
Hanafi terisak keras di samping sofa, sudah tidak peduli lagi dengan orang-orang di sekitarnya. Seakan ia ingin menghabiskan semua kesedihan dan airmatanya disana. Kepalanya terasa sangat pening, merasakan berbagai masalah yang menderanya beberapa bulan belakangan ini. Juga merasakan kesedihan yang amat mendalam atas kepergian pak Sun dan kabar pernikahan Insha.
Sedari semalam Hanafi pun belum memakan apapun, tadi saat berangkat menuju pemakaman pak Sun, ia juga enggan untuk sarapan, ia tak berselera makan dan tak merasa lapar sama sekali.
Hingga siang ini Hanafi mendapatkan kabar akan pernikahan Insha yang akan di gelar 2 minggu lagi. Tubuhnya seakan tak memiliki tenaga lagi untuk menopangnya, badannya gemetar hebat menahan sedih yang teramat sangat, kecewa dan amarah yang menjadi satu. Semakin lama tangisnya semakin melirih, di barengi dengan tubuh yang semakin lemah, pandangan matanya juga tiba-tiba buram dan semakin buram lalu menghitam.
Hanafi pun pingsan dalam pelukan Kriss yang slalu setia berada di sampingnya.
Kriss dengan tubuh berototnya segera mengangkat tuan mudanya seorang diri menuju mobil, lalu segera membawanya menuju ke rumah sakit.
Ia rasa tubuh tuannya sudah tak mampu lagi menahan semua beban dalam hidupnya, Kriss pun tak tau apa dia bisa melalui semuanya, jika ia yang menggantikan posisi Hanafi sekarang.
Dalam perjalanan itu Kriss juga terisak memikirkan bagaimana hidup yang akan di jalani tuannya di kemudian hari setelah Insha benar-benar memantapkan hatinya untuk berpaling dari Hanafi dan menikah lagi.
Baru saja Hanafi bercerita pada Kriss ia senang karna Khanza kini bisa tumbuh dan berkembang dengan baik selayaknya anak seusianya, dia bahkan sudah mulai belajar berjalan dan berbicara beberapa kata di usianya yang hampir 1 tahun itu.
Tepatnya kurang 5 hari lagi Khanza berulang tahun yang pertama, juga bertepatan dengan peringatan hari kematian Salma tentunya.
Hanafi mengutarakan keinginannya untuk mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecil an dengan orang-orang terdekatnya saja, dan ia ingin mengundang Insha juga disana.
Bahkan Hanafi juga sudah memesan kue ulang tahun untuk anak kesayangannya itu, dengan gambar barbie kesukaannya.
Hanafi ingin menggelar doa bersama juga untuk mendiang Salma secara sederhana di rumah utama.
Tapi ntah semua rencana itu akan berjalan atau tidak mengingat Hanafi yang sedang berada di rumah sakit, dan dokter Arya mengatakan Hanafi akan di rawat di sana selama beberapa hari sampai ia benar-benar sembuh.
Saat di rawat dirumah sakit Hanafi tampak banyak diam, dia terlihat sangat terpukul dengan semua yang terjadi, semangat hidupnya seakan telah hilang. Dia jarang sekali makan, hingga membuat tubuh kurusnya semakin bertambah kurus.
Ulang tahun Khanza tetap di gelar, di rumah utama dengan menghadirkan beberapa anak yatim piatu disana, sekedar berbagi pada mereka, juga untuk memeriahkan acara karna Hanafi juga tak memiliki keluarga lagi, hari itu juga di gelar doa bersama untuk mendiang Salma.
Hanafi tak bisa menghadirinya, ia masih terbaring lemah di rumah sakit. Ia hanya melihat pesta perayaan itu di balik layar monitor yang terhubung langsung dengan rumah utama. Disana ia melihat langsung betapa bahagianya Khanza karna banyak anak-anak yang datang ke rumahnya, juga betapa senangnya ia melihat kue berbentuk barbie, mainan yang selalu di mainkannya.
Hanafi berusaha tersenyum dengan tubuh yang sangat lemah, ia tak mau putrinya melihat ia bersedih. Bagaimana pun keadaan Hanafi selama ini, ia berusaha untuk selalu terlihat bahagia di depan Khanza.
Dalam video itu Mirna menuturkan akhir-akhir ini Khanza mulai pandai berbicara, banyak kata-kata yang di ucapkannya, Khanza juga mulai banyak berjalan, beberapa kali ia tampak bisa berjalan sendiri dengan kaki mungilnya.
__ADS_1
Mirna juga munuturkan bahwa Khanza memperoleh sebuah paket hadiah ulang tahun dari Insha, Hanafi yang di buat penasaran pun bertanya pada Mirna.
"Insha yang mengirimnya...."
"Iya tuan..hadiah itu tertulis nama nona Insha sebagai pengirimnya...."
"Apa isinya..."
