
Siang itu Insha melajukan mobilnya dengan cukup kencang, ia berpacu dengan amarah yang terus membakar hatinya.
Ntah kemana sekarang arah yang dituju, tapi dia terus melajukan mobilnya menyibak jalanan, dalam hatinya yang ia inginkan sekarang hanya pergi, pergi dan pergi.
Di dalam mobil Insha memutar musik yang sangat kencang, dia menyanyikan beberapa lagu dengan suara merdunya, dan itu bisa sedikit membuat hatinya tenang.
Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan jam 15:00, tiba-tiba saja Insha berfikir ia tak akan bisa pergi jauh dari Hanafi mengingat ia adalah orang yang sangat berpengaruh di negaranya. Semua orang mengenalnya, akan sangat mudah menemukan Insha meski ia bersembunyi sekalipun.
Insha mengingat kembali pengawal Hanafi yang bahkan tak bisa di hitung olehnya, sering berganti-ganti orang dan Insha tak hafal satupun wajahnya.
"Jangan-jangan sekarang ada yang mengikutiku..."
gumam Insha sambil menoleh ke spion di sampingnya, melihat adakah mobil yang familiar untuknya, sepeda motor atau apapun itu.
Tapi sama sekali tak ada yang mencurigakan di sekitarnya, semua terlihat wajar-wajar saja.
Dalam bayangannya tiba-tiba ia melihat sosok Kriss, yang sempat beberapa kali bertemu dengan Insha memakai jaket hoodie nya untuk menutupi identitasnya ketika sedang bekerja, atau mengerjakan tugas apapun dari Hanafi.
"Ya hoodie..jaket hoodie...bisa membantuku untuk menyembunyikan wajahku..."
kata Insha setengah berteriak, saat menemukan sebuah ide yang cemerlang.
Tak banyak memang yang mengetahui wajah dari istri pemimpin Wijaya group ini, karna memang Hanafi tak akan membiarkan semua orang mengetahui wajah cantik istrinya, ia tak mau kecantikan istrinya di lihat oleh orang lain terutama kaum pria.
Insha pun mencoba mencari sebuah pusat perbelanjaan di jalanan yang sudah masuk di area kota. Insha pun memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah di sediakan bersama mobil-mobil pengunjung yang lain.
Insha berjalan-jalan cukup lama disana, mencari tempat dimana menjual jaket hoodie yang ia cari. Kedatangannya disana cukup menjadi pusat perhatian, terutama kaum pria yang terpana akan kecantikan Insha apalagi dengan dandanan nya yang sekarang.
Banyak pemuda-pemuda jail yang sekedar bersiul padanya, memanggil-manggilnya, juga memandang dengan pandangan seorang pria.
Insha yang tak biasa dengan keadaan itu sedikit kesal dan cukup takut karna ia sekarang sedang sendirian, ia takut jika pemuda-pemuda itu menggodanya lebih lagi.
Dan setelah berjalan lama ia pun menemukan jaket yang ia cari, ia juga mencari sebuah kacamata untuk sedikit menutupi identitasnya dan wajah cantiknya.
Ia memilih jaket berwarna coklat tua, senada dengan baju dan kerudung yang ia pakai.
Ia juga mencari beberapa makanan ringan disana, untuk mengisi perutnya yang mulai sedikit lapar.
Setelah mendapatkan itu semua Insha segera keluar ke tempat parkir, melajukan mobilnya lagi. Selama perjalanan itu ia sempat berfikir ingin singgah di sebuah penginapan atau hotel.Tapi banyak sekali di kota ini jasa penginapan maupun perhotelan di bawah naungan Wijaya group, ia pun mengurungkan niatan nya itu.
"Lalu aku harus kemana...aku rasa pergi darinya hanya sia-sia..karna aku tau dia tak akan tinggal diam apalagi dengan para pengawalnya yang sangat banyak itu...iiishh...siaal..."
Insha mengumpat kesal dalam mobilnya, berfikir ulang tentang niatannya untuk pergi dari Hanafi.
Hingga sampailah ia di pusat perkotaan, ada sebuah resto yang cukup menarik perhatiannya resto dengan nuansa hitam dan merah. Terlihat banyak sekali orang yang keluar masuk disana, dan cukup banyak pengunjung yang terlihat dari luar.
"Resto 99.."
Insha mencoba membaca papan nama yang tertera.
"Sepertinya menarik...disana juga ramai...aah aku lapar..."
