2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
sakit


__ADS_3

Hari-hari pun Insha lewati dengan adanya Khanza yang selalu ada di sampingnya.


Dengan banyaknya kegiatan dan pekerjaan yang harus Insha jalani setiap hari, di tambah lagi ia harus mengasuh Khanza, membuatnya selalu kelelahan setiap hari.


Banyak pekerjaan Insha yang tertunda karna ini, dan banyak jadwal yang bahkan ia lupakan karna terlalu sibuk dengan Khanza.


Setiap Hanafi pulang bekerja ia selalu melihat Insha yang sudah tertidur di samping Khanza. Kadang karna lelahnya Insha sampai tertidur di lantai hanya beralaskan carpet.


Kamarnya pun menjadi sangat berantakan karna adanya mainan Khanza yang berserakan dimana-mana. Hanafi sudah mencoba menyewa jasa baby sister lagi, tapi Khanza tidak mau diasuh olehnya, ia malah menangis dan tak mau berpisah dengan Insha atau pun Hanafi.


Ini sudah hari ke 5 Insha mengasuh Khanza bersamanya. Insha yang tak pernah berpengalaman dalam mengasuh seorang anak, apalagi anak yang sangat aktif seperti Khanza di buat kewalahan dan sangat kelelahan karnanya.


Pagi itu Insha mendapatkan pesan dari dokter Arya bahwa Mirna telah sembuh dan dapat berjalan normal lagi. Bengkak di kakinya pun telah sembuh dan semua kembali normal seperti sedia kala.


Mirna bahkan sudah di bawa pulang ke rumah utama. Insha tak langsung mengantar Khanza kesana, ia memberikan 1 hari lagi untuk Mirna beristirahat dan akan mengantarkan Khanza besok pada Mirna.


Itu juga karna hari ini Insha sedang libur dari semua jadwalnya, ini bukan akhir pekan tapi Insha sudah menyelesaikan semua pekerjaannya. Beberapa malam ia lembur, berkutat dengan laptopnya mengurus berbagai pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan.


Setelah 5 hari Insha dan Khanza selalu keluar rumah, karna pekerjaan Insha yang memang banyak di lakukan di dalam pabrik, Hari ini Insha ingin menemani Khanza di rumah, bermain di rumah, sebelum esok hari Khanza kembali ke rumah utama lagi.


Pagi-pagi sekali Hanafi sudah berangkat ke kantornya, ia menuturkan akan menyelesaikan pekerjaannya lebih awal dan pulang lebih awal untuk menemani Insha dan Khanza di rumah. Untuk itu ia segera berangkat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.


Siang itu Insha duduk di bangku di halaman rumahnya, di depannya terdapat air mancur besar dan juga berbagai bunga yang sudah di tata rapi mengelilingi air mancur itu. Menambah kesan segar dan sejuk pemandangan rumah besar Insha.


Insha duduk sambil meminum susu hangat di gelasnya, Insha memandangi Khanza yang berlarian di halaman rumahnya sambil sesekali memetik beberapa bunga yang ada di sekeliling air mancur, memainkannya, kadang juga menabur-nabur kelopak bunga di jalanan yang ia lewati.


Semalam Insha meminum beberapa vitamin sebelum tidur karna tubuhnya terasa sangat lelah beberapa hari belakangan ini, ia tak mau jatuh sakit karna itu. Semalam kepalanya terasa pusing, badannya terasa pegal-pegal, betisnya terasa sakit saat berjalan karna terlalu sering berlari-lari mengejar dan bermain dengan Khanza, perutnya kadang terasa perih karna terlalu sering telat makan. Tubuhnya menunjukkan aksi protes karna aktivitas yang terlalu berlebihan yang akhir-akhir ini di jalani Insha, belum lagi dengan semua pekerjaannya.


Insha sekarang malah merasakan badannya mengalami demam, tapi karna Khanza ia harus mengesampingkan semuanya dan malah memberi Mirna 1 hari lagi kesempatan untuk beristirahat.


Hanafi tak tau dengan semua yang di rasakan Insha, karna Insha tak mengatakannya dan selalu bilang bahwa ia senang dengan semua aktivitasnya.


Setelah puas bermain di halaman rumah, Khanza mengajak Insha untuk bermain di dalam kamar, bermain barbie kesukaannya. Insha pun menurutinya dan menemani Khanza bermain di dalam kamar. Saat itu juga sesuai janji, Hanafi telah tiba dari kantor, ia pulang lebih awal hari ini untuk menemani Insha dan Khanza seharian di rumah.


Saat tiba Hanafi melihat Insha tengah duduk menemani Khanza di kamarnya dengan wajah yang pucat, ia pun bertanya.

__ADS_1


"Sayang...kau terlihat tidak sehat...kau sakit..."


sambil memegang-megang kening Insha mengecek suhu badannya.


