
Bersamaan dengan itu teryata ada seorang yang dari tadi mengawasi mereka berdua dari sudut cafe itu.
Dia tak mendengar semua percakapan Prass dan Insha, tapi ia melihat semua gerak-gerik mereka berdua. Dan dia adalah seorang pengawal khusus yang di tugaskan mengawasi Insha kemanapun ia pergi.
Ia selalu melaporkan kepada Hanafi setiap hal yang di lakukan Insha ketika di luar rumah. Hanafi sengaja menyuruh pengawal itu untuk selalu mengikuti Insha, karna ia takut terjadi sesuatu padanya, juga takut kalau Insha pergi lagi dari sisinya, mengingat kembali gps yang ada di mobilnya sudah di lepas atas permintaan Insha.
Hanafi pun tak kehilangan akal, mulai saat itu dia menugaskan seorang untuk selalu mengikuti Insha kemana pun ia pergi.
Tangan pengawal itu terlihat gemetar, ingin memberikan laporan pada Hanafi, jika Insha kini berada di sebuah kafe bersama seorang lelaki yang sangat tampan, mereka juga terlihat menggenggam tangan erat tadi, ia juga melihat Insha menangis disana. Tak dapat di tahan lagi pesan itu pun terkirim bersama sebuah foto yang memperlihatkan mereka berdua duduk berhadapan dan saling menatap . Ia tak lupa juga mengirimkan lokasi mereka berada sekarang.
**
Drrrt...drrt..
ponsel Hanafi bergetar.
Hanafi pun segera melihatnya, ia kini tengah berada di ruang rapat yang masih berlangsung.Hanafi melihat layar ponselnya sebuah pesan dari pengawal khusus Insha.
Ia pun segera membukanya, ingin tau apa yang sedang Insha lakukan hari ini di luar sana.
Ketika membuka pesan itu seketika wajahnya terlihat sangat marah, tak butuh waktu lama ia segera berdiri dari kursinya.
"Lanjutkan rapat ini...kirim hasilnya padaku nanti..."
Hanafi menatap Reno dan Lina bergantian dengan wajah penuh emosi.
Dua orang yang mendapat titah itu pun hanya kebingungan menatap satu sama lain, tadi tuan mudanya itu terlihat bersemangat tapi beberapa saat tiba-tiba saja terlihat marah dan pergi begitu saja.
Hanafi segera melaju kencang dengan mobilnya, menyibak jalanan siang yang cukup padat, menuju kafe cokelat tempat Insha dan Prass berada sekarang.
Hanafi pun tiba disana ia memarkirkan mobilnya, dan melihat benar memang mobil Insha berada disana.
Ia segera berjalan menuju lantai atas cafe cokelat itu mengedarkan pandangan mencari sosok istrinya disana. Terlihat dengan jelas Insha sedang terisak disana, di hadapannya ada seorang lelaki yang menggenggam tangan Insha erat dan coba menenangkannya.
Hanafi dengan wajah bersungut menghampiri mereka, terdengar sayup-sayup lelaki itu berkata.
"Tatap aku Insha...jangan bersedih masih ada aku disini.."
terlihat Prass memegang dagu Insha lembut dan mengangkatnya perlahan untuk menatapnya.
**
Prass mencoba menahan amarahnya, setelah mengetahui bahwa Salma kini tengah mengandung anak dari suami Insha.
Prass melihat Insha terisak lagi, hatinya seakan teriris mengingat Insha memang seorang yang paling tersakiti disini selain dirinya.
Ia mencoba menggenggam erat tangan Insha, dan meraih dagunya lembut mengangkatnya perlahan dan menatapnya.
"Tatap aku Insha...jangan bersedih masih ada aku disini.."
Ingin mencoba menenangkan Insha lagi dengan kalimatnya.
Tiba-tiba tangan Prass di tepis kasar oleh seorang lelaki disana. Seketika itu juga Prass menatap lelaki itu dengan kebingungan.
Sementara Insha terkesiap mendapati Hanafi yang sedang ada di sampingnya.
"Han...sedang apa kau disini.."
__ADS_1
"Seharusnya aku yang bertanya sedang apa kau disini dengan seorang lelaki..."
Hanafi menatap tajam Insha dengan penuh amarah.
Prass yang mendengar percakapan mereka pun tersadar bahwa lelaki di sampingnya sekarang adalah Hanafi suami Insha sekaligus suami kekasihnya Salma.
Tak dapat lagi di tahan, emosinya kembali membara saat melihat lelaki yang sudah merenggut kebahagiaannya telah ada di hadapannya, apalagi melihat Hanafi yang menahan tajam Insha yang sedang terisak seakan hatinya tak terima.
Prass pun berdiri dan langsung memberikan sebuah pukulan keras di kepala Hanafi, jiwa liarnya kembali bangkit, ia kini tak peduli lagi dengan sekitar, reputasi atau apapun yang menyangkut dirinya dan keluarganya.
Yang ada di fikirannya sekarang hanya ingin menghajar Hanafi sampai puas, sampai ia meminta ampun padanya.
Hanafi pun yang mendapatkan pukulan itu cukup terkaget, hatinya yang sedang di penuhi rasa cemburu dan amarah pun segera mendorong tangannya untuk melayangkan pukulan juga pada wajah Prass.
