
Insha pulang ke rumah utama terlebih dahulu dengan menaiki taxi yang di pesannya dari rumah sakit.
Mulai hari itu Khanza tinggal di rumah utama, dan kamarnya tepat di satu lantai yang sama dengan Insha dan Hanafi.
Mulai hari itu juga Insha dan Hanafi hampir setiap hari bertengkar, karna Insha yang tak bisa menerima kehadiran bayi itu di rumahnya. Sedangkan Hanafi terus saja memaksa Insha untuk mulai membuka hatinya untuk khanza. Bayi yang sudah di tinggalkan ibunya bahkan sebelum ia di lahirkan.
Hanafi terus saja berkata bahwa bayi itu memang di takdirkan dan di lahirkan untuknya. Ia terus membujuk Insha dengan segala cara agar Insha bisa menerima Khanza dan menganggap dia adalah anaknya, memulai hidup baru dengan Hanafi dan Bayi kecil itu.
Tapi Insha tetap teguh pada pendiriannya, dia bahkan tak mau melihat apalagi menggendong bayi itu semenjak terakhir dia melihatnya di rumah sakit .
Insha terus berkata, melihat bayi itu sama saja mengulai lagi rasa sakit yang pernah ia rasakan dulu, bahkan lebih sakit dan lebih perih ketika mengingat lagi siapa yang telah melahirkannya.
Insha bahkan sudah mengatakan pada Hanafi bahwa ia sudah tak ada lagi rasa cinta dalam hatinya untuk suaminya itu. Tapi Hanafi tetap berusaha mempertahankan Insha, ia masih berkilah bahwa Insha hanyalah butuh waktu untuk kembali mencintainya dan menerima semua keadaannya.
Hanafi sama sekali tak mau melepaskan Insha karna ia sangat mencintainya, ia terus berusaha dengan segala cara untuk membuat Insha bertahan dan tetap berada dalam pelukannya.
Pagi pun sudah menjelang, tapi mentari belum menampakkan dirinya, suasana di luar rumah masih terlihat gelap. Hanafi terhuyung ke kamar mandi menahan air seni yang terasa sudah penuh di tempatnya. Hanafi sudah terbiasa bangun sendiri, karna Insha tak pernah lagi membangunkannya saat pagi hari.
Hanafi menjalankan rutinitasnya mandi di pagi hari, setelah itu melaksanakan sholat shubuh seperti biasanya. Sebelum melaksanakan sholat Hanafi melirik tempat tidur, Insha sudah menghilang dari sana, Ia berfikir pasti Insha sedang berada di dapur untuk menyantap beberapa roti sandwich buatannya. Karna beberapa hari ini Insha memang sering melakukan itu, ia makan terlebih dahulu karna tak mau makan bersama Hanafi di meja yang sama, ataupun makan di kamar bersamanya.
Insha lebih memilih makan terlebih dahulu setiap pagi, menghindari Hanafi yang selalu ingin berada di dekat Insha.
Hanafi tak menghiraukannya, ia melakukan sholat, setelah itu ia keluar kamar dan menuju ke kamar khanza melihat bayi mungilnya.
"Apakah dia baik-baik saja mbak.."
tanya Hanafi pada Mirna baby sister yang 24 jam slalu menemani Khanza.
"Nona Khanza baik-baik saja tuan...dia baru saja tertidur setelah minum susu..."
jawab Mirna dengan sigap berada di samping Khanza yang tertidur dengan wajah yang menggemaskan.
"Syukurlah..terimakasih sudah menjaga Khanza kecilku..."
__ADS_1
jawab Hanafi ringan sambil berlalu.
"Sudah menjadi tugas saya tuan.."
sahut Mirna sambil melihat Hanafi yang sudah berlalu pergi keluar dari kamar itu.
Hanafi masuk lagi ke dalam kamarnya, sekelebat ia melihat jendela yang sudah memancarkan sedikit cahaya matahari, Insha masih belum kembali ke kamar. Hari ini Hanafi akan mengajak Insha untuk pergi, kemana pun yang Insha mau. Untuk menjalin lagi kedekatan dan cinta di hati mereka.
Tak mendapati Insha di kamarnya, Hanafi pun turun Ingin memberitahukan rencananya pada Insha secepatnya.
Sudah berada di dapur tapi Hanafi tak melihat Insha disana, di meja makan pun juga tak terlihat.
"Mbak Fatimah..Insha dimana...?"
"Nona Insha belum turun den...saya belum melihatnya dari tadi pagi..."
Hanafi mengeryitkan dahinya, heran kemana Insha sepagi ini. Ia langsung pergi begitu saja, mengecek kembali Insha di kamarnya, berharap Insha berada di kamar mandi.
Han..maafkan aku...aku harus pergi..aku sudah tidak bisa lagi hidup bersamamu..bersama bayi itu...meski aku tau niatmu dan Salma melahirkan bayi itu...tapi ntah kenapa aku tak bisa menerimanya...
Jangan mencariku..karna hidup dengan mu hanya akan menyiksa batinku...biarkan aku bebas dengan rasaku...
Jaga dirimu baik-baik..dariku yang dulu pernah mencintaimu..Insha
Seketika tubuh Hanafi melemah, Hanafi juga berlari kecil melihat parkiran mobil, dan benar mobil Insha telah menghilang darisana.
Hanafi langsung menghubungi Kriss saat itu juga untuk mencari tahu keberadaan Insha.
