
Suara tangis bayi pun pecah, tangis haru para tetangga yang menunggu atau pun mengantar Suswanti ke ruang persalinan seketika ikut pecah juga.
Begitu juga dengan Abdullah yang berada di ruang tunggu bersama dengan para tetangga ikut menangis haru.
mas safi'i anakmu sudah lahir ke dunia..dengarlah betapa menggemaskan suaranya...begitu banyak yang menantikan kehadirannya mas...
Suara hati Abdullah sambil melihat ke arah orang-orang yang berada di ruang tunggu dan kembali terisak.
Sementara Siti berada di dalam menemani kakaknya dan sang bidan.
Ia kini tengah menggendong bayi yang sedang menangis keras itu, masih di lumuri dengan darah di beberapa bagian tubuhnya. Bayi itu di selimuti sebuah kain jarik milik Suswanti yang di bawanya tadi.
Siti menangis haru dan tersenyum bersamaan mengelus-elus kepala sang bayi yang masih tampak kemerahan itu.
cantik sekali kau nak...jika ayahmu disini dia pasti akan teramat bahagia mendapat bayi mungil nan cantik sepertimu...
Mendapat elusan di kepala bayi itu pun terdiam, ia merasa kan hangatnya kain yang menyelimutinya, masih tengah mengagumi mahluk kecil di gendongannya ia terkesiap dengan suara sang bidan yang menyuruhnya untuk menaruh bayi itu di box bayi yang sudah di sediakan dan membantunya.
"Mbak... tlong mbak taruh dulu bayi itu disana...mbak bantu saya sebentar.."
"Oh ya bu bidan sebentar.."
dengan pelan ia menaruh bayi itu di dalam box, lalu segera mendekati bu bidan.
"Tolong pegangkan kaki ibunya mbak...saya akan membantu mengeluarkan plasentanya.."
"Baik bu.."
dengan sigap Siti langsung membantu bidan itu.
Beberapa menit setelah kelahiran bayi, plasenta akan keluar sendiri seperti hal nya mengeluarkan bayi, sang ibu juga mengalami kontraksi kembali.
Plasenta pun dapat di keluarkan dengan mudah, tapi setelah kelahiran plasenta tiba-tiba
byuuurr...darah segar mengalir dari jalan lahir. Mengalir banyak dan deras.
Sang bidan segera menaruh plasenta di wadah yang sudah di sediakan, ia segera memasang selang infus pada Suswanti berharap cairannya dapat tergantikan dengan cepat.
Infus pun sudah terpasang, di biarkan cairan itu mengucur deras mengaliri pembuluh darahnya.
Tapi yang di bawah sana juga tak henti-henti mengalirkan darah segar.
"Bagaimana ini...mbak sus mengalami pendarahan dan tidak berhenti-berhenti..."
"Lalu apa yang harus di lakukan bu..."
"Secepatnya kita harus mencari pendonor darah mbak...disini siapa saudara kandung atau orang tua mbak sus..."
"Mbak Sus tak memiliki siapa-siapa disini bu bidan...saya adik iparnya.."
__ADS_1
"Suruh beberapa orang untuk mencari donor darah di PMI terdekat mbak...kita tak punya waktu banyak untuk mencari satu persatu orang untuk menyumbangkan darahnya..katakan cari golongan darah AB ..."
Kebetulan memang sebelum menjalani persalinan sang bidan slalu mengecek golongan darah ibu hamil untuk bersiaga bila terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti ini.
"Baik bu.."
Siti segera membuka pintu ruang persalinan, ia melihat pemandang beberapa orang disana saling berpelukan dan menangis haru, begitu juga dengan suaminya yang nampak berjongkok di lantai, bersandar di dinding dan terisak sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa mbak.."
seru salah seorang tetangga perempuan disana.
Seketika semua orang memandang Siti juga Abdullah langsung beranjak mendekati Siti yang berada di ambang pintu.
Seakan tak menghiraukan pertanyaan itu, Siti langsung berbicara pada suaminya.
"Mas tolong carikan donor darah di PMI terdekat, mbak Sus mengalami perdarahan.."
berbicara pada suaminya tapi semua orang bisa mendengarnya.