Perkelahian pun tak dapat di hindarkan mereka saling pukul dan kadang juga terlihat memaki dalam perkelahiannya.
Insha di buat berteriak-teriak disana ia tak dapat melerai keduanya dan mereka berdua juga tak menghiraukan Insha.
Beberapa pengunjung yang ada di lantai tersebut seketika juga menghilang takut akan keributan yang terjadi di sana.
Prass yang pada dasarnya memang mempunyai jiwa yang liar dan pernah terjerumus dalam dunia yang gelap dia dapat mengusai keadaan hingga membuat Hanafi tersungkur disana.
Dengan hidung berdarah-darah yang tercecer di lantai.
Sejak Hanafi datang pengawal di ruangan itu sudah menelpon pengawal yang lain. Ia juga berusaha melerai keduanya saat berkelahi, Hanafi tak memperbolehkannya ikut campur dalam perkelahian itu dia selalu berteriak pada pengawal itu untuk mundur.
Tapi saat Hanafi sudah kalah telak dan tersungkur di lantai, ia baru memberikan isyarat untuk menghajar habis Prass disana.
Bersamaan dengan itu banyak pengawal yang berdatangan, mengamankan cafe itu agar tak ada yang mengetahui kejadian di lantai atas, juga menghentikan perkelahian yang masih terjadi antara Prass dan pengawal tadi.
Hanafi menarik tangan Insha untuk mengikutinya keluar dari kafe itu.
"Tolong aku kak...aku tak mau kembali padanya.."
Prass pun berusaha untuk menarik tangan Insha tapi tak bisa karna tangannya di genggam erat oleh pengawal disana.
"Percayalah aku akan menolongmu dari lelaki jahanam itu.."
Prass masih saja menatap Hanafi dengan tajam.
Hanafi pun tak bergeming ia menarik lengan Insha yang masih terisak disana, Insha hanya mengikutinya dengan langkah yang tergesa-gesa.
Dan mulai sore itu Hanafi menyita mobil Insha, dia tak memperbolehkan Insha keluar lagi dari rumah tanpa seorang pengawal.
**
Pagi pun menjelang hari ini Hanafi tak pergi ke kantor badannya terasa sakit dan ada sedikit memar di beberapa bagian tubuhnya akibat perkelahian kemarin. Sejak pagi hari ia sudah berada di ruang kerjanya, biasanya dia baru akan keluar di siang hari mengurusi berbagai pekerjaannya dari sebuah layar komputer disana.
Insha sendiri setelah sarapan selesai dia hanya berdiam diri di kamar, semalaman ia kembali terisak karna kejadian yang menimpanya siang itu di cafe cokelat.
Tokk...tokk..tokk..
suara ketukan pintu.
" Masuk..."
jawab Insha ringan.
__ADS_1
Mbak Fatimah pun masuk dia memberi tahukan ada seorang pria di luar gerbang yang mencari Insha.
"Non...ada seorang lelaki yang sedang mencari nona..."
"Siapa mbak..."
Insha memandang heran pada Fatimah.
'
"Dia bilang namanya Prass apa nona mengenalnya..."
Insha pun terkesiap mendengar nama Prass.
"Apa dia sudah gila...kenapa datang kemari...darimana dia tau rumah ini..."
Insha bergumam yang masih dapat di dengar jelas oleh Fatimah.
"Dimana dia mbak.."
"Di luar gerbang non...pak Sardi tidak memperbolehkannya masuk.."
"Baiklah..terimakasih mbak.."
Insha dengan tergesa segera berlari turun menuju gerbang, meninggalkan Fatimah yang bahkan belum keluar dari kamarnya.
Insha pun sudah berada di gerbang, pak Sardi pun membukakan gerbang itu.
Insha melihat sosok Prass yang ada di sana sedang berdiri tersenyum padanya dengan wajah yang sedikit terdapat memar.
"Kenapa kakak datang kesini...kakak sudah gila ya...bagaimana kalau Hanafi tau...dan dari mana kakak tau rumahku.."
Insha sedikit berbisik pada Prass agar tak di dengar pak Sardi disana.
"Aku mengikuti pengawal suamimu kemarin...dan mereka menuju kemari...jadi sekarang aku berada disini..."
"Apa kau sama sekali tak mempunyai rasa takut kak..."
"Sudahlah ayo...ikut bersamaku..aku akan membawamu lari dari pria jahanam itu..."
"Kau sudah gila....kita tak akan bisa lari darinya...kau tak melihat kak sebanyak apa kemarin pengawalnya...akan sulit lari darinya..."
Insha semakin di buat geram dengan tingkah Prass disana.
Prass ingin berkalimat tapi seketika ia terdiam melihat sekelebat sosok dari kejauhan yang ia yakini sebagai Salma.
"Apa Salma juga berada disini Insha..."
Hatinya yang sangat rindu pada Salma tak dapat di sembunyikan, ia ingin sekali bertemu Salma meski tau bagaimana keadaan Salma sekarang.
"Hemm..dia berada disini...kenapa.."
"Aku ingin menemuinya sebentar saja..."
Insha seketika terbelalak karna permintaan Prass yang sangat mustahil, mengingat Hanafi sekarang sedang berada di rumah
Bersambung...
__ADS_1