2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Flashback ( Part 2 )


__ADS_3

Tiba-tiba terbesit di fikiran Salma untuk menggunakan sel telur nya sebagai percobaan untuk proses bayi tabung itu, ia ragu ingin mengutarakannya tapi rasa inginnya memberikan seorang bayi pada Insha terus mendorongnya.


"Bagaimana jika mencoba sel telur milikku.."


Salma terlihat ragu-ragu mengatakannya.


Hanafi yang sudah terlihat putus asa ia hanya diam saja tak merespon kata-kata Salma.


"Han...setidaknya coba dulu...jikalau pun berhasil dia tetap memiliki DNA milikmu..dia anakmu...tentunya tanpa perlu melakukannya.."


Tangan Hanafi memberikan isyarat untuk menyerah, dia mengikuti apa yang di katakan Salma tanpa mau melihat seluruh prosesnya lagi, dia juga tak berharap banyak dengan hal itu, karna jujur yang dia mau adalah sel telur identik milik Insha sendiri dan dirinya.


Tak di sangka ternyata sel telur milik Salma merespon dengan baik, dia berkembang dan membelah menjadi beberapa bagian dalam beberapa jam, membuat Salma tersenyum puas disana, karna akhirnya ada harapan untuk membuat adiknya memiliki seorang anak meski bukan dari sel telurnya.


Hanafi yang melihat semua itu pun bimbang kembali, tak dapat di pungkiri dia sangat menginginkan adanya seorang anak dalam rumah tangganya. Tapi mengetahui keadaan Insha yang sekarang sangat sulit mempunyai anak darinya. Hanafi memikirkan rencana Salma lagi untuk program bayi tabung dengan DNA miliknya dan Salma.


"Apa Insha tak akan marah nanti..."


kata Hanafi asal di ruangan khusus bersama Arya dan Salma.


"Lebih baik kita mengatakan dengan jujur semua ini pada nona Insha...agar tidak menjadi suatu salah faham nantinya..."


Arya menatap Hanafi dengan serius.


"Apa dia akan bisa menerima keadaannya nanti.."


Imbuh Salma.


Hanafi terlihat bernafas panjang.


"Baiklah...aku akan mengatakan pada Insha perlahan...bagaimana pun Insha harus tau kondisinya saat ini..."


"Kapan prosedur akan bisa di mulai Ar.."


"Kita harus mencari benih yang terbaik han...kita akan ambil sampel lagi...dan juga melakukan beberapa pemeriksaan lagi pada kondisi nona Salma..."


Arya menjawab sambil membaca sesuatu di tangan nya, yaitu tentang prosedor inseminasi.

__ADS_1


"Apakah semua prosedur ini pasti akan berhasil..."


Tanya Hanafi dengan penasaran.


"Tentu tidak han...tergantung dengan kondisi rahim atau kondisi dari calon janin yang akan di tanamkan...jika ia bisa berkembang dengan baik dan menempel disana maka bisa di pastikan akan berhasil...jika tidak maka akan gagal dan kita akan mengulang semua prosedurnya dari awal..."


Arya menatap Hanafi dengan yakin.


"Aku tidak mau mengulang lagi prosedur yang sama..dengan segala kerumitannya...terlebih dengan kondisi kak Salma yang sekarang...ini adalah percobaan pertama dan terakhir..."


"Aku siap han meski harus mengulang prosedur yang sama berulang kali sampai berhasil...aku akan baik-baik saja..."


Salma mencoba meyakinkan Hanafi dengan wajah memelasnya.


"Tidak..ini sudah menjadi keputusan ku...ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya...jika ini gagal maka lupakan semua hal ini dan kak Salma harus fokus pada pengobatan tumor kakak...."


Jawab Hanafi dengan tegas dan tatapan tajam yang di tujukan pada Salma.


"Tapi han..."


"Keputusanku sudah bulat...tidak ada yang akan membantahku disini..."


Salma dan Arya pun terdiam mendengar jawaban Hanafi dengan nada suara yang meninggi.


Cukup hening hingga 2 orang para medis datang untuk membawa Salma untuk menjalani pemeriksaan lanjutan untuk semua prosedur yang akan di jalani. Salma pun keluar dengan wajah yang masam, takut-takut jika prosedur pertama ini gagal maka dia tak bisa mengulang lagi, karna keputusan Hanafi tadi.


Selepas Salma keluar dan pintu itu ditutup. Hanafi mendekati Arya dan duduk di sampingnya, menatap lekat wajah Arya dan berkata.


"Pastikan semua prosedur ini gagal Ar..."


Arya pun cukup tercengang dengan perkataan Hanafi, ia tadi melihat wajah antusias dari Hanafi saat tahu sel telur milik Salma berkembang dengan baik, tapi sekarang Hanafi malah menyuruhnya untuk mengagalkan semua prosedurnya.


"Kenapa Han..bukankah kau"


Hanafi menjawab secepat kilat.