Salah seorang lelaki menghampirinya,
"Baiklah ayo cepat ke PMI menggunakan mobilku...apa golongan darahnya..ayo kita harus cepat.."
bertanya pada Siti sambil berseru pada lelaki lainnya untuk ikut, juga Abdullah yang ada di sebelahnya.
"Darahnya AB kata bu bidan.."
Tak lama kemudian bidan keluar membawa bayi perempuan itu.
"Saya minta tolong disini siapa yang bisa memandikan bayi ini...tolong mandikan ..saya sudah siapkan airnya tadi disana...saya akan merawat ibunya terlebih dahulu.."
Pinta sang bidan karna dia sedang sibuk menangani Suswanti yang masih saja mengeluarkan banyak darah.
Seorang yang selalu membantu bidan memandikan bayi pun hari ini tak bisa hadir karna ini masih larut malam, tidak mungkin juga ia menyuruh pembantunya untuk datang apalagi rumahnya cukup jauh dari sana.
Dua orang perempuan yang tersisa di ruang tunggu saling membantu dalam merawat bayi itu, sementara Siti dan bu bidan masuk lagi ke dalam ruang persalinan.
*
"Dimana PMI terdekat dari sini mas.."
tanya Abdullah.
"Mungkin masih 3km dari sini mas..tidak sampai 15mnit mungkin kita sampai..apalagi jalanan sepi seperti sekarang.."
jawab sang sopir.
"Tapi apa PMI buka jam segini.."
__ADS_1
pungkas salah seorang lainnya.
"PMI buka 24 jam..tenang saja."
Di dalam mobil pun hening, hingga sampailah pada pelataran gedung PMI yang masih terbuka di jam 01:20 dini hari.
Dengan tergesa-gesa mereka masuk kedalam.gedung.
"Mbak maaf saya membutuhkan donor darah golongan AB.."
"Oh ya mas sebentar ya...saya tanyakan di bagian penyimpanan.."
"Iya mbak cepat ya.."
"Baik mas.."
Kaki Abdullah tidak bisa diam, ia terus saja mengetuk-ngetuk kakinya di lantai sambil memandang ke segala arah, berusaha mengusir kecemasannya.
Tak lama perempuan itu kembali dan mengatakan.
"Maaf mas stok golongan darah AB sedang habis disini.."
"Waduh mbak lalu saya harus bagaimana..saya sangat membutuhkannya sekarang..."
"Gini aja mas...mas ke PMI pusat di daerah kota saja disana pasti stok golongan darah masih lengkap.."
"Berapa jaraknya mbak dari sini sampai PMI pusat.."
sahut sang sopir cepat.
"Kira-kira masih 10km an mas..mas ambil jalan yang belok kiri saja biar cepat sampai.."
Tanpa banyak tanya pun mereka segera bergegas menuju PMI pusat.
"Bagaimana ini...aku khawatir dengan keadaan mbak Sus...kita harus cepat dapatkan darahnya.."
salah seorang lelaki memecah keheningan.
"Tenang-tenang aku sudah mencoba untuk sekencang mungkin..semoga saja kita bisa segera mendapatkannya.."
Abdullah hanya berlinang air mata di kursi belakang, dia enggan berbicara apa pun, ia hanya beberapa kali melihat ke arah jendela berharap bangunan bertuliskan PMI segera terlihat.
Sampailah mereka pada PMI itu lalu mengambil 2 kantong darah golongan AB dari sana dan segera pergi dengan secepat kilat berharap darah yang di bawanya segera masuk ke tubuh Suswanti.
Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan, mereka akhirnya sampai kembali di rumah bidan tempat bersalin tadi. Sang sopir segera memarkir kendaraan nya di pelataran rumah sang bidan yang cukup luas.
Sementara Abdullah segera berlari membawa 2 kantong darah itu di tangannya, bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti dia sudah keluar dari mobil.
Sampailah Abdullah di ambang pintu, ia bingung melihat expresi dari orang-orang di dalam sana, apalagi sang istri mimik wajahnya susah sekali di tebak, ia menggendong seorang bayi yang sudah di bedong dengan rapi mengelus pipi mungil itu, tersenyum namun pipinya di basahi oleh air mata yang terus mengalir.
__ADS_1
Bersambung...