2 Bunga Setangkai

2 Bunga Setangkai
pernikahan part 1


__ADS_3

‘’Hanafi  Abqari Agam bin Handoko Abqari Agam saya nikahkan engkau dengan seorang wanita bernama


Insha Humairah binti Abdullah dengan mas kawin uang 5 juta rupiah, perhiasan emas seberat  25 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai.’’


‘’saya terima nikahnya Insha Humairah binti Abdullah dengan


mas kawin uang 5 juta rupiah,perhiasan emas seberat 25 gram dan seperangkat


alat sholat di bayar tunai’’dengan lantang dan tegas


Kedua saksi dari pihak keluarga Insha menganggukan kepala


sambil serentak bilang ‘’sahh’’. Riuh seluruh keluarga yang menghadiri


pernikahan Hanafi dan Insha juga mengatakan sahh sambil tersenyum lega.


Acara akad nikah berlangsung hikmat, semua berjalan lancar.


Pak penghulu melantunkan doa-doa untuk kedua mempelai keadaan nampak tenang dan


semua mengaminkan do'anya.


Hanafi memandangi istrinya yang ada di sampingnya, sedari


tadi Hanafi sama sekali tak melihat Insha, ia takut melihat istrinya dengan


kecantikannya hanya akan menghilangkan fokus nya pada akadnya hari ini.


Insha menoleh pada Hanafi, ia terlihat sangat cantik dengan


balutan kebaya warna putih yang panjang sampai kakinya, di bagian kakinya ia


memakai kain batik yang anggun pula. Wajahnya nampak berseri bahagia, polesan


makeupnya tidak berlebihan, ia memakai hijab putih dengan di selipkan rangkaian


bunga melati pada sisi kiri wajahnya yang membuatnya tampak semakin menawan. Di


tangannya yang lembut ia memakai henna warna kecoklatan dengan berbagai gambar


bunga yang indah memenuhi kedua tangannya, tak lupa terselipkan nama di tangan


kanannya ‘’Hanafi’’ dengan tulisan huruf arab yang indah.


Hanafi pun tak mau kalah, ia memakai jas hitamnya dengan


gagah, wajahnya yang sangat tampan bersemu merah saat melihat kecantikan


istrinya Insha. Di lehernya ia juga memakai rangkaian bunga melati yang membuat


wanginya semerbak memenuhi seluruh ruangan.


‘’Mas Han..’’ celetuk Insha lembut, yang membuat Hanafi


tersadar dalam kekagumannya akan kecantikan istrinya itu. Hanafi terlonjak dan


meraih tangan kanan Insha memakaikan cincin permata indah berwarna merah yang


di sambut sorak orang di sekitarnya juga kilatan cahaya kamera menyorot pada


keduanya seakan tak ingin kehilangan momen paling bahagia ini.


Kini Insha yang nampak gugup meraih tangan kanan hanafi, ia


tertunduk malu dan memakaikan cincin dengan aksen batu permata putih kecil di


tengah nya. Terselip senyum kecil di bibir merahnya, saat itu juga Insha


terlonjak kecil menyadari ada tangan yang lembut dan cukup dingin memegang


belakang lehernya menahannya untuk tidak bergerak. Ya.. itu tangan suaminya


yang perlahan juga memberikan kecupan lembut di keningnya. Wajah insha bersemu


merah malu sekaligus gugup yang ia rasakan.


Tangan siapa ini,mas Han..apa ada ini kenapa jantungku serasa mau meledak begini,tangan ku tiba-tiba


juga dingin, apa begini rasanya semua pengantin baru, huuffh... tenang Insha ..tenang


Insha tertunduk menggenggam jemarinya sendiri dan berusaha


menenangkan hatinya yang sudah tidak karuan rasanya. Tentu saja karna Insha tak


pernah kenal dekat seorang laki-laki sebelumnya, jangankan dekat untuk menjalin


hubungan, menatap laki-laki saja ia tak pernah. Ia takut menimbulkan dosa


nantinya, apalagi laki-laki yang bukan muhrimnya. Insha tinggal di lingkungan


pondok pesantren jadi waktunya setiap hari ia gunakan untuk merawat kebun


ayahnya juga membantu di pondok pesantren untuk sekedar mengajar membaca


Al-qur’an pada sore harinya, karna ia salah satu lulusan pondok terbaik jadi


sering kali di minta untuk membantu mengajar disana.


