2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Malam terakhir Salma


__ADS_3

Malam itu Hanafi sedang terlelap di kamarnya bersama Insha, masih tetap dengan peraturan Insha, tidur dengan sebuah pembatas di tengah mereka.


Ponsel di samping Hanafi terlihat beberapa kali menyala dan bergetar, Hanafi pun bangun karna suara getaran itu yang mengganggu tidurnya.


Hanafi melihat layar ponsel itu, terlihat panggilan beberapa kali dari perawat yang menjaga Salma di rumah belakang.


kenapa menelponku selarut ini..


gumam Hanafi dalam hati.


Ia pun beranjak dari tempat tidur lalu membuka pintu kamar hendak keluar lalu menelpon perawat itu dari luar kamar, ia tak ingin membangunkan Insha yang sedang terlelap.


tutt..tutt...


nada sambung telpon.


"Hallo..ada apa..."


tanya Hanafi langsung pada Intinya.


"Maaf tuan, saya mengganggu anda selarut ini...tapi nona Salma terus mengeluh sakit di bagian kepalanya tuan..."


jawab perawat di sebrang sana, terdengar suara yang sedikit gemetar karna takut telah membangunkan tidur Hanafi.


"Apa dia sudah meminum obatnya.."


tanya Hanafi lagi.


"Sudah tuan...tapi sakitnya malah semakin menjadi..."


Tanpa menjawab apapun Hanafi langsung mematikan telpon lalu turun dan segera ke rumah belakang.


Setelah sesampainya di depan rumah belakang, perawat tersebut rupanya sudah menunggu Hanafi di ambang pintu.


" Maaf tuan telah membangunkan tidur anda.."


perawat tersebut membungkuk sopan pada Hanafi, terlihat juga gurat kekhawatiran dan juga takut di wajahnya.


"Tak apa...apa dia sudah meminum obatnya dengan benar sesuai jadwal.."


Jawab Hanafi tanpa melihat ke arah perawat itu, ia terus berjalan perlahan memasuki rumah.


"Sudah tuan...tapi nona Salma bilang, sakit nya semakin parah bahkan setelah meminum obat..."


Hanafi tampak terdiam sejenak menghentikan langkahnya, lalu berkalimat lagi.


"Lalu bagaimana dengan keadaan bayinya..apa dia baik-baik saja..."


"Saya sudah mengecek detak jantung janin nya tuan dia baik-baik saja...semua terlihat normal.."


"Hemm...telpon dokter Arya katakan tentang kondisi Salma sekarang...kita segera bawa dia ke rumah sakit...Apa Salma sudah tidur..."


"Baiik tuan...."


"Belum tuan..nona terus mengeluh sakit di kepalanya..."


Hanafi pun tak menjawab ia segera masuk kedalam kamar yang di tempati Salma.


Salma yang saat itu masih terjaga dan melihat ke arah pintu segera mengetahui kedatangan Hanafi. Salma terlihat tersenyum tipis.


Hanafi pun duduk di tepian tempat tidur tepat di samping Salma yang sedang tidur memiringkan tubuhnya.


"Kenapa belum tertidur selarut ini...apa kepalamu sakit sekali.."


"Aku tidak bisa tidur mas han...kepalaku rasanya sakit sekali..badan ku rasanya juga panas ...aku ingin mandi...tapi tidak di perbolehkan oleh perawat itu.."


jawab Salma dengan tatapan sendu kepada Hanafi.


"Perawat itu benar Salma tak baik mandi selarut ini...apa kau tak kasihan dengan bayi ini...nanti kalau dia kedinginan bagaimana.."


Hanafi mencoba mencairkan suasana, ia tak ingin terlihat terlalu khawatir yang berujung kepanikan.


"Tapi badanku rasanya panas sekali mas..."


"Tenanglah Salma...apa perlu aku tambahkan volume AC nya, biar sedikit lebih dingin lagi..."


Hanafi sudah mengambil remote AC yang ada di meja di sebelah tempat tidur itu, melihat Salma hanya mengangguk pelan Hanafi pun menekan remote itu.

__ADS_1


"Naah sudah...sebentar lagi akan terasa lebih dingin..."