Kriss pun sudah menyadari kepergian Insha karna semalam tidak sengaja Kriss melihat mobil Insha melaju dengan kencang di pusat kota. Kriss saat itu akan pulang setelah menyelesaikan tugasnya dari Hanafi melakukan meeting di kota B, ia pulang larut malam dan kebetulan melewati pusat kota dan berpapasan dengan mobil Insha.
Kriss pun mengikuti mobil itu, dan mobil Insha memasuki sebuah rumah sederhana yang rupanya sudah di sewa Insha sebelumnya, karna ia sudah membawa kuncinya. Insha memasuki rumah itu, setelah beberapa jam Kriss memastikan Insha tak keluar lagi dari rumah itu, Kriss pun pulang dan ingin memberitahukan pada Hanafi saat itu juga tapi di urungkannya, karma saat itu tengah malam, dan Kriss tak mau mengganggu tuan mudanya.
Kriss pun memberitahukan keberadaan Insha pada Hanafi pagi itu lewat ponselnya. Tapi ntah kenapa saat Kriss akan mengerahkan pengawalnya untuk membawa Insha pulang Hanafi malah melarangnya. Hanafi tak ingin memaksa Insha untuk pulang, jika memang Insha nyaman berada disana, Hanafi akan membiarkannya untuk beberapa waktu.
__ADS_1
Hanafi hanya menyuruh Kriss untuk selalu memantau kegiatannya dan memastikan Insha baik-baik saja disana.
Hanafi ingin Insha kembali karna kemauannya sendiri, saat Insha sudah bisa menerima semua keadaannya terutama kehadiran Khanza.
Hari-hari berlalu tapi Insha tak kunjung pulang ke rumah utama, Hanafi terus mendapatkan laporan setiap hari bahwa Insha tak pernah pergi kemana-mana, dia hanya beberapa kali terlihat pergi ke supermarket untuk membeli kebutuhannya lalu kembali ke rumah yang sudah di sewanya itu.
Tapi Hanafi juga terus mendapat laporan bahwa rekening Insha mengambil sejumlah uang yang cukup besar beberapa hari belakangan, sama sekali tak curiga Hanafi hanya berfikir mungkin Insha butuh sebuah hiburan untuk berbelanja sesuatu yang bisa menenangkan dirinya, tanpa mencari tau apa itu Hanafi tak mempermasalahkannya.
Sampai pada suatu pagi tepat 1 minggu kepergian Insha. Hanafi mendapatkan kiriman paket berupa amplop coklat, terlihat sang pengirim bernama Insha Humairah. Hanafi pun dengan senang hati menerima dan membuka amplop itu.
Dan saat di buka betapa terkejutnya Hanafi ketika melihat isi dari amplop itu adalah sebuah surat gugatan cerai yang di ajukan Insha ke pengadilan.
Hanafi begitu marah, dan telah salah menilai Insha ia menyesal membiarkan Insha beberapa hari diluar sana yang rupanya telah membayar orang untuk mengurusi perceraiannya dengan Insha.
Tentu saja Hanafi tak mau itu semua terjadi, waktu itu juga Hanafi bersama para pengawalnya berangkat ke tempat yang sudah di tunjukkan Kriss untuk menjemput Insha pulang, Hanafi tak mau kehilangan Insha, dia lebih memilih untuk memaksanya kembali bagaimana pun caranya.
Hingga sampailah Hanafi di rumah itu, mobil masih terlihat terparkir disana. Dengan amarahnya Hanafi langsung saja masuk ke rumah itu, berteriak-teriak pada Insha tapi tak kunjung mendapat balasan.
Teryata Insha sudah pergi dari rumah itu sebelum Hanafi sampai disana, seperti kejadian sebelumnya Hanafi segera meminta para pengawal untuk mencari Insha di sekitar rumah itu, tapi Insha juga tidak di temukan. Pencarian di perluas di daerah itu tapi Insha juga tak kunjung di temukan hingga sore hari.
Hanafi juga di buat bingung karna Insha meninggalkan semuanya, termasuk mobil,ponsel dan berbagai rekening yang telah diberikan Hanafi. Sedikit khawatir Hanafi karna berfikir Insha akan memenuhi kebutuhannya dengan apa jika tak membawa rekening nya. Pencarian terus di lakukan sampai hari dimana sidang pertama perceraiannya di gelar di pengadilan.
Hanafi datang berharap bertemu dengan Insha disana, ia juga mengajukan banding untuk mempersulit perceraiannya, karna Hanafi sama sekali tak ingin kehilangan Insha.
Lama di tunggu tapi Insha tak kunjung datang bahkan sampai sidang berakhir Insha tak muncul di pengadilan. Merasa putus asa Hanafi pun pergi dan pulang ke rumah utama.
Hanafi menangis sejadi-jadinya, mengingat kembali semua perbuatannya, ia sangat menyesal dengan semua yang telah dia lakukan, demi menuruti semua keinginan Salma semua menjadi sangat kacau, bahkan keluarga bahagia yang di impikannya bersama Insha kini sudah berada di ujung tanduk.
Dari situ Hanafi pun tersadar jika Insha memang sudah benar-benar tidak mencintainya, Insha tak lagi menginginkannya dalam hidupnya. Hanafi pun berfikir membawa Insha kembali hanya akan membuatnya tersiksa, dan hidupnya pun tak akan bahagia.
Hanafi mengetikkan sebuah pesan di ponselnya, menyuruh Kriss untuk mempercepat proses perceraiannya. Hanafi sudah ihklas jika Insha pergi darinya, karna bagaimana pun ini semua juga kesalahannya, kesalahannya menikahi Salma saat itu yang menjadi sebab sebuah kehancuran rumah tangganya.
Bersambung...
__ADS_1