
Kedua tangannya sekarang terasa lemas menjuntai begitu saja di sisi-sisi tubuhnya. Wajahnya kini terlihat sedih, penuh kebingungan dia mematung di tempatnya tak bergerak sama sekali, tak mengatakan apapun hanya diam dalam hening.
"Kenapa kau diam...."
"Katakan padaku...apa anak yang ada dalam kandungannya adalah anak mu..."
"Jujurlah ..."
"Jangan menutupi apapun dariku sekarang..."
Hanafi tak menjawab ia hanya menatap Insha, sekarang air mata mulai membasahi pipinya.
"Untuk apa kau menangis han..."
"Seharusnya kau senang...kau akan segera mempunyai anak yang sangat kau nantikan.."
"Sebagai pewaris perusahaan terbesarmu..perusahaan ternama Wijaya group..."
"Kau akan segera menjadi seorang ayah han..."
"Bukankah itu impian terbesarmu..."
Insha berkata dengan suara yang meninggi dan lantang, menatap lurus pada Hanafi yang tepat ada di depannya, matanya terlihat merah menahan amarah dan tangis yang mencoba mengalir kembali.
"Maaf..maafkan aku Insha..."
Hanafi berkata sambil menahan isaknya.
"Maaf..dengan mudahnya kau bilang maaf..setelah semua yang terjadi...semua hal yang telah kita lewati...semua kata cintamu itu palsu han..kau telah ingkar janji...kau bilang tak akan menyentuhnya...kau bilang pernikahan mu dengannya hanya sandiwara..."
"Sayang aku..."
Hendak berkilah lagi tapi Insha segera memotong kalimatnya.
"Jangan pernah kau jadikan ayahku sebagai alasan untuk menutupi nafsumu itu han...ayah hanya alatmu yang kau jadikan sebagai alasan untuk menyalurkan hasratmu pada Salma.."
"Cukuup Insha.."
Jawab Hanafi tegas masih dengan air mata yang mengalir di ujung matanya.
"Seharusnya aku yang bilaang cukuup Haann..."
Mendengar itu suara Insha meninggi..ia berbalik membentak Hanafi.
__ADS_1
"Sudah cukuup semua sandiwaramu ini...sandiwara kau mencintaiku...menyayangiku...merindukanku..semua itu palsu..selama ini aku bahkan telah tertipu dengan parasmu yang lugu itu...kau diam-diam mencintai dan mempunyai hubungan dengan kakakku...semua yang terjadi sebelum kematian ayah itu adalah sandiwara kalian..."
Air mata Insha mulai pecah, tangannya dan bibirnya gemetaran hebat meluapkan tangis dan amarah yang keluar bersamaan.
Ntah kenapa sekarang Hanafi malah secepat kilat berlari dan memeluk Insha erat.
"Lepaskan aku...jaangan menyentuhkuu..."
"Jangan lagii menyentuhku dengan tubuhmu itu.."
amarahnya yang memuncak membuat Insha mempunyai sebuah tenaga untuk mendorong tubuh Hanafi dengan kuat.
Hanafi sampai terpelanting ke lantai begitu juga Insha juga ikut terjatuh dan terduduk di lantai.
Hanafi terdorong ke dekat pintu, sedangkan Insha terjatuh di dekat tempat tidur.
Insha sekarang tampak merangkak mundur dengan posisinya, sambil sesekali menyeka air mata yang ada di wajahnya dengan kasar.
Insha meringkuk di dekat jendela dengan tirai yang sudah tertutup sempurna.
Hanafi juga tak tinggal diam, ia segera berdiri dan mendekati Insha lagi yang cukup jauh darinya.
"Berhentii haan..aku bilang berhenti.."
Hanafi pun berhenti karna bentakan dari Insha dan tangisan yang semakin terdengar kuat disana.
Sudah seperti orang gila, Insha kadang meluapkan amarahnya dengan kata yang kasar dan bentakan juga wajahnya yang tampak bersungut seperti berapi-api.
Terkadang suaranya melemah, berkata pelan sambil terisak dan menatap nanar ke arah Hanafi.
Penampilannya terlihat sangat kacau, Hanafi bahkan terlihat bingung Ingin melakukan apa sekarang, hanya kata maaf yang terus terucap dari mulutnya.
Kini suara Insha terdengar sangat lirih seperti bergumam namun masih dapat di dengar jelas oleh Hanafi yang sedang berada cukup jauh dari Insha dengan posisi berlutut.
"Ceritakan padaku malam indah seperti apa yang telah kau lalui bersamanya..."
Insha menyeka air matanya tubuhnya kini seakan tak mempunyai lagi tenaga, ia memindah posisi duduknya, kini ia bersandar di dinding di dekat jendela.
