
Pagi ini seperti biasanya segala rutinitas telah berjalan di rumah mewah Insha. Hari ini adalah akhir pekan, Hanafi libur dari segala aktivitasnya bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi waktu sarapan biasa di laksanakan di lantai bawah. Tapi hari ini ntah kenapa Insha terasa malas sekali untuk turun, ia masih saja bermalas-malasan di atas tempat tidurnya.
Hanafi pun mencoba untuk membujuknya untuk makan sesuatu.
"Sayang...ayo turun kita sarapan ya..."
"Aku tak mau makan apapun.."
jawab Insha sambil memutar-mutar jarinya di dada Hanafi. Posisi Insha sekarang sedang miring ke arah Hanafi, sedangkan Hanafi tengah berbaring dengan satu tangan merengkuh tubuh Insha.
"Makanlah sedikit sayang...apa kau tak kasihan pada anak kita nanti...kalau dia lapar bagaimana..makan ya..."
jawab Hanafi lembut sambil mengusap-usap rambut Insha.
"Emm..sayang...aku ingin makan sup daging buatan bude Ririn..."
Insha memandang Hanafi dengan nada suara manjanya.
"Kau ingin sarapan dengan sup daging buatan bude...baiklah aku akan kesana sekarang juga..." jawab Hanafi sambil tersenyum dan mencium kening Insha berkali-kali.
"Aku terasa mual makan makanan koki disini...aku ingin bude yang memasaknya...aku juga kangen sama kue buatan mbak Risna dan mbk Fatimah..."
"Ya sudah kalau begitu..bagaimana kalau kita ke rumah utama saja beberapa hari sampai kau tak merasa mual lagi dengan masakan para koki disini..."
Hanafi mencoba mencari solusi agar Insha tetap nyaman dengan kehamilannya.
"Tidak...aku tak mau meninggalkan kamar ini sayang....aku mau mereka..."
jawab Insha lagi dengan suara manja.
"Lalu aku harus bagaimana sayang..katakanlah..."
"Bawa mereka tinggal disini sayang...aku mau mereka tinggal disini..."
"Apa..."
Hanafi cukup terkaget karna permintaan Insha, ia sampai membulatkan matanya dan menatap Insha lekat.
"Kau serius sayang..."
"Lalu bagaimana dengan Khanza disana.."
"Bawa Khanza juga kemari sayang...."
jawab Insha ringan.
Hanafi yang trauma dengan Insha yang kelelahan karna ulah Khanza takut-takut kalau Ia mengulang hal yang sama, apalagi sekarang sudah ada calon bayi di dalam perut Insha. Dan Hanafi sangat menjaganya takut terjadi sesuatu padanya.
__ADS_1
"Tapi sayang..nanti Khanza bisa mengganggu mu trus jika tinggal disini..apalagi dengan kondisimu sekarang...aku tak mau kau kelelahan lagi..."
"Bukannya sudah ada mbak Mirna kan...dia pasti akan menjaga Khanza..."
"Mereka akan tinggal dimana nanti sayang...."
"Rumah ini terdiri dari 4 lantai sayang...mereka bisa memilih tinggal dimana saja..rumah ini sangat luas bahkan lebih luas dari rumah utama..."
Lagi-lagi Insha kembali menyadarkan Hanafi bahwa memang benar rumah mewah Insha jauh lebih besar dari rumah utama. Bahkan bangunannya menjulang tinggi ke atas dengan megah.
Hanafi diam beberapa saat karna ia tak mau bangunan rumah utamanya yang sudah ia bangun kosong begitu saja. Tapi ia ingat kembali fakta Insha yang sedang hamil, ia tak mau keinginannya tak terpenuhi. Dan juga ia teringat perjanjiannya dengan Insha bahwa ia akan menuruti semua keinginannya selama ia mampu untuk melakukannya.
Akhirnya Hanafi pun memutuskan membawa mereka semua ke rumah mewah Insha kecuali pak Tono dan pak Sardi yang tetap tinggal disana untuk tetap merawat rumah utama.
Hanafi segera menyuruh seorang disana untuk menjemput Bude ririn terlebih dahulu untuk memasak sup daging keinginan Insha. Dan yang lainnya mereka berkemas sebelum akhirnya menyusul ke rumah mewah Insha untuk tinggal disana. Termasuk Khanza, para pembantu Insha dalam sekejab sudah menyulap satu kamar di lantai bawah yang akan di gunakan untuk kamar Khanza. Menyulapnya menjadi kamar yang lucu ala anak usia 2 tahunan agar ia betah tinggal disana, di dalamnya juga sudah di lengkapi dengan berbagai mainan kesukaan Khanza.
Pagi itu Insha memakan sup daging buatan bude Ririn dengan di suapi oleh Hanafi.
Baru beberapa suap masuk ke dalam mulut Insha ia sudah berkata pada Hanafi.
"Sayang aku kenyang..."
