
Dengan mengemudikan mobil dengan kencang, Insha pun sampai di gedung graha. Benar saja Insha melihat Prass yang tengah bersandar santai di samping mobilnya, sesekali juga terdengar ia bersiul-siul merdu.
Insha segera turun dan menghampiri Prass.
"Kak Prass kenapa kau disini...jangan melakukan hal yang gila..."
Prass pun terkejut karna Insha tiba-tiba saja ada di hadapannya, ia tak menyadari bahwa mobil Insha lewat. Karna di gedung itu juga sangat ramai sekarang, ada acara resepsi orang lain yang di gelar disana.
"I..insha..kenapa kau disini..."
"Tentu saja mau menggagalkan aksi gilamu itu kak..."
"Siapa yang memberitahumu aku ada disini..."
Prass masih menatap Insha dengan wajah terkejut.
"Tentu saja Aisyah siapa lagi..."
Prass hanya menapuk dahinya sambil bergumam lirih.
"Astaga...istri polosku...kenapa kau bilang padanya..."
"Ayo kita pulang...jangan coba membuat hal-hal gila aku mohon.."
"Aku tak gila Insha..bukankah memang benar kau masih mencintai Hanafi kan...aku hanya ingin kalian berdamai...syukur-syukur jika kalian mau rujuk kembali...itu lebih baik Insha.."
"Aku tak pernah mengatakan apapun tentang perasaanku untuk Hanafi kak...jangan mengada-ada...ayo pulang .."
"Kau memang tak pernah mengatakannya...tapi semua sikapmu sudah bisa menunjukkannya...dan kau tak bisa berbohong lagi Insha...hatimu hanya untuk Hanafi...meski kau belum benar-benar merasakan kembali cinta itu...tanyakanlah pada hati kecilmu..."
Insha terdiam sesaat, lalu segera berkata lagi.
"Percuma kak...dia tak akan datang apalagi karna undangan itu...dia mengira kita menikah...."
"Yakinlah ia akan datang Insha...kalau dia benar-benar mencintaimu dia akan melihat kau bahagia setidaknya untuk terakhir kalinya...meski semua ini palsu..."
Insha mengibaskan tangannya di udara,
"Sudahlah kak...aku tak mau melakukan hal yang sia-sia seperti ini...jika memang dia masih menyimpan perasaan untukku...dia akan menemuiku bukan...bahkan mungkin sebelum pernikahan itu untuk mencegahnya...tapi apa dia tak pernah muncul di hadapanku...atau setidaknya mencariku dalam beberapa bulan ini..."
"Sulit Insha untuk mencarimu apalagi kau berada di pondok pesantren...area yang di fikir Hanafi tak mungkin kau datangi apalagi kau tinggali...kau tersembunyi selama ini...dia tak dapat menemukanmu...karna jujur akulah yang selalu mempersulitnya..."
"Mempersulit maksudnya..?"
"Ya...banyak pengawal Hanafi yang datang dan menanyakan keberadaanmu tapi aku tak pernah memberitahu mereka...karna aku yang sempat ingin memilikimu...tapi Tuhan berkata lain....jadi sekarang ijinkan aku untuk mempersatukan kalian lagi...."
"Sudahlah kak...aku tak pernah mempermasalahkan soal itu....jadi tak perlu kau lakukan ini semua..."
"Untuk kali ini saja In...aku berjanji jika kali ini han tak datang maka aku juga tak akan ikut campur dalam hubungan kalian lagi...."
"Hemm....benar...berjanji..."
__ADS_1
"Ya aku berjanji...."
Mereka saling manautkan jari kelingking mereka dengan wajah penuh senyuman.
Sampai jam resepsi di undangan palsu yang sudah di tentukan itu habis Hanafi tak kunjung datang, dan hari pun mulai gelap. Prass dan Insha pun sudah kelihatan lelah berbincang-bincang serta berdiri disana berjam-jam.
"Sudah aku bilang dia tak akan datang kak...ini semua sia-sia...."
Insha berkata dengan nada yang kesal.
"Maafkan aku In...aku kira..."
Kalimatnya langsung di potong oleh Insha dengan cepat.
"Sudahlah..ayo kita pulang....setelah ini jangan lakukan hal gila seperti ini lagi...dan jangan pernah mencoba menghubungi han lagi dengan alasan apapun...dan itu juga yang akan aku lakukan...mulai sekarang kak Prass jangan pernah memikirkan aku lagi...fokuslah pada Aisyah... dia istrimu...bahagiakan dia....aku akan mencari bahagiaku sendiri suatu saat nanti..."
Prass pun tak bisa berkata-kata lagi, Ia hanya menatap Insha pergi dari pandangannya.
Dan tanpa di ketahui oleh Prass Insha berjalan menuju mobil sambil menitikkan air mata, memang benar kata Prass masih ada sedikit perasaan Insha di hati kecilnya untuk Hanafi yang tak pernah ia rasakan, perasaan itulah yang membuat hatinya terasa sakit saat ini. Ia mengira bahwa Hanafi sudah tak mencintainya lagi. Untuk itu Insha mulai saat itu memutuskan untuk tak lagi memikirkan semua tentang Hanafi dan kehidupannya, ia akan mencari kebahagiaannya sendiri, dalam pekerjaannya saat ini atau pun pada seorang pria lain yang mendapat cintanya nanti.
******
"Itulah Han yang sebenarnya terjadi selama ini..Aisyah adalah istriku...dia bahkan sedang mengandung anakku..."
