2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Rujuk


__ADS_3

Semenjak Insha membaca diary Salma dia lebih memantapkan hatinya lagi untuk kembali berumah tangga dengan Hanafi. Memberikan kesempatan kedua untuknya. Seiring berjalannya waktu Hanafi juga semakin menunjukkan kasih sayang dan cintanya pada Insha. Hanafi sering datang ke rumah Insha membantunya bekerja di sela-sela ia mengurus perusahaannya. Tak segan-segan ia juga membantu para pengawal dan pekerja Insha mengirim pakaian-pakaian yang di pesan para pelanggannya.


Hanafi juga berperan dalam membantu pembangunan pabrik pakaian milik Insha. Dan membantunya dalam mencari berbagai keperluan pabrik yang di butuhkan Insha. Selang satu bulan setelahnya Insha dan Hanafi melaksanakan pernikahan keduanya, yang di gelar sederhana dengan mengundang orang-orang terdekatnya saja.


Tak lupa Insha juga mengundang Prass dan juga orang tuanya yang sudah banyak membantu di kehidupannya. Mereka datang dengan suka cita bersama Aisyah yang sudah mengandung 7 bulan.


"Selamat atas pernikahannya sayang...semoga hidupmu di penuhi dengan kabahagiaan.."


ucap ibu Prass sambil memeluk Insha hangat.


"Selamat Insha...semoga kalian selalu bahagia..dan semoga dengan ijin Tuhan kau dikaruniai seorang anak..."


sambung ayah Prass yang berada di sampingnya.


"Ya semoga saja...Han...jangan lagi kau sakiti Insha...atau Insha akan pergi lagi dari sisimu..."


tukas Prass sambil mengelus-elus pundak Hanafi.


"Selamat Insha...semoga hidupmu bahagia..."


Sambung Aisyah yang memeluk Insha setelah ibu mertuanya.


"Terimakasih Aisyah...wahh...berapa usia kandunganmu sekarang...kita jarang bertemu.."


jawab Insha dengan senyuman manisnya, sambil mengusap-usap perut Aisyah lembut.


"Hehe...sudah 7 bulan Insha...oh ya...minggu depan datanglah di acara 7 bulanan di pondok pesantren ya....kami mengadakan acara syukuran kecil-kecilan disana...semoga kalian bisa hadir disana..."


"Tentu saja Aisyah..aku akan menyempatkan untuk datang kesana...."


Mereka pun masih banyak berbincang-bincang hangat sebelum mengakhirinya dengan acara makan-makan bersama yang sudah di sediakan di rumah mewah Insha.


Malam itu Hanafi bermalam di rumah Insha. Hanafi sudah berjanji dia tak menuntut apapun dari Insha, ia memilih untuk menuruti semua keinginannya. Hanafi tak akan memaksakan apapun padanya. Ia memilih untuk membuat Insha nyaman dengan hubungannya yang sekarang tanpa membuat Insha terkekang dengan semua aturannya. Hanafi ingin membuat Insha bahagia dengan caranya.


Dalam kurun waktu satu bulan Insha hanya menginap beberapa kali di rumah utama. Dia tak mau sering-sering kesana karna itu akan lebih mengingatkannya pada luka lama. Insha lebih memilih menetap di rumahnya sendiri. Dan Hanafi mengalah untuk itu, ia juga tidur di rumah Insha menemaninya setiap malam disana. Setelah pulang kerja ia akan menyempatkan pulang ke rumah utama untuk menemui Khanza, mengajaknya bermain, kadang sampai malam hari menunggu Khanza tertidur. Baru setelahnya Hanafi pergi ke rumah Insha dan tidur disana.


Meski sedikit sulit untuk Hanafi tapi ia selalu menjalaninya dengan bahagia, ia sama sekali tak merasa keberatan dengan kehidupannya sekarang. Ia malah terlihat lebih cerah sekarang, karna ada Insha lagi di hidupnya yang selalu menaruh perhatian untuknya.


Pagi itu Insha terbangun di waktu subuh. Insha melihat di sampingnya teryata Hanafi sudah menghilang, dia terbangun lebih dulu.


"Kemana dia sepagi ini..."

__ADS_1


Tak berselang lama, belum saja Insha bangun dari tempat tidurnya tapi pintu kamar sudah terbuka dan terlihat Hanafi masuk kamar dengan membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.


"Kau sudah bangun sayang..."


sapa Hanafi lembut, ia menaruh nampan itu di meja lalu menghampiri Insha dan mencium keningnya lembut.


"Hemm...kau sepagi ini sudah memasak...aah...bukannya sudah banyak koki yang akan memasakkan kita nanti..."


jawab Insha merasa heran dengan sikap Hanafi.


"Tak bolehkah aku memasak untuk istriku tersayang ini..."


"Hehe tentu saja boleh sayang..."


Insha malah menarik Hanafi untuk ikut tertidur lagi di sebelahnya.


"Aku telah banyak belajar memasak untukmu...tentu aku akan memasak makanan untukmu...hanya untukmu..."


"Benarkah..."