Perkenalannya dengan Hanafi pun tergolong singkat hanya 1

__ADS_1


bulan mereka saling kenal dan dekat lalu 2 minggu kemudian sudah di langsungkan


pernikahan.


‘’Insha..’’


Dari belakang ada tangan menepuk pundaknya, Insha menoleh


menjabat tangan nya dan juga memeluknya.


‘’Selamat ya Insha, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah


warahmah, kau sangat beruntung Hanafi sangat tampan dan sangat menyayangimu,


bahagiakan dia Insha..’’kata Salma membisik di samping telinga Insha sambil


memeluknya.


‘’Terimaksih kak, maafkan aku’’ mata Insha berkaca-kaca.


Salma melepas pelukannya dan memandangi Insha ‘’ hei apa


yang kau lakukan, kau tak boleh menangis di hari bahagiamu ini, kenapa kau


meminta maaf padaku? ‘’


‘’Seharusnya aku menikah setelah kakak menikah bukan seperti


ini, maafkan aku..’’


‘’Insha jangan berkata seperti itu, kakak bahagia.. sungguh


bahagia melihat adik kakak yang manis ini menikah, apalagi dengan laki-laki


idaman seperti Hanafi..’’ terdiam sejenak memandangi Hanafi yang sedang


bersalaman juga kesana kemari dengan saudara dan keluarga Insha yang hadir.


‘’lihat dia, kakak yakin dia sangat menyayangimu dan juga


bisa menjadi imam yang baik untuk mu..sudah jangan khawatirkan kakak, kakak


baik-baik saja, kakak bahagia melihat mu bahagia..’’


‘’Lalu kapan kakak akan menyusulku menikah juga..’’ goda


Insha yang mulai terlihat cerah kembali


‘’nanti..’’ belum sempat Salma menjawab insha sudah


menyahutnya dengan nada gemas.


juga, itu yang kakak ucapkan..’’ jawab Insha cemberut dan kesal dengan jawaban


kakaknya. ‘’ aahh.. aku tau pasti menunggu kak Pras pulang kan..satu tahun lagi


kan pendidikannya di Kairo selesai kak..kakak bisa menikah setelahnya.’’


‘’ya..ya.. doakan saja semua selesai pada waktunya ya, biar


aku bisa segera sepertimu juga’’ jawab Salma dengan senyum menggoda adiknya.


‘’Sana temui bapak dulu’’


Insha segera beranjak dan berdiri sambil menunduk untuk


bersalaman pada ayahnya mengharapkan restu orangtua satu-satunya yang ia


miliki. Ibunya sudah meninggal saat Insha masih berusia 2 tahun,ayahnya sering


bercerita ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil bersamanya.Ayah, Salma dan


juga Insha berhasil selamat dari kecelakaan tersebut, sementara ibunya tak


dapat di selamatkan dan meninggal di tempat.


‘’restui Insha pak,..’’sambil menekuk lututnya menunduk pada


pangkuan ayahnya yang duduk di atas kursi.


Sudah 2 tahun ayahnya sering sakit-sakitan,ia mengidap


infeksi paru-paru yang membuatnya sesak nafas saat penyakitnya kambuh. Ayahnya


tak boleh terkena udara dingin, untuk duduk di lantai pun kadang bisa membuat


penyakitnya itu kambuh. Untuk itu ayahnya sengaja diberi tempat duduk di kursi


untuk menghindari hal tersebut.


‘’iya nduk, tentu bapak merestui mu, asalkan kamu bahagia


bapak juga ikut bahagia..semoga pernikahanmu ini sakinah mawaddah warahmah..’’


‘’maafkan Insha ya pak’’ nada suara Insha mulai merendah.


