2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Penuturan Prass


__ADS_3

Prass telah memarkirkan mobilnya di sebelah mobil Hanafi, ia turun sambil terus menatap Hanafi dengan tatapan yang sulit di artikan, ia juga melirik ke arah Khanza yang sedang asyik bermain, berputar-putar dengan gaun kecilnya.


Prass membukakan pintu mobil di sebelah kemudi, dari arah depan tampak seorang wanita disana. Hanafi yang melihatnya bergumam dalam hati.


kalian ingin pamer kemesraan padaku...sial...


gumam Hanafi kesal.


Hanafi tampak melirik ke arah seorang wanita yang di bukakan pintu oleh Prass, bahkan Prass terlihat mengulurkan tangannya untuk membantunya turun, Hanafi melihatnya dari arah bawah, ia memakai dress panjang yang bahkan menutupi kakinya.


sudah jelas itu Insha..Insha selalu memakai dress panjang...


Hanafi terus menelusuri wanita itu menuju ke arah atas dan betapa kagetnya Hanafi, jantungnya segera berdetak dengan sangat kencang, ia bahkan membelalakan matanya lebih bulat lagi saat melihat ke arah perut wanita itu yang membesar.


ii...in..Insha hamil...


gumam hati Hanafi tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Hatinya terasa sangat sakit, sebuah amarah dan cemburu pun membakar hatinya. Perasaannya pada Insha masih saja sama seperti dulu, hatinya masih tak rela melihat Insha dengan pria lain, apalagi mengetahui bahwa Insha tengah mengandung sekarang. Hal yang menjadi sebuah sumber dari segala masalah yang ada, kini tiba-tiba saja hal mustahil itu terjadi begitu saja.


Dan yang lebih menyakitkan lagi bahwa Insha hamil dengan suami barunya.


Airmatanya tiba-tiba saja ingin mengalir di pipinya, tapi dengan segera Hanafi bisa menahannya dan memalingkan wajah kepada Khanza yang ada di bawahnya.


Hanafi berusaha tak melihat ke arah wanita itu lagi, tapi tetap saja beberapa kali ia masih melirik ke arah perut wanita yang sedang berjalan ke arahnya. Ia sekarang memetik sebuah bunga kecil untuk Khanza mengajak Khanza berbicara apa saja untuk mengalihkan perhatiannya. Mengalihkan hatinya yang tengah sangat sedih, melihat semua kenyataan ini.


mungkin rasa ini juga yang Insha rasakan saat mengetahui kehamilan Salma....Maafkan aku Insha aku memang salah ...aku pantas mendapatkannya...


Hanafi mencoba tegar, ia menyembunyi semua rasa sedihnya di balik senyumannya pada Khanza, yang selalu memanggil-manggil nama "ayah" untuknya dan bertanya banyak hal yang ada di sekitarnya.


Suara langkah kaki kedua orang itu terdengar semakin mendekat. Hanafi masih tampak acuh tak ingin menyapa keduanya, ia masih sibuk menata hatinya untuk menerima semua kenyataannya.


Tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapa Khanza.


"Hay...gadis cantikk...bagus sekali gaunmu..."


Sapa wanita yang bersama Prass dengan suara lembutnya, namun Hanafi tampak mengeryitkan dahinya karna suara yang ia dengar tampak asing di telinganya.


"Kau sudah tumbuh besar Khanza..."


Terdengar suara Prass yang hampir bersamaan dengan suara sebelumnya.

__ADS_1


Hanafi seketika menoleh ke arah wanita itu, menatap lekat wajah wanita dengan perut buncit itu, Hanafi memeperlihatkan expresi terkejut sekaligus bertanya-tanya siapa wanita hamil yang di bawa Prass sekarang. Hanafi bahkan tak memperdulikan sapaan mereka barusan pada Khanza. Dan tak menghiraukan Khanza yang memeluk kakinya, takut-takut melihat orang asing yang sama sekali belum pernah ia temui.


Seakan tau arti tatapan Hanafi pada wanita di sebelahnya Prass pun membuka suara lagi.


"Han...jangan menatapnya seperti itu...."


Hanafi segera tersadar dengan perkataan Prass, ia pun mengalihkan pandangannya pada Khanza lagi, dan segera menggendongnya dalam pelukannya karna mendapati Khanza yang sedang ketakutan melihat ke arah dua orang yang ada di hadapannya.


Hanafi masih bingung dengan keadaan ini, bertanya-tanya dalam hati siapa wanita yang ada di samping Prass, dan kemana Insha kenapa Prass tak bersama dengannya. Prass malah membawa wanita hamil di sampingnya, bahkan tak segan menggandeng tangannya dengan erat.


Tak mendengar jawaban dari Hanafi, Prass segera berbicara lagi.


"Apa kabar Han....lama tak bertemu apa kau susah melupakanku..."


Mendengar itu Hanafi segera tersadar lagi dari kecamuk fikirannya, ia segera menjawab kalimat Prass.


"Ah tentu saja tidak....aku baik-baik saja...kau sendiri apa kabar..."


