2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Pernikahan kedua


__ADS_3

"Saudara Hanafi Abqari agam bin Handoko Abqari Agam saya nikahkan engkau dengan wanita di hadapan saya bernama Salma Salsabilla binti Safi'i Anwar dengan mas kawin uang 10 juta rupiah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai..."


"Saya terima nikahnya Salma Salsabilla binti Safi'i Anwar dengan mas kawin uang 10juta rupiah dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.."


Sang penghulu menatap kedua Saksi di sebelahnya yang tak lain adalah Kriss dan dokter Arya. Mereka berdua mengangguk tanda penikahan keduanya telah sah.


Sang penghulu pun memanjatkan do'a untuk kedua mempelai. Ayah pun tampak menyunggingkan senyum tanda bahagia bisa menyaksikan pernikahan putrinya walau dengan keadaannya yang lemah seperti sekarang.


Kini aku bisa tenang..karna kedua putriku memiliki suami yang bertanggung jawab..dan tentu bisa mencukupi kebutuhannya...


Suara hati ayah, yang sedang mengeluarkan air mata haru nya.


Ketika mengetahui sang mempelai lelaki adalah Hanafi pun ayah tak keberatan, karna dia menganggap Hanafi akan bisa berlaku adil kepada kedua putrinya mengingat sifat dan sikapnya yang sangat baik.


Juga bisa memenuhi kebutuhan keduanya karna ayah tau Hanafi adalah lelaki yang kaya raya, tentu mencukupi kebutuhan 2 orang perempuan pasti bukan beban berat untuknya.


Sebelum pernikahan, Insha pun mengatakan pada ayah kalau dia ihklas suaminya menikahi kakaknya Salma, dia tampak tak keberatan, dia juga meyakinkan pada ayah bahwa hubungan mereka akan tetap baik-baik saja.


Untuk alasan itulah juga Ayah setuju atas pernikahan Hanafi dan Salma sebagai istri keduanya.


Doa telah selesai kini Hanafi memasangkan cincin pada jemari Salma. Setelah jemari itu terpasang cincin, Salma mengecup punggung tangan Hanafi . Lalu perlahan Hanafi meraih kepala Salma dengan kedua tangannya dan mengecup keningnya lembut.


Salma dan Hanafi kini memakai pakaian pengantin.Hanafi memakai jas lengkap berwarna putih, senada dengan kebaya yang di kenakan Salma. Salma juga di rias dengan manisnya memperlihatkan kecantikan naturalnya, tak lupa di selipkan juga bunga melati di samping riasan kerudungnya.


Insha tepat berada di belakang kedua mempelai, ia duduk bersimpu di lantai ruang VVIP itu yang sudah di beri karpet sebelumnya, di sampingnya ada 2 orang perawat yang siaga di dalam ruangan itu untuk menjaga ayahnya, mereka juga menjadi saksi pernikahan itu.


Ntah kenapa melihat pemandangan di depannya hati Insha terasa sangat perih, jantungnya berdegup kencang, air matanya ingin tumpah begitu saja, saat melihat Salma mengecup tangan suaminya, juga saat Hanafi mengecup kening Salma.


Insha seakan tak rela, melihat lelaki yang di cintainya berdekatan dengan wanita lain, apalagi ia menyaksikan sendiri kecupan bibir lembut yang slalu ia dapatkan kini mendarat di kening sang kakak yang statusnya sekarang sebagai istri sah nya juga, walau hanya sah secara agama.


Semua tampak tersenyum bahagia, lega akhirnya bisa mewujudkan keinginan sang ayah. Insha sekilas melirik ayahnya yang tengah menyaksikan setiap hal yang terjadi dengan senyumnya yang lebar. Melihat itu sejenak Insha merasa bahagia juga, tapi ketika melihat ke arah kakaknya ntah kenapa tak ada bahagia hanya perih yang terasa di dalam hatinya.


**


'Satu jam sebelum pernikahan'


"Baiklah...aku yang akan menikahinya.."


seketika semua yang ada di dalam ruangan itu menatap tajam.


"Kau sudah gila han..."


kata-kata Arya terlontar begitu saja saat kaget mendengarnya.


"Tidak han...kau tak boleh melakukan itu.."


jawab Salma hampir bersamaan dengan Arya, ia sampai membelalakan matanya saat mendengar Hanafi tadi.


"Apaa...."


Insha juga sangat syok mendengarnya, jantungnya tiba-tiba berdegup kencang air mata yang sedari tadi keluar seketika terhenti begitu saja.

__ADS_1


"Tak ada cara lain..."


Hanafi masih menatap lurus kedepan tak bergeming.


