2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Cinta yang hilang


__ADS_3

Setelah pemakaman itu Prass mengantarkan Insha pulang ke rumah utama dengan mobilnya, bahkan sebelum acara pemakaman itu selesai di laksanakan.


Insha sudah tak sanggup lagi melihatnya, merasakan amarah dan kesedihan dalam satu waktu membuat tubuhnya semakin melemah.


"Kak Prass...jangan tinggalkan aku lagi.."


Insha berkata dengan tatapan memelas pada Prass.


"Aku tak berdaya Insha....aku bukan siapa-siapa disini...aku juga tak berhak atasmu...karna kau adalah istri Hanafi.."


Prass memegangi tangan Insha yang sedang terbaring di sofa ruang tamu di rumah utama.


"Setidaknya jangan pergi dari hidupku kak...aku tak punya siapa pun sekarang..."


"Kau masih punya suamimu Insha...Hanafi akan selalu ada untukmu...dia sangat mencintaimu...kau punya bayi kecil itu yang akan menghibur hari-harimu nanti.."


Insha hanya menatap Prass, menggelengkan kepalanya dan perlahan terisak lagi.


"Tidurlah...istirahatkan tubuhmu..."


Prass membelai pipi Insha lembut beberapa kali sambil memandangi wajahnya lekat-lekat.


kau wanita yang begitu sempurna Insha...tapi entah kenapa takdir hidup tak memberikan kehidupan yang sempurna juga untukmu...Hanafi sangat beruntung memilikimu...tapi dia terlalu bodoh memperlakukan kekuranganmu...


Prass terus saja memandangi Insha disana dengan tatapan kagum, ntah kenapa perasaannya seakan kembali tumbuh disana. Ia tak ingin melihat Insha tersiksa dalam menjalani hidupnya.


Aku tau Salma dan Hanafi telah sangat menyakitimu...cara mereka salah...aku pun tak faham kenapa mereka melakukan itu padamu...dan padaku...aku pun sangat terluka saat itu...lalu apa kabar dengan hatimu yang setiap hari melihatnya...meskipun aku tau semua alasan di balik semua yang mereka lakukan....hatiku tetap saja perih ketika mengingatnya...


kau adalah wanita yang kuat Insha...kau wanita yang tegar...aku kagum padamu...aku pun tak tau bisakah aku hidup dalam kehidupan yang selama ini kau jalani...


hatiku pun tak dapat berbohong lagi...aku mulai mencintaimu sejak saat itu...saat kau muncul bagai bidadari dengan segala perubahan mu..saat kau menangis di hadapanku...


Tapi siapa aku...rasanya aku harus mengihklaskan lagi wanita yang aku cintai untuk hidup bahagia dengan pilihannya...Hanafi adalah cintamu...Hanafi adalah hidupmu...seperti Salma yang lebih memilihnya dari pada aku yang juga sangat mencintainya...dia lebih memilih mengandung anaknya dari pada mengandung anakku yang bahkan rela melakukan apapun untuknya...


Tapi cintaku padanya pun telah pergi bersamanya sekarang..bagaimana pun aku harus terus menjalani hidupku dengan hati yang sudah terluka ini..


Cukup lama Prass memandang Insha, hingga ia tersadar Insha telah terlelap disana. Prass pun meminta sebuah selimut pada salah satu pembantu disana yang di temuinya.


Prass menyelimuti Insha dengan hati-hati, tepat pada saat itu Hanafi telah tiba dari acara pemakaman ia melihat Prass yang menyelimuti Insha disana. Hanafi berdiri di ambang pintu melihat semua kejadian itu.


Prass yang menyadari kedatangan Hanafi ia segera beranjak darisana dan menghampiri Hanafi di ambang pintu.


"Dia baru saja terlelap...biarkan tubuhnya beristirahat...dia sangat lemah sekarang..."

__ADS_1


Prass menepuk-nepuk bahu Hanafi di depannya.


"Terimakasih kau telah membawanya pulang..hemm..aku akan merawatnya.."


Hanafi mengangguk faham, lalu Prass pun berlalu pergi dari sana, sebelum pergi dia menatap wajah Insha lagi dengan tatapan nanarnya.


Hendak pergi tapi Prass kembali lagi dan menghampiri Hanafi yang masih memandangnya menjauh.


"Han...apa bayi itu selamat..."


"Ya dia selamat...kenapa..."


tanya Hanafi heran, kenapa tiba-tiba Prass menanyakan tentang bayi itu.


