masa lalunya yang juga di tinggalkan oleh orang yang di cintai. Sempat berfikir akan mengakhiri hidupnya, tapi Risna dapat bangkit kembali memulai kehidupannya yang baru.


Seakan ingat kembali rasa sakit itu setelah ia melihat semua yang terjadi di hadapannya. Membuatnya juga merasakan apa yang sekarang di rasakan Insha, karna ia tau sendiri bagaimana cintanya Insha kepada Hanafi, lewat nada bicaranya, tatapannya, semua perilakunya setiap hari menunjukkan ia sangat di mabuk cinta dengan dunia nya.


Tapi kini Insha harus rela membagi orang yang sangat di cintainya dengan orang yang tak lain adalah kakaknya sendiri, Risna pun tak habis pikir dengan semua kejadian ini.


Fatimah baru memasuki kamar, ia membawakan makanan baru untuk Insha, setelah membereskan semua kekacauan yang terjadi disana.


"Makanlah nona..saya akan menyuapi nona.."


Fatimah duduk bersila di depan Insha.


"Iya nona..makanlah...nona belum makan apapun dari tadi pagi.."


jawab Risna sambil menatap iba pada Insha.


Sementara Insha hanya menggeleng pelan, ia sama sekali tak berselera melihat semua makanan yang ada.


Tapi Fatimah dan Risna tak tinggal diam, mereka terus saja membujuk Insha untuk makan sesuatu, dan pada akhirnya Insha pun mau memakan makanan itu dengan di suapi oleh Fatimah.


Setelah menghabiskan menu makanan yang di bawa oleh Fatimah.


Risna dan Fatimah pun segera membantu Insha ke tempat tidurnya, merebahkannya disana dan membiarkan dia sendiri untuk sementara waktu.


Insha pun sangat berterimakasih kepada mereka, setidaknya ada yang mengerti dengan perasaannya yang sekarang, Insha juga sedikit merasa lega setelah menangis cukup lama tadi, membuang segala rasa sedih dan amarah dalam hatinya meski itu hanya sementara.


Hari sudah semakin siang, Insha bangun dari tempat tidurnya, ia tak mau semakin terpuruk dengan keadaan ini.


Ia pun memilih berjalan-jalan di lantai 2 rumahnya, dan akhirnya menghentikan langkahnya untuk singgah sejenak di sebuah balkon, menikmati pemandangan Indah di luar gerbang rumahnya, pemandangan yang masih tampak hijau menyejukkan mata.


Insha menghela nafas dalam berulang-ulang, menikmati udara sejuk yang menerpa meski mentari sudah terasa membakar kulit di luar sana.


Di tengah ketenangan hati yang sedang di nikmatinya, Insha melihat dua orang yang sedang berjalan di pelataran rumah mewah itu, berjalan sejajar dan tampak berbincang-bincang hangat disana.


Sangat lirih sehingga Insha tak dapat mendengar percakapan itu, ya...mereka berdua adalah Salma dan Hanafi. Mereka terlihat berjalan menuju mobil mewah yang sudah di sediakan oleh pak Tono sebelumnya.


Hanafi terlihat membukakan pintu untuk Salma dan memastikan Salma telah naik dengan benar. Ia pun segera berjalan memutari mobilnya.


Hanafi sekelebat melihat seorang yang ada di balkon lantai atas, ia pun segera mengarahkan pandangannya kesana, Ia melihat Insha yang sedang berdiri mematung disana dengan kedua tangan di silangkan di depan dada.


Hanafi pun tampak tak bereaksi apa-apa, setelah menatap Insha dia segera menunduk dan berjalan menuju pintu mobil, masuk dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang besar itu.


Tentu Insha pun tak tau akan kemana mereka berdua, Insha selalu terbawa amarah saat melihat Hanafi tengah dekat dengan Salma.


Setelah mobil itu jauh melenggang pergi, hilang dari pandangan Insha. Ia pun segera masuk kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Di dalam kamar ia mencari lagi kunci mobilnya yang sudah berminggu-minggu ia biarkan begitu saja.


Fikirannya sekarang sedang kalut, di penuhi amarah berapi-api lagi.


Ntah apa yang sedang ada di fikirannya sekarang, ia membuka lemari besarnya terlihat memilah-milah baju disana. Bukan lagi dress seperti yang di kenakannya sekarang, Insha memilih sebuah celana jeans dan kemeja berwarna coklat tua, dengan model yang cukup memperlihatkan lekuk tubuh indahnya.


Insha pun mengenakan itu semua, lalu berdiri di depan cermin menorehkan beberapa riasan di wajahnya.


Ia pun memandang bayangan dirinya di cermin, terlihat sangat cantik dengan gaya dandanan nya sekarang, tak lupa ia memakai kerudungnya, ia terlihat cukup modis, cantik dan seksi seperti gadis-gadis kota dengan gaya pakaian yang sedang menjadi trend sekarang.


Di raihnya tas kecil, kunci mobil, ponsel, serta dompet berisikan banyak kartu kredit di dalamnya.