Hanafi bertanya dengan wajah penasarannya.
"Sebuah boneka panda besar berwarna pink...dan juga 5 setel baju rajut lengkap dengan topi untuk nona Khanza tuan...."
Mendengar jawaban itu Hanafi hanya terdiam, lalu memutus begitu saja secara sepihak sambungan videonya.
Teryata Hanafi kembali terisak dengan keras, tempat tidurnya terlihat bergetar karna tangisannya.
kau bahkan menyayangi Khanza In...tapi kenapa kau meninggalkanku...
Aku memang telah salah untuk semua yang terjadi... tapi setidaknya beri aku kesempatan kedua untuk memperbaiki semuannya....bahkan cintaku padamu tak berubah sedikit pun....cintaku tetap cinta yang dulu....
jika saja aku bisa lebih mengerti keadaan dan perasaanmu saat itu..pasti semua ini tak akan terjadi in...
Tapi karna kebodohanku...yang menikahi Salma...membiarkan dia melaksanakan prosedur itu....aku yang tak jujur dengan semua yang terjadi di belakangmu....memberikan kasih sayang juga untuknya..tanpa memperdulikan perasaanmu...
Semua ini salahku Insha....salahku...semua memang salahku...dan aku pantas mendapatkannya....
Setelah cukup lama dia terisak sendiri diruangan perawatannya, tangisan itu di hentikan dengan masuknya dokter Arya.
Dokter Arya yang melihat bekas tangisan di wajah Hanafi merasa semakin khawatir dengan keadaannya, ia takut kalau Hanafi tak bisa keluar dari situasi terpuruknya ini, Hanafi bisa benar-benar stress dengan tubuhnya yang semakin kurus dan lemah.
"Han..."
Arya ingin mencoba menasehati Hanafi, agar ia tak lagi memikirkan tentang Insha dan memulai kehidupan barunya.
Tapi Hanafi tak menjawab sama sekali panggilan dari dokter Arya, Hanafi hanya memandang kosong ke arah depan , dan hanya terdiam tak bergerak.
__ADS_1
"Han...aku harap kau mendengarkanku....Han...aku mohon padamu..kau jangan terpuruk seperti ini....bangkitlah han...jadilah Hanafi seperti yang dulu....ihklaskanlah Insha untuk bahagia....mungkin itu yang terbaik untukmu dan untuknya sekarang....yang perlu kau lakukan sekarang...beri semangat dirimu untuk tetap ada di jalanmu....kau masih punya Khanza...dia sangat butuh kasih sayang dan perhatianmu...masa depannya pun masih panjang han...jadikah Khanza sebagai semangat dirimu untuk terus bangkit....ingatlah semua yang telah kau lalui sebelum kelahirannya....dia anakmu....jangan biarkan semua perjuangan Salma sia-sia dengan kau biarkan Khanza tanpa kasih sayang orang tua..."
Arya menatap iba pada Hanafi, cukup lama Hanafi diam tanpa kata, hingga akhirnya ia pun membuka suara.
"Ya kau benar....dan aku akan datang di acara resepsi pernikahan Insha..."
Hanafi menjawab masih dengan posisi yang sama.
"Haahh..apa..tidak bisa...tidak bisa han...kau tidak bisa datang dengan kondisimu yang seperti ini..."
Arya membelalakan matanya menatap penuh terkejut pada Hanafi.
"Aku akan datang..."
jawab Hanafi acuh.
"Tidak han...kau masih sangat lemah...kau tak bisa melihat Insha dengan kondisimu seperti ini....aku takut kau akan..."
kata-kata Arya terhenti ketika Hanafi memotongnya.
"Bukankah kau bilang aku harus bangkit dan mengihklakan Insha..."
Kini tatapan Hanafi berubah tajam pada Arya.
"Tidakkah lebih baik aku hadir disana dengan menunjukkan bahwa aku kuat...dan aku bisa hidup tanpanya..."
"Tapi apa kau sudah benar-benar kuat untuk mengihklaskan semuanya...dengan kondisimu sekarang..."
Arya merasa salah berkata-kata, ia kini khawatir karna menurutnya telah memprovokasi Hanafi untung datang ke pesta resepsi pernikahan Insha.
"Aku harus bisa...aku harus kuat...demi Khanza...semua hanya demi Khanza....aku akan memulai hidupku lagi....hanya dengan putriku...dengan bidadari kecilku..."
Ntah darimana Hanafi tiba-tiba memiliki sebuah semangat dalam dirinya, ia pun juga menatap Arya penuh keyakinan.
Arya pun tersenyum melihat Hanafi yang tersenyum dengan lebar untuk pertama kalinya setelah beberapa hari di rawat disana.
__ADS_1
semoga senyummu ini...menjadi awal dari kehidupanmu yang lebih baik kedepannya Han...dan aku selalu berdoa untuk itu...
Bersambung...