2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Kedatangan Pak Sun


__ADS_3

Di rumah mendiang sang ayah, rumah itu tampak mulai sepi, setelah pemakaman selesai di lakukan.


Makam ayah tepat berada di sebelah ibu Insha, dulu ayah selalu mengatakan jika suatu saat nanti dia berpulang, dia ingin bersebelahan dengan sang istri tercinta.


Untuk alasan itu pula Hanafi berusaha untuk mewujudkannya. Makam ibu mertuanya sudah di perbaiki beberapa bulan yang lalu, Hanafi mengganti batu nisan nya dengan yang baru, batu nisan sebuah marmer hitam dengan ukiran nama berwarna emas.


Hanafi juga mengganti makam ayah dan ibu Salma yang tak jauh dari sana, dengan batu nisan yang sama pula.


Rupanya dia juga membayar lebih beberapa orang yang bertugas menjaga dan membersihkan makam disana, untuk lebih memperhatikan ke tiga makam itu, agar selalu terawat dan bersih.


Hanafi juga memberikan donasi untuk makam tersebut, agar bisa membangun beberapa sarana untuk mempermudah para takziah yang datang kesana. Ia juga membeli tanah-tanah di sekitarnya agar makam bisa di perluas, mengingat setiap hari ada saja orang yang di makamkan disana.


Kadang menurut penuturan sang penjaga, ada beberapa makam yang di tumpuk jenazah nya. Dengan memberikan batasan tanah di jenazah yang lama dan yang baru.Itu di lakukan karna sudah tidak ada lagi tempat untuk membuat makam yang baru.


Tentunya atas izin sang keluarga yang bersangkutan.


Mendengar itu Hanafi pun merasa sangat prihatin, untuk itu ia memutuskan membeli tanah di sekitar makam, untuk di jadikan area makam yang baru.


Dan tentu saja semua itu bukan Hanafi yang melakukannya, melainkan Kriss yang di tugaskan khusus untuk mengurus semua.


Tak banyak yang tau atas meninggalnya ayah mertua dari pemimpin Wijaya group itu. Hanya beberapa karyawan dan pejabat yang dekat dengan nya yang mengetahui akan berita itu.


Hanafi memang sengaja menyuruh siapapun yang mengetahui untuk merahasiakannya, karna ia tau pasti rumah ayah tak akan muat kedatangan banyak tamu dan pejabat penting jika banyak orang mengetahuinya.


Beberapa karangan bunga yang datang saja sudah cukup memenuhi halaman rumah dan jalanan menuju rumah duka. Belum lagi warga sekitar yang berbondong-bondong datang kesana.


Di dalam rumah yang sudah tampak sepi, terlihat Insha yang bersandar di dinding ruang tamu menatap kosong lurus kedepan, matanya masih memerah karna tangisan yang sepertinya baru saja reda.


Sementara Salma terlihat lebih tegar dari Insha, dia terlihat mondar-mandir mengurusi segala keperluan pemakaman dan peziarah yang datang, juga mengurusi beberapa keperluan orang-orang yang membantu disana.


Padahal Hanafi sudah mengatur semua tentang pemakaman ini, tapi masih saja Salma di sibukkan oleh nya. Kebiasaan orang desa memang berbeda dari orang kota, terutama orang kaya seperti Hanafi, dan Hanafi pun bisa memahami itu.


Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di pelataran rumah, Hanafi menatap mobil itu. Hanafi sudah hafal betul dengan mobil itu, mobil yang setiap pagi selalu berada di halaman rumahnya menjemput sang ayah untuk pergi ke kantor.


Ya...itu adalah mobil pak Sun, lebih tepatnya mobil mendiang ayah Hanafi yang di berikan pada pak Sun.


pak Sun...dia datang...aku sangat merindukannya...


Hanafi berjalan keluar rumah, ia menyambut langsung kedatangan pak Sun dengan pelukan Hangatnya.


aku rindu sekali tangan hangat ini...mengingatkanku slalu pada tangan papa..

__ADS_1


Hanafi sampai memejamkan matanya merasakan kenyamanan yang sudah lama tidak dia rasakan.


"Bagaimana kabar anda tuan muda..."


kata-kata pak sun membuyarkan bayangan Hanafi tentang masa lalu.


Hanafi melepaskan pelukan itu, lalu mengusap sesuatu yang sudah menganak di ujung matanya.


"Saya baik-baik saja pak..."


menepuk-nepuk bahu pak sun lembut.


"Kenapa tuan muda menangis...apa saya menyakiti anda..."


pak sun sedikit menjauhkan tubuhnya dari Hanafi, dan menatap dengan penuh heran.


"Tidak pak...aku tidak apa..aku hanya merindukan mu pak..."