"Han..fikirkan lah cara yang lebih logis...kau bisa mencari orang lain...kau bisa membayarnya...jangan gegabah seperti ini...apalagi kau sudah mempunyai nona Insha.."


Arya sekarang mendekati Hanafi dan meraih pundaknya.


"Aku tak mau melakukan itu han...kau sudah banyak membantu kami...jangan berkorban lagi..."


Salma berkata dengan mata yang berkaca-kaca.


Hanafi tampak memikirkan sesuatu yang tak bisa di tebak oleh siapapun, di sebelahnya Arya terus saja membujuknya supaya mencari lelaki lain untuk menikahi Salma.


"Keputusanku sudah bulat....Aku yang akan menikahi kak Salma.."


Hanafi berkata dengan tegas, seakan memperlihatkan pada semua bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya.


Insha yang sedari tadi hanya diam mematung mendengarkan setiap pembicaraan di dalam ruangan, kini tiba-tiba ia berdiri keluar dari ruangan itu, yang tentu saja semua langsung menoleh ke arahnya.


Salma hendak meraih tangannya, tapi Hanafi memberikan isyarat untuk tidak melakukannya.


" Biar aku yang bicara padanya.."


Hanafi pun ikut keluar.


" Insha...sayang...tunggu..."


"Sayang.."


Tangan Hanafi pun berhasil meraihnya.


"Lepaskan aku.."


Insha menepisnya dengan kasar.


"Dengarkan aku dulu sayang.."


"Apa yang akan aku dengarkan, aku sudah mendengar semua.."


"Aku mohon sayang...semua untuk ayah...tidak ada pilihan lain lagi..."


"Dari sekian banyak lelaki kenapa harus kau mas..."


Insha makin terisak keras, sambil menunjuk-nunjuk ke arah Hanafi.


"Dengarkan aku sayang....ini hanya sementara...aku berjanji padamu aku tak akan menyentuhnya..., lagi pula ini hanya pernikahan secara agama...setelah 5 bulan nanti aku akan melepas semuanya..."


"Lepaskan aku..."


Insha menepis tangan Hanafi yang berusaha memegang dan memeluknya.

__ADS_1


"Hanya kau wanita yang aku cintai Insha...aku bersumpah...aku berjanji padamu aku tak akan menyentuhnya...demi ayah Insha...aku mohon..lihatlah keadaan nya yang sekarang..."


Hanafi memelas di hadapan Insha yang masih terisak keras.


Perlahan Hanafi meraih tubuhnya, Insha pun tak menepis ia semakin menangis di pelukannya.


"Apa kau mau berjanji padaku mas.."


"Apapun itu..katakan aku akan berjanji padamu.."


"Jangan pernah kau menyentuh kakak ku...aku tak mau kau bersama orang lain...kau hanya milikku.."


kata-katanya terbata karna tangis yang semakin menjadi.


"Aku berjanji padamu Insha...aku berjanji..karna hanya kau yang aku cintai...dan hanya kau yang akan melahirkan keturunanku kelak..Ingatlah janjiku ini.."


Hanafi menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Insha, Sambil mengatakan janji yang ia buat.


"Ini hanya sementara sayang...hanya untuk ayah...percayalah padaku.."


Insha pun mengangguk faham dan masih memeluk Hanafi dengan eratnya.


Hanafi pun mengetikkan sesuatu pada ponselnya.


"Kriss...siapkan semua perlengkapan untuk melaksanakan pernikahan sekarang juga..bawa semua itu ke rumah sakit."


Beberapa detik setelah pesan itu terkirim, Kriss tanpa bertanya apa pun ia langsung membalas pesan itu.


"Baik tuan segera.."


Dalam waktu kurang dari 1 jam semua persiapan sudah siap. Salma sudah di rias sebagai pengantin dengan cantiknya, juga berkas-berkas untuk bukti pernikahan, pakaian dan juga penghulu semua sudah siap di dalam ruangan VVIP tepat di samping ayah sedang di rawat.


Di tengah persiapan itu Insha berbicara pada Ayah.


" Ayah...kak Salma akan menikah sesuai keinginan ayah...mas han yang akan menikahinya.."


Ayah nampak menunjukkan expresi terkejut tapi tak mampu berkata apapun.


"Tenang ayah jangan khawatir...aku ihklas ayah...dan aku yakin mas han bisa adil pada kita berdua...restui mereka ayah...seperti aku merestuinya..semua akan baik-baik saja....percayalah..."


Insha menatap ayah dengan penuh percaya diri, dia juga tersenyum manis kepadanya.


Mendengar penjelasan Insha ayah pun tersenyum.


" Ayah merestui mereka kan.."


tanya Insha pada ayahnya, sambil memegang tangannya erat.


Ayah mengangguk pelan pada Insha masih dengan senyum yang merekah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2