"Dulu aku berfikir kau adalah lelaki terbaik yang ada di dunia ini...semua kehidupan yang kau miliki ini..sifat dan sikap baikmu kepadaku...aku selalu mengatakan dalam hatiku, menikah denganmu adalah hal yang terindah di hidupku, karna semua yang telah kau beri kan kepadaku...membuat aku terlena akan kehidupan dan cinta palsumu..bahkan berkali-kali aku berguman dalam hati..takdir apa yang membawaku pada lelaki sempurna seperti mu han..."
Insha terlihat tersenyum tipis.
"Teryata aku salah....Tuhan telah memberiku takdir yang sangat menyakitkan ini...Bahkan orang yang sangat menyayangiku dengan tulus kini sudah pergi...tak ada lagi orang yang benar-benar menyayangiku seperti ayah..."
__ADS_1
"Ayah...aku merindukanmu..aku ingin menyusulmu..menjadi putri kecilmu lagi..aku tak mau disini ayah..kehidupan ini sangat keras ayah...kehidupan ini jahat memperlakukanku..."
ada setetes air mata yang mengalir di ujung matanya.
Tatapan Insha terlihat kosong ke depan, sedikit mendongakkan kepalanya bersandar di dinding.
"Insha..mau kah kau mendengarkanku sekarang.."
Hanafi berkata lirih disana, tak mendengar jawaban apapun dari Insha, dia pun meneruskan kalimatnya.
"Aku sungguh mencintai dan menyayangimu Insha..tak ada wanita lain yang aku cintai selain dirimu..hidupku bahkan terasa semakin berwarna dan indah karna adanya kau Insha...semua rasaku padamu nyata bukan sandiwara...aku..."
Dengan suara lirih pula Insha memotong kalimat Hanafi.
"Sudah cukup han...jangan pernah kau katakan semua itu lagi...semua itu hanya akan membuatku semakin sakit...kau bahkan tak bisa merasakan betapa sakitnya aku sekarang...kau tak akan mengerti...aku memang terlalu bodoh percaya dengan semua kata manismu itu..."
"Keluarlah han...aku tak mau melihatmu lagi disini....hatiku semakin sakit ketika menatapmu...mataku sudah lelah..air mataku bahkan tak dapat keluar lagi...semua telah habis..begitu juga perasaan ku padamu..."
"Biarkan aku sendiri untuk beberapa waktu..tinggalkan aku sendiri..."
Insha perlahan membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang di tekuk dengan kedua tangan yang tertumpu di atasnya.
Hanafi pun tak bisa berkata apapun, isaknya semakin keras terdengar, dengan langkah yang sangat berat ia pergi keluar dari kamar itu berjalan menginjak secarik kertas yang menjadi sumber pertengkarannya hari ini, hendak menutup pintu, ia menatap kembali Insha yang masih meringkuk di bawah sana, tubuhnya kembali bergetar isak lirih kembali terdengar disana.
Mulai malam itu sampai seminggu berlalu Insha sama sekali tak terlihat keluar kamarnya, mbak Risna dan mbak Fatimah yang selalu bergantian mengantarkan makanan ke kamarnya.
Tak seperti biasanya pula, Insha tak pernah habis dengan menu makanannya, ia hanya memakannya sedikit sekedar untuk mengisi perutnya.
Kamar Insha pun terlihat sangat berantakan, Fatimah maupun Risna tak di perbolehkan Insha untuk membersihkannya.
Tak ada yang berani mempertanyakan apa yang terjadi. Sementara Hanafi mulai hari itu tidur di kamar yang lainnya, setiap malam ia selalu mengintip Insha yang sedang tertidur, air matanya selalu mengalir di pipinya saat melakukan hal itu.
Hanafi tetap sarapan bersama ketiga pembantunya, tapi dia lebih terlihat diam, sudah seminggu berlalu dia juga tak berangkat ke kantor, Reno dan Lina maupun Kriss selalu datang setiap hari membawa berbagai laporan perusahaan, maupun berkas yang harus di tanda tangani langsung olehnya.
Sampai suatu pagi, Hanafi yang membawakan nampan sarapan untuk Insha, dia mengetuk pintu seperti yang di lakukan para pembantunya, Insha pun mempersilahkan untuk masuk.
Di pandangan Hanafi terlihat Insha yang masih meringkuk di dalam selimutnya, Insha menghadap membelakangi Hanafi.
Di ujung selimut terlihat rambut Insha yang acak-acakan, kamar yang kotor dan berantakan, bahkan tirai di jendela tak pernah di buka oleh Insha, hanya lampu tidur yang selalu ia nyalakan, kamar itu terlihat redup.
Ponselnya pun terlihat tergeletak di lantai, bersama tas kecil yang di bawanya pergi seminggu yang lalu saat kejadian memilukan itu terjadi.
Bersambung...
__ADS_1