Hanafi meraih tubuh pak sun untuk mendekat lagi.


Mereka pun masuk ke dalam rumah, Hanafi segera menepuk bahu Insha, menyadarkannya bahwa pak Sun sekarang sedang berada tepat di depannya.


Seketika Insha yang sedang melamun terkesiap ia menjabat tangan pak Sun berusaha mengecup punggung tangan nya tapi seketika tangan itu di tarik oleh pak Sun.


"Bukan kah pak Sun yang telah merawat suami saya selama ini...itu berarti anda juga orang tua kami bukan..benar kan sayang.."


jawab Insha yang mencoba tersenyum di balik penampilannya yang sudah tampak kacau itu.


Insha pun tau semua yang dialami Hanafi setelah kepergian kedua orang tuanya. Yang membuatnya cukup terpukul dan menjalani kehidupan yang tak mudah sebagai tuan muda.


Di saat itu lah pak Sun yang selalu ada untuk membantunya, menjadi sosok guru untuk mengajari Hanafi berbisnis juga mendampingi, mendidik dan juga memberikan kasih sayang layaknya orang tua.


"Memang benar yang kau katakan sayang.."


Hanafi tersenyum cerah melihat sikap istrinya terhadap pak Sun.


Pak Sun pun berbinar mendengar penyataan itu dari tuan dan nona mudanya itu.


Selama beberapa tahun belakangan ini, pak Sun memang jarang terlihat, ia tak lagi bekerja di kantor utama Wijaya group.


Hanafi memindah tugaskan dia sebagai pemimpin kantor anak cabang yang terletak di kota A.

__ADS_1


Setelah berbincang mengenai mendiang ayah Insha, juga berbagai keadaan yang tengah di alami pak Sun beberapa waktu ini.


Mereka seakan berbicara layaknya anak dan orang tua, akrab tak ada jarak sedikit pun.


"Ada suatu hal yang harus saya bicarakan pada tuan muda.."


kini wajahnya berubah menjadi sebuah expresi antara sedih dan bingung.


"Katakan saja pak..ada apa.."


"Maafkan saya tuan sebelumnya...seperti sudah waktunya saya untuk meninggalkan berbagai pekerjaan ini tuan.."


memandang Hanafi dengan wajah memelas.


"Meninggalkan...maksud bapak apa.."


"Usia saya sudah tidak muda lagi tuan..sudah waktunya saya meninggalkan perusahaan.."


Hanafi tampak terkejut dengan pernyataan pak Sun,


"Kenapa pak..apa pekerjaan yang saya berikan pada pak Sun terlalu berat..."


Hanafi kini menatap penuh heran.


"Tidak tuan...semua pekerjaan yang tuan berikan dapat saya selesaikan..tapi saya sudah merasa tidak pantas berada di perkantoran yang besar dengan usia saya sekarang....terlebih lagi banyak pemuda yang lebih berpendidikan yang jauh lebih pantas dari pada saya....mungkin dengan kata lain, sudah waktunya saya pensiun tuan.."


mata pak Sun sekilas menatap Hanafi, kemudian menunduk dalam.


Rupanya Hanafi sudah tak kaget lagi dengan penjelasan pak Sun, rupanya ia sudah mengerti dari 2 bulan yang lalu tentang niatan pak Sun yang akan pensiun, tapi dia memilih diam dan menunggu pak Sun sendiri yang mengatakannya.


Diam-diam Hanafi juga sudah menyiapkan sebuah vila di puncak yang di bangunkan khusus untuk pak Sun dan sang istri untuk tempat tinggal di masa tuanya, juga sebagai Hadiah karna tanpa pak Sun Hanafi tak akan menjadi seperti sekarang ini.


Kota A adalah kota sejuk, sekeliling nya terdapat banyak gunung yang tinggi, membuat kota itu menjadi kota dengan udara yang cukup sehat.


Untuk itu Hanafi secara khusus meminta pak Sun yang sudah mulai menua untuk bertugas memimpin kantor anak cabang disana, dengan suasana dan udara yang cocok untuk usia yang tak lagi muda itu.


Insha kini tampak bingung hendak bereaksi apa, Hanafi pun melingkarkan tangan nya di bahu Insha.


"Baiklah pak..beristirahatlah...terimakasih karna sudah bekerja keras selama ini..terimakasih juga karna tanpa bapak saya tidak mungkin menjadi seperti sekarang ini....janji bapak sudah terpenuhi pada papa...Lihatlah saya kini pak, saya sudah mampu menjalankan Wijaya group bersaing dengan banyak perusahaan lain...juga lihatlah kini saya tlah memiliki kehidupan yang bahagia dan sempurna bersama Insha.."


Hanafi tampak tersenyum cerah dengan kata-katanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2