"Benar tuan Hanafi...Insha adalah wanita yang sangat baik...dia sering membantuku dalam hal apapun...hatinya sangat bersih dan selalu tulus..."
"Ya han...dia selalu membantu Aisyah dari berbagai kesulitannya mulai saat awal hamil sampai kehamilannya yang kini sudah memasuki usia 5 bulan....Insha juga yang sering membawanya ke dokter...saat aku sedang sibuk mengurus pondok pesantren...."
Setelah Prass menikah ia memang menjadi lebih patuh pada orangtuanya, ia kini memimpin pondok pesantren di dampingi oleh Aisyah tentunya, yang selalu menyemangati Prass dalam berbagai hal.
Mendengar semua penuturan dari Prass, Hanafi merasa lega, bahkan ia merasa senang ternyata Insha masih memiliki sedikit perasaan padanya. Dan Hanafi pun memiliki tekad kembali untuk menumbuhkan rasa itu.
Melihat reaksi Hanafi yang tampak senang dengan semua ceritanya, Prass segera berkata lagi.
"Tapi han..aku kesini karna Insha..."
"Insha kenapa Prass..."
tanya Hanafi dengan raut wajah khawatirnya.
Aisyah pun yang menjawab perkataan Hanafi.
"Insha tadi pagi datang ke rumah dan dia bilang bahwa dia akan pergi dari negara ini..."
"Ya...ketika aku bertanya tujuannya dia hanya berkata...Kemana pun aku akan mencari kehidupanku..."
Prass menambahkan.
Ingatannya kembali saat tadi pagi, saat Prass dan Aisyah menemui Insha dengan dandanan yang cukup modis,elegan dan cantik.
****
__ADS_1
"Memangnya kau akan pergi kemana Insha..."
"Kemana pun...aku akan mencari kehidupanku sendiri..."
"Maksudmu...lalu bagaimana dengan usahamu disini....aku bahkan sudah tak bisa mengurusnya..karna aku sibuk dengan urusan pondok pesantren sekarang...aku telah menyerahkan semua padamu...tapi kenapa kau malah pergi..."
"Aku akan kendalikan usaha ini dari sana kak...banyak orang kepercayaan ku disini...dan mungkin aku akan membuka usaha yang serupa disana.."
"Disana..dimana In..kau mau kemana.."
"Aku akan pergi ke negara X ...aku akan jalani hidup baruku disana..."
"Apaa....kenapa jauh sekali...bukankah disini kau sudah cukup mapan In...kenapa kau harus pergi begitu jauh..jika hanya untuk membuka usaha lagi...."
"Ntah lah kak...aku ingin suasana baru..."
"Tapi kau tak memiliki siapa pun disana In...kau akan kesepian...bagaimana jika ada yang berniat jahat padamu..."
"Disini pun aku tak memiliki siapa-siapa kak...tenang saja aku bisa menjaga diri..."
Prass trus membujuk Insha agar tak pergi, tapi Insha tetap bersikeras untuk pergi dan ingin menjalani kehidupan barunya di negara lain.
Akhirnya Prass pun membiarkan Insha pergi, selepas kepergian Insha ia pun tak bisa tinggal diam, begitu Insha hilang dari pandangan, Prass mengajak Aisyah untuk berkunjung ke rumah utama milik Hanafi untuk memberitahukan tentang Insha, dan menyuruh Hanafi untuk mencegahnya pergi. Prass tak ingin Insha hidup sendiri di negara orang, meski kini ia sudah memiliki banyak uang, tapi Prass masih takut kalau Insha kenapa-kenapa disana.
Prass pun tak peduli lagi dengan janjinya pada Insha, Prass juga ingin Insha mendapatkan cintanya kembali dan bahagia bersama Hanafi.
****
"Maksudmu Insha akan pergi dari sini..."
"Ya Insha sudah pergi han...dia akan lepas landas tepat jam 8 nanti...."
"Jam 8...sekarang sudah jam 7 Prass kenapa kau baru mengatakannya...jarak bandara jauh darisini...butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai disana...."
"Maafkan aku han...tapi jika aku tak mengatakan semuanya kau akan salah sangka nanti....saranku sekarang segera berangkat ke bandara untuk mencegah Insha pergi...karna aku tak tau tempat tinggalnya disana han..dia tak mau memberitahunya....aku takut terjadi sesuatu padanya...aku juga tak tau akan kah dia kembali..."
Mendengar penuturan Prass, Hati kecil Hanafi serasa menciut, tanpa berfikir panjang lagi ia segera bergegas pergi, bahkan meninggalkan Prass yang masih duduk di ruang tamunya.
Hanafi segera berlari ke mobilnya, sebelum ia sampai di mobil Hanafi menoleh ke arah Prass dan Aisyah yang telah berdiri di depan pintu.
"Terimakasih..."
Sedikit berteriak Sambil menatap Prass dengan penuh arti.
Aisyah hanya tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya, sementara Prass juga berteriak pada Hanafi.
"Semoga berhasil han..."
Prass berkata sambil melingkarkan tangan di bahu Aisyah, sementara tangan satunya melambaikan tangan pada Hanafi.
Hanafi pun malajukan mobilnya dengan cukup kencang, berharap Insha belum lepas landas ketika dia sampai di bandara. Hatinya merasa senang karna Insha teryata tak menikah dengan Prass, Insha juga memiliki sedikit perasaan padanya. Tapi Hanafi juga sedih kalau-kalau dia tak bisa mencegah Insha untuk pergi, dan harus rela kehilangan Insha untuk kesekian kali.
__ADS_1
Bersambung...