Insha malah memandang wajah Hanafi yang ada di sampingnya dengan posisi miring.


"Aah...jangan menatapku seperti itu sayang....atau kau akan membangunkan yang lainnya nanti"


Insha terlihat menatap bingung pada Hanafi, lalu sedetik kemudian berkata sambil tertawa ringan.


"Ahaha....kau ini mesum sekali..."


"Apa mesum kau bilang..."


Hanafi menatap Insha dengan tatapan yang gemas.


"Kau mulai pintar berkata-kata ya..."


"Haha tidak sayang...."


Insha pun segera beranjak dari tempat tidurnya berlari ke arah kamar mandi dan menutupnya dengan keras, takut-takut kalau Hanafi mengejarnya.


Hanafi hanya menatap Insha yang berlari ke kamar mandi, sambil tertawa dan menggelengkan kepalanya.


Lalu ia berbaring di tempat tidurnya, tersenyum cerah, ia bahagia dengan kehidupannya sekarang karna sudah ada Insha lagi di sampingnya. Itu semua mengalahkan kebahagiaannya terhadap apapun. Tak lupa juga ada Khanza kecil yang selalu menghiburnya dalam hari-harinya.

__ADS_1


Insha telah selesai dengan ritual mandinya lalu segera mereka berdua melaksanakan sholat shubuh bersama. Dengan khusyuk keduanya bersujud memohon ampun pada sang pencipta. Berdoa untuk kelangsungan kehidupan keduanya, menjadi kehidupan yang lebih baik dan lebih baik lagi. Tak lupa Hanafi sematkan sebuah do'a mengharap sebuah keajaiban atau mungkin kekuasaan Tuhan untuk memberinya keturunan lewat rahim Insha, karna Hanafi sadar hanya Tuhan yang bisa membuat segala yang tak mungkin menjadi mungkin. Insha pun dengan yakin selalu mengatakan "Amiin" atas do'a-do'a yang di panjatkan Hanafi.


Selesai dengan semua do'a nya Hanafi mengulurkan tangan pada Insha yang langsung di sambut oleh tangan lembut Insha yang menjabat dan mencium lembut punggung tangan Hanafi. Keduanya lalu saling menatap dan tersenyum hangat. Hanafi meraih kepala Insha dan mencium kening Insha dengan lembut.


"Ayo coba sarapan buatanku..."


Hanafi berkata sambil membantu Insha berdiri.


"Hmm...kau memasak apa tadi sayang..."


Insha bertanya sambil melipat mukenah yang baru saja di kenakannya.


"hehe..bukan apa-apa aku hanya memasak sandwich dengan daging panggang kesukaanmu..."


Hanafi meraih tubuh Insha dan memeluknya, menggiringnya ke meja tempat nampan sarapan yang tadi di bawanya.


"Hemm...Sepertinya enak..."


Hanafi pun menyuapi Insha sandwich yang telah di buatnya tadi, sesekali dia juga mengigit sandwich bekas gigitan Insha. Mereka saling menyuapi dan bercanda sampai mentari muncul dan terlihat terang.


" Sayang hari ini kita jadi ke kak Prass dan Aisyah...?"


"Ya...kita kesana pagi ini...anaknya laki-laki atau perempuan sayang..."


"Perempuan sayang...nanti kita ajak Khanza kesana ya..."


"Ya terserah kau saja sayang...kalau begitu nanti kita ke rumah utama dulu..."


"Hmm...kita ajak jalan-jalan sekalian Khanza nanti setelah pualng dari rumah kak Prass..."


"Apapun yang kau mau sayang..."


Hanafi tersenyum ia sangat bahagia karna Insha sangat menyayangi Khanza meski mereka tidak tinggal satu rumah dan jarang bertemu, tapi Insha slalu menanyakan keadaan Khanza setiap Hanafi pulang dari rumah utama.


Hari itu mereka pun menjemput Khanza dan membawanya ke rumah Prass untuk menjenguk bayi Prass yang baru saja terlahir.


Selesai dari sana mereka lanjutkan untuk membawa Khanza pergi ke taman pusat kota. Khanza sangat senang ia berlarian kesana kemari, berlari di antara bunga-bunga yang bermekaran. Juga saling kejar-kejaran antara Khanza dan Hanafi. Insha hanya melihat tingkah jahil Hanafi pada Khanza dari kejauhan sambil memakan camilan yang di belinya. Hari ini mereka Khusus tidak membawa Mirna untuk menjaga Khanza, mereka berniat untuk menjaga Khanza sendiri berjalan-jalan dan bercengkrama menikmati kebersamaan mereka.


Jalan-jalan di lanjutkan dengan makan bersama di sebuah resto di sebelah taman. Mereka benar-benar menikmati hari itu sebagai keluarga kecil yang damai dan bahagia. Bahkan waktu pulang pun Khanza tertidur di pangkuan Insha dengan lelapnya.


Malam itu Insha dan Hanafi bermalam di rumah utama. Mereka pun tertidur lelap dengan perasaan bahagia setelah melewati hari yang melelahkan bersama.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2