2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
Pernikahan part 2


__ADS_3

Wijaya Group


Hari ini kantor libur, karna pimpinan perusahaan tersebut


Hanafi Abqari Agam melepas masa lajangnya dengan mempersunting seorang wanita


cantik bernama Insha Humairah. Tapi hari ini para karyawan kantor berkumpul di halaman


perusahaan Wijaya group, mereka akan datang di pernikahan tuan mudanya di


daerah pinggiran kota.


Mereka berangkat bersama menuju pernikahan Hanafi memakai


mobil dan bus sewaan yang sudah disewa tuan mudanya untuk memfasilitasi


karyawan pergi ke pesta pernikahannya. Semua staff perusahaan di undang tanpa


terkecuali. Hanafi berharap mereka semua bisa memeriahkan pernikahannya, tak


terhitung jumlahnya. Yang Hanafi pikirkan setidaknya dengan kehadiran seluruh


karyawannya pestanya akan cukup ramai mengingat ia tak mempunyai keluarga lagi.


Mereka semua sudah seperti keluarga Hanafi, tanpa mereka juga ia tak akan


menjadi orang yang cukup berpengaruh sekarang.


Di perjalanan menuju pernikahan,di mobil berwarna putih yang


cukup besar di isi dengan karyawan-karyawan perempuan. Seseorang mencoba memecah keheningan.


‘’Seperti apa ya istri tuan Hanafi, apa dia sangat cantik,


sampai-sampai lelaki dingin sepertinya bisa jatuh hati padanya’’ celetuk salah


satu karyawan wanita ia sekretaris Hanafi bernama Lina, dia cukup cantik dengan


rambut hitam lurus yang indah


‘’Tentu saja pasti ia wanita idaman tuan muda’’jawab rosa


yang tampak acuh.


‘’Apa aku ini kurang cantik ya, Tuan Hanafi saja tak pernah


memandangku lama, ia selalu memalingkan wajahnya saat aku didepannya..’’gerutu


Lina kesal


‘’Hei, apa kau ini memang wanita paling bodoh di dunia ini,


semua orang tau tuan Hanafi itu sangat menjaga harga diri wanita. Tentu saja


dia tak akan melihatmu jika pakaian yang kau kenakan setiap hari dihadapannya


seperti ini‘’ Rosa menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


‘’Tuan Hanafi adalah orang yang tak pernah lalai menunaikan


ibadahnya, tentu saja dia tak mau mengotori pandangannya dengan melihat tubuhmu


seperti itu’’


Lina memandang temannya itu dengan gemas, apa benar yang di katakan rosa? Ahh tapi tentu saja aku sudah


terlambat karna tuan Hanafi pun sudah punya istri sekarang..


‘’aah entah lah..lagi pula Tuan Hanafi sudah menikah


sekarang, hilang sudah harapanku’’


‘’Tuan Hanafi tak kan mau dengan wanita sepertimu’’


‘’Kau ini bukannya menghiburku karna patah hati malah

__ADS_1


menghinaku seperti itu’’


''Hahahaha''


Rosa tertawa bahagia melihat wajah cemberut Lina. Lina


memandang temannya yang sedari tadi menggodanya dengan perkataan menusuk itu


tampak puas dengan jawabannya. Lina dengan wajah cemberutnya mencubit temannya


itu yang membuat Rosa tanpak kesakitan dengan mimik wajah yang lucu,tentu saja


itu membuatnya puas dan tertawa lepas. Mereka pun tertawa lepas, mobil yang di


penuhi karyawan wanita itu saling bergurau sampai tak terasa mereka telah tiba


di tempat pernikahan, disusul dengan rombongan lainnya.


Jejeran mobil dan bus yang datang dari perusahaan Wijaya


Group memenuhi jalanan kampung, tak ada tempat parkir khusus,  disamping kanan kiri jalan banyak terdapat


rumah dan persawahan. Satu persatu karyawan turun dari kendaraan mereka,


berjalan bersama menuju tempat pernikahan tuan Hanafi. Terlihat sebuah tulisan


ukiran indah yang sudah di pesan khusus ‘’ Selamat datang’’ berwarna biru


terang dibawahnya juga terdapat nama ‘’Hanafi dan Insha’’ dengan warna merah


muda yang di beri aksen bunga-bunga dan gambar hati berwarna merah.


Mereka sudah sampai tepat di depan rumah, halamannya yang


cukup luas dengan rumput hijau yang terawat di depannya juga beberapa pohon


kecil yang membatasi rumah dengan persawahan di sampingnya. Rumah itu tampak


sederhana khas rumah pedesaan, catnya berwarna putih dan hijau tua pada


beberapa pintu dan jendelanya. Didepan rumah ada 2 unit tenda, dibawah tendanya


halaman rumahnya


Tak ada dekorasi indah khas gedung mewah di sana ataupun lampu-


lampu gemerlap yang menyilaukan mata, semua nampak sederhana dengan udara yang


cukup sejuk karna banyak terdapat persawahan di sana.