"Tidak...aku tidak mau...yang aku mau hanya milik Insha dan aku...dan aku tak mau melibatkan kak Salma untuk mengambil semua resiko yang ada dengan kondisinya...seperti katamu suasana hati kak Salma harus selalu baik dan bahagia agar dia bisa melawan tumor di kepalanya....aku juga akan membuat dia bahagia dengan menuruti semua maunya...tapi aku tak mau semua prosedur ini berhasil....tetap lakukan semua prosedurnya....tapi pastikan itu tak bisa berkembang disana....terserah apa yang akan kau lakukan untuk semua itu tapi yang pasti aku tak mau kak Salma mengandung anakku...hanya Insha...hanya Insha wanita yang boleh mengandung keturunan ku....apa kau bisa pastikan itu..."

__ADS_1


Arya diam bingung ingin menjawab apa, ia mengemban tugas berat lagi dari Hanafi. Ia harus mencari cara lagi untuk menjalankan sekaligus mengagalkan prosedur itu.


"Lalu bagaimana dengan nona Insha han...apa dia sudah tau tentang semua ini..."


"Tidak Ar...dia tak akan mengetahui semua ini..semua akan membuatnya tambah bersedih nanti...maka itu pastikan semua gagal...aku akan menjalankan prosedur bayi tabung nanti bersama Insha di luar negeri....saat aku sudah siap memberitahu semuanya.. saat Insha juga sudah siap menjalaninya...aku akan menikmati waktu kita berdua dulu....aku juga slalu berdoa pada Tuhan agar Tuhan menunjukkan keajaiban dan kekuasaannya untuk Insha.."


Hanafi memandangi Arya dengan penuh harapan.


Arya pun menjawabnya hanya dengan anggukan tanda dia faham, dan berkali-kali Arya menghela nafas dalam memikirkan bagaimana cara untuk mengagalkan prosedur bayi tabung itu.


Hari dan minggu-minggu pun berlalu kini sudah saatnya setelah memilih benih yang terbaik dari keduanya, dengan perkembangan yang baik pula. Ini adalah hari dimana Salma menjalani prosedur penanaman sel di rahimnya.


Prosedur di laksanakan pada sore hari, tepat saat hujan badai tengah menerjang di kota itu. Suara petir yang menggelegar, juga tiupan angin yang kencang tak menyurutkan semangat Salma untuk tetap menjalani prosedur bayi tabungnya.


Salma hanya di temani dokter Arya, dokter yang selalu setia menemani setiap prosedur yang di jalani, dokter kepercayaan Hanafi, sekaligus penanggung jawab rumah sakit besar itu.


Hanafi tak datang kala itu, karna hujan badai yang datang, ia pun terjebak di kantor tak bisa kemana-mana.


Untuk itu pihak rumah sakit menyediakan fasilitas untuk Hanafi tetap bisa langsung menyaksikan prosesnya lewat kamera dengan sinyal yang di sambungkan langsung pada layar monitor di ruangan kerja Hanafi.


Hanafi ingin pulang cepat hari itu karna semua pekerjaannya sudah selesai lebih awal, tapi mengingat sekarang adalah jadwal proses bayi tabung yang di jalani Salma dia memilih untuk melihat prosesnya, agar dia tau proses apa saja suatu saat nanti yang akan di jalani juga oleh Insha.


Karna hujan badai yang tak kunjung reda, juga karna Hanafi terlalu asyik fokus pada layar monitor yang memperlihatkan berbagai prosesnya, Hanafi lupa tak mengabari Insha di rumah yang tengah khawatir padanya karna belum pulang.


Hanafi kala itu juga bisa berkomunikasi dengan Salma lewat monitor itu, berbincang-bincang dengan nya membuatnya lupa waktu.


Prosesnya cukup lama, sampai waktu observasi beberapa jam disana, Salma pun juga tak pulang malam itu karna perlu pemantauan lebih dari rumah sakit mengingat kondisinya.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 11 malam. Hanafi baru teringat akan Insha dan juga tentang pulang, tapi keadaan masih saja tidak memperbolehkan Hanafi untuk pulang, karna angin yang sangat kencang juga hujan deras yang belum juga reda.


Ia pun memutuskan untuk bermalam di kantor, dan mengirimkan pesan singkat pada Insha.


"Sayang..maaf aku tak bisa pulang malam ini...di luar terjadi hujan badai di sertai angin yang kencang...banyak pohon di jalan yang bertumbangan...maaf aku tidur di kantor malam ini...jaga dirimu baik-baik ya...aku mencintaimu wanitaku"


Pesan pun terkirim, terlihat langsung di baca oleh Insha di sebrang sana. Hanafi menunggu pesan balasan dari Insha, tapi tak kunjung mendapat balasan, Sampai akhirnya dia pun terlelap di meja kerjanya karna terlalu lelah melihat proses panjang pada monitor di depannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2