Insha menatap nanar segala yang ada di dalam kamarnya saat ini, lalu ia pun segera beranjak keluar dari sana, menutup pintu pelan dan berjalan menuruni tangga.


Insha melihat ke segala arah di lantai bawah, tak di dapati seorang pun disana. Ia pun segera keluar dari rumah mewah itu, berjalan menuju tempat parkir yang luas dengan beberapa mobil mewah disana.


Ia pun melajukan mobilnya menuju gerbang, di dalam pos di sebelah gerbang tampak pak Sardi yang tengah asyik mendengarkan musik dari radionya, pak Sardi segera sigap membukakan gerbang saat melihat mobil akan keluar dari sana.


Pak Sardi mengetahui mobil Insha yang segera keluar dari sana, ia pun melihat sekilas ke jendela mobil yang setengah terbuka itu. Terlihat Insha yang sangat cantik dengan dandanan yang tidak biasa itu, pak Sardi pun sedikit terkejut dengan tampilan Insha saat itu tapi ia tak berani mengungkapnya, ia hanya tersenyum membalas senyuman manis Insha yang di tujukan padanya.


Mobil pun melaju dengan cukup kencang meninggalkan gerbang rumah utama dengan pak Sardi yang masih berdiri menatap takjub kecantikan Insha dengan penampilan yang berbeda.


*


Sore hari pun telah tiba, mobil Hanafi baru saja tiba di rumah utama, dia dan Salma selesai melakukan check up ke rumah sakit memeriksakan keadaan bayi kecil di dalam kandungan Salma.


Hingga tak terasa hari pun telah gelap, sudah waktunya makan malam tiba.


Salma dan Hanafi pun berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang makanan lengkap disana beserta ketiga pembantunya yang sudah bersiap menunggu mereka.


Suasana tampak hening, setelah pernyataan Hanafi tadi pagi suasana di meja makan itu tampak canggung, tak ada yang bicara satu sama lain.


Hanafi menatapi tangga menuju lantai atas berkali-kali tapi tak di lihatnya Insha turun dari sana.


mungkin karna kejadian tadi pagi Insha tak mau makan disini lagi...dia pasti mengurung dirinya lagi di dalam kamar...


Guman Hanafi dalam hati.


"Mbak...apa sudah di bawakan makan malam untuk Insha..."


Suara Hanafi memecah keheningan.


"Emm..belum mas.."


sahut Risna secepat kilat.


"Bawa makanan nya ke kamar mbak..mungkin dia tak akan makan malam disini..."

__ADS_1


ungkap Hanafi lagi.


Risna pun mengangguk dan segera membawa sebuah nampan berisikan makanan dan juga minuman untuk Insha.


Sampai di lantai atas, Risna mengetuk pintu kamar berkali-kali tapi sama sekali tak ada jawaban. Risna pun berfikir bahwa Insha mungkin tengah tertidur atau enggan menjawab ketukan itu, ia pun memilih langsung membuka pintu kamar itu dan masuk ke dalamnya.


Di pandangan Risna tak terlihat Insha di dalam kamarnya, ia pun menaruh nampan itu di atas meja.


"Nona Insha....ini makan malam untuk nona.."


Risna melihat ke arah kamar mandi, tapi juga sama sekali tak ada jawaban dari dalam.


Ia pun menempelkan telinganya di pintu kamar mandi itu, berharap mendengar aktivitas di dalamnya , tapi tak terdengar suara apapun juga di sana.


Ia segera membukanya dan tak mendapati Insha di sana, dengan wajah sedikit panik ia kembali menatapi kamar lagi memang benar Insha tak ada di sana.


Ia pun keluar kamar menyusuri seluruh ruangan yang berada di lantai 2, dan ia juga tak menemukan Insha dimana pun.


Risna pun segera turun dengan tergesa-gesa menuju meja makan lagi.


"Maaf den, tapi nona Insha tak ada di dalam kamarnya..."


Risna menatap Hanafi dengan wajah paniknya.


Hanafi pun tak kalah kaget, dia bahkan langsung berdiri dari kursinya.


"Tidak ada....apa mbak sudah melihat ke seluruh ruangan kamar...atau mungkin dia berada di kamar mandi..."


"Saya sudah melihat ke seluruh ruangan lantai 2 den....nona Insha tak ada dimanapun..."


Hanafi seakan tak percaya ia segera berlari kecil ke lantai atas untuk mencari Insha sendiri disana, dan memang benar dia tak dapat menemukan Insha dimana pun.


Ia pun tak luput melihat ke balkon tempat biasa Insha berdiam disana, tapi ia tak menemukannya juga.


Hendak beranjak dari sana dan turun mencari Insha di taman, tapi Hanafi tiba-tiba saja memandang ke arah deretan mobil-mobil mewah yang terparkir di halaman rumahnya.


ya Tuhan...dimana mobil Insha...


"aaarrrggh...."


Hanafi berteriak keras tangannya terkepal kuat meninju di udara.


*Se*pertinya sebuah kesalahan besar aku telah mengijinkan Insha untuk belajar mengemudi....


Guman Hanafi dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2