Hanafi menjawab dengan muka datar, dan saat itu juga Mirna mendekati Hanafi ia pun segera menyerahkan Khanza padanya. Mirna pun menggendong Khanza masuk ke dalam karna isyarat tangan Hanafi pada Mirna yang sudah sangat di mengerti.


"Aku baik han...sangat baik..."


Prass tersenyum lebar penuh makna, ia tampak menghela nafas dan segera berkata lagi sambil melingkarkan tangannya di bahu wanita itu.


Hanafi segera menoleh ke arah Prass dan wanita itu lagi, dengan tatapan penuh dengan pertanyaan.


"Istri....dia....Insha..apa maksudmu..."


ia bahkan berkata dengan terbata-bata.


Aisyah hanya mengangguk sopan pada Hanafi sambil tersenyum manis.


"Ya dia istriku....Insha...kau pasti bertanya-tanya tentang Insha bukan.,.itulah kenapa aku berada disini...ada hal penting yang akan aku bicarakan padamu..."


Hanafi masih bingung dengan semua yang ada di depannya, Karna tepat 7 bulan yang lalu Prass mengundangnya untuk datang pada pernikahannya dengan Insha.


Lalu siapa dia...jika dia istrinya bagaimana dengan Insha....dan dimana dia sekarang...apa dia baik-baik saja...


Segala kemungkinan pun muncul dalam fikiran Hanafi, ia menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi di antara Prass dan Insha, hingga prass bersama wanita ini, Aisyah yang di klaim sebagai istrinya, bahkan dia rupanya sedang mengandung.


Hanafi pun segera menyuruh keduanya untuk masuk. Dan mereka bertiga pun duduk dengan berhadapan di sofa ruang tamu dengan Prass duduk berdampingan dengan Aisyah di sampingnya.

__ADS_1


"Hal apa yang ingin kau bicarakan Prass...dimana Insha...bukankah kau..."


Prass langsung memotong kalimat Hanafi dengan cepat.


"Tidak han....aku tidak menikah dengan Insha..."


Sedikit terkejut Hanafi dengan pernyataan itu, tapi tak bisa di pungkiri hatinya langsung merasa lega sekaligus senang ketika mendengarnya.


"Lalu...."


jawab Hanafi dengan penasaran meminta penjelasan.


***


Ingatan Prass kembali di 3 bulan sebelum resepsi pernikahan itu, tepat pada sore hari saat Prass dan Insha makan, dan Prass menanyakan apakah Insha mau menikah dengannya.


Insha seketika terdiam ia bahkan tak mengunyah makanannya, ia menaruh sendok dan piring itu di atas lantai, menelan makanan yang masih ada di mulutnya lalu segera menatap Prass dengan lekat.


"Kak Prass...apa kak Prass serius.."


"Tentu saja Insha aku sangat serius...maukah kau menikah denganku..."


Prass menatap Insha dengan penuh harapan.


Insha menundukkan kepalanya terdiam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Jujur saja Insha merasa senang dan selalu nyaman ketika Prass ada di sampingnya, ia merasa terlindungi, ia juga selalu mendapat perhatian dari Prass. Tapi ntah mengapa ketika Prass memintanya untuk menikah dengannya ada sesuatu yang membuat hatinya ragu. Cukup lama Insha terdiam hingga Prass mengeluarkan kalimatnya lagi.


"Kenapa kau diam Insha...bukankah kau tinggal menjawab iya atau tidak...akupun tak memaksakanmu untuk menerimaku...."


Dan Insha masih diam, Insha tak dapat berkata-kata ia hanya tersenyum di depan Prass, hati, mulut dan fikirannya mengatakan sesuatu yang berbeda. Insha tak tau gejolak apa yang muncul saat ini dalam hatinya. Insha bahkan masih membawa trauma dari rumah tangga yang sebelumnya, karna tak mudah melupakannya begitu saja. Insha juga takut semua itu terulang kembali, meski Prass sudah tau semua kekurangannya tapi Insha takut suatu saat nanti Prass menuntut dirinya untuk memiliki seorang anak dan itu tentu tak bisa di lakukan oleh Insha.


"Jika kau hanya diam seperti itu....aku anggap diammu sebagai jawaban iya...."


kata Prass sambil tersenyum lebar.


Setelah melihat Insha yang masih terdiam dan tersenyum untuk beberapa saat Prass pun beranjak dari sana sambil tersenyum lebar, ia menganggap Insha mengatakan jawaban "iya" padanya karna diamnya Insha.


Sementara Insha yang sedikit melamun memikirkan apa kata hati dan fikirannya. tak menyadari kepergian Prass darisana, baru saja ia ingin berkalimat tapi Prass sudah menghilang dari pandangan.


oh astaga kemana kak Prass pergi...sejak kapan ia tak berada disini...


Sementara itu Prass pulang ke rumah ayah dan ibunya, ia menuturkan bahwa Insha mau menikah dengannya. Tentu ayah dan ibu Prass sangat senang dengan berita yang di bawa Prass itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2