Salma Hanya diam, dia sekarang menatap Hanafi lekat.


"Kenapa mas kesini malam-malam..apa Insha tau mas kesini..."


"Tidak Salma..Insha sedang tertidur pulas..tenang saja..."


Hanafi terdiam sejenak, memikirkan lagi kata-kata Salma dan mengingat lagi bahwa tadi Hanafi benar-benar memastikan bahwa Insha tertidur pulas. Hanafi berkalimat lagi.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya...biar dokter Arya dan dokter lainnya bisa memeriksa keadaanmu.."


Hanafi mencoba membujuk Salma untuk segera pergi ke rumah sakit.


"Tidak mas...aku tak mau..."


jawab Salma memelas


"Kenapa tidak mau Salma..mereka bisa memberikan obat untuk sakit kepalamu..."


Hanafi sekarang menatap Salma lekat.


"Aku tidak mau mas..."


jawab Salma lagi tegas, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit lagi.


"Lalu apa mau mu katakan....kenapa tambah sakit ya.."


Hanafi yang menyadari Salma memegang kepalanya , ia secara reflek juga mencoba memegang apa yang di pegang Salma.


"Bolehkan aku tidur di pelukanmu mas..."


Tatapan Salma kini memelas pada Hanafi.


Hanafi tampak terdiam sejenak, lalu segera mengangguk pelan.


Hanafi pun membaringkan tubuhnya di samping Salma yang sudah menggeser tubuhnya ke arah tengah tempat tidur.


Hanafi menempatkan kepala Salma perlahan di lengannya dengan posisi Salma yang masih miring menghadapnya.


Hanafi juga membelai lembut kepalanya mencoba memijitnya perlahan, untuk mengurangi rasa sakit yang di rasakan Salma.


Salma hanya mengangguk pelan, Hanafi kini meneruskan belaian dan pijatan lembut di kepala Salma. Pandangan Hanafi tampak lurus ke atas ke langit-langit kamar, ntah apa yang sedang ada di fikirannya.


"Mas han.."


"Hemmm..."


"Apa suatu saat nanti Insha akan memaafkan aku.."


"Pasti...pasti Salma...Insha adalah wanita baik...dia pasti akan memaafkanmu...dia hanya butuh waktu..."


jawab Hanafi spontan tanpa ragu.


"Apa mas Han mau menyampaikan maafku pada Insha..."


"Untuk apa...kau bisa menyampaikannya sendiri nanti setelah bayi ini terlahir.."


Hanafi tampak mengeryitkan dahinya terheran dengan kalimat Salma barusan.


"Aku takut jika nanti aku tak mampu meminta maaf padanya atas semua yang terjadi ini..bahkan dia sekarang enggan untuk melihatku.."


"Sudahlah Salma...Insha pasti akan memaafkanmu nanti..."


"Benarkah..."


"Hemm...tenang kan dirimu...jangan memikirkan sesuatu yang membuatmu sakit...tidurlah ini sudah larut..."


"Apa mas han akan menemaniku malam ini..."


"Ya...aku akan disini bersamamu..."


"Terimakasih mas...maafkan aku telah merepotkanmu..."


Salma kini menaruh tangannya di dada Hanafi yang tampak bidang itu.


"Tidak usah sungkan seperti itu...aku juga suamimu...apa sakit kepalamu sudah berkurang.."

__ADS_1


Salma tampak menyunggingkan senyum di bibirnya


"Iya mas...sudah jauh lebih baik.."


ntah kenapa aku merasakan sangat tentram dan nyaman berada di pelukanmu mas....rasa sakitku pun juga perlahan menghilang..


"Hemm..syukurlah....kalau begitu tidurlah Salma..."


Salma diam sejenak kemudian menghela nafas dalam.


"Apa salah jika aku juga mencintaimu mas..."


Hanafi tampak terkejut dengan kalimat itu, tangannya yang sedari tadi membelai Salma sejenak terdiam, lalu membelai lagi.