Insha mengusap-usap perutnya yang mulai berbunyi itu.
Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalamnya.
Ia langsung menuju meja yang terlihat kosong, tepatnya berada di sudut resto, sehingga ia dapat melihat ke segala arah resto tersebut.
Insha Ingin memesan beberapa makanan disana, ia melihat daftar menu yang di berikan pelayan padanya tapi semua menu itu sangat asing untuknya.
Ya resto 99 adalah resto yang menyediakan makanan jepang.
__ADS_1
Insha pun memilih memesan sushi yang cukup familiar untuknya, ia juga pernah memakannya sekali bersama Hanafi.
Ia ingin memesan susu atau pun jus tapi dalam menu minuman sama sekali tak ada.
Hanya beberapa minuman soda, bahkan anggur, wine dan beberapa minuman aneh lainnya yang tersedia.
Ia pun memilih soda untuk menemani sushinya kali ini.
"Hmmm..rupanya aku salah masuk resto ya...tak apalah..aku akan mencari resto lagi nanti.."
Pesanan pun telah sampai, Insha memakan sushi itu dengan cukup lahap, karna ia memang merasa lapar kala itu.
Lalu meminum sedikit sodanya, Insha yang baru pertama kali meminum soda dahinya pun mengeryit saat soda itu masuk ke dalam mulutnya.
Ia mengangkat gelas itu tinggi-tinggi terlihat buliran-buliran udara yang berusaha naik ke permukaan gelas, menabrak gumpalan-gumpalan es yang ada di atasnya.
"Aneh sekali rasanya ..."
sambil mengecap-ngecap mulutnya yang terasa aneh dengan rasa soda itu.
Cukup lama Insha berada disana, ia sama sekali tak menyadari banyaknya aktivitas-aktivitas ilegal di resto tersebut, juga banyaknya wanita penghibur yang memenuhi resto itu dengan pakaian-pakaian super mini mereka.
Insha yang pada dasarnya memang hanya ingin singgah disana, dan menghabiskan waktunya sama sekali tak menghiraukan semua yang ada,sampai seorang lelaki berjalan mendekatinya.
"Hai nona cantik..."
Insha hanya memandangnya dengan tatapan tajam lalu segera berpaling lagi.
"Aku melihat semua orang yang selalu datang kesini...tapi baru kali ini aku melihat seorang wanita yang datang dengan mengenakan kerudungnya....apa kau tersesat nona..."
tanya pria itu lagi dengan senyuman yang cukup menjengkelkan di mata Insha.
"Aku manager disini...jika kau mungkin butuh sesuatu kau bisa bilang padaku...aku akan siap sedia membantumu nona cantik..."
"Aku tak butuh bantuan siapapun..."
Insha menjawab dengan ketus dan dengan tatapan tajamnya pada pria itu.
ia sangat tidak suka ada seorang yang mengganggu ketenangannya saat ini.
"Hmm...baiklah..baiklah...kau bisa melakukan apapun yang kau mau.."
tatapan pria itu menjadi kebingungan.
*teryata sama saja...hanya penampilannya yang terlihat lembut...tapi sikap nya sama seperti wanita-wanita disini...
dan lihat tatapan dingin itu...menyeramkan sekali...lebih baik aku pergi sebelum wanita aneh ini marah-marah*...
Pria itu mengurungkan niatnya untuk menemani Insha di mejanya, ia tadi menghampiri Insha karna tertarik dengan kecantikan wajahnya yang terlihat lembut itu. Jarang sekali ia melihat wanita seperti Insha disana karna resto yang di milikinya ini memang slalu di datangi oleh orang-orang yang cukup menyukai dunia malam.
Pria itu pun mulai berlalu pergi.
Ternyata Insha juga mulai menyukai rasa minuman soda , ia memesanya lagi dan lagi sampai beberapa gelas besar tergeletak begitu saja di mejanya.
Di tengah asyiknya Insha meneguk minuman soda dengan melamun teringat kembali akan kehidupannya yang terasa pahit itu. Ia pun tersadar karna suara yang cukup riuh di luar resto itu, ia mengalihkan pandangannya keluar.
Insha pun terkesiap melihat banyak orang berseragam pengawal dengan logo Wijaya group sedang berpencar di luar.
Insha segera memakai lagi jaket hoodie nya tergesa-gesa, memakai kacamata, juga segera ke kasir guna menyelesaikan pembayaran.
