
Mobil sudah tiba di halaman rumah utama, Hanafi membawa Insha dengan mobilnya, dan Insha menyuruh kedua pengawalnya untuk membawa mobilnya kembali ke rumah mewah yang baru dibelinya beberapa bulan yang lalu.
*
Ya tepat 2 minggu setelah kejadian di bandara itu Insha baru memberikan jawaban untuk Hanafi. Butuh sebuah perjuangan untuk Hanafi mendapatkan kesempatan keduanya. Pasalnya dalam waktu 2 minggu dia menunggu, dia selalu datang ke rumah Insha, mengirimnya masakan tiap pagi, yang di masak sendiri oleh Hanafi. Bahkan beberapa hari sebelum Insha menjawab permintaannya untuk rujuk, Hanafi tidur di mobilnya yang terparkir di halaman rumah Insha hingga pagi. Lalu pulang membuat masakan untuk Insha dan kembali lagi kesana. Menemani berbagai kegiatan Insha, membantunya menjalankan pekerjaannya bahkan membantunya mengirim baju pesanan ke para pelanggan.
Dan malam hari sebelum Insha menjawab pertanyaan Hanafi. Hanafi kembali bertanya pada Insha dengan menyusun lilin-lilin kecil di halaman rumah Insha berbentuk kata "Will you marry me again", melihat keseriusan Hanafi dalam memintanya rujuk kembali bahkan setelah 2 minggu di biarkan tanpa jawaban, Hanafi tetap bertahan dan semakin menunjukkan kasih sayang tulus dan cintanya pada Insha.
Untuk itulah Insha memutuskan untuk membuka hatinya lagi untuk Hanafi, memberikan ia kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya, dengan berbagai kesepakatan dan syarat yang di ajukan Insha, Hanafi setuju untuk memenuhi semuanya.
*
Insha turun dari mobil dan berjalan dengan Hanafi beriringan. Senyum cerah terkembang di wajah Hanafi, ia kembali membawa cintanya pulang ke rumah ini. Dari balik pintu tiba-tiba Khanza berlari sambil meneriaki " Ibu Insha " dengan suara menggemaskannya.
Insha pun cukup terkaget dari mana Khanza tau namanya, bahkan mengenal wajahnya karna selama ini Insha tak pernah menemuinya. Ia menoleh pada Hanafi yang hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum cerah. Dan Insha berjongkok dan membiarkan Khanza memeluknya, bahkan Insha juga menggendong Khanza disana.
Insha hendak bertanya pada Hanafi tapi baby sister Mirna tiba-tiba menghampirinya dan berkata.
"Selamat datang nona Insha..."
Seakan tau apa yang tengah di fikirkan Insha Mirna pun berkata lagi.
"Ya Khanza sangat merindukan kehadiran anda nona...Tuan Hanafi selalu menceritakan tentang nona....menceritakan kebaikan nona...dan selalu bilang bahwa nona akan pulang dan memeluk Khanza lagi...Khanza selalu bertanya kapan anda pulang...ia merindukan nona..."
Insha terdiam sejenak, lalu tersenyum dan memeluk Khanza semakin erat dalam pelukannya. Khanza pun yang mulai aktif berbicara, ia menanyakan banyak hal pada Insha dan cukup membuat Insha kewalahan dengan pertanyaannya.
Ketiga pembantu disana juga menyambut hangat kedatangan Insha kembali, mereka juga banyak mengobrol hangat bersama Insha di ruang tamu.
Di tengah obrolan itu Hanafi pun berbicara.
"Bisakah kalian membiarkan Insha beristirahat terlebih dahulu...dia kelihatan lelah...istirahatlah di kamar Insha..."
Insha memandang Hanafi dengan senyumnya.
"Aku tak akan tidur disana Han..kita belum menikah apa kau lupa..."
"lalu kau akan tidur dimana Insha...itu kamar terbaik disini...kau bisa memakainya ...aku akan tidur di kamar lain.."
"Tidak Han...bolehkan aku menggunakan rumah belakang untuk beristirahat sebentar..."
"Tentu saja...apapun maumu...tapi sebentar apa maksudmu...bukankah kau akan bermalam disini nanti..."