"Tak apa sayang..mungkin aku hanya butuh istirahat..."


berusaha menyingkirkan tangan Hanafi dari wajahnya.


"Kau sakit...kau demam sayang...aku akan menelpon Arya.."


Hanafi sudah ingin beranjak dari duduknya dan meraih ponselnya, tapi di tarik lagi oleh Insha.


"Tidak sayang...jangan...aku hanya butuh istirahat sebentar setelah itu pasti baikan..."


"Tidak....aku akan memanggil dokter Arya kemari...untuk memeriksamu..."


"Sayaang..aku mohon..aku baik-baik saja..ini hanya pusing biasa..maaf karna aku belum terbiasa mengasuh anak kecil..."


"Seharusnya aku yang minta maaf padamu sayang...aku telah merepotkanmu.."


"Iya sayang ...Istirahatlah...aku akan mengajak Khanza jalan-jalan agar tak mengganggumu istirahat..."


"Hmm..terimakasih sayang..."


Insha pun berbaring di tempat tidur membiarkan dirinya terlelap sejenak untuk melepas lelahnya.


Sementara Hanafi mengajak Khanza berjalan-jalan di luar rumah, bermain disana agar Khanza tidak mengganggu Insha saat beristirahat.


Tapi Khanza yang sudah merasa bosan bermain di luar, ia terus saja merengek ingin bermain di dalam kamar, Hanafi pun berinisiatif untuk mengajak Khanza berjalan-jalan keluar dengan mobilnya.


Hanafi mengajak Khanza membeli mainan di pusat perbelanjaan, kemudian membeli berbagai camilan dan juga berjalan-jalan di sebuah taman bermain . Dirasa sudah cukup lama Hanafi mengajak Khanza, dan hari pun sudah berganti sore. Hanafi mengajak Khanza untuk kembali ke rumah.


Hanafi masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Insha yang tak kunjung membaik, tubuhnya malah demam tinggi, dan terlihat keringat dingin di seluruh wajahnya yang pucat pasi. Insha masih tertidur pulas bahkan tak menyadari Hanafi yang telah tiba. Melihat keadaan Insha yang seperti itu Hanafi langsung saja membawanya untuk pergi ke rumah sakit.


Baru saja Hanafi ingin menggendong Insha menuju mobilnya, tapi Insha sudah bangun, ia menolak untuk di gendong Hanafi dan meminta untuk berjalan sendiri meski kepalanya sangat terasa pening. Dengan di bopong Hanafi Insha berjalan tertatih. Baru saja mereka keluar dari pintu kamar tapi Insha sudah ambruk di depan pintu, ya...Insha pingsan. Hanafi yang terkaget pun tak mampu menahan tubuh Insha hingga akhirnya Insha terlepas dari pelukannya dan tersungkur di lantai.

__ADS_1


"In...insha..."


Hanafi terkaget dan segera merengkuh tubuh Insha menggendongnya dalam pelukannya.


Dengan setengah berlari Hanafi menggendong tubuh Insha menuju mobil dan membawanya ke rumah sakit, Khanza pun mengekor di belakang Hanafi dan masuk juga dalam mobil.


Setibanya di rumah sakit Insha segera mendapatkan perawatan, Ia juga sudah sadarkan diri dan segera tertidur lagi setelah di berikan obat.


Hanafi mencari keberadaan Mirna dirumah sakit, berharap Mirna sudah membaik dan dapat lagi menjalankan tugasnya menjaga Khanza.


"Arya dimana Mirna...apa dia pindah ruangan..?"


tanya Hanafi pada Arya, karna Hanafi sudah mengecek ke dalam ruangan Mirna tapi ruangan itu sudah kosong.


"Dia sudah pulang han....aku sudah memberi kabar kepulangannya pada nona Insha tadi pagi...apa nona tak bilang padamu.."


jawab Arya dengan wajah yang tampak keheranan.


"Mirna sudah pulang..."


"Ya tadi pagi dia pulang....dia sudah membaik..semua sudah nomal...dia sudah bisa berjalan lagi..."


Hanafi terlihat terdiam, Arya pun segera berkata lagi.


"Memangnya nona Insha tak bilang padamu...?"


"Tidak...dia tak bilang apapun padaku...bagaimana keadaannya Ar...apa terjadi sesuatu yang serius padanya..."


"Tidak han....nona baik-baik saja mungkin dia hanya kelelahan..."


"Tapi demamnya....kenapa dia bisa demam tinggi Ar..."


"Itu yang sedang aku cari penyebabnya han....Aku sudah mengambil sampel darahnya untuk mengecek apakah terjadi suatu infeksi di dalam tubuhnya...hingga nona mengalami demam...hasilnya mungkin akan keluar beberapa jam lagi...nanti aku akan mengabarimu...."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2