‘’sudah..sudah.. ini bukan waktunya untuk bersedih


nduk...apa yang kamu khawatirkan, sekarang kamu sudah menpunyai imam yang baik

__ADS_1


untukmu..?’’


‘’maafkan Insha tak bisa menemani bapak lagi setiap malam,kalau


bapak tidak bisa tidur..’’


‘’Insha akan tetap tinggal disini pak kalau bapak inginkan..Insha


akan ijin pada mas Han..’’


‘’eeh..apa yang kamu katakan nduk, sekarang kamu adalah seorang


istri sudah sepatutnya kamu nurut pada kata suamimu, dia imam mu nduk, dia


panutanmu sekarang, bapak Cuma bisa merawatmu sampai saat ini,..lagian masih


ada kakakmu nduk yang menemani bapak disini’’membelai kepala insha seakan tak


percaya gadis kecil yang sedari dulu ia sayangi sudah tumbuh dewasa sekarang.


‘’nduk,kamu nurut sama mas Han ya, dia orang yang bijaksana


dan tegas, dia panutan yang baik buatmu, berjanjilah pada bapak jangan pernah


meninggalkan dan kecewakan suamimu nduk karna ridhonya adalah syurga untukmu


mulai sekarang’’


‘’iya pak Insha janji , tapi bapak juga harus janji ya,


bapak harus jaga kesehatan bapak meskipun Insha sudah tidak disini’’sambil


terisak insha memegang tangan ayahnya dan menciumnya lembut.


Di belakang pundaknya sudah ada tangan yang mengelusnya


lembut menenangkan, ya itu adalah tangan Hanafi dia juga berlutut di belakang


Insha untuk bergantian meminta restu ayah mertuanya. Insha sedikit menoleh dan


seakan paham dia segera mundur dan bergantian dengan Hanafi yang juga ingin


menemui ayahnya.


‘’Sini le..’’ tangan mertuanya sedikit melambai pada Hanafi


Hanafi berjalan pelan dengan lututnya mendekati ayah Insha.


Baru saja hanafi akan menunduk di lutut mertuanya, tapi mertuanya sudah meraih


pundak Hanafi dan menariknya mendekat untuk memeluknya hangat. Terdengar suara


mertuanya sedikit bergeming menahan air mata.


‘’Terimakasih le, kamu sudah bisa menerima Insha sebagai


istrimu dengan segala kekurangannya..’’


‘’Apa yang bapak katakan Insha wanita sempurna pak’’ jawab


Hanafi sambil menepuk-nepuk punggung mertuanya lembut.


‘’Semoga keluarga kalian sakinah mawaddah warahmah, maafkan


dia jika mungkin sifatnya sedikit kekanak-kanakkan nanti, semoga dia bisa


membahagiankanmu..’’Ayah insha melepas pelukannya dan menatap lekat wajah


Hanafi sambil memegang kedua pundaknya. ‘’Aku titip Insha ya le.. semoga kamu


bisa menyayangi dan menjaganya seperti bapak menyayangi dan menjaganya sejak


kecil, sekarang dia milikmu, bimbing dia selalu di jalan Allah bapak yakin kamu


imam yang baik dan tepat untuk anakku insha..’’


‘’Insya’allah pak saya akan menjaga amanah bapak dengan


baik, saya akan menjaga dan menyayangi Insha dengan tulus, semoga saya bisa


menjalankan amanah bapak sampai akhir hidup saya pak.’’


‘’Iya le bapak percaya sepenuhnya padamu’’ terselip senyum


yang tulus di wajah mertuanya yang mulai renta, ia memandangi wajah kedua


pengantin baru itu dengan penuh harap.


Kau beruntung nak


mendapatkan laki-laki yang baik seperti Hanafi, semoga pernikahan ini membawa


kebahagiaan untukmu Insha, putri kecil kesayangan bapak.


Insha dan Hanafi berjalan beriringan menjauh dari ayahnya,


mereka menemui  saudara dan juga


tamu-tamu yang hadir dengan senyum cerianya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2