‘’Apa ini benar-benar perta pernikahan tuan muda?’’tanya


salah seorang karyawan pada Rosa, apa kita tidak salah tempat?’’


‘’Apa kau tak bisa membaca tulisan disana’’ menunjuk ukiran


nama Hanafi dan Insha dengan jarinya ’’jelas-jelas itu nama tuan muda’’


‘’Iya itu nama tuan muda, tapi apa sesederhana ini


pernikahannya dia kan orang kaya’’


‘’Apa kau masih belum mengerti, meski tuan muda memiliki banyak uang ia tak


akan menghabiskannya dengan hal-hal seperti ini, dia pasti lebih memilih


memberikan uangnya kepada orang-orang yang membutuhkan dari pada harus menyewa


gedung mewah yang selangit harganya untuk pesta pernikahannya..’’


‘’ya..ya mungkin itu yang membuatnya semakin kaya.. karna


sering membantu orang-orang yang tidak mampu’’


‘’ ya memang dirimu, yang pelitnya minta ampun, jangankan buat

__ADS_1


membantu orang lain mentraktirku saja tidak pernah’’


‘’hehe ros.. kamu juga harus mengerti dong, kebutuhan


adik-adikku kan banyak, terlebih lagi kebutuhanku sendiri, aku kan juga harus


nabung buat masa depan biar gak kayak gini trus ros hidupku..,’’jawabnya sambil


memeluk pundak rosa yang memandang kesal


‘’pantas saja kamu gak kaya-kaya..pelit sihh..’’sambil


terkikik pelan


‘’iya..iya kapan-kapan aku traktir deh’’


‘’yapp.. aku tunggu loh traktirannya’’


‘’ya tapi bayar sendiri’’tertawa lepas sambil berjalan cepat


meninggalkan rosa di belakang.


‘’Dasar pelitt...’’ Rosa yang kesal dengan jawaban itu


berusaha mengejar temannya dengan berlari kecil dan menarik bajunya. Mereka pun


saling bergurau sampai berada tepat di depan rumah Insha, tiba- tiba keadaan


hening tak ada yang berbicara.


Didepan rumah teryata sudah ada Hanafi yang berdiri dan


tampak sangat tampan dengan setelan jas hitam dan bunga melati di lehernya.


Wajah Hanafi cukup menghipnotis para karyawan yang berada disana khususnya


karyawan perempuan. Memang hanafi biasanya juga memakai setelan jas rapi saat


berada di kantor, tapi sekarang ia tampak berbeda di hari pernikahannya, tampak


semakin tampan dan rupawan.


‘’Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..selamat pagi


semuanya..saya sangat berterima kasih kepada kalian atas waktunya untuk datang


di pernikahan saya. Kedatangan kalian disini merupakan kebahagiaan tersendiri


untuk saya hari ini. Saya tak mengharap hadiah apapun dari kalian, saya hanya


meminta doa semoga kehidupan saya kedepannya lebih baik lagi, untuk perusahaan Wijaya group kita maupun kehidupan pribadi saya.’’Hanafi menoleh ke belakang mengulurkan tangannya menggapai


tangan Insha yang sedari tadi berdiri di belakang tak jauh darinya.


‘’Insha kemarilah’’ gumam Hanafi pelan,


Insha yang sedari tadi diam melihat betapa banyaknya


undangan yang datang, gugup sekaligus malu bercampur dari satu. Banyak sekali karyawan mas Han, semua wanita dan laki-lakinya juga tampak rupawan dengan gaya masing-masing. Lalu kenapa mas


Han malah memilihku sebagai istrinya? Bukankah mereka lebih cantik dariku, aku


bukan siapa-siapa dibandingkan mereka...


Hatinya menciut saat melihat wanita-wanita cantik dengan


pakaian modis gaya perkotaan di depannya. Apa yang akan mereka katakan saat tau istri mas Han sepertiku, aku hanya akan membuatmu malu mas..


Lamunan insha seketika buyar saat tangan Hanafi mengulur


padanya, dia tak segera meraihnya dengan ragu dia malah selangkah mundur


menjauhinya. Hanafi pun yang seakan mengetahui kecemasan yang ada di wajah


istrinya ia mendekatinya dan meraih tangannya dengan lembut.’’ Ayolah mereka

__ADS_1


keluargamu juga’’ sambil menarik dan berjalan ke tempat Hanafi tadi.


Bersambung...


__ADS_2