"Tentu saja tidak Han....aku akan pulang dan tidur di rumahku...aku hanya akan istirahat sebentar disini...nanti sore pengawal akan menjemputku pulang..."
Hanafi pun hanya mengangguk dan tak dapat mencegahnya, karna dia sudah berjanji tak akan memaksa apapun pada Insha.
Insha pun berlalu dan keluar dari rumah utama, ia berjalan menuju ke rumah belakang.
Insha masuk dan melihat-lihat isi di dalamnya sebelum merebahkan tubuhnya di sebuah tempat tidur di salah satu kamar yang paling luas disana.
__ADS_1
apakah ini kamar Salma dulu...hmm..semoga kau tenang disana....kau tau Khanza sudah besar sekarang...
gumam hati Insha sambil memejamkan matanya.
Cukup lama terpejam Insha tak dapat tidur juga. Ia pun mengelilingi kamar itu, membuka laci-laci kecil yang menarik perhatiannya. Pada saat ia membuka sebuah laci kecil di samping tempat tidur terlihat ada sebuah buku kecil di dalamnya, Insha pun penasaran dan membukanya.
Insha cukup terkaget karna melihat tulisan tangan Salma disana.
Ini tulisan tangan Salma...ini diary Salma...
Insha tak heran karna memang Salma sejak dulu suka menulis seluruh kisah hidupnya dalam sebuah diary.
Insha pun mulai membuka dari awal diary itu dan membacanya.
1.
Hari ini aku datang ke rumah utama, maaf Insha karna Hanafi memaksaku untuk tinggal disini.
Hari ini bahkan kau tak mau memandangku, kau masih teguh dengan kemarahanmu.
Aku tak tau apa yang harus aku lakukan Insha, kau sangat membenciku, jangankan untuk mendengar penjelasanku, kau bahkan tak mau melihatku lagi.
2.
Hari ini kau pergi dari rumah Insha, aku tau semua ini salahku, karna aku kau pergi dari rumah.
Aku mencoba berbicara pada Hanafi untuk pergi dari sini tapi dia tak membiarkanku pergi.
Aku melihat sorot mata yang berapi-api dari Hanafi ketika ia mengingatmu Insha.
3.
Beberapa hari ini Hanafi di penuhi dengan emosi, amarahnya meledak-ledak tak ada satupun orang yang berani mendekatinya, termasuk aku.
Aku tak berani mendekatinya, karna aku tau, aku bukan siapa-siapa di hatinya. Hanya kau Insha, hanya kau satu-satunya wanita yang di cintainya.
Cinta Hanafi begitu besar untukmu Insha, aku bahkan tak pernah melihat seorang lelaki mencintai seorang wanita sepertinya.
4.
Hari ini Hanafi menaruhku di rumah belakang, sampai kini aku masih berfikir bahwa aku ingin pergi darisini, agar aku tak menyakitimu Insha.
5.
Janin ini semakin membesar, hari demi hari kepalaku semakin terasa sakit ntahlah akankah aku bisa bertahan untuk melahirkannya atau tidak, tapi aku akan tetap berjuang untuk bayi ini. Bayi untuk Insha dan Hanafi.
6.
Setiap hari aku selalu memimpikan sebuah rumah yang jauh dari pemukiman, dengan udara yang sejuk dan suasana rumah yang tenang. Suatu saat nanti setelah bayi ini lahir aku ingin tinggal di rumah seperti itu,sendiri, menghabiskan umurku, menghabiskan sisa waktuku.
__ADS_1
7.
Hari ini untuk pertama kalinya aku merasakan ngidam, aku ingin nasi goreng buatan Hanafi. Maafkan aku Insha, aku benar-benar tak bisa menahan untuk mengatakannya.
8.
Hari ini aku merasakan tendangan bayi untuk yang pertama kalinya, sungguh bahagia rasanya. Saat pertama kali aku merasakannya ntah kenapa aku langsung teringat padamu Insha. Aku selalu berdoa agar suatu saat nanti Tuhan memberimu keajaiban untuk bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
9.