"Kau baru memakan 3 suapan sayang...bagaimana kau bisa kenyang...ayo makan lagi....aku akan menyuapimu...ayo sedikit-sedikit..."
Hanafi menyodorkan sendok yang sudah di isi penuh dengan nasi dan sup dagingnya.
"Aku ingin menyuapimu sayang...makanlah..."
sekarang Insha malah balik menyuapi Hanafi.
"Aku makan nanti saja sayang...yang terpenting adalah dirimu sekarang...sini aku suapi ya..."
"Ahhh...aku ingin menyuapimu dengan sup ini..."
Pinta insha dengan wajah memelas, membuat Hanafi taknbisa menolaknya.
ya ampuun...aku bahkan sudah sempat makan sandwich tadi...dan perutku masih terasa kenyang...
"Baiklah...baiklah...aku akan memakannya ayo suapi aku...aaa'..."
Hanafi pun mengalah, ia sudah membuka mulutnya lebar-lebar bersiap menerima suapan Insha.
Insha pun dengan antusias menyuapi Hanafi dengan semangat, hingga akhirnya satu mangkuk penuh sup daging itu kandas seluruhnya berpindah ke dalam perut Hanafi.
Hanafi pun hanya bisa membuka dan menutup matanya merasakan rasa sesak di dalam lambungnya yang di penuhi makanan.
hmmm...bayi ini benar-benar mengerjaiku....nakk...lihatlah ayahmu ini...bahkan mungkin aku tak kuat berdiri setelah menghabiskan semangkuk besar sup daging keinginanmu atau ibumu itu...terserahlah keinginan siapa yang jelas perutku terasa penuh sekarang....
gumam hati Hanafi sambil memegangi perutnya dan menghela nafas panjang.
__ADS_1
Saat sore hari tiba Insha baru saja selesai dengan ritual mandinya. Dengan masih memakai sebuah piyama handuknya Insha berjalan pelan menuju ke arah lemari besarnya. rambut panjangnya yang setengah basah di urai begitu saja menjuntai indah di punggungnya.
Ntah dari mana datangnya Hanafi tiba-tiba saja memeluk Insha dari belakang.
Menciumi wangi tubuh Insha, membenamkan wajahnya di lehernya dan juga menciumi rambut Insha yang masih setengah basah itu.
"Kenapa akhir-akhir ini kau selalu berbau wangi sekali sayang...kau selalu membuatku ketagihan untuk menciumi aroma tubuhmu..."
"Aah..itu hanya alasanmu saja sayang...bilang saja kalau mau ingin selalu dekat-dekat denganku kan..."
jawab Insha sambil mengacak-acak rambut Hanafi dan tertawa ringan.
"Sungguh aku tak berbohong sayang.."
Sekarang Hanafi meraba dan mengelus-elus lembut perut Insha, menempel langsung pada kulitnya.
"Dan ya...nak katakanlah apa kau kedinginan di dalam...ibumu selalu lama sekali saat mandi...ayah sampai bosan menunggunya..."
Hanafi berpura-pura mendengus kesal tapi di bumbui dengan senyuman tipis ingin menggoda Insha.
"Hey....tuan Hanafi mana ada seorang bayi kedinginan saat dalam kandungan...dia akan selalu hangat bukan..."
Insha mengerutkan keningnya sedikit memikirkan kata Hanafi barusan.
"Kata siapa... bayi bahkan bisa kedinginan Insha....aku pernah mendengarnya dari dokter Arya...."
kedua tangan Hanafi sekarang berada di perut Insha dan mengelusnya bergantian.
"Benarkah..."
Insha melepas pelukan Hanafi, dan menatapnya dengan tatapan terkejut.
"Apa dia bisa kedinginan..."
Melihat expresi Insha sekarang, Hanafi tak dapat menahan lagi tawanya, tawanya pecah begitu saja.
"Hahaha....tentu saja tidak sayang....dia sangat aman disana...aku bercanda...haha...aku bercanda..."
"Ahhh kau ini...membuatku panik saja...aku bahkan sudah berfikir tak akan mandi lama lagi..."
Insha memajukan bibirnya karna kesal, dan itu malah membuat Hanafi gemas dengan tingkahnya, dengan gerakan secepat kilat Hanafi ******* habis bibir Insha dengan rasa gemasnya.
Cukup lama mereka berciuman disana hingga akhirnya ciuman itu terlepas di iringi oleh tawa ringan keduanya.
"Sudah..ayo cepat ganti baju sayang...kau bisa kedinginan nanti...pakailah baju yang hangat, udara akhir-akhir ini cukup dingin saat malam hari...."
Insha hanya tersenyum dan mengangguk lalu segera membuka lemari besarnya. Beberapa detik lemari terbuka Insha terdiam, lalu tiba-tiba saja Insha terasa mual-mual dan segera berlari ke kamar mandi.
Bersambung...
__ADS_1