
Arya berusaha menghubungi Hanafi kala itu, tapi sama sekali tak di jawab dan di balas olehnya.
Hingga pada malam hari Hanafi tiba-tiba datang ke rumah sakit, dengan tatapan amarahnya, wajahnya memerah dan terlihat matanya juga berkaca-kaca mencoba menahan sesuatu yang akan tumpah disana.
"Apa yang kau lakukan Ar...kau bilang semua telah gagal...kau tau Salma hamil sekarang.."
Hanafi menekan-nekan tubuh Arya ke tembok dengan amarah yang meluap-luap.
"Kau benar-benar tidak bisa di andalkan...Insha marah besar padaku...dia benar-benar hancur Ar...."
"Apa yang harus aku lakukan sekarang..Insha pasti salah faham dengan semua yang terjadi..."
"Dia tak mengetahui kenyataannya Ar...dia telah mengira aku telah melakukan malam panjang dengan Salma...kau tau betapa sakitnya dia sekarang..."
Hanafi bicara tanpa jeda dia terus saja mencecar Arya disana.
"Han..han..aku mohon tenanglah dulu..."
tubuh Arya bergetar menahan takut atas luapan amarah Hanafi yang sudah di perkirakannya.
"Apa kau bilang tenang...melihat Insha seperti itu mana bisa aku tenang...lihat saja apa yang akan terjadi padamu jika sampai Insha membenciku...ini semua karna mu Ar..."
"Han...kau tinggal bilang padanya semua yang telah terjadi...dan aku akan menjadi saksi atas semua ini...aku bersedia menjelaskan juga padanya...dia pasti akan mengerti..."
Arya mencoba membujuk Hanafi dengan tatapan penuh harap.
"Dia bahkan tak mau melihat wajahku lagi Ar...dia mengusirku..dan tak mau lagi bicara denganku..bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya..."
Air mata Hanafi pun tumpah disana, dia duduk bersimpuh di lantai mengingat lagi wajah Insha dengan amarah dan tangisnya yang sangat menyayat hati Hanafi, ia tak menyangka semua hal rumit ini akan terjadi dalam hidupnya.
Bahkan dia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini, ia tak ingin wanita yang sangat di cintainya pergi darinya.
Mungkin semua sudah kehendak Tuhan atau bahkan takdir yang di berikan untuk Hanafi. Janin yang bahkan telah di nyatakan hilang ternyata masih pada tempatnya dan berkembang dengan baik.
Penyesalan tinggallah penyesalan, sejak saat itu Hanafi benar-benar menjalani hidup dengan dua orang istri, Hanafi juga berusaha bersikap baik pada Salma meski kehamilannya tidak ia inginkan sama sekali. Semua ia lakukan karna untuk menjaga kondisi Salma, dan juga bagaimana pun bayi yang di kandungnya juga memiliki DNA nya.
Hidupnya sangat kacau kala itu, ia tak ingin Insha pergi darinya karna ia sangat mencintainya. Tapi dia juga menjaga Salma untuk tetap tinggal dengan semua kondisinya.
********
Mendengar semua cerita dari Hanafi semua kisah di belakangnya, Insha semakin terisak di tempat tidurnya.
"Maafkan aku Insha ...karna tak jujur denganmu..."
Insha pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terisak keras disana.
Cukup lama mereka berdua di atas tempat tidur yang sama, menumpahkan segala isi hati mereka, hingga Insha mengatakan sesuatu pada Hanafi.
"Ayo kita akan menghadiri pemakaman Salma.."
Insha pun berdiri sambil mengusap air matanya, ia berjalan ke kamar mandi dan mengganti bajunya.
Singkat cerita mereka telah sampai di rumah sakit, menjemput jasad Salma disana dan mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Insha berjalan di iringi Hanafi di sebelahnya, masih terus terisak Insha melihat sekelebat sosok yang tak asing untuknya, sosok yang ia cari dan tunggu kedatangannya untuk menyelamatkan hidupnya.
__ADS_1
"Prass...apa itu kak Prass..."
Insha bertanya pada Hanafi, Hanafi tak menjawab ia hanya mengangguk pelan pada Insha.
Insha pun mendekati Prass yang sedang berdiri menunggu jasad Salma di persiapkan untuk segera dikebumikan.
"Kak Prass.."
Insha menyapa Prass dengan suara sedikit serak karna isak tangisnya.
Prass terkesiap, ia langsung menoleh dan mendapati Insha disana, tanpa fikir panjang pun mereka saling memeluk erat satu sama lain di depan Hanafi yang seakan menyaksikan sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu itu, ada yang terbakar di sudut hati Hanafi ketika melihatnya tapi ia membiarkan semuanya dan memilih pergi untuk masuk ke ruangan Salma saat itu.
"Kemana saja kak Prass selama ini.."
Insha melepas pelukannya.
"Aku tak kemanapun Insha...apa kau mencariku.."
Jawab Prass sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi lembut Insha.
"Tentu saja aku mencari mu..."
Jawab Insha sambil memukul pelan dada Prass disana, yang membuat Prass sedikit menyunggingkan senyum di bibirnya.
Ingatan Prass membayangkan kembali saat berada di ruang kerja Hanafi. Saat ia selesai menuntaskan amarahnya pagi itu berkelahi dengan Hanafi di halaman rumah utama. Setelah ia bisa di tenangkan para pengawal membawanya ke ruang kerja pribadi Hanafi.
"Kenapa kau menyuruh mereka membawaku kesini...apa yang akan kau bicarakan lagi...semua sudah jelas...kau hanya lelaki serakah yang menginginkan dua wanita dalam hidupmu..."