Aku tau semua perhatian yang Hanafi berikan padaku hanya karna bayi ini dan hanya karna penyakitku ini. Dia merasa kasihan padaku dia juga merasa tanggung jawab dengan bayi yang aku kandung sekarang. Tapi sungguh aku tak berniat untuk merebut perhatian dan kasih sayang Hanafi untukmu Insha. Aku bahkan sering mengingatkannya untuk menjauh dariku, karna aku tak mau semakin menyakitimu.
10
Ntah kenapa Hari ini hatiku merasa ingin sekali menemuimu dan mengatakan semuanya Insha. Aku tak tahan terus berjauhan denganmu. Aku ingin mengatakan semua tentang bayi ini, tentang semua yang terjadi selama ini. Tapi aku tak sanggup mengatakan tentang penyakitku, aku tak mau kau mengetahui semuanya tentangku, biarlah semua menjadi rahasiaku dan semoga aku bisa bertahan sampai bayi ini lahir.
11.
Sakit kepalaku semakin menjadi hari ini, tentu saja karna aku tak pernah meminum obatku. Aku setiap hari membuangnya di closet untuk menyembunyikan dari semuanya, aku tak ingin menyakiti bayi ini dengan meminum obat itu, aku juga takut dengan kesehatannya di dalam, meski dokter telah mengatakan semua aman tapi aku tak mau mengambil resiko untuk itu, aku mau melahirkan bayi yang sehat untukmu Insha.
12.
Andai kau tau Insha, terasa sangat geli saat bayi ini menendang-nendang didalam sana, ada sebuah rasa bahagia saat dia bergerak-gerak didalam sana, dan aku selalu berdoa untuk kesehatannya.
13.
Hari ini aku meninginkan memakan martabak telor, ntah kenapa aku ingin di suapi langsung oleh Hanafi.
Aku tak berniat apapun sungguh, aku memang merasa nyaman di dekat Hanafi tapi pasti semua karna bayi ini. Anak yang ingin selalu dekat dengan ayahnya.
14.
Hari ini aku sangat terkejut karna kedatangan Prass. Tak kusangka dia mengetahui semuanya. Dia mengetahui darimu Insha, maaf mungkin rasa sakit yang selama ini kau rasakan seperti ini, seperti saat aku melihatmu dekat dengan prass.
Tapi sungguh tak ada satu niatanpun dariku untuk memiliki Hanafi, ataupun merbutnya darimu. Hanafi hanya milikmu, cintanya hanya untukmu.
15.
Andai kau tau Insha, jangan kau membenci Hanafi, dia lelaki baik dia bahkan sangat mencintaimu. dia masih memegang janjinya padamu Sampai sekarang pun di usia kandunganku yang akan menginjak 8 bulan ini. Dia tak pernah menyentuhku, sama sekali tak pernah. Dia memang tidur di kamarku tapi dia tidur di sofa dan tak pernah tidur di sampingku.
Semua yang dia lakukan untukku hanyalah sebuah rasa tanggung jawabnya kepada bayi yang ada dalam kandunganku tak lebih dari itu.
16.
Beberapa hari belakangan ini sakit di kepalaku semakin menjadi, mungkin karna tumor yang semakin parah karna aku tak pernah meminum obatnya. Maafkan aku Prass...aku tak mau kau hidup dengan wanita penyakitan sepertiku ini. Maafkan aku juga Insha aku telah menyakiti perasaanmu dengan kahamilan ini, tapi percayalah aku sama sekali tak pernah melakukan apapun dengan Hanafi, cintanya hanya milikmu hanya untukmu. Aku selalu berdoa semoga suatu saat nanti kalian semua dapat hidup dengan bahagia.
Itu adalah lembar terakhir dari diary Salma ,Insha tak melihat tulisan lagi setelahnya. Insha mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
ternyata aku salah..aku kira meskipun Khanza adalah bayi tabung..aku kira kalian juga mempunyai hubungan di belakangku...itu yang membuat aku sulit untuk menerimanya...tapi aku salah...teryata Hanafi tetap menjaga janjinya bahkan sampai Salma tiada...
__ADS_1
Bersambung....