Hanafi tak memberikan jawaban, ia terdiam cukup lama.


aku tau mas...semua perasaan dan hatimu hanya milik Insha seorang...aku pun tak memintamu untuk mencintaiku juga...aku hanya ingin mengungkapkan perasaan ku...ntah kenapa hati ini selalu berdebar jika sedang dekat denganmu...dan perasaan tenang dan nyaman selalu datang saat kau ada disisiku....apa itu bisa di sebut dengan cinta...


suara hati Salma


Melihat reaksi Hanafi yang terdiam, Salma pun terdiam dan memejamkan mata, merasakan tiap belaian tangan Hanafi yang hangat pada rambutnya, juga rengkuhan tangan Hanafi yang melingkar di bahunya. Semua terasa tentram dan nyaman, tak dapat di pungkiri Salma menikmati saat-saat itu, ia merasa bahagia tidur dalam pelukan Hanafi.


Rasa sakit yang semakin menjadi di kepalanya pun sama sekali tak ia rasakan, ia malah menyunggingkan senyum di bibir tipisnya.


Kepalanya semakin lama semakin ringan terasa, deru nafasnya terdengar semakin lembut, hingga beberapa menit kemudian tangannya yang sedang memeluk dada Hanafi terasa melemas dan terkulai begitu saja.


Sementara Hanafi yang sedari tadi diam, dia pun membuka suara, dengan tatapan masih mengarah ke langit-langit kamar dan tangan yang terus membelai rambut Salma disana.


"Kau sama sekali tak salah Salma...bagaimana pun kau adalah istriku...kau ibu dari anakku...dan aku adalah suamimu..cinta pasti akan tumbuh seiring berjalannya waktu..itu juga pasti akan terjadi padaku suatu saat nanti..."


tak mendengar jawaban dari Salma cukup lama Hanafi mencoba berkalimat lagi.


"Apa kau sudah tidur Salma.."


tak mendengar jawaban lagi, Hanafi pun tersenyum.


"Hemm...rupanya sudah tidur ya...cepat sekali..."


guman Hanafi pelan takut-takut kalau Salma terganggu dengan suaranya dan bangun lagi.


Hanafi pun menghentikan tangannya, dia juga memejamkan mata ingin terlelap juga disana.


Baru sekitar 2 menit Hanafi memejamkan mata, tapi ia merasakan sesuatu yang aneh, Hanafi tak merasakan hembusan nafas dari Salma yang bahkan berada dekat di samping dadanya.


Hanafi segera memandang Salma lagi, memegang tangan yang berada di dadanya, tampak sangat lemas seperti kehilangan tenaga, wajahnya juga pucat tapi bibirnya sedikit terlihat tersenyum disana.


Hanafi sedikit panik, ia mencoba memegang hidung Salma mencoba merasakan deru nafasnya, tapi sama sekali ia tak bisa merasakannya.


Hanafi pun berteriak kepada perawat disana,


"Susterrr....ada apa dengan Salma.."


Mendengar teriakan yang mengagetkan itu perawat pun masuk lalu melihat keadaan Salma.


"Dia seperti tidak bernafas.."


Hanafi menambahkan lagi.


Perawat itu lalu mengecek nadi di tangan Salma, lalu beberapa detik kemudian ia membelalakan mata.


"Nadinya tidak ada tuan..."


Sementara pembantu disana, ia juga berlari ke kamar Salma, baru saja sampai tapi Hanafi sudah berteriak lagi.


"Suruh pak Tono menyiapkan mobil sekarang juga...cepaaaat..."


Pembantu itu pun langsung berlari menuju pos pak Tono dan pak Sardi yang masih terjaga, dan segera memberi tahukan titah dari tuan mudanya.


Di dalam kamar Hanafi segera menggendong Salma keluar dari rumah, bersama perawat yang setia mengekor di belakang nya.


Cukup lama menunggu mobil itu diputar untuk memasuki taman.


Hanafi berteriak lagi dengan lebih kencang dan histeris.


"Siaapkan mobil ...cepat.."


Dengan tergesa pak Tono segera memutar mobilnya, dan Hanafi pun segera membawa Salma masuk ke dalam mobil, dengan menggendong tubuhnya yang sudah tak bernyawa untuk segera pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2