2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Wanita karir


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Khanza yang kedua. Hanafi dan Insha sengaja datang ke rumah utama di pagi buta. Membelikan Khanza sebuah kue tart bentuk barbie kesukaannya. Tak ada pesta di Tahun ini, mereka merayakan ulang tahun Khanza bersama keluarga kecilnya dan para pembantunya di rumah. Insha juga mengundang pembantu, para koki, satpam dan para pengawalnya untuk ikut dalam kebersamaan itu di rumah utama. Mereka semua melihat dan membiarkan Khanza kecil memotong-motong kue bentuk barbie kesukaannya itu.


Para pembantunya juga khusus memasakkan berbagai masakan untuk acara tersebut lalu memakannya bersama. Mereka semua banyak bercanda disana menikmati kebersamaan dan pesta kecil Khanza.


Di tengah-tengah pesta yang terasa hangat itu Insha tiba-tiba saja berbicara.


"Setelah ini kita semua akan berkunjung ke makam Salma..."


seketika suasana yang semula ramai gelak tawa menjadi hening untuk beberapa saat tak ada satu pun yang menjawabnya, bahkan Hanafi pun ikut terdiam disana.


Tak ada yang berani berkata jika sudah menyangkut tentang Salma, pasalnya sebelum pernikahan keduanya dengan Insha. Hanafi sudah memberikan sebuah peringatan keras kepada seluruh pembantunya untuk tidak menyebut nama "Salma" di saat apapun. Hanafi takut membangkitkan kenangan buruk lalu yang di alami olehnya dan Insha. Hanafi ingin membuka lembaran baru tanpa adanya nama Salma di dalamnya.


Setelah cukup lama tak mendapat jawaban Insha menoleh pada Hanafi, Dan Hanafi pun segera berkata.


"Jika kau mau maka kita akan kesana.."


Mendengar jawaban itu semua yang ada di dalam ruangan itu mulai saling memandang.


"Ya kita akan kesana setelah ini...bersama-sama..."


jawab Insha dengan nada santai.


Hanafi pun mengangguk faham sambil memakan beberapa camilan yang ada di hadapannya.


Dia cukup heran dengan pernyataan Insha, pasalnya baru kali ini selama beberapa bulan pernikahannya Insha membahas lagi tentang Salma.


Singkat cerita mereka semua pun sampai di tempat pemakaman Salma dengan menggunakan beberapa mobil. Insha meminta Hanafi untuk memimpin do'a untuk mendiang Salma. Selesai dengan do'anya beberapa orang terlihat menabur bunga di atas makamnya, termasuk Insha sendiri.


Selesai dari pemakaman itu mereka berjalan lagi menuju mobil yang di gunakan masing-masing. Insha berjalan beriringan dengan Hanafi, Insha pun membuka pembicaraan disana.

__ADS_1


"Aku sudah mengerti semua yang terjadi di antara kalian..."


Insha berkata dengan menatap Hanafi sekilas. Lalu segera manatap lurus ke arah jalan lagi.


Hanafi hanya terdiam, tak berani menjawab apapun, takut-takut kalau dia salah bicara dan malah membuat kesalahfahaman antara dirinya dan Insha,lalu Insha kembali berkalimat.


"Aku kira meski Khanza tercipta dari bayi tabung...kau dan Salma juga melakukan hal sebagai selayaknya suami istri....dan jujur itu yang membuatku sulit untuk memaafkanmu...bahkan aku sempat tak percaya lagi dengan semua kata-katamu...."


Insha menghela nafas sebentar lalu berkata lagi.


"Aku bahkan sempat pergi kepada dokter Arya dan bertanya langsung padanya...apakah benar yang terjadi selama ini sesuai dengan apa yang kau katakan..."


"Jujur semua fikiranku itu yang membuat aku pergi darimu...yang membuatku memilih menjauh dan tak mau lagi berhubungan denganmu....karna aku merasa terhianati oleh orang-orang terdekatku..."


"Aku sempat ragu kembali lagi padamu...tapi setelah aku membaca dairy Salma...tulisan itu membuatku kembali percaya padamu..bahwa kau tak pernah menyentuhnya....bahkan kau menepati janjimu sampai di akhir hayatnya..."


Insha terdiam menunggu jawaban dari Hanafi.


Jawab Hanafi sambil memeluk bahu Insha.