"Tak apa....aku hanya memastikan perjuangan Salma tak sia-sia selama ini..."


"Tenang saja dia selamat dia berada di tempat yang aman..."


"Memangnya dimana dia sekarang..."


"Dia masih berada di rumah sakit Prass...kondisinya masih belum cukup umur untuk di lahirkan....dia di tempatkan di sebuah inkubator untuk membuatnya tetap hangat....setelah dia kuat dan di nyatakan dapat bertahan nanti, aku akan membawanya pulang..."


Jawab Hanafi dengan sedikit tersenyum menyembunyikan kesedihannya.


"Tentu saja aku akan pastikan dia baik-baik saja tumbuh dan berkembang disisiku..."


jawab Hanafi dengan tegas.


"Baiklah aku pergi dulu....sampaikan salam ku pada Insha...rawatlah dia juga dengan sepenuh hatimu han...dia wanita yang baik...jangan melihat kekurangannya....karna masih banyak kelebihan di dalam dirinya..jagalah dia dengan baik..jangan lagi menyakitinya...atau jika kau tak mampu aku pun siap menggantikan posisimu..."


jawab Prass dengan seringai tipisnya.


Hanafi hanya mendengus kesal, lalu membiarkan Prass pergi dari pandangannya,hatinya kesal tapi tak mau meladeni Prass yang jelas-jelas ingin membakar amarahnya lagi.


Hanafi pun masuk ke dalam rumah, hatinya masih di selimuti oleh duka. Ia melihat Insha yang terbaring lelap disana, Ia pun menghampirinya.


Mengelus kepala itu lembut dan mengecup kening Insha dengan lembut pula.


Ia bisa mengecup kening mulus itu lagi setelah sekian lama, Hanafi memandang wajah cantik itu lagi dengan lekat.


"Maafkan aku Insha ....maafkan Salma...dia bahkan belum sempat mengucapkan kata maaf itu padamu....dia ingin kau memaafkannya...memaafkan semua kesalahannya...dan tentu saja juga menerima bayi itu sebagai anakmu juga..."


Hanafi bicara dengan sedikit air mata yang berlinang di pipinya.

__ADS_1


Tanpa disangka Insha ternyata sudah terbangun, masih dengan mata terpejam bibirnya berkata perlahan.


"Aku sudah memaafkan kesalahannya han...."


Hanafi terkaget dengan perkataan Insha,


"Kau sudah bangun..."


ntah kenapa kecupan Hanafi di kening Insha tadi membangunkannya, jika dulu sebuah kecupan mengantarkan ia untuk langsung terlelap dan tidur, sekarang sebaliknya Insha bisa seketika terbangun meski Hanafi melakukannya dengan lembut dan perlahan.


"Sudah..."


jawab Insha sambil berusaha bangun dari posisi berbaringnya.


Tangan Hanafi sudah mengulur pada Insha ingin membantunya tapi Insha membiarkan begitu saja tangan itu, dan memilih untuk berusaha sendiri meski tubuhnya terasa lemah.


"Aku akan mengantarmu ke kamar In..."


Hanafi sudah berdiri Ingin membopong Insha menuju ke kamarnya.


"Sudahlah Han aku bisa melakukannya sendiri...aku tak perlu bantuan siapapun..."


Jawab Insha dengan menepis tangan Hanafi pelan.


Hanafi pun hanya bisa melihat Insha pergi ke kamarnya perlahan, ia hanya memastikan Insha dari kejauhan bahwa Insha baik-baik saja.


Insha sudah terlihat menaiki tangga terakhir, kini Hanafi duduk di sofa panjang itu, tertunduk dan menitikkan air mata lagi.


"Kau telah mengetahui semua kebenaran ini Insha....tapi kenapa kau masih saja tak merubah sikapmu padaku..."


"Kau bahkan sudah memaafkan Salma untuk ini....tapi apa kau tak memaafkanku Insha.."


gumam Hanafi pelan.


Tapi ternyata Insha masih berada disana di atas tangga, ia mendengarkan gumaman Hanafi dalam isaknya.


Insha menoleh sekilas, lalu berjalan lagi menuju kamarnya.


aku juga sudah memaafkan semua kesalahan dan kebohonganmu han...aku pun sudah ihklas dengan semua kondisiku...tapi cinta han....cinta yang telah hilang dari tempatnya..membuatku enggan untuk merajut kembali apa yang sudah berubah selama ini...bahkan mungkin aku tak akaan sanggup hidup bersamamu lagi...


gumam Insha dalam hati.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2