Para pengawal itu masuk kedalam resto dengan tatapan tajam yang menakutkan di barengi dengan Insha yang keluar dari sana berjalan santai sambil menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Pria itu pun cukup terkaget dengan kedatangan para pengawal Wijaya group ke restonya. Ia berfikir tak pernah berbuat masalah dengan perusahaan besar itu.
Para pengawal itu pun menjelaskan maksud kedatangannya pada pria itu selaku manager dari resto 99. Ia pun mengatakan tak tau menahu tentang sosok yang di carinya dan mengizinkan mereka untuk mencari ke seluruh sudut restonya.
Menyadari mereka mencari seorang wanita penting dari keluarga Wijaya group dia pun ingat pada sosok wanita cantik yang di temuinya tadi. Ia melihat lagi pada meja yang di duduki Insha tadi.
waahh..benar dia sudah menghilang..teryata kau sedang dalam pelarian nona cantik...
Insha berjalan tergesa lagi menuju tempat parkir, teryata mobilnya juga sudah di jaga oleh 2 orang pengawal dengan mata yang terus mengedarkan pandangan mereka.
Ia lalu berjalan dengan santai agar tak ada pengawal yang curiga terhadap gerak-geriknya.
"Darimana mereka mengetahui aku sedang berada disini..."
gumam Insha lirih sambil terus berjalan, memasuki sebuah toko, berputar-putar di dalamnya lalu pergi begitu saja tanpa membeli apapun.
Ia lalu berjalan lagi sedikit melirik ke arah toko yang tadi dia masuki, beberapa pengawal masuk juga kedalamnya terlihat bertanya sesuatu pada sang kasir dan mengedarkan pandangannya, sementara yang lainnya terlihat berpencar di dalam toko.
Astaga..mengapa aku bisa sebodoh ini...Hanafi pasti sudah mengetahui keberadaan ku...
lalu bagaimana pengawal itu bisa tau kalau aku baru saja berada di toko itu....
jejak...aku pasti punya jejak..
Insha memandang lagi seluruh tubuhnya sambil berjalan.
Astaga...ponsel...itu yang memberi petunjuk pada mereka...
juga kartu kredit ini...tak mungkin tak memberikan laporan pada Hanafi.. bahwa aku telah menggunakannya...siial...
Ia pun segera melempar begitu saja ponsel di tangannya pada sebuah bangku di pinggir jalan dan berlalu memasuki sebuah toko yang menjual berbagai perlengkapan sekolah , ia membeli sebuah ransel darisana, segera membayarnya dan mencari atm terdekat dari sana.
Insha mengambil cukup banyak uang di atm itu, sambil was-was memandang ke luar ruang mesin atm, takut ada seorang pengawal yang melihatnya.
Setelah cukup mengambil banyak uang , ia pun memasukkan nya dalam ransel, keluar dan berjalan dengan santainya, menuju sebuah bus yang jauh dari tempatnya sekarang.
Sudah berjalan cukup lama, Insha terkaget saat mendapati sosok yang tak jauh berada di depannya.
Ya..Hanafi ada disana dengan wajah penuh kebingungan, ia terdengar berteriak-teriak kepada para pengawalnya.
"Cari Nona muda sampai ketemu..dia masih berada di sekitar sini..cepat.."
Insha mendengar dengan jelas perintah itu.
Beberapa detik Insha diam di tempatnya, ragu akan melangkahkan kaki nya melewati Hanafi.
Tapi karna hatinya yang kini telah terlanjur ingin pergi dari Hanafi, ia pun mantap melangkahkan kakinya melewati Hanafi untuk segera menaiki bus yang rupanya akan segera berangkat.
Langkah kakinya terayun santai melewati Hanafi.
Terdengar oleh Insha Hanafi bergumam sambil terus mengedarkan pandangannya.
"Insha...kau dimana...aku mohon..kembalilah padaku .."
Insha kini sedang berjalan disamping Hanafi dan tersenyum tipis.
Bahkan kau tak menyadari aku yang berada di sampingmu...mata dan perasaanmu benar-benar telah di butakan oleh Salma..
Insha terus berjalan memasuki sebuah bus , duduk di bangku paling belakang dan tak lama setelahnya bus itu pun melaju.
Insha memandang kebelakang melihat Hanafi lagi dengan tatapan nanar, lalu menitikkan air matanya.
__ADS_1
Tak pernah aku sangka semua akan berakhir seperti ini han...
Bersambung..