"Ya...aku menemukannya di laci rumah belakang..di kamar Salma dulu tinggal...Untuk itulah aku sudah melupakan semuanya...aku anggap Khanza adalah sebuah takdir tuhan pada kita...meski cara Tuhan memberinya dengan di penuhi banyak kejadian luar biasa untukku...aku sudah ihklas...dan aku menganggap semua tak pernah terjadi....aku memaafkan mu dan juga Salma...aku berharap ia tenang disana..."


"Terimakasih sayang..."


Hanafi mengecup puncak kepala Insha dan semakin membawanya dalam pelukannya.


Insha hanya tersenyum dan melingkarkan tangannya memeluk pinggang Hanafi.


"Jangan lagi kau lakukan hal-hal gila yang menyakiti ku lagi sayang...atau aku akan pergi lebih jauh darimu dan tak akan kembali lagi.."

__ADS_1


"Tak akan sayang...aku bahkan tak memiliki niat untuk itu...aku hanya untukmu...hanya milikmu..."


Kehidupan rumah tangga Insha dan Hanafi pun semakin bahagia dan harmonis. Usaha Insha juga semakin mengalami peningkatan yang signifikan dari waktu ke waktu.


Karna banyaknya pesanan baju rajut modifikasinya dia semakin kewalahan di buatnya. Hingga akhirnya dia membeli sebuah mesin untuk memproduksi massal baju-baju rajut hasil modifikasinya. Dengan begitu produksi baju-bajunya bisa di lakukan dengan cepat.


Tapi Insha masih memeperkerjakan orang-orang untuk merajut dengan manual. Tentu saja dengan harga yang lebih tinggi. Karna hasil dari baju rajut manual dan mesin sangatlah berbeda dan membutuhkan sebuah ketlatenan dalam membuatnya.


Dalam waktu beberapa bulan Insha dapat memproduksi lebih banyak baju dengan label nama pabrik barunya. Menyingkirkan nama-nama label baru yang bermunculan menjadi pesaing pabrik baju rajut milik Insha.


Bahkan kini baju Insha mulai banyak di kenal di luar negeri. Insha mulai banyak mengirim baju-baju buatannya ke luar negeri atas bantuan dari banyaknya teman Hanafi. Mereka tertarik dengan baju modifikasi buatan Insha dan mulai mengenalkan di negaranya.


Dari situlah pesanan dari dalam dan luar negeri semakin meledak, baju dengan label namanya sangat terkenal dan banyak dicari dimana-mana sekarang.


Insha membuka beberapa pabrik baru di beberapa kota, dan banyak menyedot tenaga kerja disana, terutama kaum wanita.


Insha sengaja hanya memperkerjakan para wanita di pabriknya, karna ia ingin wanita terutama mereka yang sudah berumah tangga mempunyai penghasilan pribadi dan tidak bergantung pada pendapatan suaminya. Menurutnya banyak wanita yang di tindas dan tak berdaya membiarkan suami-suami mereka bertindak semaunya, hanya karna mereka tak dapat menghidupi dirinya sendiri, hanya karna mereka bergantung pada suaminya.


Insha tak ingin semua itu terjadi, apalagi mengingat peristiwa yang sempat ia alami. Membuatnya kini tak ingin hanya berpangku tangan pada Hanafi. Ia ingin mendapatkan penghasilan sendiri dengan kerja kerasnya sendiri.


Tak disangka semua kerja kerasnya kini membuatnya menjadi wanita yang sukses. Ia bahkan mampu membeli 3 rumah mewah lengkap dengan properti dan mobil keluaran terbaru.


Barang-barang serta pakaian yang di pakainya sekarang juga berasal dari barang-barang branded ternama dan tentu dengan harga yang sangat mahal. Ia sering berlibur sendiri di berbagai negara yang belum sempat ia datangi.


Sedangkan Hanafi juga tengah sibuk dengan mengembangkan perusahaannya lagi. Ia juga membuka beberapa cabang lagi.


Perusahaannya menggandeng label nama baju Insha, sehingga lebih banyak orang yang mau bekerja sama lagi bersama Hanafi. dalam kurun waktu 6 bulan Insha sudah mempunyai banyak pabrik di berbagai kota, juga Hanafi mampu membuka lagi beberapa cabang barunya.


Kehidupan mereka seakan kembali pada kehidupan dulu saat Hanafi masih berjaya dengan perusahaannya. Tapi sekarang keadaan berbalik, Insha yang lebih mendominasi dalam segala aspek penghasilan mereka. Dan Insha lebih di sibukkan dengan banyak kegiatannya sekarang, menjadi wanita karir yang sangat sukses di negaranya dan di kenal dimana-mana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2