Prass duduk di kursi yang sudah di siapkan untuknya, ia berhadapan dengan Hanafi yang cukup jauh dari jangkauannya.
Hanafi mencoba menenangkan Prass disana.
"Apa lagi yang akan kau bicarakan...semua sudah sangat jelas.."
"Aku mohon dengarkan aku dulu..."
Prass pun terdiam, ia mendengarkan Hanafi disana, tentu saja masih dengan wajah yang menatap tajam pada Hanafi.
"Semua tidak seperti yang kau lihat Prass...anak itu memang anakku dan Salma...tapi sama sekali aku tak pernah menyentuhnya..dia tercipta melalui proses bayi tabung..tentu kau tau itu kan...Salma yang meminta semuanya....bayi itu untuk Insha...Insha yang tak bisa mempunyai keturunan..."
Prass terlihat terkejut, tapi dia tetap diam mendengarkan lagi kelanjutan kalimat dari Hanafi.
"Itu adalah permintaan Salma...ia takut tak bisa membalas kebaikan ayah dan ibu Insha karna penyakitnya...hidupnya tak akan lama lagi Prass.."
"Penyakit...tak akan lama..apa maksudmu.."
Mata Prass terbelalak mendengar pernyataan Hanafi.
"Salma mengidap tumor otak Prass...dia takut hidupnya tak akan lama lagi...Ia menjauh darimu karna dia tak mau menyusahkanmu...dia tak mau kau menikahi gadis yang sakit seperti Salma...dia mau kau bahagia dengan wanita lain yang lebih sehat darinya..."
Hanafi pun menjelaskan semua yang telah terjadi selama ini saat Prass tidak berada disana. Prass pun di buat terisak disana, hatinya mulai bimbang, amarahnya mereda seketika mendengar semua kenyataan yang ada.
"Apa aku boleh menemui Salma ..."
Prass memelas pada Hanafi, ia ingin menemui Salma dan mengatakan sesuatu padanya.
__ADS_1
Hanafi pun memperbolehkannya dan memanggil Salma ke ruangan kerjanya.
Prass kini tengah memeluk Salma yang baru saja masuk, memeluk dengan rasa rindu yang teramat sangat.
"Kenapa kau tak mengatakan semuanya padaku...aku akan menerima semua kekuranganmu...tidak perlu kau lakukan ini semua...dan bayi ini...kenapa kau memaksakan dia untuk tinggal di dalamnya...bahkan kita bisa bicarakan pada Insha dan mungkin membiarkan wanita lain yang akan menanggungnya...tidak perlu kau..dengan kondisimu..."
"Maafkan aku Prass...tidak ada pilihan lain...aku ingin membalas..."
Salma tak kalah erat memeluk Prass kala itu, kalimatnya di potong begitu saja oleh Prass sebelum selesai.
"Ya aku tau...aku tau semua...aku tahu maksudmu...niatmu..hanya saja kau keliru menilai perasaanku...aku bahkan bersedia menerima apapun kondisimu...sekarang pun aku akan terima...ikutlah dengan ku...aku akan menyembuhkan mu bagaimana pun caranya...kalau perlu kita pergi ke luar negeri untuk mencari obat terbaik untukmu...agar kau bisa sembuh...aku akan merawatmu Salma...percayalah...aku mencintaimu..."
Prass memandang Salma dengan deraian air mata.
"Setidaknya biarkan bayi ini terlahir..lalu aku akan ikut denganmu mas..."
"Apa kau bisa berjanji untuk itu..."
"ya..begitu bayi ini terlahir...kita akan pergi...pergi jauh dari sini...aku akan mengikuti kemana pun kau pergi... mengikuti semua katamu...tapi biarkan aku untuk memberikan bayi ini pada Insha dan Hanafi..."
pandangan Salma mencoba meyakinkan.
"Aku akan menjemputmu Salma...aku akan menjemputmu...aku berjanji..."
Prass berkata dengan mengelus-elus lembut pipi Salma.
"Pergilah mas Prass...dan ingatlah bahwa Insha hanyalah milik Hanafi...jangan temui dia lagi...setelah semua ini selesai kita pun bisa pergi jauh dari sini...merajut kehidupan kita sendiri..."
Salma berkata masih berderai air mata.
Hanafi menyaksikan pemandangan di depannya, dua orang yang sangat saling mencintai. Prass dan Salma menempelkan dahi mereka , saling memegang wajah satu sama lain, mengikat janji dalam isaknya.
Hanafi juga tak dapat membendung air matanya, ia ikut terisak disana, merasa bersalah akan semua kerumitan yang telah terjadi.
*****
Hingga kini sampailah pada kelahiran bayi yang di kandung Salma, bayi yang di nantikan kelahirannya.
Dan tak disangka Salma benar-benar pergi meninggalkan semua janjinya pada Prass yang bahkan setia menunggu sampai akhir hayatnya.
Prass bersama Insha masuk kedalam ruangan yang terdapat jasad Salma, sudah ada Hanafi yang terisak disana.
"Aku disini Salma...aku menepati janjiku...janji untuk menjemputmu..."
Kata Prass sambil terbata dan terisak keras.
"Aku akan mengantarmu...mengantar ke tempat peristirahatanmu....kau sudah sembuh sekarang...semua keinginanmu telah tercapai..."
"Pergilah dengan tenang...bawa cintaku bersamamu...bersamamu yang akan selalu ada di dalam hatiku..."
Ingin berkalimat lagi tapi Prass tak sanggup dan ia memilih diam menahan tangisnya yang semakin keras.
Insha yang berada di sampingnya berusaha mengelus-elus bahu Prass menenangkannya, meski dirinya sendiri tengah berderai air mata.
Bersambung...
__ADS_1